Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Arga


__ADS_3

Zoya tidak bisa berkata apa apa, ia hanya menangis dan menciumi tangan Ditya berkali kali.


Bagaimana kalau hal buruk menimpa suaminya ?


Baby X butuh Ditya, apalagi dirinya yang tidak bisa hidup tanpa Ditya.


Jika saja Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada lagi yang bisa menggantikan posisinya di hidup Zoya.


"hey . . Aku baik baik saja, lihat aku ! Aku mohon berhentilah menangis ?!"


Melihat Zoya yang terisak isak, membuat Ditya semakin merasa bersalah.


Mungkin benar, jangan pernah meremehkan firasat istri.


Kalau saja Ditya tahu akan begini, dia pasti akan menyuruh clientnya datang ke hotel.


"maafkan aku Zoya, kemarilah".


Ditya berusaha untuk duduk dan memeluk Zoya.


Berharap istrinya akan berhenti menangisi musibah yang menimpa dirinya.


"Aditya . . Kamu baik baik saja kan ?"


Bu Aulia dan Tia datang menemui mereka, sementara Pak Mahesa ditemani nek Hafsari menemui dokter untuk mengetahui keadaan Ditya.


"iya mi, Aditya hanya kecelakaan ringan. Tolong jaga Zoya mi, sejak tadi dia histeris".


Tia berusaha mengajak Zoya pergi keluar dari IGD, tidak baik juga bagi kesehatannya jika berlama lama disana.


Sebelum pindah ke ruang inap, Ditya terlebhi dulu melakukan serangkaian tes.


Masuk keruang rontgen dan melakukan CT scan.


"Zoya tidak bisa menjaga Ditya dengan baik mi, harusnya Zoya melarang dia pergi".


Bu Aulia dan Tia berusaha menenangkan Zoya di ruang tamu kamar Ditya.


"kamu tidak boleh bicara begitu nak, kan tidak ada yang tahu masa depan. Yang penting sekarang kita berdo'a ! Semoga hasilnya baik baik saja".


Mereka berpelukan memberi dukungan moril pada Zoya.


Pintu kemudian terbuka, Ditya datang dibantu suster menggunakan kursi roda dengan infusan masih menggantung.


Dengan cepat Zoya membantu Ditya pindah ke ranjang dan merapikan posisi bantal.


Ditya bersandar, lalu menggenggam tangan Zoya.


"maaf membuatmu khawatir".


Ditya tersenyum berharap Zoya berhenti menangis dan bisa lebih tenang.


"kak, Tia mau belanja. Kakak mau pesan apa ?"


Tia menghampiri Zoya, karena setidaknya mereka harus memiliki persediaan minum dan makanan untuk menjaga Ditya.


"kakak ikut sama kamu, biar Ditya istirahat".


Zoya juga perlu menghirup udara segar untuk merilekskan pikirannya.


Ditya hanya mengangguk pada Tia, memperbolehkan Zoya ikut dengannya.

__ADS_1


Mini market terletak di halaman rumah sakit, jadi tidak perlu keluar. Sepanjang jalan koridor terbuka, terdapat kolam air mancur dan tanaman bunga yang cantik.


Menyegarkan mata jika berjalan melewatinya.


"kak, aku kebagian snack sama minuman ya".


Mereka berpisah untuk mendapatkan barang yang perlu dibeli.


Zoya mengedarkan pandangannya pada tumpukan pembalut.


Dia tersenyum dan mengelus perutnya. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan itu.


Tiba tiba kepalanya terasa pusing, keringat dingin mulai keluar.


"mmm . ."


Lirihnya mencari pegangan pada rak yang berjejer.


"Zoya !"


Seseorang berlari menahan tubuh Zoya yang hampir terjatuh. Dia langsung membopong dan membawa Zoya ke ruang IGD.


"Arga ? . ."


Setelah sadar Zoya kaget melihat sosok laki laki yang tengah duduk menjaganya.


"tadi suaminya, sekarang si istri yang masuk IGD. Apa kamu tidak memikirkan bayi kamu ? Sampai berlari kesana kesini mengurus Ditya".


Arga mengomeli Zoya seperti seorang kakak yang khawatir pada adiknya. Zoya yang mendengarnya hanya mengerutkan kening.


"terima kasih, tapi saya mohon kamu pergi. Kenapa juga sejak tadi kamu masih ada disini ?".


Tak mau kalah dari Arga, Zoya terang terangan mengusirnya untuk segera pergi.


