
"Saya minta naik gaji untuk tugas berperan sebagai pacar bapak.
Enak saja bapak mempermainkan hidup saya."
Sekar masih merajuk berjalan disamping Damar menuju restoran.
"Setuju."
Jawab Damar santai.
"Saya tidak bermaksud serius loh pak, itu hanya gertakan agar bapak menghentikan semua ini."
Perempuan bertubuh semampai itu merasa salah bicara, membahas uang dengan Damar yang super kaya.
"Kamu lupa uang saya banyak ?
Soal gaji tidak masalah, saya akan penuhi kebutuhan kamu.
Dengan syarat jangan pakai perasaan saat kita pura pura nanti."
Sekar tertawa geli mendengar perkataan Damar.
Ia hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Damar bisa melakukan apapun yang dia mau, pikir Sekar.
Akhirnya mereka bertiga sarapan bersama.
Meski Sekar merasa sedikit tidak nyaman.
Riuh sekali suasana lapangan kampus sebagai pusat kegiatan.
Acara tahunan ini di selenggarakan sebagai wadah untuk memperkenalkan keunggulan kampus.
Pesertanyapun dari berbagai sekolah menengah akhir.
Mereka akan jadi target calon mahasiswa baru yang diharapkan akan bergabung dengan kampus.
Setelah acara dibuka secara resmi oleh rektor, Kevin mengambil alih acara.
Para gadis bersorak ria menyambut pidato ketua BEM.
Siapa yang bisa menghindari pesona laki laki berwajah tampan itu.
"Hope you guys enjoy the show, thank you."
Juli terkekeh mendengar sambutan singkat Kevin.
Anak itu ada ada saja.
Juli tahu kalau Kevin mungkin saja gugup, biasanya dia selalu banyak bicara.
"Sepertinya ada yang berkhianat . ."
Jihane datang menghampiri Juli, Juli hanya bingung tak mengerti maksud dari ucapannya.
"Maksud kamu apa Ji ?"
Tanya Juli.
"Aku gak nyangka ya, ternyata kamu menunjukkan kelasmu dengan membiarkan seorang laki laki menginap."
Sekarang Juli tahu kemana arah pembicaraan mereka.
"Jihane aku bisa jelaskan, aku tidak sengaja melakukannya. Kevin, dia . . .
Intinya kamu harus percaya tidak ada yang terjadi diantara kami."
Juli berusaha meyakinkan Jihane agar tidak salah paham padanya.
"Oh ya ?
Buktikan kalau memang kamu benar."
Jihane menatap tajam kearah Juli.
"Jauhi Kevin, biar aku yang jadi kuratornya selama pensi."
Secemburu itukah Jihane mendengar Kevin menginap dikamar Juli.
Jihane yang biasanya kalem berubah jadi pembenci.
__ADS_1
"Oke setuju.
Bilang saja pada Kevin kalau aku ada keperluan mendesak."
Juli menyerahkan map berisi daftar lukisan beserta rinciannya pada Jihane.
Sejujurnya Jihane tidak tega memarahi Juli.
Ia hanya takut kalau Kevin akan semakin menyukainya.
Jihane memang percaya niat tulus Juli, hanya saja ia ragu kalau Kevin mau menerimanya.
Selama beberapa hari mata kuliah akan diliburkan hanya demi acara pensi.
Tidak ada hal yang bisa Juli kerjakan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari kampus.
"Loh Juli mana ?"
Kevin menghampiri stannya, dia terkejut tidak melihat keberadaan Juli.
"Katanya dia mau pulang saja,
Juli pikir stan kamu bakal sepi. Hanya membuang waktunya saja, jadi aku yang akan membantu kamu Kevin."
Jawaban Jihane tidak singkron dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Kevin merasa kecewa jika apa yang dikatakan Jihane itu benar.
Tangannya mengepal keras menahan emosinya.
"Aku titip ya Jihane,
semisal kamu lelah kabari aku saja. Biar aku tutup stan ini."
Jihane tersenyum tak masalah, dia akan sangat senang menggantikan posisi Juli.
Pikiran Kevin jadi buyar dan tidak fokus.
Apa yang terjadi hingga Juli lari dari tanggung jawabnya.
Mungkinkah Kevin berlebihan meminta Juli melakukannya.
"Kevin, gue perhatiin loe gak fokus. Ada masalah ?"
"Gue heran kenapa Juli main pergi gitu aja."
"Loe masih belum tahu alasannya ?
Mungkin saja itu efek gosip yang beredar kalau kalian tidur bareng semalam.
Jangan jangan Juli diganggu fans loe lagi."
Benar apa kata Adam, kenapa Kevin tidak memikirkan dampak negatif dari perbuatannya.
