Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Fakta diantara kita


__ADS_3

Di kediaman Bu Atikah, sudah ramai orang orang yang membantu mempersiapkan segalanya. Beliau ingin ulang tahun Dee dirayakan di rumahnya dipagi hari secara sederhana.


Bertepatan dengan hari istimewa dalam hidupnya.


Sebuah pilihan untuk melengkapi perjalanan disisa umurnya.


Bi romlah super sibuk mengatur semuanya, mulai dari menyiapkan catering dan mengurus dekor rumah.


Yang ditunggu tunggu akhirnya muncul, Ditya datang bersama Dee. Sengaja tidak ada keluarga lain, karena dirumah mereka juga akan diselenggarakan pesta.


"bu, selamat ya. Ditya ikut bahagia buat ibu."


Ditya memeluk bu Atikah yang sudah seperti ibunya juga.


"wah, nenek sekarang tidak akan kesepian. Ayah juga sama, bentar lagi Dee punya mama."


Mendengar penuturan Dee, Ditya merasa tidak enak pada ibunya.


"tidak apa apa nak, Zoya juga menginginkan hal yang sama. Jangan kamu menyiksa diri dengan perasaan bersalahmu Ditya."


Bu Atikah juga menyetujui jika Ditya memang ingin menikah lagi, ia tidak akan pernah melarangnya.


"asik nih yah, Dee tiup lilin bareng sama nenek melepas masa jomblonya hehe."


Dee berhasil membuat bu Atikah dan Ditya terkekeh. Ucapannya sudah seperti remaja saja.


"memang siapa bu, calon pendamping ibu ?"


Tanya Ditya penasaran yang memang belum mengenal sosok pria yang akan menemani masa tua mertuanya.


"nah, itu mobilnya sudah sampai. Tolong panggil pak penghulu di samping rumah ibu !"


Kebetulan sekali petugas kantor KUA rumahnya disebelah bu Atikah. Ditya mengangguk lalu berjalan keluar.


Langkah kakinya mendadak terhenti, ketika dia melihat dua sosok yang tidak asing. Mereka berjalan kearahnya dengan penuh rona bahahagia. Bagaimana bisa, dunia sesempit ini. Ternyata bu Atikah akan mengikat hubungan dengan keluarga itu. Benarkah ini sebuah jalan dari Tuhan, semuanya bagaikan ketidak sengajaan yang tidak sia sia.


"Ditya ?"


"Zara . . ."


Jadi Ditya adalah laki laki yang di maksud bu Atikah, suami dari almarhumah Zoya. Ini membingungkan bagi Zara, terlebih ada satu hal rahasia yang belum Ditya ketahui tentang dirinya.


Ternyata Kusuma adalah calon suami dari bu Atikah, yang tidak akan lama lagi menjadi mertuanya.


"ekhem. .


Ayo masuk !"


Ajak Kusuma menghentikan pandangan tak percaya keduanya.


Tidak banyak yang hadir, hanya keluarga inti. Meski sepi, acara berjalan hidmat dan lancar.


Akhirnya mereka sah menjadi sepasang suami istri, juga secara hukum. Zara yang ditinggalkan sejak kecil, akan mendapat kasih sayang seorang mama dari bu Atikah.


Begitupun bu Atikah, Zara sudah seperti anaknya. Melengkapi kekosongan tempat yang Zoya tinggalkan.


Selesai acara, Dee tidur untuk beristirahat ditemani Zara dikamar mikik Zoya.


Sebelum kembali ke rumah Mahesa untuk acara ulang tahun disore harinya.

__ADS_1


Kusuma dan Atikah yang akan ikutpun juga istirahat, menyiapkan tenaga saat menempuh jalanan yang cukup jauh.


"Zara, kamu istirahatlah ! Dee biar aku yanh jaga."


Ditya duduk ditepi ranjang mendekat kearah Zara yang sudah menina bobokan anaknya.


"mas, ada satu hal penting yang perlu kamu tahu tentang aku."


Karena mereka sedang dalam masa penjajakan, Ditya harus tahu soal kebenaran yang terjadi.


"ada apa ?"


"aku pernah cerita sama kamu, pas SMA aku pernah operasi besar. Ada kelainan jantung, penyakit turunan dari mama. Dan aku mendapat sebuah keajaiban, melalui transplantasi."


Ditya mengangguk, Zara memang sudah mengatakan hal itu.


Sebelum meneruskan, Zara tarik nafas dalam dalam.


"ada wanita berhati mulia. Dengan kebesaran hati mau menyumbangkan organ tubuhnya, bagi yang membutuhkan di detik terakhirnya."


Tiba tiba tubuh Ditya terasa lemas, dia berdiri dan berjalan mencari kekuatan untuk mendengar kelanjutan kisah Zara.


Ditya memijat keningnya, memejamkan mata mencerna setiap pertemuan yang mereka alami.


"kamu tahu, siapa wanita itu ?"


"cukup ! Ini tidak masuk akal Zara, jangan mengarang cerita lagi ! Aku bukan muridmu yang harus mendengar dongeng itu."


Zara berjalan kearah Ditya yang berdiri didekat jendela kamar. Ia meraih wajah Ditya dengan kedua tangannya.


