Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#137


__ADS_3

Ruangan sepi tanpa Malvin si mood maker DGC.


Apalagi Miley sering keluar kantor mengurus ini itu.


Tinggalah Desi dan Juli duduk di meja masing masing.


Sementara waktu dirinya masih aman. Seluruh karyawan Damar belum mengetahui kalau Juli istri pemilik hotel.


"Juls . ."


Sapa seseorang mengejutkan Juli yang sedang membuat laporan.


"Kak Adam, selamat bergabung ya."


Juli tak menyangka bisa sekantor dengan Adam. Meskipun ia berstatus karyawan magang.


"Wih hebat ya kamu sudah punya banyak client."


Puji Adam, Desi tersenyum menggelengkan kepala melihat keakraban mereka.


"Nanti kakak juga bakal ngalahin aku kok hehe."


Juli merendah tak ingin dipuji berlebih.


Sejak Damar mengajaknya meeting dengan Client penting, Juli semakin maju bisa diandalkan.


Sayang posisinya hanya anak magang, artinya setelah 6 bulan Juli akan berhenti dari kantor itu.


"Juls, kamu gak harus 8 jam bekerja kok. Bu Miley tadi telpon memberi kamu izin pulang seperti biasa."


Kata bu Desi, sekarang beliau menempati meja Malvin sementara Adam duduk ditempatnya.


"Begitu ya bu, terima kasih."


Juli memijat tengkuknya, apa Miley sudah tahu kalau Juli menikah semalam dengan Damar.


Jam pulang akhirnya tiba, Desi juga Adam pamit terlebih dulu pada Juli. Sementara Juli akan menyelesaikan beberapa sisa pekerjaannya.


Matanya berat akibat mengantuk, tak sadar Juli tertidur dengan posisi kepala diatas meja.


Cukup nyaman baginya hingga terlelap beberapa saat.


Pesan masuk bahkan tidak sempat Juli buka, padahal itu dari suaminya.


Damar memberi kabar kalau dia harus keluar kota mengecek projek.


Dia juga meminta Juli segera pulang karena Ifan tidak bisa menjemputnya.


Dirumah Atikah sementara keluarga masih berkumpul guna mengadakan tahlilan.


Sore menjelang maghrib semua persiapan sudah rampung.


Menggelar tikar, menyiapkan makanan ringan tak lupa bingkisan juga amplop untuk jemaah.


"Menantu kamu masih belum pulang ?


Disini ada tahlilan kok masih bekerja."


Grand Ma mencecar Zara, padahal beliau kesalnya pada Juli.


Grand Ma maunya Juli juga ikut andil mempersiapkan acara tahlilan.


"Magang mih, Juli masih kuliah. Mungkin pekerjaannya belum selesai dikantor."


Zara membela menantunya karena dirasa persiapan bisa selesai hanya dengan kehadiran 2 ART.


"Telpon Dee deh coba !"


Perintah Aulia pada menantunya.


"Iya mih, ,"


Zara mengeluarkan handphonenya dari saku kemudian melakukan panggilan.


"Halo Dee, kamu lagi sama Juli ?


Kenapa kalian belum pulang jam segini."


Zara bertanya dengan nada khawatir.


"Loh Juli belum pulang mah ? Damar kan sudah bilang sama dia harus ke Tegal. Mungkin besok pagi baru balik."


Suara Damar tak kalah cemas mengetahui istri kecilnya belum sampai rumah.


"Kok bisa, kamu ketemu langsung sama Juli ?"


"Kasih pesan whatsapp mah, , ditelpon takut ganggu dia lagi sama client."


Iya juga, Damar main pergi saja setelah menerima telpon penting tanpa sempat bertemu Juli.


"Yasudah mama coba minta tolong orang hotel buat cari Juli.


Kamu hati hati disana ya !"


Zara segera menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


"Gimana ?"


Aulia tak sabaran.


"Juli kayaknya masih dikantor deh mih. Damar katanya ke Tegal ngurusin projek."


Zara menghela nafas kasar, tangannya kembali menelpon nomer hotel.


"Tolong cek ruangan DGC, sampaikan pada Juli untuk segera pulang !"


Tegas Zara pada petugas operator hotel.


Atas perintah Zara seseorang mencari keberadaan Juli di lantai 2.


Padahal semua office sudah pada pulang dijam segini.


Benar saja, lampu ruangan DGC masih menyala.


"Mbak Juli, bangun mbak !"


Hati hati sekali petugas area menyentuh punggung Juli.


Ibu komisaris secara khusus menyuruh Juli pulang, itu artinya Juli bukan karyawan sembarangan.


"Eh pak, aduh . . Jam berapa ini ?


Saya ketiduran ya ?"


Juli merapikan rambut berantakannya, ia melirik jam tangan berhasil membulatkan bola matanya.


"Bu Zara meminta mbak Juli segera pulang. Kalau begitu saya permisi mbak."


Setelah menyampaikan pesan petugas meninggalkan Juli sendirian lagi.


"Ya Ampun, , mati aku !"


Juli menepuk jidatnya keras.


Ia hampir lupa kalau malam ini selepas isya akan ada tahlilan dirumah nenek.


Cepat cepat Juli membereskan perlengkapannya kedalam tas.


Harga mati Juli harus sampai rumah secepat mungkin.


Sialnya lagi jam jam sekarang jalanan pasti akan macet.


Pilihan terbaiknya Juli menggunakan ojek online.


🌙️🌙️🌙️


Benar saja, setibanya Juli didepan halaman rumah sudah ramai berdatangan para jemaah yang akan mendoakan.