"Bisa jadi, thank you infonya Dam."
Kevin berdiri dari duduknya, ia harus kembali mengecek setiap kegiatan yang sedang berlangsung.
Ada penampilan musik, games berhadiah, pertandingan basket antar SMA dan masih banyak lagi.
Di tengah kesibukannya Kevin ingin segera menemui Juli.
Kasihan dia harus menanggung semuanya sendirian.
Tidak ada pekerjaan, artinya Juli akan merasa kesepian di kamarnya.
Sebelum Juli bertemu dengan Damar dan Kevin, semuanya baik baik saja. Kehidupannya berjalan lancar.
Benarkah Kevin menyukai dirinya sebagai perempuan ?
Tapi kenapa dia tidak pernah menunjukkannya sedikitpun pada Juli.
Yang Juli tahu kalau Damar memang sengaja berpacaran dengan Sekar agar ia menjauhi Damar.
Beginikah rasanya menyukai seseorang yang tidak memiliki perasaan terhadap kita ?
Ingin melihat wajahnya saja Juli harus berpikir panjang.
Bisa saja ia menerima tawaran Damar untuk menjadi cook di MHotel.
Tapi bagaimana jika Juli harus sakit melihat kemesraannya dengan Sekar.
__ADS_1
Saat Juli asik rebahan diatas kasurnya, Alin mengirimnya sebuah chat.
Bu Alin :
Juls, datang sekarang ke kitchen. Ada event dadakan, tenang mr. Dee sedang tugas ke luar kota.
Setelah membaca isi pesannya, Juli menimbang nimbang antara mengambil pekerjaan itu atau tidak.
Tapi tidak ada salahnya bekerja toh Damar tidak ada disana.
Akhirnya Juli memutuskan untuk pergi ke MHotel.
Tangannya selalu gatal jika tidak membuat masakan sebentar saja.
"Glad to see you here Juls.
Langsung bantu pak Geri ya, kalian akan berjaga di stall tepi kolam."
Perintah Alin pada Juli yang sudah siap dengan chef jacket dan juga efronnya.
What ?
Itu berarti akan ada pesta yang berlangsung malam ini.
Bagaimana kalau salah satu tamu mengenali Juli.
Biarkan saja, lagipula Juli tidak malu apalagi gengsi dengan pekerjaannya.
"Apa yang ingin kamu kerjakan Juls ?"
Pak Geri menawarkan tugas yang sekiranya bisa Juli lakukan.
"Grilling, aku ingin melakukannya chef."
Juli tersenyum penuh semangat setelah melihat stan pemanggangan.
"As you wish Juls."
Geri percaya kalau Juli mampu mengerjakannya dengan baik.
Julipun mulai mempersiapkan segala condiment yang dibutuhkan.
Mulai dari membuat berbagai jenis saus steak, hingga menyediakan sauteed vegetable sebagai pelengkap.
Selain Juli Alin juga memperkerjakan beberapa daily worker lainnya,
mereka bertugas menjadi pramusaji. Selalu menjadi kebijakan perusahaan mereka memutuskan hal itu. Mereka akan menggunakan jasa pekerja paruh waktu jika benar benar kekurangan tenaga.
"Dia sedang apa disini ?"
Gumam Juli melihat sosok laki laki yang baru saja tiba dan bergabung bersama rekan rekannya.
Sadar dirinya sedang diperhatikan, diapun berjalan ke arah Juli.
"Jumpa lagi kita . ."
Sapanya penuh tatap tajam, membuat Juli tidak nyaman dan melihat sekeliling.
Bisakah kali ini Juli lolos dari orang itu ?
Selama ini Juli berusaha menghindar jauh jauh dari jangkauannya, takdir malah menuntunnya kembali.
"Silakan pak."
Juli memberi satu porsi chicken steak dengan saus mushroom untuknya.
"Andai saja kamu menawarkan hal lain sebaik ini padaku Juls. Aku akan senang hati menerimanya."
Katanya penuh nada mesum menurut Juli yang tahu betul apa maksudnya.
"Rom, ayo dong buka acaranya !
anak anak sudah pada kumpul tuh."
Salah satu rekannya menghampiri laki laki yang tak lain adalah Romi.
"Eh ini Juliana kan ?
wah sekarang kamu sukses ya, bisa bekerja di MHotel."
Juli hanya tersenyum singkat mendapat sanjungan dari Hasan.
__ADS_1
Hasan adalah purchasing di MCafe, Juli tahu kalau Ema sangat menyukai Hasan. Namun harus menahan demi bisa terus bekerja di restoran yang juga anak perusahaan MH Group.