
"mas geli . ."
Sejak tadi Ditya terus melayangkan sentuhannya di perut Zoya.
Mereka masih saling mendusel meski mentari sudah terbit.
"ayo mandi, nanti kita terlambat". Zoya berusaha mendorong tubuh Ditya yang masih menempel padanya.
"aku masih belum puas Zoya, tunggu sebentar lagi".
Kini Ditya mulai menciumi perut buncit istrinya, dengan masuk kedalam baju tidur Zoya.
"aku mau masak mas, baby X sudah kelaparan".
Kali ini Ditya menghentikan aksinya, dan segera membantu Zoya untuk bangun.
"baiklah, ayah mandi dulu. Baby X ikut ibu masak ya".
Hal seperti ini yang membuat Ditya sangat bahagia, mengobrol dengan baby X dipagi hari dan bermanjaan dengan Zoya.
"oke ayah".
Zoya keluar kamar dan mulai menyiapkan bahan makanan.
Bi Sumi membantu Zoya untuk menyiapkan sarapan pagi yang agak terlambat itu.
Prang . .
Tanpa sengaja Zoya menyenggol piring dan terjatuh pecah ke lantai.
Ditya yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handukpun langsung keluar mengecek keadaan.
"biar bibi yang bersihkan non".
Dengan cekatan bi Sumi mengambil pecahan piring itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"ada apa Zoy, kamu baik baik saja kan ?"
Tidak ingin istrinya terluka, Ditya menarik Zoya untuk menjauh dari area pecahan tadi.
"perasaan aku gak enak mas".
Tiba tiba wajah Zoya menjadi pucat, Ditya memberi pelukan untuk menenangkan Zoya.
"kamu khawatir tanpa alasan sayang. Tenanglah ! Itu ketidak sengajaan".
Ditya mengajak Zoya duduk dan membiarkan bi Sumi yang menyelesaikannya.
"ini minum dulu"
Ditya menyerahkankan air untuk di minum oleh Zoya.
"habis sarapan mas harus ketemu client, katanya mau suplie barang di hotel baru".
Keduanya mulai menyantap masakan yang dibuat oleh Zoya tadi sebelum memecahkan piring.
"aku ikut ya mas, boleh kan ?"
Tidak biasanya Zoya mengizinkan Ditya untuk pergi, kali ini dia ingin menemaninya bekerja.
"kamu istirahat saja dirumah sayang, mas janji gak lama".
Ditya mengecup kening Zoya setelah menghabiskan minumnya dan pergi ke kamar untuk ganti pakaian.
__ADS_1
Seperti yang telah dijadwalkan, Ditya bertemu dengan clientnya di MCafe yang masih milik MH group.
Clientnya seorang laki laki, memberi Ditya katalog berisi contoh furniture untuk mengisi hotel barunya.
"kalau perlu, bapak bisa datang ke galeri kami. Papi anda juga mengambil beberapa dari galeri kami".
Laki laki itu tersenyum ramah pada Ditya, berharap pelanggannya akan puas dengan contoh barang miliknya.
"ini bukan perusahaan reseller kan mas ? Soalnya saya butuh dari tangan pemasok langsung".
Untuk urusan bisnis, Ditya sangat teliti.
Bahkan sekarangpun dirinya tengah berdiskusi dengan pak Mahesa melalui chat secara diam diam.
"bukan pak, bapak bisa ikut bersama saya sekarang ke galeri langsung".
Tawarnya pada Ditya agar mempercayai ucapannya.
"tidak hari ini, kalau begitu saya minta surat penawaran harganya dikirim ke email kemarin. Saya akan pertimbangkan lagi, oke ?".
Ditya masih belum bisa memutuskan, dia perlu diskusi langsung dengan papinya.
Karena ini projek pertama Ditya sebagai pemilik langsung.
"dengan senang hati pak, terima kasih atas waktunya".
Mereka berjabat tangan, dan Ditya pamit terlebih dahulu.
"iya sayang, ini mas on the way pulang. sudah ya, lagi nyetir".