"kak Zoya . . Kakak kenapa ? Aku cari cari di mini market gak ada, kata yang lihat kakak pingsan".


Tia datang dengan 2 kantung kresek berisi belanjaan.


Bicaranya nyerocos tanpa titik dan koma, membuat Arga terkekeh mendengarnya.


"kakak mohon jangan beritahu siapapun kalau kakak pingsan. Please !"


Kedua tangan Zoya menempel memohon pada Tia untuk diam.


"kak Arga ? Kok bisa ada disini ?"


Baru sadar, Tia melihat kearah Arga yang sudah duduk sejak tadi.


"kebetulan kakak lagi beli minum, ini manusia pingsan depan kakak".


Awalnya Tia senyum sendiri bertemu dengan Arga, kemudian dia menyingkirkan Arga dari kursinya.


Tia memapah Zoya yang sudah bangun dan ingin pergi ke kamar Ditya.


"jangan dekat dekat, dia kakak ipar Tia".


Sebelum pergi Tia sengaja mendorong tubuh Arga untuk memberi jalan.


"kenapa Tia kesal sama Arga ?"


Zoya dibuat penasaran oleh sikap Tia pada Arga.

__ADS_1


"menurut kakak, kak Arga bagaimana orangnya ? Soalnya kata kak Adit dia jahat, ingin menjatuhkan perusahaan keluarga kita. Jadi aku berhenti mengejarnya".


Dulu sekali Tia pernah berlibur ke Inggris, dan menginap di apartemen Ditya. Kebetulan ada Arga, dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


Waktu itu sebelum persahabatan keduanya retak.


"lumayan baik, buktinya dia nolong kakak. Tadi dia juga khawatir dengan keadaan kakak kamu. Mungkin di lubuk hatinya masih ada jiwa persahabatannya".


Mereka tengah berjalan di koridor menuju ruang inap Ditya.


"tapi kak Arga tahu dari mana kalau kak Adit masuk rumah sakit ?"


Benar juga, mereka kan jarang bertemu selama ini.


"oh tadi . . Arga ke hotel, mencari Ditya. Dan tahu ada disini".


Zoya berbohong pada Tia, mana mungkin ia bilang kalau sebenarnya Arga yang mengantarnya ke rumah sakit.


Bisa habis dimarahi Ditya, apalagi Tia menyukai Arga.


sudah ada dokter dengan hasil lab Ditya saat Zoya dan Tia kembali ke ruangan.


pak Mahesa dan nek Hafsa juga ada disana.


"tidak ada cidera serius menurut hasil tes. keadaan pak Aditya baik baik saja, besok sudah bisa pulang. kalau ada keluhan berlanjut, datang dan lakukan check up lagi".


semua anggota keluarga bernafas dengan lega, syukurlah tidak terjadi apa apa pada Ditya.


keluarga Ditya berkumpul mengelilingi Ditya untuk menyemangati.


sementara Zoya malah terlihat mundur beberapa langkah.


kenapa ada rasa tidak berguna yang dialami Zoya ?


memyaksikan kehangatan Ditya dan keluarganya membuat Zoya merasa minder.


ia telah menciptakan spasi diantara mereka, Ditya sibuk menjaganya juga mengurus bisnisnya.


"jangan berani berpikir macam macam Zoya !"


Ditya mengetahui pergerakan istrinya, dan langsung menyerang tanpa memikirkan reaksi keluarganya.


"dia selalu memiliki asumsinya sendiri, merasa paling benar dengan pemikirannya. ayo kita ke ruang tv untuk minum".


pak Mahesa mengajak semuanya meninggalkan Ditya kecuali Zoya.


"mas . ."


Zoya masih berdiri diposisinya, ia masih belum berani mendekati Ditya.


"jangan merasa bersalah, aku tidak ingin mendengar apapun"


"Arga mengantarku kesini, aku minta maaf".


bagaimana bisa Zoya memancing amarah Ditya, seperti sengaja mencari kesalahan sendiri agar dirinya terlihat buruk di mata suaminya.


"tidak apa, kamu pasti punya alasan untuk menerima bantuannya".


Ditya memejamkan matanya, menghembuskan nafas perlahan.


"ada keluarga kamu disini mas, mereka bisa menjaga kamu".

__ADS_1


"kamu ini kenapa ? kamu istriku, aku butuhnya kamu".


Ditya setengah berteriak pada Zoya, keluarganyapun bisa mendengar meski pintu tertutup.


__ADS_2