Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Aku suamimu, Zara


__ADS_3

Ditya tak menyangka, hidupnya benar benar seperti roller coster. Naik turun, berputar secara terus menerus. Dan itu membuatnya sadar, hidup tidak selamanya diatas. Kita juga akan berada dibawah, yang perlu kita lakukan hanyalah berpegang teguh pada kebenaran.


Benar dia pernah menyakiti Zoya, kemudian ia ingat kebenaran kalau dirinya sangat membutuhkan sosok Zoya.


Benar Ditya sangat amat menderita ditinggal Zoya, namun ia juga membenarkan kenyataan bahwa hidup harus terus berlanjut.


Hari ini dirinya akan kembali membina rumah tangga bersama seorang gadis. Gadis yang menyelamatkannya dari kesepian, kegelapan juga penyesalan.


Sesaat dirinya merasa berat, karena statusnya yang duda beranak satu. Kasihan, Zara akan menerima cibiran dari orang orang pikirnya.


Namun Zara yang menyadari itu, ia menepis dengan menunjukkan rona bahagia di wajahnya. Sejak tadi keduanya sibuk menyalami para tamu undangan. Pelaminan tak pernah sepi, mengingat banyaknya kolega bisnis Kusuma juga Mahesa.


Banyak yang takjub dengan kecantikan Zara, yang mengenakan gaun pas badan menjuntai.


Tidak banyak teman dekat dari Ditya dan Zara. Hanya Juna teman dokternya, juga Hafiz yang diundang. Kalau dari Ditya, ya mereka mereka itu.


"wah Zara, kamu kami terima masuk ke anggota club. Dan Ditya juga pasti mau gabung lagi."


Arga yang memang paling konyol diantara mereka, berhasil membuat Zara mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Club . .


Club apa mas ?"


Zara melirik kesamping, meminta jawaban maksud dari Arga. Karena Ditya memang tidak pernah cerita soal itu.


"maksudnya, perkumpulan teman nongkrong. Arga dan Milka kan temanku, sementara Erwin dan Tia saudaraku. Jadi kami sering quality time sejak dulu sebelum pada nikah."


Manggut manggut, sekarang Zara mengerti.


Padahal aslinya bukan itu, mereka adalah kumpulan pecinta yang sekian lama memendam rasa pada pasangannya masing masing. Yang akhirnya bisa hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan.


Arga yang memang sadar perjalanan mereka bagaimana, menamai club mereka as a Lover.


Aslinya Ditya geli banget kalau harus kasih tahu istrinya.


"Selamat ya Zara, aku harap kamu kuat meladeni serangan kak Adit."


Tia malah menggoda Zara, entah apa maksudnya. Tapi adik iparnya malah menunjukkan tatapan yang tak mengerti.


"dek, kamu mah. Zara mana ngerti sih, diakan . ."


Erwin menahan tawa, dia tidak tega harus melanjutkan ucapannya.


"haha . . Tanggung jawab kamu Dit, jangan gempur dia. Kasihan masih pemula."


Arga makin seru membuat Ditya kikuk dihadapan istrinya.


"sudah ah, kasihan jangan di goda terus. Kasih mereka waktu buat berduaan, itung itung pemanasan. Kan Aditya sudah puasa sekian abad."


Milka mengajak yang lain ke kamar masing masing, usai resepsi.


"ayo, kita juga ke kamar.".


Ditya mengajak Zara ke kamar. Bukan penthouse, melainkan kamar tipe studio yang selalu ia tempati setelah Zoya pergi.

__ADS_1


Zara mengangguk, ia merangkul lengan Aditya. Kakinya sudah tidak kuat berjalan, kelamaan berdiri dengan sepatu berhak tinggi.


Dengan gagahnya Ditya menggendong Zara ala bridal style. Sontak Zara langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Ditya.


Waktu menunjukkan tengah malam, Ditya kini tengah merebahkan tubuhnya yang pegal. Zara baru keluar dari kamar mandi, setelah 30 menit membersihkan badannya.


"lama banget mandinya, kamu ngehindar ?"


Todong Ditya pada Zara dengan handuk di rambutnya.


"hah, Ngehindar apa maksudnya mas ?" Istrinya malah bingung mendengar ucapan Ditya.


"sini !"


Tangannya menepuk kasur seraya meminta Zara duduk ditepi ranjang.


"aku pakai baju dulu, ,"


Zara berjalan mengambil bajunya dikoper, lalu kembali masuk ke kamar mandi.


