
"mas, kita ke dokter ya ? Biar kamu dapat obat".
Zoya mengganti kompres yang menempel pada kening Ditya.
"nanti juga baikan, kamu tidak usah khawatir".
Ditya menempelkan tangan Zoya diatas dadanya.
"aku buat bubur dulu, supaya kamu makan mm ?"
Waktu makan siang sebentar lagi, Zoya harus memberi energi untuk suaminya.
Mungkin Ditya kelelahan, harus bolak balik menyiapkan Grand Opening dengan menyetir sendiri.
Dibantu bi Sumi, Zoya sedang menanak bubur dan merebus bonless daging ayam.
Selagi menunggu, Zoya membuat telor dadar dan menyisirnya.
"kamu makan siang duluan saja Conn, bi Sumi sudah masak tadi". Zoya memanggil Conni yang masih duduk mengerjakan laporannya.
"apa tidak merepotkan bu ?"
Tanya Conni ragu menerima tawaran Zoya.
"jangan sungkan, duduklah".
Kini Zoya sudah selesai menyiapkan bubur ayam dengan isian abon, ayam suir, telir dadar dan kecap.
"saya masuk dulu".
Conni ditinggal Zoya hanya berdua saja di dapur bersama bi Sumi.
"bu, saya belum lihat pak Aditya". Bukan karena penasaran, Conni memang belum bertatap muka dengan atasannya. Dia ke jakarta juga untuk melaporkan daily report selama shoft opening seminggu lalu.
"anu bu, Tuan sedang demam. Masih istirahat di kamar".
Bi sumi melanjutkan kegiatannya mencuci peralatan masak.
Conni mengangguk mengerti.
"bu, saya pamit. Tolong sampaikan laporan di atas meja, kalau bapak sudah baikan. Terima kasih untuk makan siangnya".
Tidak ingin lama lama, Conni akhirnya pamit. Karena sakit, dia tidak bisa bertemu dengan Dirutnya.
"baik bu".
Kemudian bi Sumi mengantar Conni keluar.
"gilak kamu Conni, mau merusak rumah tangga bu Zoya yang baik itu". Didalam lift, Conni mengumpat dirinya sendiri.
Yang dia lihat hanyalah sosok sempurna Aditya Mahesa. Tanpa tahu bagaimana kehidupannya, istrinya terlebih prinsip yang dipegang pria itu.
Kini yang tersisa hanya rasa malu. Kedepannya Conni akan bekerja lebih giat lagi, demi menghapus perasaannya.
"iya mi, nanti Zoya coba bicara ke Ditya. Ini sudah mulai normal suhu badannya".
Zoya sedang berbicara ditelpon dengan bu Aulia. Mertuanya menyuruh mereka datang untuk membahas persiapan 7 bulanan.
"yasudah mami tunggu ya Zoya".
Kemudian sambungan itu terputus.
"ada apa ?"
Ditya memeluk Zoya yang tengah berdiri menatap jendela.
"mami minta kita kerumah mas".
Zoya membalikan badannya dan mengecek kening Ditya.
"ayo kita kesana, aku juga sudah baikan".
__ADS_1
Zoya mengangguk setuju.
Mereka bersiap untuk pergi ke rumah keluarga.
Karena Zoya masih khawatir, dia meminta driver hotel untuk mengantar.
Ditengah perjalanan, Ditya meminta driver menghentikan mobilnya untuk membeli sesuatu di minimarket.
Driver mengikuti Ditya karena harus ke toilet.
Sementara Zoya yang tertidur, ditinggal dimobil. Ditya tidak tega membangunkan Zoya yang sudah mengurusnya seharian.
Seperti Dejavu baginya.
Zoya terbangun, karena merasa mobil itu sedang berhenti. Pikirnya sudah sampai dirumah mertua.
Ia melihat sekeliling, ternyata Ditya sedang ke minimarket.
Niatnya ingin menyusul Ditya kedalam, Zoya mematikan mesin mobil dan menguncinya.
Belum jauh melangkah dari tempatnya, seseorang dengan paksa menarik tas milik Zoya.
"lepas".
Teriak Zoya yang tidak ingin tasnya diambil oleh laki laki seram itu.
"serahkan saja, atau saya bertindak kasar".
Ditengah pergulatan yang menegangkan itu, Zoya berpikir apa harus dia merelakan tasnya begitu saja?
Brug . .
Jambret itu mendorong tubuh Zoya yang sudah tidak fokus, ia jatuh tersungkur ketanah.
"aw . ."
