
Usai darahnya dibersihkan diruang IGD, suster membawa Juli yang masih tidak sadarkan diri ke ruang rawat inap biasa. Sofia mendampinginya hingga suster meninggalkan ruangan.
Sofia kurang paham soal kehamilan. Namun ia takut sekali baby Juli kenapa kenapa. Darah mengalir tandanya keadaan Juli bisa dibilang parah.
Damar berlari setelah turun dari mobil yang ia parkir begitu saja. Perasaannya jelas campur aduk, takut terjadi apa apa terhadap keduanya. Sempat terselip rasa bahagia bisa melihat wajah istrinya lagi. Seminggu sudah Damar tak mengunjungi Juli, terbentur lemburan yang sengaja Ditya perintahkan.
Usai bertanya ke bagian informasi, Damar kembali berlari kecil mencari ruang VVIP C. Sepertinya istri kedua Damar tahu harus menempatkan Juli dimana.
Dari jauh sudah terlihat Sofia duduk disofa ruang santai sebelah kamar Juli.
Ia berjalan mendekatinya, Sofia bingung harus mengatakan apa pada Damar pasal kondisi Juli.
"Aku minta maaf, tadi kami sempat bicara . ."
"Bagaimana keadaan mereka sekarang ?"
Tangan Damar mencengkram kedua bahu Sofia cukup keras hingga membuatnya meringis menahan sakit.
"Dokter minta ketemu bapak untuk menjelaskannya."
Sofia menepis tangan Damar yang sudah mengendur, ia berjalan menunjukkan ruang dokter spesialis organ dalam. Kebetulan mereka sedang tidak berada di MHosipital.
Pintu terbuka, mempertemukan OBGYN baru Juli yang ternyata seorang laki laki seusia Damar.
"Silakan duduk !"
Perintah Dokter berkacamata, Damar duduk dengan resah bersiap menerima kabar tentang keadaan istri dan calon anaknya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok ?"
"Terjadi Solusio plasenta pada kandungan istri bapak. Yaitu salah satu gangguan yang dapat menjadi penyebab pendarahan yang membahayakan ketika terjadi. Hal ini terjadi ketika plasenta yang normal terpisah dari dinding rahim sebelum waktunya, sehingga darah menjadi terkumpul antara plasenta dan uterus. Walau begitu, penyebab dari terjadinya gangguan ini belum diketahui. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan solusio plasenta terjadi
akibat tekanan darah yang tinggi dan mungkin mengalami masa trauma."
Panjang lebar Dokter bernametag Hafiz itu menjelaskan kondisi medis Juli, tak ada satupun yang Damar pahami. Menangkap ekspresi suami pasien,
Dr. Hafiz kembali mengankat suara.
"Maaf, bayi kalian tidak tertolong saat sebelum pasien tiba di rumah sakit."
Seperti tersambar petir, dunia Damar hancur seketika. Istana yang masih dalam proses pembangunanpun runtuh diterpa badai. Hatinya remuk mendengar fakta menyakitkan itu. Dadanya sesak bagai terhimpit batu besar.
Damar tidak sanggup membayangkan reaksi Juli jika dia mengetahui berita duka keluarga kecilnya.
Perjuangan Juli mengutamakan kebahagiaan Damar dan keluarganya, membuang ego Juli yang menyampingkan cita citanya kini sirna sudah tak tersisa.
__ADS_1
"Saya turut berduka cita pak Damar Aditya. Dan maaf sekali lagi, harus saya sampaikan masalah lainnya. setelah melakukan tindakan kuret, kami menemukan keadaan rahim bu Juli tidak stabil. Mungkin kehamilan berikutnya terbilang agak susah, dan mungkin butuh jeda cukup lama untuknya beristirahat."
Damar menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Ini benar benar diluar kehendaknya. Andainya dia mengajak Juli pulang, atau menemaninya tinggal bersama mungkin hal menyedihkan ini tidak akan terjadi. Damar bisa lebih baik menjaga dan merawat Juli. Penyesalan barulah muncul dibenak Damar. Harusnya ketika Juli menjauh, dia lebih mendekat meraih tangannya. Bukan malah membatasi jarak diantara mereka.
Ingin sekali Damar berteriak atau memukul tembok demi meluapkan amarah ketidakbecusannya sebagai seorang suami dan ayah. Namun ia harus lebih memikirkan cara menghadapi Juli yang mungkin akan terguncang nantinya.
Langkah gontay Damar bisa ditafsirkan oleh Sofia ada kabar tidak bagus pastinya. Salahnya menemui Juli tanpa izin seorang Damar. Tindakannya sudah ceroboh, karenanyalah Juli mengalami kontraksi hebat beberapa saat yang lalu.
"Pak ..."
"Pulanglah, apapun penyesalanmu tidak akan mengembalikan baby kesisi kami."
Damar berbicara tanpa menatap Sofia yang kini menangis.
"Pulang dan bawa keinginan konyolmu itu, kamu berhasil mewujudkan impianmu dan mematahkan impian kami. Bodohnya aku menyetujui permintaanmu dengan mudahnya."
"Kalau begitu, talak aku sekarang pak. Aku juga tidak sanggup meneruskannya, ya memang aku sangat bodoh dan naif. Menyukaimu diartikan sebagai cinta, yang ada hanya kepuasan semata setelah mendapatkanmu. Talak aku sekarang juga, mudah bagi bapak melakukannya karena kita hanya sah menurut agama."
Sofia terisak, berulang kali ia merenung memikirkan keputusannya.
"Aku talak kamu, aku talak kamu, aku talak kamu Sofia Apriani."