Ditya menghela nafas, seakan Zara mengulur waktu.


Kini ia berdiri didepan pintu, menunggu Zara tak sabar.


"astaga mas, kamu bikin kaget tahu !"


Ya ampun, emang kalau gadis masih polos. Tidak mengerti keinginan suami yang sudah ingin melakukannya.


"Zara, sekarang kan aku suami kamu. Jadi kamu harus layani aku sekarang juga."


"kalau soal itu aku tahu, tapi aku belum bisa mas."


Guratan kecewa langsung muncul di wajah Ditya. Kenapa istrinya menolak, apa Zara tidak mau karena merasa takut.


"aku lagi datang bulan mas, sabar ya ?!"


Tahu kediaman Ditya, Zarapun menjelaskan alasannya.


Terdengar helaan nafas dari mulut Ditya, gagal sudah buka puasa.


"ya sudah, kamu langsung istirahat. Aku cari angin dulu."


Suaminya malah keluar kamar, Zara menyesal tidak bisa memenuhi keinginan Ditya.


Nelangsa, Ditya terus menggerutu tidak bisa merasakan malam pertamanya dengan Zara. Padahal miliknya sudah menegang sejak tadi. Dia lebih memilih duduk di coffee shop dengan kopi hitamnya.


Hafiz yang juga menginap, melihat sosok pria yang sudah merebut gadis idamannya.


"boleh duduk ?"


Tanya Hafiz permisi, padahal pantatnya sudah menyatu dengan kursi tanpa mendengar izin dari Ditya.


"pesanlah, saya yang traktir."


Pelayan datang menghampiri meja, memberi buku menu untuk Hafiz.

__ADS_1


"samakan saja dengan yang dipesan pak Aditya."


Suasana mendadak tegang, pelayan langsung undur diri menyiapkan kopi.


"wah, kenapa pengantin baru malah kelayaban di malam pertama."


Entah apa maksud godaan Hafiz, Ditya yang mendengar sedikit risih.


"pemanasan, agar tidak kaku."


Seraya menatap tajam Hafiz Ditya tidak ingin membuka rahasia ranjangnya.


"Bapak beruntung bisa memiliki istri seperti Zara. Dia baik juga menyenangkan."


Apa niat Hafiz sebenarnya, Ditya mulai geram dengan tingkahnya.


"kamu benar. Kalau begitu saya permisi, pesan apa saja jangan sungkan."


Ditya beranjak dari kursinya meninggalkan Hafiz yang jelas masih meradang. Jujur sekali hatinya hancur saat tahu Zara sudah lebih dulu mencintai pria itu.


-Aku akan selalu menunggumu Zara, aku hanya menginginkanmu-


Batin Hafiz menatap kosong cangkir kopi bekas pemilik hotel itu.


Berpikir sewaktu waktu bisa saja mereka berpisah, ada peluang Hafiz mendapatkan kembali Zara.


Saat kembali ke kamarnya Ditya melihat Zara sudah tertidur pulas. Ia pasti sangat lelah seharian ini, mengingat rangkaian acara akad juga resepsi disatukan.


Harusnya tadi Ditya bertanya kapan masa haidnya nerakhir, biar bisa nagih nantinya.


"terima kasih Zara. ."


Gumam Ditya kemudian mencium kening Zara, istrinya menggeliat mencari kenyamanan.


☀️☀️☀️


Esok paginya, Zara sudah segar dan memoles wajahnya menggunakan daycream juga lotion. Aroma khas yang menyeruak masuk ke hidung Ditya sehingga membuatnya terbangun.


"selamat pagi suami . ."


Zara tersenyum menyapa Ditya dari pantulan cermin, sementara suaminya masih berusaha membuka mata dengan penuh perjuangan.


"Kenapa gak bangunin ?"


Ditya turun dari ranjang berjalan menuju meja rias, dia mencium ujung kepala Zara.


"aku gak tega, kamu kelihatan lelah sekali. Sampai ngorok tahu."


Zara terkekeh mengingatnya, ia sampai terbangun mendengar Ditya mendengkur.


"mmm kamu terganggu ya ?"


Zara tersenyum menggeleng cepat, meski sebenarnya gara gara itu ia tidak bisa tidur lagi.


"ayo mandi mas, yang lain sudah turun buat sarapan."

__ADS_1


Ditya melepaskan pelukannya, dia berjalan lemas menuju kamar mandi. Kalau ketemu anggota as a lover bisa habis dirinya diledeki, karena belum bisa merawanin istrinya.


__ADS_2