Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Hari hari Bahagia


__ADS_3

Di sebuah gedung yang terletak dihalaman sebuah Hotel, ramai orang berdatangan dengan dress code batik/kebaya. sepasang suami istri juga sudah tiba dicarpot, petugas penerima tamu membukakan pintu untuk sang wanita.


Suaminya dengan gagah keluar, menghampiri sang wanita untuk menggandengnya.


Mereka memasuki gedung yang didekor khusus untuk pernikahan. Berjalan penuh keserasian melewati red carpet.


Wanitanya terlihat seksi mengenakan kebaya pas badan bernada cokelat, dan yang pria memakai stelan khas jawa senada.


"selamat ya Milk, akhirnya sudah jadi seorang istri."


Keduanya bertemu sang pengantin diatas pelaminan. Cipika cipiki, berpelukan mengucapkan selamat dan ikut berbahagia.


"iya dong hehe . .


eh foto dulu kita Zoy, Dit."


Milka menarik tubuh Zoya untuk berdiri disampingnya, dan Ditya disamping Erwin.


Cekrek . .


Penantian Milka berbuah hasil. Kesabarannya meluluhkan hati Erwin membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada akhirnya Erwin bisa menyukainya, hingga memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.


"kak Milka . . Mas Erwin, selamat ya. Tia ikut bahagia sekali."


Dari bawah tampak Tia dengan ceria naik keatas, disusul sosok Arga yang menjadi wedding datenya.


"cepat nyusul Ga, jangan bikin Tia nunggu lama !"


Erwin membalas jabatan tangan Arga, dan memeluknya singkat.


"tunggu tanggal mainnya. Eh foto dong !"


Tiga pasangan itu berfoto bersama diatas pelaminan.


Semoga akan selalu seperti ini, ikatan persaudaraan dan persahabatan. Mengulurkan tangan ketika ada yang kesusahan, ikut tersenyum merayakan kebahagian yang mereka dapat.


Bersama Ditya dan Zoya, mereka banyak mendapatkan pelajaran berharga.


Bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Setelah menikah kita tidak bisa lagi mundur, untuk menyudahi penderitaan. Yang kita perlu lakukan ialah terus bersama melewati jalan panjang penuh lika liku. Meraih tangan yang mulai lelah, lalu melanjutkan langkah kedepan.


Sesi lempar bunga akhirnya segera dilaksanakan, sebuah ritual yang wajib terdaftar dirundown acara.


1 2 3, buket bunga dilempar oleh Erwin dan Milka, Tia yang berdiri jauh dari kerumunan mendapatkannya tanpa berusaha.


"wah Tia, otw nyusul nih."


Zoya yang merangkul mesra pinggang Ditya menggoda adik iparnya. Arga hanya tersenyum menyaksikan ekspresi malu malu Tia.


Arga ingin mengikuti jejak Ditya dan Erwin, tidak main pacaran melainkan langsung melamar dan menikah.


Usaha Tia mendapatkan hati Arga bagai melelehkan patung es. Sejak awal kenal, Arga memang menganggap Tia adiknya karena Ditya adalah temannya.


Lambat laun, seiringnya waktu yang mereka habiskan bersama Arga menyadari kalau Tia lebih dari itu.

__ADS_1


"doain ya kak, semoga usaha Tia ada hasilnya."


Tia mencium buket bunga segar yang digenggamnya.


Setiap perempuan pasti memimpikan pernikahan bersama pria yang dicintainya. Begitupun dengan Tia, dia merasa iri melihat Zoya dan Milka bisa bersatu dengan orang yang mereka cintai.


Selanjutnya acara dansa dimulai, Milka sengaja ingin merasakan sensasi dansa bersama Erwin. Mc juga meminta tamu undangan yang hadir untuk ikut bergabung.


"kamu mau dansa Zoya ?"


Ditya berlutut mengulurkan tangannya untuk meminta Zoya berdansa.


Dengan anggun, Zoya tersenyum menerima uluran tangan suaminya.


Instrumen musik diputar, dengan title a whole new worl dari Zayn dan Zhavia.


"saat ini aku sangat bahagia mas, terima kasih sudah bertahan disampingku."


Kedua tangan Zoya melingkar dileher


Ditya yang memeluk pinggangnya.


"aku mencintaimu Zoya, sangat."


tanpa malu malu, Ditya mengecup singkat bibir Zoya.


Zoya mengeratkan pelukannya, menenggelamkan kepala didada Ditya.


🍀🍀🍀


Setiap hari, selama beberapa bulan terakhir, teriakan Zoya sudah sangat biasa terdengar oleh Ditya.