Juli masih belum terbiasa dengan kehidupan berumah tangga.


Apalagi baru kemarin ia menikah. Pokoknya Juli pening jika mengingat statusnya sebagai seorang istri.


"Kamu kemana saja dari tadi ditungguin pulang ?"


Sambutan sinis dari Grand Ma membuat nyali Juli semakin ciut.


"Maaf Grand Ma, tadi masih banyak pekerjaan di kantor harus selesai hari ini."


Jawab Juli sedikit tidak jujur pada Aulia.


Bagian bohongnya yaitu Juli ketiduran akibat kelelahan.


"Gimana mau ngurus suami kalau sibuk sendiri begitu. Sudah masuk mandi sana !


Nanti bantu mertuamu menyajikan cemilan."


Perintah Aulia tanpa memikirkan perasaan Juli yang bisa saja tersinggung.


"Baik Grand Ma, sekali lagi Juli minta maaf."


Tidak lupa Juli meraih tangan Aulia memaksa mencium punggungnya.


Kakinya melangkah cepat masuk ke kamar tamu.


Beruntung Damar sigap menyuruh Ifan membawakan pakaian ganti dan keperluan Juli.


Suaminya itu memang luar biasa, atau biasa diluar ?


Entahlah, Juli sempat membaca pesan dari Damar di perjalanan naik motor.


"Mih, jangan keras keras ah sama Juli.


Kasihan dia kan masih muda, banyak beban nanti dia."


Ditya ternyata melihat kejadian tadi, dia menegur maminya supaya bersikap sewajarnya pada Juli.


"Justru karena masih muda, harusnya Juli mulai membiasakan diri. Tahu posisinya itu sebagai siapa disini.


Lagian mami cuma ngetes dia doang kok Dit, biar Juli bisa mandiri mengurus Dee."


Aulia tersenyum jahil membicarakan cucu mantunya pada Ditya.

__ADS_1


"Kirain Ditya mami serius, pokoknya jangan sampai Juli bersedih.


Kasihan dia, mamikan juga tahu Inez sama papinya sudah tiada.


Kita keluarganya sekarang."


Ditya kembali mengingatkan bagaimana kehidupan Juli.


"Iya juga Dit, mami hampir lupa soal itu.


Mami harus merubah rencana mami kalau gitu."


Aulia buru buru pergi kedepan menyambut para tamu mengalihkan pembicaraan.


"Ada apa mas ?"


Zara baru muncul melihat mami meninggalkan Ditya.


"Biasa mami, sok sokan mau gembleng cucu mantunya.


Kayak kamu dulu haha . ."


Ditya tertawa cukup keras memaksa Zara menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Ingat mas ini tahlilan mama, kamu jaga sikap gak enak didengar tamu."


Ditya menggaruk kepalanya tidak gatal, bisa bisanya Ditya lupa akan hal itu.


Pengajian baru saja selesai, para jemaah sedang menikmati jamuan tuan rumah.


Barulah Kevin tiba memarkirkan mobilnya didepan halaman rumah.


Pekerjaannya sebagai dokter sekaligus wakil kepala sangat menyita waktunya.


"Maaf ya mah Kevin pulang telat, banyak pasien tadi."


Kevin merasa tidak enak.


Jika tidak ada jadwal operasi dirinya ditempatkan dibagian IGD.


Seharinya bisa ada puluhan pasien kecelakaan.


"Gak apa nak, cepat kamu mandi biar seger badannya. Juli lagi siapin makan malam buat kita."


Zara menepuk punggung putera bungsunya.


Kevin mengintip sedikit Juli diarea dapur.


Soal masak Juli memang pantang diragukan, ia akan mudah beradaptasi.


Selepas membagikan jamuan, Juli berinisiatif membuat hidangan makan malam.


"Kevin naik ya mah . ."


Zara mengangguk, Kevinpun segera menaiki anak tangga.


Suasana makan malam di meja menjadi hening.


Tidak ada obrolan, hanya dentingan sendok garpu beradu dengan piring.


Biasanya Damar akan menenangkan Juli saat dirinya gugup.


Gugup lebih ke rasa takut menghadapi Grand Ma.


"Ekhem . .


Enak juga masakan cucu mantu Grand Ma.


Pantes Damar kesemsem sama Juli."


Akhirnya Aulia memecah keheningan. Ia berniat menyudahi masa orientasi Juli yang bahkan belum dimulai.


"Terima kasih Grand Ma, Juli lega kalau masakan Juli bisa diterima."


Juli menyimpan sendok garpunya, ia tersenyum menundukan kepala sekilas.


"Rencananya kalian mau tinggal dimana ?"


Ditya melayangkan pertanyaan menohok.


"Juli ikut apa kata pak Damar saja om."


"Eh kok Om, panggilnya ayah. Mama Zara, terus masak kamu panggil suami kamu bapak.


Mas kek, abang atau kakak gitu."


Aulia nyeletuk menimbulkan beberapa tatapan tajam dari sekelilingnya kecuali Juli.


"Iya Grand Ma, maaf Juli keceplosan."


Eh ini anak malah nyengir kuda dihadapan keluarga suaminya.


Membuat Kevin terkekeh dalam hatinya.


Sikap polos Juli mampu mencairkan suasana duka diantara mereka.

__ADS_1


Juli gadis baik memang, sayang nasibnya tidak seberuntung orang lain.


Damar dan Juli saling melengkapi satu sama lain.


__ADS_2