Zoya menelpon Ditya tak sabar menunggunya pulang. Ditya tersenyum mengingat Zoya yang sangat merindukannya itu.
karena terlalu sibuk melamun, Ditya tidak sadar didepannya sudah ada orang yang tengah menyebrang.
dia membanting stir nya ke sebelah kiri, lantas menabrak sebuah pohon.
keras sekali Ditya menabrak pohon agar tidak membahayakan penyebrang tadi.
darah segar mengalir dikening Ditya.
orang orang menghampiri Ditya, termasuk penyebrang yang merasa bersalah tadi. mereka langsung memanggil ambulance dan menolong tubuh Ditya.
untung saja mobil Ditya dilengkapi dengan fitur air bag.
"maaf pak, bu Zoya masih dalam masa cuti, jadi tidak bisa bertemu dengan bapak sekarang. saya akan sambungkan ke marketing lain bagaimana ?".
lagi lagi Sarah yang bertugas shift pagi, ia masih berusaha memberi pengertian pada tamu yang ingin bertemu dengan Zoya.
"saya tahu itu. saya kesini bertamu, dan ingin bertemu dengan tuan rumahnya".
"bu Zoya, ada apa ?"
tanya Sarah yang melihat Zoya berlari kearah front desk sambil memakai cardiganjya.
"kunci mobil saya !"
Zoya meminta kunci dengan tergesa gesa, berharap Sarah cepat tanpa banyak bertanya.
"Zoya ada apa ?"
tanya laki laki itu penasaran apa yang membuat Zoya seperti dikejar kejar hantu.
"Arga please, jangan ganggu saya !"
__ADS_1
tanpa menghiraukan keberadaan Arga yang sejak tadi ingin bertemu dengannya, Zoya pergi menuju mobilnya di parkiran VIP.
"dengar Zoya, kamu tidak bisa menyetir dalam keadaan begini ! apalagi kamu sedang hamil. biar saya yang menyetir".
pikirannya sedang kalut saat itu, mau tidak mau Zoya menerima tawaran Arga. demi keselamatannya dan baby X.
mobil milik Zoya melaju dikemudi oleh Arga meninggalkan MHotel.
"mas aku mohon, semoga kamu baik baik saja"
begitu menerima telpon dari MHospital bahwa Ditya sedang di IGD karena kecelakaan, hati Zoya hancur mendengarnya.
pantas saja perasaannya tidak karuan pagi itu.
"kita kemana ?"
Pertanyaan Arga memecah kediaman didalam perjalanan.
"MHospital".
jawab Zoya dengan suara datar dan tatapan kearah jendela mobil.
"Dok, Aditya Mahesa dimana ?"
Zoya berjalan keruang IGD dan bertanya kesalah satu dokter jaga.
"tirai ujung sebelah kanan bu".
dokter tadi menunjuk arah yang dimaksud.
"dia kenapa Zoy ?"
Arga sangat penasaran apa yang terjadi pada suami Zoya, hingga menahan langkah wanita itu.
"terima kasih kamu sudah mengantar saya kesini. tapi kamu bisa pergi sekarang".
Menerima tawaran Arga mungkin bisa menjadi masalah baginya, apalagi kalau Ditya melihat laki laki itu.
"mas . ."
tubuh Ditya masih terbaring, dengan kepala diperban. tangannya diinfus, dan masih mengenakan kemeja yang terkena darahnya.
Zoya duduk dikursi, dan menggenggam tangan Ditya.
kenapa begitu sulit untuk tetap bahagia ? masalah apapun akan Zoya hadapi, tapi tidak dengan Ditya yang jatuh sakit.
remuk hatinya, sesak nafas Zoya saat itu.
"mmm . ."
akhirnya Ditya tersadar, dia meringis memegangi kepalanya yang terasa sakit. bibirnya pucat, dan terdapat goresan di pelipis dan tulang pipinya.
"kamu sudah sadar mas ? alhamdulillah". Kini Zoya bisa sedikit bernafas dengan lega setelah Ditya siuman.
"dokter, suami saya sudah sadar. tolong di cek".
kebetulan dokter dan suster memang berniat melihat keadaan Ditya.
dokter menyorotkan senter ke mata Ditya, untuk mengetahui kemungkinan cidera yang dialami Ditya.
"kondisi pak Aditya normal, untuk lebih lanjut kami akan melakukan pemeriksaan CT scan dan rontgen. pak Aditya juga akan pindah ke ruang inap".
setelah mendapat laporan, dokter dan suster pamit untuk menyiapkan segala keperluan Ditya.
__ADS_1
"aku baik baik saja Zoya, maaf membuatmu khawatir".
Ditya melihat air mata Zoya terus menetes.