
Pekerjaan seorang Direktur utama memang tidak sebanyak jabatan dibawahnya.
Bagaimanapun Damar perlu stay dikantor memeriksa laporan dan menandatangani beberapa pengajuan.
Tidak lupa dia juga harus memenuhi janji temu dengan client.
Meski tangannya sibuk membolak balikan map diatas meja namun pikirannya masih tertuju pada Juli juga Hana.
Oke, Damar tidak akan mungkin mengalami baper atau terjebak nostalgia mengingat masa lalunya dengan Hana.
Damar hanya khawatir mereka kenapa kenapa. Memang benar yang diucapkan Juli, selain Ifan Damar juga memiliki anak buah lainnya.
Katakan saja Freelance tetap, mereka bekerja saat Damar membutuhkan tenaganya.
Misal mencari informasi mengenai lawan yang curang atau bahkan memeriksa laporan terduga korupsi.
"Sekar tolong kirim Galih email, minta dia datang pas jam makan siang."
Perintah Juli pada Sekar saat perempuan itu menunggu laporannya.
"Baik pak."
Damar menyerahkan map berlogo MHotel kehadapan Sekar.
"Kamu sama Kevin ?"
Sebelum Sekar keluar Damar sedikit jail mengorek masalah pribadi sekretarisnya.
"May be yes may be no.
Kami tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Pastinya kami serius saling peduli."
Senyum tipis Sekar tebar untuk Damar supaya dia tidak perlu mengkhawatirkan adiknya.
"Tolong jaga Kevin."
Pinta Damar terdengar memohon ditelinga Sekar.
"As you wish pak Damar."
Jawab Sekar penuh percaya diri.
Hubungan kerja sama mereka sangat baik meski sempat menjalin hubungan pura pura.
Sekar sangat profesional hingga ia membuang jauh jauh perasaan tak pantasnya.
Begitu juga Damar, laki laki itu baik sekali memperlakukan Sekar.
Karena baginya Sekar juga wanita baik baik tak seperti Jihane.
Syukurlah Jihane cocok dengan Romi. Mereka bahkan hilang bagai ditelan bumi.
Berkurangnya orang jahat disekitar Damar dan Juli akan lebih baik.
Sekarang malah mereka sendiri yang menarik diri kepusaran masalah hidup Hana.
Damar melakukannya atas dasar kemanusiaan. Kata Juli jangan sampai ada Inez lainnya dihidup mereka.
Untungnya Hana bertahan selama 2 tahun hidup sengan Yuta.
"Awal menikah Yuta itu manis, romantis juga penyayang. Lama kelamaan sifat arogan dan tempramennya muncul.
Saat kesal akibat projeknya gagal Yuta akan melampiaskannya padaku Juls.
Entah kekerasan fisik maupun sex."
Hana menceritakan rumah tangganya dengan Yuta pada Juli dalam perjalanan pulang.
"Yuta selalu mencurigaiku selingkuh dengan model tetap perusahaannya. Juli katakan, apa aku salah jika mengukur badan model itu langsung ? Dia malah menghajar modelnya lalu menyerangku hingga babak belur."
"Yang sabar ya Hana, aku mengerti perasaan kamu.
Mamiku juga mendapat tindak kekerasan dari papi. Sampai mami gak kuat lalu menyerah dengan beratnya hidup."
Juli memberi Hana dukungan moril karena ia tahu perasaan seorang istri korban KDRT.
"Semoga mami kamu bahagia disana. Juli aku masih ingin berjuang meraih kebebasanku. Terima kasih sudah mau mengulurkan tangan.
Damar beruntung punya istri seperti kamu."
Tak terasa perbincangan mereka mengikis waktu. Mobil sudah masuk gerbang kediaman Damar.
Hana terpesona melihat desain rumah modern bernuansa klasik serba putih.
"Masuk yuk Han."
Juli meraih tangan Hana agar wanita itu tidak berdiri saja diluar.
"Nona ini, milik nona Juli ketinggalan dikursi mobil."
Ifan menyerahkan kantung kresek berlogo Kusuma Farma.
Juli memang sempat meminta Ifan berhenti disalah satu apotek milik Kevin. Juli membeli kebutuhan obat obatan.
"Terima kasih pak Ifan."
Juli menerimanya, sementara Ifan akan berjaga diteras sesuai perintah Damar bosnya.
Di jam makan siang Damar kedatangan tamu penting yaitu Galih.
