
"Bu Zoya mengalami komplikasi. Setelah kecelakaan, kami menemukan kerusakan pada syaraf otaknya. Pada masa kehamilannya yang terbilang berat, setelah melahirkan bu Zoya juga ada kelainan pada perutnya. Terlebih ada kanker pada rahimnya. Selama ini beliau hanya meminum obat pereda sakit."
Sehari setelah percintaan mereka, Zoya dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya melemah.
Ditya sama sekali tidak menyangka, itu akan menjadi yang terakhir baginya.
Seluruh pikirannya bercampur aduk, saling berkompetisi menyiksa Ditya.
"mas, setelah semua yang terjadi aku sempat berpikir. Aku hanya membantumu, menemanimu untuk mempersiapkan diri. Suatu saat, kamu akan bertemu dengan cinta sejatimu. Mata hatiku terbuka, sadar kalau kita hanya diberi kesempatan agar bersatu."
Selama beberapa bulan terakhir, Zoya menuruti keinginan Ditya dan keluarganya untuk menjalani pengobatan dan kemoterapi.
Tapi itu hanyalah sebuah proses memperpanjang usianya, tidak berarti menyembuhkan.
"jangan banyak bicara omong kosong Zoya, kamu akan sembuh."
Ditya sangat sungkan mendengar ucapan Zoya yang semakin menyayat hatinya.
"aku tahu mas, aku sangat sadar diri. Aku tidak akan bertahan lama, maka dengarkan aku baik baik ! Jangan pernah menyiksa dirimu sendiri, aku tidak butuh kesetiaanmu saat aku sudah pergi. Itu akan sia sia, Dee tidak mungkin hanya memiliki seorang ayah."
Zoya duduk bersandar, menggenggam tangan Ditya. Ia tak mampu menahan ait matanya. Begitupun dengan Ditya. Sejak tadi dia hanya mampu menunduk diatas genggaman tangan mereka.
"aku mencintaimu Zoya, aku tidak ingin yang lain."
"jangan egois mas, kamu harus memikirkan Damar anak kita !"
Perdebatan itu selalu terjadi diantara mereka. Zoya yang bersikeras meyakinkan Ditya, terkadang sangat frustasi karena suaminya tidak mau menurut.
Ini bukan salahnya, semua hanya milik Tuhan dan akan kembali lagi pada-Nya.
Semakin hari, kondisi Zoya sudah tidak bisa bertahan.
Semua keluarga hanya bisa berdo'a, mengharap kebaikan Tuhan. Jangan Kau ambil Zoya yang begitu baik, ini sungguh tidak adil baginya.
Zoya yang selalu berlapang dada, mengulurkan tangan kepada orang yang berbuat buruk padanya.
Di detik detik terakhirnya, Zoya meminta bu Atikah untuk menemaninya.
Wajahnya semakin pucat pasi, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berbicara.
"bu, aku takut . .
Apa aku sudah cukup memiliki bekal disana nanti ?"
Lirih Zoya pada ibunya, ia tidak takut mati. Hanya saja, Zoya takut akan siksa kubur. Selama ini Zoya selalu mengerjakan urusan duniawi.
Kalau saja ia tahu hidupnya tidak akan lama, mungkin Zoya akan lebih mendekatkan dirinya lagi.
"semoga Tuhan mengampuni dosa dosamu sayang. Ibu tahu kamu orang baik, ibu akan selalu mendoakanmu."
Ibu mana yang tidak sedih, ketika anaknya sudah diujung nafas. Hatinya lebih hancur dari siapapun. Berat, saat harta satu satunya juga harus meninggalkannya.
"bu, Zoya ingin membantu orang yang membutuhkan. Siapapun, katakan pada pihak rumah sakit untuk mengambilnya sesuai prosedur."
__ADS_1
Keputusannya sudah Zoya pikirkan matang matang. Ia ingin mendonorkan organ tubuhnya jika memang ada yang membutuhkan.
Meski Ditya menolak dengan sangat keras, tetap saja Zoya berhak melakukan atas dasar keinginannya sendiri.
"iya Zoya, ibu akan sampaikan. Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah. Ibu akan menemani kamu."
Isak tangis bu Atikah semakin keras, beliau sudah tak mampu membendungnya lagi.
Berharap ini hanya mimpi, dan segera berakhir.
Musim gugur mengiringi kepergiannya.
Duka yang mendalam menyelimuti mereka yang mengenalnya.
Suami, anak, ibu, mertua, adik ipar, nenek, juga sahabat yang ditinggalkan kini hanya bisa mengenangnya.
Ikhlas,
Kata yang mudah diucapkan, namun sulit sekali dilakukan.
