
Juli berlari sejak turun dari taxi, diujumg lorong matanya mulai melihat beberapa orang menunggu didepan ruang operasi.
Raut wajah mereka sayu penuh ketakutan.
"Ada apa nek ?"
Juli menghampiri Atikah yanh terdekat dari jangkauannya.
Zara menyadari kedatangan Juli, iapun mendekat meminta pelukan darinya.
Isak tangis pelan terdengar ditelinga Juli.
Tunggu, Juli memperhatikan sekeliling.
Damar dan Kevin tidak ada disini, lalu maksud mereka berdiri menunggu diruang operasi apa ?
"Siapa ?"
Tanya Juli pada Zara, ia ingin tahu tubuh siapa dibalik pintu yang sedang ditangani oleh para dokter.
"Kevin Juls, , aku tidak bisa kehilangan dia."
Zara menangis, bukan karena takut melainkan tidak siap ditinggal anak semata wayangnya.
Kalau bisa Zara masih berharap memiliki keturunan.
Kenyataannya Zara hanya memiliki Kevin dihidupnya.
"Tenanglah Zara !"
Ditya mendekat menepuk punggung istrinya.
Kevin juga anaknya, jagoan kecilnya. Meski sudah memiliki Damar bukan berarti dia menyampingkan kehadiran Kevin.
Sebab Ditya memaksa Damar untuk meneruskan pertunangannya dengan Sekar.
Demi menjaga perasaan Kevin dan sang istri.
"Kevin kuat tante, dia akan baik baik saja."
Juli berusaha memberi kekuatan pada Zara.
Ia masih belum mengerti apa yang terjadi pada Kevin.
"Juli kenapa leher kamu sayang ?"
Perban dileher Juli menyita perhatian ibu berusia 44 tahun itu.
"Tidak kenapa kenapa tante, ini sudah kering kok."
Juli mengajak Zara duduk dikursi agar tidak terlalu tegang.
"Kevin kecelakaan mobil Juls.
Dia dan Damar selalu balapan mobil saat bertengkar."
Zara memberitahu Juli kronologi Kevin bisa berakhir diruang operasi.
-Ini salahku, sudah pasti mereka saling membenci karena kehadiranku.-
Juli melirik ke arah Ditya, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding memperhatikan.
Mata merekapun akhirnya bertemu, Ditya tahu arti dari tatap itu.
"Ikut saya sebentar !"
Perintah Ditya pada Juli, menuntunnya menjauh dari anggota keluarga.
Juli menurut saja mengikutinya.
"Dia ada didalam, masuklah."
Ditya menunjuk pintu kamar menggunakan dagunya.
Juli ragu apa ia harus masuk atau tidak.
Namun hatinya sangat ingin melihat keadaan Damar.
"Temui dia untuk yang terakhir . ."
Juli terkejut mendengar ucapan Ditya, kini pria itu berlutut dihadapan Juli.
"Om , ,"
Kakinya refleks mundur satu langkah, Juli mengajak Ditya bangkit.
"Tolong tinggalkan Damar, terimalah Kevin Juls . .
Om memohon sama kamu."
Juli menangis, air matanya jatuh beriringan dengan patah hatinya.
Juli memejamkan mata mencoba berpikir jernih.
Permintaan Ditya sangat sulit baginya, bisakah Juli melakukan hal lain untuk membantu keluarga ini ?
"Juli dia sengaja menarbakan mobilnya ke Damar, kita tidak perlu lagi bertanya kenapa."
__ADS_1
Ya, Ditya benar.
Semua orang tahu ini karena Juli.
"Boleh Juli minta waktu ?"
Ditya mengangguk kemudian bergerak memeluknya.
"Om minta maaf, memaksa kehendak demi keutuhan keluargaku."
Ditya tidak tahu lagi harus bagaimana menangani kedua anaknya.
Mereka diam tanpa mau cerita pada orang tuanya.
"Juli masuk om . ."
Juli izin melihat Damar dikamarnya.
Ditya mempersilakannya dengan membantu membukakan pintu.
"Hi . ."
Sapa Juli pada Damar, laki laki itu sudah siuman.
Tidak ada luka parah yang ia derita, hanya beberapa luka lebam dan goresan dilengan juga wajahnya.
"Jangan menyalahkan diri kamu Juls."
Damar seakan tahu isi dari pikiran Juli, kekasihnya masih saja diam menatap Damar tanpa mau duduk dikursi sebelahnya.
"Terima kasih buat semuanya pak, aku bahagia sekali bisa sama bapak selama ini."
Juli menunduk tak berani melihat Damar.
"No !"
Serang Damar, berharap Juli menghentikan kata katanya.
"Ayo kita kencan setelah bapak keluar dari rumah sakit.
Nonton, makan, belanja atau sekedar jalan bergandentan tangan."
Juli akhirnya tersenyum mengutarakan keinginan terakhirnya.
Damar hanya diam, dia tahu betul kearah mana percakapan mereka.
"Kemarilah Juls . ."
Damar meminta Juli mendekat, Juli tidak menolak ia kemudian sudah tiba di hadapan Damar yang duduk bersandar.
Perasaan Juli menggebu dibuatnya, gugup dipandangi intens oleh Damar.