Galih lulusan terbaik di kampusnya. Ia bekerja sebagai staf kantor inspektorat. Dulunya Galih pernah masuk tim brimob sebagai peserta latihan.
"Gue mau loe jagain seorang perempuan."
Damar to the point tanpa basa basi mengutarakan tujuannya bertemu dengan Galih.
__ADS_1
Mereka berdua duduk ditepi kolam renang menikmati ice Americano.
"Gilak lu Damar !
Gue bisa melakukan apapun tugas yang loe kasih. Lah ini nyuruh gue nempel terus sama perempuan, gak salah milih orang loe ?"
Galih menggelengkan kepalanya sambil mengunyah kentang goreng.
"Hana, loe ingat kan dia ?"
Mendengar nama yang disebut Damar membuat Galih memfokuskan dirinya.
Tandanya Galih mengenal Hana sama seperti Damar.
"Hana kenapa Damar ?"
"kasus KDRT. Yuta berusaha membawa Hana kembali ke Tokyo. Lusa Hana mengajukan gugatan cerai tapi dia diikuti anak buah Yuta.
Sekarang Hana tinggal dirumah gue."
Sedikit cerita Galih dan Hana bersahabat saat dikampus. Galih juga membantu Damar untuk mendapatkan cintanya tapi gagal.
Galih tak menyangka Hana bernasib tragis. Padahal dulu dia ratu kampus digilai hampir seluruh mahasiswa.
"Gue tahu kenapa sampe detik ini loe masih jomblo Galih. Buka mata hati loe, ini mungkin kesempatan buat loe berani berusaha."
Damar sengaja memicu adrenalin teman kuliahnya agar mau membantu Hana.
"Oke. Apa yang harus gue lakukan ?"
Berhasillah usaha Damar meyakinkan Galih.
"Cukup loe temani dia saat Hana perlu keluar rumah.
Kalau bisa loe juga stay dirumah gue."
Damar menyandarkan tubuhnya di sofa rotan.
"Sama istri loe gak masalah ? Nanti loe malah baper lagi."
"Gak akan, gue cinta mati sama Juli. Dia percaya sama gue."
Damar mengibaskan tangannya.
Tak lama setelah urusan selesai Galih segera pamit. Dia masih berstatus pegawai honor dikantornya selama beberapa tahun.
Itulah alasan Galih mengambil pekerjaan sampingan dari Damar.
Galih enggan menyogok untuk bisa berstatus PNS. Dia lebih suka tantangan.
"Mbak Hana lagi buat apa ?"
Juli baru turun tangga melihat Hana sibuk didapur sejak tadi.
Jawab Hana tersenyum dengan tangannya sibuk membalikan adonan diatas pan.
Juli juga kasihan saat melihat Ifan dibuat sibuk oleh suaminya.
Iapun bergabung dengan Hana didapur.
"Biar aku yang buat minuman."
Lalu terdengar suara mesin grinder menggiling biji kopi terbaik yang Damar beli di Bali.
Bahkan Damar membeli satu set lengkap mesin pembuat kopi hanya demi Juli.
Nantinya Damar bisa menikmati kopi buatan tangan istrinya.
"Keren ya suami kamu, dia memindahkan kafe kerumah."
"Mbak aku memang content creator. Jadi mas Damar sengaja membelikannya untukku."
Juli menyombongkan prestasinya sebagai youtuber tanpa wajah dan menggunakan nama pena.
Pintu rumah terbuka saat Hana selesai membuat takoyaki camilan khas negeri sakura.
"Suami kamu datang Juls."
Hana mengambil alih pekerjaan Juli yaitu memasukan beberapa sisa bahan.
"Mas Damar sudah pulang, mba Hana sama aku baru selesai bikin evening snack. Mau kopi atau yang lain ?"
Juli merangkul pinggang Damar lalu mengambil alih tas kerjanya.
"Apa aja yang bikin seger, tadi aku udah minum kopi sama Galih.
Oh iya, Han ada seseorang yang mau ketemu sama kamu."
Hana baru saja hendak memberikan jamuan untuk Ifan. Galih muncul dari balik pintu membuat Hana terpaku menatapnya.
Sesaat air mata Hana jatuh satu tetes kemudian tak terhitung jumlahnya.
"Galih . ."
Hana berlari kecil menghampiri pria bertubuh tinggi kurus itu. Senyum Galih manis menghiasi wajah kecilnya.
Keduanya berpelukan melepas rindu lama tak berjumpa.
Kenangan sewaktu kuliah terputar di memori masing masing.