"dengar, kamu dan aku sudah melangkah dijalan yang mbak Zoya buka. Kamu harus tahu semuanya mas ! Bukankah ini takdir yang mengikat kita sejak dulu ?"


Tetesan air mata Zara terus mengalir, Dityapun tak mampu menahan isak tangisnya.


Ditya tenggelam dalam pelukan Zara, perempuan itu juga tak tega melihatnya. Dielusnya kepala Ditya, agar dia bisa lebih tenang.


"mungkin mbak Zoya mempersiapkan kamu, agar jauh lebih bahagia dikemudian hari."


Kata kata Zara bahkan sangat tepat seperti yang dikatakan mendiang istrinya.


Pantas saja, Dee sangat nyaman berada didekat Zara. Dalam diri Zaralah kehidupan Zoya ibunya berpindah. Naluri dan perasaan Zoya disalurkan oleh jantung yang berdetak bersemayam memberinya asa kehidupan.


Ditya melepaskan pelukan Zara, dia menggendong Dee yang masih tertidur pulas.


"mas, kamu mau kemana ? Dee masih kelelahan, tolonglah jangan begini !"


Zara mengejar langkah Ditya yang mengarah ke mobilnya.


"tidak bisa Zara, aku tidak bisa melakukannya. Ini tidak adil untuk Zoya."


Setelah meletakkan Dee dikursi belakang, Ditya berjalan kearah kemudi.


"mas, kapan kamu akan melepaskan luka itu ? Kasih aku kesempatan, bukankah kamu yang menuntunku sejauh ini."


Mendengar keributan, Kusuma dan Atikah keluar melihat keadaan


Yang ada, Zara mengetuk kaca mobil Ditya berkali kali untuk menghentikannya pergi.


Sayangnya, Ditya bahkan tidak ingin tinggal. Itu kenyataan yang pasti akan melukai hati Zara. Harusnya dia sadar hari ini akan tiba.

__ADS_1


"ada apa Zara ?"


Atikah datang menghampiri, Zara memluknya menangis.


"ma, Ditya sudah tahu semuanya. Dan dia tidak ingin melanjutkannya."


Atikah dan Kusuma memang sudah banyak tahu tentang kedekatan mereka. Saat Ditya datang kerumahnyapun, Kusuma bahkan senang ada kemajuan dari dirinya.


Bu Atikah menceritakan semua kehidupan Zoya puterinya pada Kusuma dimasa masa operasi. Dimulai dari situlah keduanya jadi dekat, lalu memutuskan untuk hidup bersama.


"tenanglah, Ditya hanya butuh waktu untuk menerima keadaan ini."


Atikah menenangkan dan memberi semangat pada Zara. Agar ia tidak menyerah dan terus berjuang. Demi membahagiakan Dee, juga harapan Zoya. Zara harus tegar, semua akan berbuah manis jika ia sabar.


"lebih baik kita bersiap, kita harus pergi ke rumah orang tua Ditya."


Kusuma mengajak istri dan anaknya masuk kedalam rumah, masih ada pesta ulang tahun Dee.


Ditya tiba dirumah Mahesa, semua anggota keluarganya melihat kemarahan pada sorot matanya. Tidak ada yang berani bertanya, percuma kalau Ditya sedang begitu.


Dititipkanlah Dee yang masih tidur dikamar Rara.


Dia berjalan kearah kamarnya diatas, mengunci diri dan mulai membanting barang barangnya.


"Argh . . ."


Vas bunga, pajangan, semuanya Ditya lempar hingga jatuh pecah berserakan.


Suara keras terdengar kebawah, keluarganya khawatir. Apa lagi yang terjadi kali ini, menyebabkan Ditya membabi buta.


"Ditya, buka !"


Mahesa menggedor gedor pintu kamar, berharap Ditya mau membukanya.


"pergi pi !


Ditya pria yang sangat jahat, brengsek, tidak tahu malu."


Teriak Ditya frustasi, yang mendengar tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya.


"mi, ambilkan kunci cadangan ! Saat istrinya meninggal, dia bahkan tidak segila ini."


Bu Aulia menurut, turun sebentar untuk mengambil kunci serp lalu naik lagi.


Saat pintu terbuka, orang tuanya terbelalak melihat kamar anak sulungnya yang berantakan.


"apa apan kamu Aditya ? Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin !"


Ditya masih duduk dilantai dengan nafas tak beraturan. Bu Aulia menghampiri, ia meraih tisu untuk mengusap darah yang mengalir ditangannya.


Sepertinya dia habis meninju cermin hingga pecah.


"katakan sekarang ! Apa masalahnya ?"


Mahesa menunjuk wajah Ditya menggunakan tongkatnya.


"jantung Zoya ada pada Zara . ."


Reaksi Mahesa dan Aulia tidak terkejut sama sekali. Jadi benar, hanya Ditya yang tidak tahu akan hal itu.

__ADS_1


"biar mami yang ceritakan semuanya. Kita turun ke bawah !"


akhirnya Ditya bisa tenang, dan ikut ke ruang keluarga. biar ART mereka yang akan membersihkan kamarnya.


__ADS_2