Menangis tak bersuara didekapannya. Kalau saja masih ada option lain untuk hubungan mereka, Juli mungkin tidak akan sesedih ini.
"Jangan, apapun keadaannya jangan pernah melepaskan genggamanku Juls."
Damar berbisik ditelinga Juli.
"Aku pergi dulu pak, nanti kita ketemu lagi."
Juli melepaskan dirinya dari Damar, tangannya berani mengusap pipi Damar.
"Juls . ."
Damar menghentikan Juli diambang pintu.
Juli menoleh dan tersenyum.
"Goodbye pak Damar . ."
Damar memejamkan matanya, mendengar ucapan selamat tinggal Juli terasa menyakitkan menusuk hatinya.
Juli berjalan menuju ruang operasi, ia menangis merasakan sesak didadanya.
Memang mereka sebatas pacaran, namun bukan berarti hubungan itu main main.
Kalau saja Damar mengajak Juli serius ke langkah berikutnya, Juli akan sangat siap menerimanya.
Nyatanya mereka berakhir seperti ini. Tidak ada hari esok untuk hubungannya.
Yang ada hanya perpisahan menguras emosi.
Bersamaan dengan tibanya Juli diantara keluarga Kevin, suster keluar mendorong brankar yang membawa tubuh Kevin.
Kevin terlihat parah menurut Juli, lehernya bahkan menggunakan cervical collar atau penyangga leher.
"Tante Kevin . ."
Juli menghampiri Zara.
"Kevin dipindahkan ke ruang ICU Juls. Keadaannya masih kritis."
Zara memandang Juli seolah meminta pertolongannya.
Kenapa ?
Juli bukan dokter, dia mana mungkin bisa menyembuhkan Kevin.
__ADS_1
Semua orang ingin Juli melakukan aksi hiroik, ia sungguh tidak mengerti.
"Tante sama nenek istirahat dulu, cari makan atau minum.
Biar Juli yang nungguin Kevin."
"Juli benar bu, Ditya akan antar kalian sampai cafetaria."
Ditya menggiring istri dan mertuanya meninggalkan Kamar Kevin. Tersisa Juli seorang diri disana.
"Suster, bagaimana keadaan Kevin ?"
Suster yang baru saja keluar dicegat Juli.
"Dr. Kevin belum melewati masa kritisnya.
Kami baru menyelesaikan operasi menghentikan pendarahan pada kepalanya."
Juli menutup mulutnya tak percaya. Separah itu keadaan Kevin, kasihan sekali sahabatnya itu.
"Boleh saya masuk ?"
Tanya Juli ragu.
"Bisa, tapi nona harus memakai pakaian steril terlebih dahulu.
Mari saya antar."
Suster mengajak Juli ke ruang sebelahnya guna mengikuti prosedur rumah sakit.
Juli melangkah menuju brankar Kevin dengan segala peralatan yang menempel di tubuh laki laki itu.
Ia duduk dikursi sebelahnya, ragu menggenggam tangan Kevin tapi tetap melakukannya.
"Kevin, kamu harus cepat sembuh ! Ayo kita lakukan pameran sama sama."
Dingin sekali tangannya, semoga Juli bisa memberi sedikit kehangatan untuknya.
"Kamu tahu Kevin, aku sangat merindukan kebersamaan kita. Sebelum kerenggangan terjadi aku nyaman sekali disamping kamu.
Kamu sahabat terbaik yang pernah ku miliki."
Juli menggenggam erat tangan Kevin, air matanya jatuh menetes.
"Kalau harus, aku akan melakukannya demi kamu.
Jadi aku mohon bangunlah !
Kamu jago basket pasti kuat Kevin."
Perlahan Kevin membuka kedua matanya.
Dia tersenyum samar, Juli orang pertama yang ia lihat saat sadar.
"Kevin , ,
Aku panggilkan dokter."
Juli menyeka air matanya, bergegas keluar mencari keberadaan dokter jaga.
Ingin Kevin menahan tangannya namun dia masih lemah.
Hatinya bahagia tahu Juli menjaganya hingga ia terbangun.
"Ada apa Juli ?
Juli bertabrakan dengan Ditya.
"Kevin sadar om, dia bangun dan tersenyum."
Juli terengah engah menjelaskan kondisi Kevin.
"Biar om panggil dokternya."
Ditya segera menelpon dr. Bara, dia spesialis bedah sedang menunggu hasil serangakaian tes Kevin.
"Bara, Kevin sudah siuman. Tolong bantu saya."
Pelan Ditya bicara ditelpon.
-Baik om.-
Bara langsung memutus sambungan. Ditya cukup akrab dengan Bara, MHospital beruntung bisa merekrut dokter sehandal Bara.
"Kamu sudah menemuinya ?"
Ditya bertanya pada Juli, dia melihat Juli berpakaian steril.
"Iya om, maaf Juli mendahului kalian."
Ia menunduk takut menyinggung perasaan Ditya, orang tuanya saja belum sempat menengok Kevin.
"Tidak apa apa Juls, om malah terima kasih.
Berkat kamu Kevin bisa melalui masa kritisnya."
Ditya menepuk pundak Juli.
__ADS_1
Tak jauh Damar menyaksikan percakapan ayah dan kekasihnya.
Damar tahu ini berat, tapi demi Kevin adiknya dia akan berusaha menyampingkan perasaannya pada Juli.