"iya sayang . ."


Ditya yang tengah fokus membuat desain bangunanpun meletakkan kembali pensilnya. Dia berlari kecil keluar kamar, mengambil alih Dee dari gendongan Zoya.


"jagoan ayah sudah mau setahun saja ya ? Makin berat kamu Dee . ."


Dee semakin besar, dia sudah bisa duduk dan merangkak. Bobot tubuhnya jangan ditanya, chuby dan menggemaskan. Pipinya saling berpacu dengan hidung mancungnya.


"mas, apa harus kita merayakan ulang tahun Dee ? Kalau iya, aku mau hanya keluarga inti saja."


Disela aktifitasnya memasak, Zoya membahas soal acara ulanh tahhn pertama anaknya.


Ditya memang pernah merencanakan membuat pesta ulang tahun untuk Dee. Namun itu masih beberapa hari yang lalu.


Tanggalnya semakin dekat, Zoya perlu keputusan akhirnya.


"iya aku setuju. Tapi aku berencana untuk memberi santunan, kalau begitu biar nanti dikirim langsung ke yayasan saja."


Aktifitas Ditya memang selalu padat, namun ia sangat sering menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. Kalau Zoya sibuk, Ditya tidak sungkan untuk mengasuh Dee.


Bahkan Ditya selalu mengajak Dee berkeliling diarea hotel.


Apalagi sekarang Dee mulai belajar berdiri.

__ADS_1


MHotel juga sudah dilengkapi fasilitas Daycare, dengan babysitter bersetifikat.


"Zoya, itu obat siapa ?"


Pandangan Ditya tertuju pada botol obat bening diatas rak TV.


"oh, itu punyaku mas. Akhir akhir ini aku sering sakit perut, jadi aku meminta resep dokter."


Zoya sudah siap dengan masakannya, ia mulai menata hidangan diatas meja.


Bi Sumi yang biasanya membantu, sedang pulang kampung ke kota asalnya yaitu Klaten.


"kenapa aku baru tahu, sebaiknya kita lakukan tes. Jangan menyepelekan penyakit Zoya !"


Ditya beranjak dengan menuntun Dee ke meja makan, dia mendudukannya di baby chair.


"iya mas, nanti akan aku lakukan. Ayo kita makan Dee . ."


Sudah menjadi kebiasaan, sebelum dirinya yang makan Zoya akan lebih dulu menyuapi Dee.


"oh iya, aku lupa cerita. Seminggu setelah Dee ulang tahun, Arga akan melamar Tia. Keluarganya akan datang ke rumah."


Sambil menyantap makanan, Ditya memberi kabar bahagia dari adiknya Tia. Benar benar butuh proses, Tia akhirnya akan di lamar oleh Arga.


"alhamdulillah, aku ikut bahagia mas dengarnya.


Wah . . Dee bakal tidur dirumah grand pa nih."


Mendengar kalimat terakhir, Dee tertawa menggemaskan. Sepertinya dia sudah mulai mengerti perkataan orang tuanya.


"mas ada sesuatu buat kamu, sebentar . ."


Ditya berdiri dari kursinya dan berjalan kearah Zoya.


dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. memasangkan sesuatu keleher Zoya.


"ini kan . ."


tahu apa yang sedang Ditya pakaikan, Zoya tersenyum bahagia. dia mendapatkan sebuah hadiah yaitu kalung bertahtakan berlian.


"aku tahu kalau aku tidak seromantis orang lain. tapi aku selalu bahagia bisa memilikimu, mungkin ini saja tidak cukup untuk membuktikannya. terima kasih sudah menjadi istriku Zoya, menjadi ibu dari anakku. aku sangat mencintaimu."


Ditya memegang kedua pundak Zoya, dan menciumi kepalanya berkali kali.


"terima kasih mas, aku adalah wanita paling beruntung menjadi istri kamu. aku mencintaimu sampai akhir nafasku mas."


Zoya menggenggam tangan Ditya, mereka kembali menikmati makan malam.


tak henti hentinya Zoya memandangi Ditya, ia tidak ingin melewatkan sedetikpun wajah suaminya.


suatu saat, mereka pasti akan terpisahkan. Zoya memastikan, hanya maut saja yang akan memisahkan mereka.


tidak oleh kehadiran orang ketiga, atau keegoisan mereka.


semuanya akan baik baik saja, apapun masalah yang menerpa rumah tangga Zoya dan Ditya.

__ADS_1


sekarang mereka hanya perlu menghabiskan waktu yang tersisa dengan penuh suka cita.


__ADS_2