Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
bukti


__ADS_3

Pagi pertama dibulan kesembilan kehamilan Zoya, sebelum berangkat ke kantor Ditya dipanggil keruang kerja papinya. untuk membahas hal penting pastinya, raut wajah papinya mulai terlihat serius.


"ada masalah pi ?"


Ditya tahu, kalau sudah begini pasti ada hal serius yang terjadi.


Plak . .


Pak Mahesa melemparkan sebuah amplop cokelat diatas meja.


Karena penasaran, Ditya langsung membuka isinya.


Matanya mulai terbelalak mendapati beberapa lembar foto dirinya.


Foto pertama, Ditya kedapatan sedang menyetir dengan wanita yang bersandar dibahunya.


Foto kedua, Mereka tengah asik menikmati es kelapa dipinggir jalan.


Dan masih ada beberapa foto lain kebersamaan Ditya dengan wanita yang sama.


"papi mata matain Ditya ?"


"bejad kamu Aditya, papi menyuruh kamu buka usaha bukan untuk melakukan hal menjijikan seperti itu".


Betapa malunya pak Mahesa mengetahui sifat buruk Ditya yang orang tidak tahu.


"pi, dia hanya rekan kerja. Kami melakukan perjalanan bisnis saat semua foto itu diambil".


Ditya membela diri seolah memang dia tidak bersalah.


"anak TK saja tahu Aditya, mana bisnis mana yang pake hati".


Tidak tahan lagi, Pak Mahesa meraih tongkatnya dan menghampiri Ditya untuk memukulnya.


"pi . ."


Seseorang datang dari pintu menghentikan aksi pak Mahesa yang sudah melayangkan tongkatnya.


"Zoya . ."


Keduanya terkejut melihat Zoya yang ternyata sudah berdiri sejak tadi didekat pintu yang masih terbuka itu.


"jangan pukul Ditya, Zoya mohon".


Langkahnya terasa berat untuk terus mendekati meja kerja pak Mahesa.


Tatapannya sangat tertarik pada foto yang tercecer diatas meja.


"aku bisa jelaskan semuanya".


Ditya berusaha menahan langkah Zoya, dan berhasil.


"sudah aku duga mas, jadi ini yang kamu kerjakan setiap hari senin disana ?".


"Zoya, maafkan papi. Memiliki anak laki laki yang pengkhianat ini, papi sangat malu sama kamu".


Salahnya Pak Mahesa membahas masalah itu, saat Ditya dan Zoya yang baru menginap lagi setelah terakhir sebulan yang lalu diacara 7 bulanan Zoya.


"apa kamu tidur dengannya mas ?"


Pertanyaan Zoya memekik ditelinga kedua pria dihadapannya.


Ditya hanya diam, tidak menjawab apapun.


"gilak kamu mas . ."

__ADS_1


Dadanya terasa sesak, darah Zoya mulai mendidih mengalir ke seluruh tubuhnya.


Tak tahan lagi rasanya, dunia Zoya sudah dihancurkan oleh suaminya sendiri.


Pria yang berjanji tidak akan melakukan hal itu, apa masih ada cinta dihatinya untuk Zoya ?


"bahkan belum 1 tahun kita menikah, kamu sudah mengkhianati aku".


Zoya menghentakkan telunjuknya didada Ditya seolah menanyakan dimana ketulusan hatinya.


"Zoya, aku mohon tenanglah !"


"kamu pilih aku dan anak kamu, atau perempuan ****** itu sekarang aku sudah tidak peduli lagi mas".


Zoya menahan emosinya sebisa mungkin. Ia tidak ingin membahayakan keadaan baby X. Cukup, sudah tidak ada kata kata lain lagi yang bisa diungkapkan oleh Zoya.


Ia pergi ke kamarnya, dan mulai mengemasi pakaian miliknya.


Ditya mengusap wajahnya kasar, tak kalah sesaknya dada Ditya melihat kemarahan Zoya.


Ini memang salahnya, bagaimana bisa Ditya begitu bodoh tergoda oleh kenikmatan dunia ?


Padahal dirinya sudah sangat ingin mengakhiri hubungan terlarang itu.


"tunggu Zoya, kamu tidak bisa pergi begitu saja. Aku suamimu berhak melarang, ini perintah".


Ditya menahan koper yang sedang ditarik oleh Zoya yang berniat pergi.


"kalau begitu talak aku mas, kalau kamu tidak bisa memilih sekarang juga".


"cukup ! Jangan segampang itu mengatakan hal yang tidak pernah akan aku ucapkan sampai maut menjemputku Zoya".