Mereka masih mencoba ikhlas merelakan kepergiannya.
Selamat jalan Zoya, semoga kamu tenang disisinya. Dilapangkan kuburnya, diampuni seluruh dosanya.
Kami yang ditinggalkan, sangat menyayangimu.
"mami harap kamu akan selalu tabah dan tegar Dit ! Semua sudah menjadi takdir kalian, Tuhan lebih menyayangi Zoya."
Bu Aulia mengelus punggung Ditya yang masih setia memandangi gundukan tanah bertabur bunga warna warni.
Pria itu kembali menjadi anak laki laki ibunya, dia menangis sesenggukkan dipelukan bu Aulia.
Kalau saja Ditya tidak menyia nyiakan Zoya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Takdir Tuhan sangat kejam bagi Ditya yang berbuat jahat pada istrinya. Selalu saja itu yang Ditya pikirkan, menyalahkan dirinya sendiri.
"jangan begitu nak ! Kamu harus belajar ikhlas, kasihan Dee. Dia sangat membutuhkan kamu."
Dee tidak ikut ke pemakaman saat itu, dia masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Namun bukan berarti Dee tidak merasakan, sejak Zoya menghembuskan nafas terakhirnya Dee terus saja menangis. Siapapun tidak bisa menenangkannya, Ditya yang terpukul juga enggan mendekatinya.
Tangisannya berhenti ketika Dee mengelus pipi Zoya yang sudah tak bernyawa.
Senyumannya bahkan berhasil membuat seluruh keluarga menangis.
"lanjutkan hidupmu, itu keinginan Zoya Ditya !"
Bu Aulia meninggalkan Ditya sendirian disana, memberi waktu untuknya.
Entah untuk menenangkan diri, atau sekedar melihat foto Zoya yang bersandar di nisan.
"mas, aku sangat mencintaimu. Tidak peduli orang menganggapku gila, bertahan dan memberimu kesempatan meski kamu sudah berkhianat. Rumah tangga yang ku jalani, akhirnya benar benar terpisahkan karena maut. Itu lebih indah ketimbang perpisahan karena ego.
__ADS_1
Benar adanya, kalau cinta bisa sedalam samudera dan setinggi langit diangkasa.
Bagi aku, yang bahagia bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Sungguh, diakhir hayatnya Zoya sangat mengagumi Ditya. Pria satu satunya yang bersemayam dihati Zoya. Membuat Ditya semakin tersiksa, merasa tidak layak untuk mendapatkannya.
---
"astaga . .
kenapa belum tidur ?"
Zara sangat terkejut melihat Ditya yang sedang duduk disofa dengan tatapan kosong. lampu ruangan itu sengaja dimatikan, sekali lagi Ditya mengenang masa terakhirnya bersama Zoya.
Gadis itu memberanikan diri menghampiri Ditya yang masih saja diam. Zara memaku memandangi Ditya, terlihat pipinya basah oleh air matanya.
"ada apa ?"
tanya Zara pelan.
"duduklah !"
Ditya menyuruh Zara duduk disampingnya, pikirannya masih kosong tidak tahu harus berbuat apa.
"Zoya adalah ibu Damar, dia meninggal saat usianya hampir 2 tahun. aku pernah mengkhianatinya, ini seperti sebuah hukuman yang harus aku terima seumur hidupku."
Zara tertegun mendengar penuturan Ditya. jadi selama ini mereka berjuang berdua, melewati hari hari tanpa seorang istri sekaligus ibu.
"kenapa bapak menceritakannya padaku, bukankah tadi bapak bilang tidak peduli denganku."
ia mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. itu berhasil, kini Ditya terlihat sedang menatap kearahnya.
"Dee ingin kamu jadi ibunya, lucu bukan ?"
Ditya tersenyum mengatakan permohonan Dee pada Zara. tapi Zara tahu, dia berusaha menutupi lukanya.
"haha Dee Dee . . aneh aneh saja dia."
Zara juga ikut tertawa, seperti terpaksa melakukannya demi menghibur Ditya.
"tidak ada salahnya bukan mencoba ?"
kata kata Ditya sangat mengejutkan, apa Zara tidak salah dengar ? seorang Ditya mengatakan hal itu padanya yang baru saja bertemu.
Zahrani / Zara
Note :
terima kasih untuk masukannya. tapi disini author ingin memberikan sudut pandang berbeda mengenai keputusan Zoya mempertahankan rumah tangganya.
bagi istri yang taat agama, dia tidak ingin rumah tangganya hancur. kalaupun Suami yang menalaknya, mau bagaiman lagi.
__ADS_1
tolong ambil sisi positifnya, tidak ada gading tak retak. semua hubungan memiliki proses masing masing. terima kasih.