Sofia memejamkan matanya mendengar ucapan Damar. Biar begini seharusnya, jangan ada pihak manapun terluka akibat bucket list dirinya.
"aku akan kembali untuk kak juli."
Tidak akan sulit maupun terhalang kendala berarti dalam perpisahan mereka. Sofia ingin Damar dan Juli menganggap
semua yang sudah terjadi hanya mimpi, yang datang sekedar untuk menguji.
Cukup lama Damar duduk termenung meratapi kepergian baby. Ia sungguh tidak memiliki keberanian menemui Juli sekarang ini. Bahkan keluarganyapun sudah tiba semenjak diberi kabar Juli masuk rumah sakit olehnya.
"Dee, , bagaimana keadaan Juli dan cucu mama ?"
Zara duduk disebelah Damar meminta penjelasan apa sebenarnya yang terjadi.
"Ma, semuanya salah Damar. Damar gak bisa jagain mereka, Baby membenci daddynya dia ninggalin kami."
Apakah Damar menangis ? Ya, tak peduli berapa usianya ia menangis layaknya anak kecil kehilangan mainan berharganya. Zara memeluknya erat.
"Sabar Dee, Tuhan lebih menyayangi baby kalian. Kamu harus kuat demi Juli."
"Ini hukuman atas tindakan gegabah kamu Damar. ."
"Ayah !"
__ADS_1
Zara meminta Ditya untuk tidak membahas hal itu dulu dengan Damar, bukan waktu yang tepat mereka berdebat.
"Lebih baik kamu temani Juli Dee, dia butuh kamu sekarang."
Grand Ma ikut duduk disebelah Damar menepuk punggungnya.
Ketika kakinya sudah sampai didalam kamar Juli, Damar menundukkan kepalanya tak mampu melihat tubuh sang istri terbaring di brankar. Air matanya terus saja menetes membasahi pipi.
Tidak ada lagi baby didalam perut Juli. Yang tadinya sudah buncit terbentuk kini kembali rata. Damar duduk dikursi sebelah brankar, ragu menggenggam tangan Juli. Ia masih terpejam dengan wajah lelahnya.
- Aku minta maaf sayang, tidak bisa menjaga kalian berdua. Ini semua salahku, tolong maafkan daddy yang sudah membiarkan baby menderita. -
"Mas , , "
Saat Damar sedang menundukkan kepalanya, suara serak Juli mengalihkan perhatiannya. Juli menatapnya sendu, seakan mengetahui hal buruk mungkin saja menimpa baby mereka.
"Juls, kamu bangun ? Mau minum atau .. "
"Baby mana mas, kenapa perut aku kempis seperti ini ? Aku mau lihat baby !"
Nada bicara Juli penuh getar terdengar masih menahan emosinya. Dengan tangan terpasang selang infus Juli meraba perutnya. Berharap baby masih berada disana. Juli menggeleng cepat tidak ingin menerima semua kenyataan pahit ini. Kediaman Damar sudah menjawab pertanyaan menakutkan dari pikirannya. Juli menangis histeris menutup matanya.
Damar menggenggam tangan Juli berusaha menenangkan sang istri, hatinya bertambah remuk berkeping keping menyaksikan Juli menderita kehilangan baby.
"Tenang Juls, baby udah bahagia disana sama Allah. Nanti kita bisa ketemu dia saatnya tiba."
Ketika Juli mulai memberontoak, segera Damar memeluk menahannya.
Mendengat keributan dari luar, keluargapun masuk memastikan apa yang terjadi. Pemandangan itu sungguh memilukan, sepasang suami istri tengah dirundung pilu kehilangan calon anak mereka. Hanya tinggal trisemester akhir keduanya akan menyambut seorang putera mahkota. Namun takdir berkata lain, belum sempat baby melihat dunia ia harus rela meninggalkan kedua orang tuanya.
"Juli, yang sabar sayang . . Kamu harus ikhlas nak."
Zara menggenggam tangan Juli yang sejak tadi memeluk perutnya.
"Juli mau baby mah, kenapa baby tega pergi ninggalin aku. . ."
Aulia tak kuasa menahan air matanya. Selama ini, anggota keluarganya sekalipun tidak pernah ada yang mengalami keguguran ataupun kehilangan bayi mereka. Memang malang nasib seorang Damar. Waktu kecil dia harus kehilangan sang ibu, hari ini dia kembali kehilangan yaitu calon anak pertamanya.
"Ayah akan panggilkan dokter, Juli harus mendapatkan penanganan khusus agar tidak mengalami masa trauma."
Ditya berbisik pada Zara lalu meninggalkan ruangan kelas 1 itu.
"Saran saya, ajak nyonya Damar pergi berlibur untuk mendapat udara segar. Jangan ingatkan dia tentang bayinya, beri dukungan agar dia tidak terpuruk jatuh. Saya akan bantu dengan memberi resep vitamin. Sisanya perhatian keluarga yang paling mujarab sebagai obatnya."
Dokter terpaksa menyuntik obat penenang ke lengan Juli. Sejak menyadari dirinya keguguran, Juli menangis meraung bahkan menggigil.
__ADS_1
Damar bertekad untuk selalu ada disamping Juli apapun kondisi mereka. Ditya menyarankan agar mereka tinggal di Seoul sementara waktu, mengajak Juli berlibur. Disana Juli juga akan mendapat perawatan dari dokter rekanan bisnis sang ayah. Selain itu disana juga ada Malvin dan kedua orang tuanya yang menjalankan bisnis di negeri boyband tersebut.