Meski sulit, Ditya terus berusaha meyakinkan Zoya untuk setidaknya mendengar penjelasannya dulu.


"jangan ? Kamu sendiri dengan mudahnya tergoda oleh Conni mas. Aku sudah menaruh kepercayaanku sama kamu, sesaat sebelum grand opening".


"aaw . . Mas . ."


Zoya yang hendak membuka pintu mobil untuk menyetir sendiri, merasa kesakitan.


"mmm . ."


Dia menahan perutnya yang terasa mau pecah itu. Kemudian cairan putih mengalir jatuh kebawah kakinya.


"ya Tuhan Zoya . ."


Ditya yang mengejar Zoya terkejut melihat keadaan istrinya.


Semua ikut keluar melihat kondisi Zoya yang sempat berteriak tadi.


"ayo bawa ke rumah sakit Dit".


Bu Aulia menjaga Zoya, supaya Ditya bisa fokus menyetir dengan cepat.


"mi, Tia ikut".


Dikursi belakang Zoya dijaga oleh Mertua dan adik iparnya.


Didalam perjalanan, Zoya masih meringis kesakitan dengan menggenggam erat tangan bu Aulia.


"Zoya sudah tidak kuat mi, spertinya baby X sudah mau keluar".


Zoya merasakan kalau bayinya terus mendorong.


Padahal menurut dokter, Zoya tidak bisa melahirkan secara normal. Akan berbahaya bagi ngawanya kalau tidak di caesar.

__ADS_1


"mi, tahan Zoya ! Ditya mohon jangan sampai Zoya ikut mendorongnya".


Ditya ingat betul peringatan dokter tentang kesehatan Zoya.


"kak jangan didorong dulu baby X nya, kakak tarik nafas dan keluarin pelan pelan".


Tia memberi instruksi agar Zoya bisa lebih tenang.


Baik sekali, Zoya menuruti aba abanya dan melakukan itu beberapa kali.


Tapi karena baby X yang terus memaksa, Zoya merasa kewalahan.


akhirnya mobil Ditya sampai didepan IGD, lagi lagi Ditya de javu.


petugas langsung menjemput Zoya, mereka terus memberi dukungan pada Zoya agar bisa kuat.


"satu orang saja yang bisa menemani".


kata suster yang akan masuk ke ruang penanganan menahan mereka bertiga.


"masuklah Ditya".


perintah bu Aulia pada Ditya yang terlihat ragu.


dirinya merasa tidak pantas untuk menemani Zoya.


"ayo kak ! mereka butuh kakak". Tia kembali mengingatkan kakaknya untuk tetap tabah, tidak peduli apa yang terjadi diantara mereka.


"kami akan menyuntik istri bapak, setengah bagian".


karena kondisi Zoya stabil, suster diperintahkan untuk membius setengah badan Zoya.


setelah menerima suntikan, Zoya merasa mati rasa. sama seperti perasaannya pada pria yang kini menggenggam tangannya.


dr. Rahman tiba, siap mengambil alih operasi.


pisau mulai membelah perut Zoya, masih terasa baginya. perutnya seolah digores oleh silet, linu dan nyeri.


Zoya menitikan air mata, kenapa harus begini ?


Zoya harus berjuang melahirkan baby X saat rumah tangganya diambang kehancuran.


"aku mencintaimu Zoya, tidak akan ada selain kamu".


bisik Ditya ketelinga Zoya, berharap ia akan kuat dan bertahan.


beberapa menit kemudian, tangis baby X nyaring mengisi ruang operasi.


dr. Rahman memberikan baby X kedada Zoya untuk first touch.


"sayangnya ibu . ."


Zoya mengelus baby X yang rambutnya hitam pekat dan lebat itu.


mulut kecil baby X mulai mengemut kulit Zoya, sperti sudah tidak sabar ingin menerima asi.


"berat 2,9 kg, panjangnya 40 cm, jenis kelamin laki laki lahir pada tanggal 01 februari 2019 pukul 08.15".


suster mencatat dan mengecek kondisi baby X, agar tidak ada air ketuban yang masuk ke mulut dan hidungnya.


disisi lain Zoya masih menerima jahitan diperutnya.


sebelum masuk, Ditya diminta mengisi formulir persetujuan wali.


Zoya akan dipasang alat pengaman yang jangka waktunya sesuai standard kesehatan yaitu 5 tahun.

__ADS_1


Ditya mengadzani baby X setelah selesai diperiksa oleh suster.


__ADS_2