
Pagi ini, Laila sedang bercanda dengan kedua sahabatnya di depan kelas mereka. "Kalian tahu gak? Kenapa Tayo warnanya biru?" Tanya Nafisa, dan tersenyum penuh arti.
"Eummm, karena dia bis biru." Jawab Safira ambigu.
"Bukan."
"Karena itu Tayo, makanya biru." Timpal Laila.
"Salah!"
"Terus apa dong?!" Tanya Laila dan Safira bersamaan.
"Ya kalo warnanya kuning, namanya Tayi." Tutur Nafisa dan nyengir lebar.
Laila dan Safira melotot tak percaya dengan jawaban absurd itu. "Tahu gitu, mending gak jawab gue, asli." Sahut Safira sambil membuang muka.
"Ni anak di tabok halal gak?" Tanya Laila dan menatap greget Nafisa.
"Halal banget La, seratus persen gue dukung." Timpal Safira.
"Weee, enak aja! Ya gak halal lah, soalnya belum di halalin sama Mas F." Ujar Nafisa dan dramatis di akhir kalimat.
Tuk!
Laila menoyor kening Nafisa gemas. "Masih sempet mikirin tuh Mas F! Tahu akun fake, kok baper sama ketikan doang!" Sarkas Laila.
"Serah gue lah La! Gue yakin kok, yang punya tuh akun, cowok beneran. Suaranya juga kayak masih muda, terus kayak ganteng juga, mungkin dia cuma males ngenalin diri sama media." Oceh Nafisa sewot.
"Serah Lo Sa, kalo tuh cowok emang ganteng pasti dah punya cewek lah." Balas Laila tak kalah sewot.
"Iya kan waktu itu gue ceweknya njir!" Sentak Nafisa kesal.
"Bisa jadi Lo dijadiin selingkuhan ma dia, ya gak?" Laila masih menyahuti ucapan Nafisa, sedangkan Safira memperhatikan keduanya dengan seksama.
Nafisa terdiam, ucapan Laila ada benarnya juga. Bukannya yang membuat akun tanpa identitas itu bisa jadi untuk bahan selingkuhan, Nafisa sudah nething.
"Iya kan? Huh! Lo sih! Buaya makan buaya kan jadinya." Laila malah semakin menyudutkan Nafisa yang terdiam.
"Mangsa gue masi-" sahutan Nafisa terpotong.
"Yang, nanti istirahat pertama aku jajanin martabak di sebrang sekolah yah sama Boba, buat rayain hari jadi ke tiga bulan kita." Sepasang kekasih sedang berjalan bergandengan mesra.
Ketiga kaum jomblo di sana melongo, martabak sama Boba? Waduuuh romantis banget yah. Anti mainstream nya banget, ketika hari jadi hubungan kita di belikan barang berharga atau apa, lah ini di belikan martabak sama Boba. Tapi bikin kenyang sih.
Lain halnya dengan Laila yang memikirkan martabak Boba, Nafisa malah fokus pada suara pemuda yang tadi berbicara.
"Oh my Gosh! Itu suara mas F woyy!" Heboh Nafisa dan berdiri. Kedua sahabatnya menatap heran.
"Ngaco!" Sentak Laila dan Safira bersamaan, yang mana membuat Nafisa terkekeh.
__ADS_1
Jam istirahat sudah tiba, siswa/i kelas X IPS 1 keluar untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi dari tadi. Kini tinggallah Laila dan kedua sahabatnya di dalam kelas.
"Ngantin gak Gaes?" Tanya Nafisa yang sibuk membereskan bukunya.
"Ayok! Cacing di perut gue dah demo minta keadilan." Balas Laila sekenanya.
"Kayak Massa aja cacing perut Lo La." Cibir Safira, dan disambut kekehan dari Laila dan Nafisa.
"Aduh! Bentar! Gue duluan." Pamit Laila dan berlalu keluar kelas lebih dulu. "Lo pada jangan ke kantin duluan! Tungguin gue, oke?!!" Pekik Laila dari luar yang tentunya sangat terdengar jelas di telinga kedua sahabatnya.
Sepuluh menit berlalu, Laila berjalan santai menuju kelasnya. Ia merasa lega, panggilan alamnya sudah tidak membuncah seperti tadi.
Hingga saat tiba di depan pintu, ia dikejutkan dengan seseorang yang hampir bertabrakan dengannya. Itu Erlangga.