Zoya meringis kesakitan, sakit yang amat hebat dirasakan olehnya diarea mi**v nya.
"Z O Y A . ."
Ditya yang baru saja keluar dari pintu langsung berteriak dan berlari menghampiri Zoya.
Ditya meraih tubuh Zoya dan menggenggam tangannya.
"mas . . Baby X, aku mohon". Rintihan Zoya semakin keras, driver yang melihat Zoya kesakitan langsung menyalakan mobil dengan kunci yang tergeletak.
Ditya membopong tubuh Zoya kemobil untuk dibawa ke rumah sakit.
Ditya memeluk Zoya, perasaannya tidak karuan melihat istrinya mengalami pendarahan.
"aku mohon Zoya, kamu harus kuat".
Ditya mengecup kepala Zoya yang hampir tidak sadarkan diri.
Sesampainya di IGD MHospital, Ditya berteriak agar suster cepat membawa brankar untuk menolong Zoya.
Petugas IGD berlarian menjemput tubuh Zoya.
"maaf pak, sampai disini saja".
Ditya ditahan oleh suster, dia hanya bisa menyaksikan Zoya dibawa masuk untuk diberikan penanganan pertama.
Tidak lama kemudian dr. Rahman yang mendapat panggilan, datang ke IGD. Kaget sekali beliau melihat Ditya duduk dengan cemas.
"Ditya ? Kenapa . ."
Tanya nya penasaran,
"om tolong Zoya dan anak Ditya, dia pendarahan".
Langsung saja Dr. Rahman masuk keruangan untuk memeriksa Zoya.
__ADS_1
"suster, bagaimana ?"
Dr. Rahman meminta laporan sementara dari kedua suster yang sudah menangani sebelumnya.
"benturannya cukup hebat dok, pasien kehilangan banyak darah. Tapi bayinya masih bisa selamat".
Mendengar penjelasan suster, dr. Rahman bernafas lega.
Untuk memastikan, Dr. Rahman memeriksa perut Zoya, melakukan tes USG.
Syukurlah, masih ada detak jantung baby X.
"pindahkan pasien ke ruang ICU sust, segera cari stok darah yang sesuai".
Perintah Dr. Rahman.
Zoya masih terbaring diatas brankar yang didoronh oleh kedua suster. Ditya melihatnya merasa hancur, air matanya tidak bisa berhenti menetes.
"gimana om keadaan Zoya ?"
Dr. Rahman yang baru saja keluar langsung dicegah oleh Ditya.
"bersyukurlah kamu Ditya, baby X masih selamat".
raut wajah dr. Rahman seperti geram pada Ditya yang tidak bisa menjaga Zoya dengan baik.
"Zoya butuh donor darah, dia akan ditempatkan diruang ICU".
sebelum meninggalkan Ditya, dr. Rahman menepuk pundak Ditya untuk memberi semangat.
"maafkan ayah baby X".
Ditya meninju tembok dengan tangannya.
kenapa harus seperti ini, andai saja dia tidak berhenti. mungkin tidak akan begini kejadiannya.
yang tersisa hanyalah penyesalan, Zoya yang terus terusan menanggung derita yang Ditya ciptakan.
"tolol kamu Ditya".
Ditya mengumpat dirinya sendiri, dia hanya bisa berdo'a agar Zoya dan bayinya baik baik saja.
"Aditya . ."
bu Aulia datang bersama Tia, nek Hafsari dan pak Mahesa tentunya merasa cemas ketika driver mengabari.
mereka langsung datang ke rumah sakit untuk tahu keadaan Zoya.
"mi, kenapa harus Zoya ? dari sekian banyaknya orang dijakarta, kenapa harus dia".
Ditya mengetahui kasus penjambretan yang menimpa Zoya ketika sadar tas istrinya tidak ada.
"sabar nak, kamu harus kuat demi Zoya dan anakmu".
bu Aulia memeluk Ditya untuk menenangkannya.
"kamu hanya memberi masalah untuk Zoya, papi kecewa sama kamu".
"Mahesa, hentikan !"
nek Hafsari tidak setuju kalau Anaknya menyalahkan Ditya. bukan saatnya untuk mengatakan hal itu.
"kak, apa yang terjadi pada baby X ?"
Tia merasa khawatir dengan keadaan calon keponakannya.
"Zoya sekarang di ruang ICU, baby X selamat. tapi Zoya kehilangan banyak darah".
meski berat Ditya menjelaskan keadaan Zoya pada keluarganya.
semuanya bernafas kasar, prihatin dengan peristiwa yang menimpa Zoya.
__ADS_1