Galih sahabat terbaik bagi Hana yang selalu ada untuknya.
Sementara Hana ialah seseorang penting dihidup Galih. Apapun sudah Galih lakukan demi wanita itu.
"Aku kangen sama kamu Galih. ."
__ADS_1
Lirih Hana seraya memeluk erat Galih.
"Aku tahu, hanya aku yang bisa menjadikanmu ratu didunia ini Na."
Damar tersenyum puas melihat mereka kembali bertemu. Sudah lama sekali Damar menghapus perasaan sukanya pada Hana.
Namanya juga masa muda, mereka selalu ingin merasakan pengalaman jatuh cinta.
"Mas Galih itu siapa ?"
Juli bertanya saat keduanya sudah berada didalam kamar.
"Dia bakal jagain Hana dari Yuta. Kami bertiga satu genk dulu dikampus."
Kini kemeja Damar sudah tergeletak diatas sofa menyisakan dada telanjangnya.
"Mas Damar baik banget mau membantu mereka."
Julilah yang merapikan baju kotor lalu memasukannya ke keranjang laundri.
"Kamu yang baik Juls, mau menerima Hana dirumah kita."
Lagi lagi Damar berusaha meminta jatahnya, dia memeluk Juli dari belakang.
"Mas aku masak makan malam buat kita semua ya, aku sudah siapin air hangat."
Juli segera melepaskan pelukan Damar kemudian keluar kamar begitu saja.
Suasana meja makan menjadi ramai dari biasanya.
Membawa kebahagiaan tersendiri untuk Juli yang selalu merasa kesepian.
Hana tampak lebih rileks berada didekat Galih.
Mereka juga banyak mengobrol sejak bertemu tadi.
Jangan lupakan Ifan, sengaja Juli mengajaknya makan didalam. Kasihan dia sudah bekerja keras seharian ini.
"Tahu gak kamu Juli, suamimu itu kutu buku pas kuliah. Untungnya dia gaulnya sama aku."
Etdah Galih pakai acara buka kartu Damar didepan Juli istrinya.
"Sialan loe !"
Damar kesal melempar dinner napkin kearah dada Galih.
"Aku bisa tebak kok, sampai sekarangpun mas Damar kalau lagi kerja serasa dunia milik sendiri."
Kecuali Damar mereka tertawa mendengar jawaban Juli, Ifanpun tersenyum kecil.
"Tapi tu ya Juls, dulu Damar gak bucin pas suka sama aku. Sekarang dia muja kamu seperti seorang ratu."
Tambah Hana.
"Jelas dong, Juli wanita yang akan melahirkan anak anakku nanti."
Juli mengukir senyum mengembang setelah Damar mengatakan hal itu. Sungguh Juli merasa tersanjung mendendarnya.
Mereka bahkan lupa kalau semalam sempat perang dingin.
Damar dan Juli tidak ingin berlarut larut dalam sebuah masalah.
Dret dret . .
Handphone milik Hana berbunyi diatas meja.
Semua mata tertuju menatap Hana yang kini memegang handphone siap mengangkatnya.
"hai Yuta . ."
-Hana . . .
Akhirnya kamu mengaktifkan ponselnmu.-
Hana sengaja menyetel mode loudspeaker supaya semua bisa mendengar percakapannya.
-Keluar Hana ! Aku sudah didepan untuk menjemputmu pulang.-
Sontak Hana berdiri menimbulkan bunyik keras dari kursi.
Galih orang pertama yang melangkah keluar.
"Tunggu Galih !"
Ifan mencegah Galih atas perintah Damar melalui signal matanya.
"Kita jangan gegabah.
Mungkin Yuta hanya memancing Hana agar mau menemuinya."
"Tapi Damar dia tahu dimana Hana sekarang. artinya Yuta memata matainya."
Galih emosi ingin memukul wajah Yuta yang bahkan belum pernah ia temui.
"Gimana kalau aku sama mas Damar yang keluar. Ini lingkungan kami, orang asing tidak di izinkan masuk begitu saja. pak Ifan tolong hubungi satpam kompleks."
Juli memberi ide cukup riskan namun bisa menunda waktu hingga surat gugatan sampai di pengadilan.
"Baik nona."
Ifan berjalan mendekati meja pesawat telpon diruang tamu.
Damar menggandeng Juli untuk melindunginya.
Terlihat pria blasteran Indo Jepang bernama Yuta berdiri tegap di depan gerbang rumah bersama 3 orang pengawalnya.
__ADS_1