Laila secara refleks memundurkan kakinya, dan tanpa sengaja kakinya berbelit. Hap! Hampir saja ia terjatuh, namun secepat kilat, Erlangga meraih pinggang Laila dan—.
"Woaahhh!!!" Seluruh siswi yang ada di kelas itu mengangakan mulutnya, tak menyangka akan melihat adegan romantis yang kebetulan seperti ini.
Ternyata tanpa sengaja, Erlangga mencium kening Laila. Laila merasakan jantungnya berdetak cepat, Laila dan Erlangga sama sama membelalakkan matanya terkejut.
Secepat kilat, Laila melepaskan diri dari pelukan Erlangga. "Ma-makasih." Ucap Laila dan menunduk, ia merasakan pipinya yang memanas. Hah, pasti pipinya sudah merah.
Erlangga hanya mengangguk canggung dan berlalu meninggalkan kelas. Setelah kepergian Erlangga siswi yang dikelas termasuk kedua sahabatnya, mengahampiri Laila yang masih mematung sambil menunduk.
"Acieee!!! Di cium si ganteng." Goda Selvia dan disambut yang lainnya.
__ADS_1
"Jujurly aja yaa, sebenernya hampir semua siswi dikelas kita suka sama Erlangga. *But*, liat adegan Lo tadi sama dia, kita jadi gimana gitu. Eeeuummmhh!!!" Nata menyahuti dengan wajahnya yang memerah. Padahal kan yang digoda Laila bukan dia.
"hmmm! Lo cocok sama Erlangga La! Kita dukung Bu Waketu sama Pak Ketu buat bersama!" Timpal Nafisa dengan wajah semangatnya.
"*So*, kalo nanti mereka jadian bakal ada drama yang berjudul. Cinta antara ketua dan wakil kelas." Sahut Nata dengan wajah bangganya.
"Iya dong yah! Apalagi pas kemarin-kemarin lusa, kan kalian berdua duet. Suaranya bagus, tampangnya pada masyaallah, IQ nya diatas seratus, kalian punya banyak kesamaan pokoknya!!!" Ujar Selvia menggebu.
"Acieee, kasih nama couple dong yaaa. Gala. Erlangga Laila." Sontak ucapan Nafisa disambut godaan semakin banyak.
"Cieee!!! Janlup kalo dah jadian harus traktiran. Asoyyy!" Entah datang darimana, tiba-tiba si YouTubers cilik muncul dan berjoget ria.
"Acieee!!!! Gala! Gala!" Semua penghuni kelas langsung meneriaki nama couple Erlangga Laila itu.
Laila menutup wajahnya dan berlalu kedalam kelas, ia yakin wajahnya sudah merah. Ia malu setengah mampus, sialnya kedua sahabatnya malah ikut-ikutan. Mentang-mentang ia jomblo Fisabilillah banyak sekali cobaan agar ia mau berpacaran.
"cieeee Lailaa, kita dukung seribu persen Lo sama Erlangga!!!" Mereka bersorak bahagia dengan antusiasnya.
Laila yang mendengar itu merasa sebal, namun sedikit ada perasaan senang juga. Entahlah, Laila tak bisa mendeskripsikannya. 'apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?' Laila bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
Selama ini, Laila tak pernah merasakan apa itu jatuh cinta, ia hanya pernah melihatnya di drama-drama, atau cerita novel yang terkadang ia baca, atau mendengar kedua sahabatnya berceloteh bahwa mereka mencintai seseorang.
Diantara mereka bertiga, memang hanya Laila-lah yang tak pernah merasakan apa itu jatuh cinta, berpacaran, bahkan Laila tak pernah terbuka dengan kedua sahabatnya soal perasaan.
Safira dan Nafisa juga tak pernah mendesak Laila, mereka menganggap suatu hari nanti mungkin Laila akan mengutarakan isi hatinya. Yang kedua sahabatnya lihat hanyalah Laila si yang paling ceria, Laila yang mudah ketawa atau senyum, Laila yang selalu jadi badut dadakan, dan hal kecil lain yang membuat semua orang tertawa.
Laila seperti tak pernah mengeluarkan air matanya, hanya raut kebahagiaan yang terpatri di wajahnya. Laila seperti itu bukan berarti ia tak memiliki masalah bukan? Tentu pasti ada namun ia menutupinya.
__ADS_1
\#**Bersambung**