
Lalu lalang kendaraan di jalan raya menjadi pemandangan tersendiri.
Kapan lagi bisa menikmati malam diluar rumah.
Juli duduk dibangku halte bus ditemani Ifan yang masih berdiri menjaganya.
"Bapak tahu gak ?"
"Nggak non."
Jawab Ifan dengan cepat.
"sayakan belum selesai bicara pak, ah gak asik jadinya mau cerita tuh."
Juli pura pura merajuk demi membunuh waktu menunggu seseorang menjemput mereka pulang.
"Hehe maaf non. . Lanjut !"
Cengir Ifan meminta Juli meneruskan ucapannya.
"Mas Damar tuh kalau lagi ketawa ganteng banget. Mudah mudahan baby bisa mewarisi gen ayahnya."
Tangan Juli bergerak mengelus perutnya seraya tersenyum.
"Wah, jadi sudah ada bos kecil diperut non Juli ?
Maksud saya nyonya Damar."
Ifan membetulkan panggilannya terhadap istri bosnya.
"Iya, dan dia sedang merindukan daddynya."
Baru saja Juli menyelesaikan perkataannya, sebuah mobil tidak asing berhenti tepat dihadapan mereka.
Mereka masih belum menyadari siapa yang keluar dari mobil.
Terlalu lelah mengamati jalanan ramai dihadapannya.
"Juli . ."
Barulah suara itu berhasil membuat Juli tersadar.
Ia berdiri menunggu dekapan bapak dari janin dalam kandungannya.
"Mas Damar. ."
Keduanya berpelukan melepas rindu tak tertahan. Terakhir kali Damar melihat wajah Juli ketika berangkat bekerja pagi tadi.
"Ya Tuhan, kamu baik baik saja kan ? Apa Yuta menyakiti kamu ?"
Damar melepaskan pelukannya memeriksa setiap inci tubuh Juli.
Memastikan istrinya baik baik saja.
"Enggak mas, kami baik baik saja."
Juli menggelengkan kepalanya tanda tidak ada luka sedikitpun.
"Ayo kita pulang, biar Ifan naik taxi langsunh ke rumahnya."
Damar memberi beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kepada Ifan. Akhirnya dia bisa pulang tanpa pusing memikirkan ongkos.
Kemudian Damar segera mengajak Juli masuk ke mobil.
Tak lama lama mobil porschenya kembali melaju membelah jalanan.
Perjalanan pulang terasa begitu cepat. Kini mobil Damar sudah terparkir dihalaman rumah Kevin.
Juli ketiduran meski tadi ia sudah terbaring cukup lama dirumah sakit.
Selalu ada mama Zara stand by menyambut mereka saat mendapat kabar akan menginap.
Tak ingin membangunkan Juli, Damar hati hati membopongnya langsung masuk ke kamar.
"ketemu dimana ?"
Zara masih membuntuti langkah Damar.
"Jaksel mah. ."
Bisik Damar sambil menahan beratnya bobot tubuh Juli.
"Ngapain ? Kok hang outnya jauh banget sih istri kamu."
Zara cekatan menyiapkan bantal juga membukakan selimut.
"Sust. . nanti Juli bangun, ceritanya panjang mah."
Damar mengajak Zara keluar kamar kemudian menjelaskan semua permasalahan yang terjadi.
Karena Hana cukup dikenal keluarganya, dulu dia sering bertamu ke rumah orang tua Damar saat kuliah.
Awalnya Zara marah mengetahui anaknya ikut campur masalah orang lain. Apalagi sampai membahayakan Juli istrinya.
Bukan Damar jika tidak bisa menaklukan hati Zara. Pastinya Zara mengultikatum agar anaknya jangan melibatkan diri lagi kedalam masalah hidup orang lain.
__ADS_1
"Kamu makan dulu Dee, mama sudah masak tadi."
Zara adalah seorang ibu, dia tahu kalau Damar tentunya belum makan sejak mengurus masalah hotel dan mencari Juli.
"Dee gimana istri kamu, masih pake KB dia ?"
Grand Ma tiba tiba datang menyerang menggunakan pertanyaan yang sama dari sebelum sebelumnya.
"Grand Ma, tunggu sampai Juli wisuda. Lagipula kan bentar lagi."
Damar berjalan sempoyongan menuju meja makan.
"Mih kasih mereka waktu. Kita sudah sering bahas ini, Zara sama ayahnya anak anak juga kepengen cepet dapet cucu. Tapi kami tidak mau memaksa."
Selalu Zara yang akan menjadi penengah memberi Aulia pengertian.
"Terus Juli sekarang dimana ? Masa kamu makan sendirian."
Aulia ikut duduk bersama Zara menemani Damar makan malam.
"Juli kecapekan Grand Ma, beberapa hari ini Dee perhatikan dia seperti banyak pikiran."
Bukan Damar mengadu, mungkin bercerita ke nenek dan mamanya bisa mendapat wejangan menghadapi mood seorang istri.
"Kasih dia waktu buat melakukan apa yang Juli inginkan. Ajak jalan jalan atau sekedar makan malam bersama diluar. Mama tebak, kalian pasti jarang melakukannya kan ?"
"Iya mah . . Dee terlalu sibuk bekerja."
Saran mama Zara ada baiknya untuk Damar coba. Memang dirinya jarang sekali memanjakan Juli.
Baiknya, Juli tidak pernah mengeluh tentang hal itu. Malah dialah yang selalu memberi Damar semangat menjalani rutinitasnya sebagai seorang pengusaha.
Juli memenuhi kebutuhan Damar selama pernikahan mereka. Mulai dari makanan, pakaian, hingga urusan ranjang.
"Mama ke kamar ya Dee, ayah lagi kurang sehat soalnya."
Zara bangkit dari kursinya.
"Apa perlu Dee panggilkan dokter ?"
"Katanya sudah minum obat dari Kevin. Mungkin besok juga baikan."
Lalu sosok Zara sudah tak terlihat dalam pandangan Damar juga Aulia.
"Grand Ma kenapa selalu sinis sama Juli ? Sekarang kan Juli istri Dee Grand Ma."
Sepertinya ini waktu yang pas bagi Damar untuk bertanya tentang hal yang mengganjal selama ini.
"Pertama kalian nikah mendadak gak kasih tahu Grand Ma.
Damar menghela nafas mendengar alasan neneknya.
"Kedua, Grand Ma gak suka kalau ada istri yang menunda kehamilan.
Ketiga, kalian tinggal sendiri. Kevin malah berencana tinggal bareng kalau menikah sama Sekar nanti."
Pantas saja Aulia selalu menyerang Juli, jadi intinya karena masalah anak.
"Kalau Juli hamil Grand Ma akan sayangkan sama kami ?"
Orang yang dibicarakan ternyata sudah berdiri didekat meja makan. Keduanya menengok kearah sumber suara.
"Juls kamu bangun ?"
Damar menjemput Juli untuk duduk bersamanya.
"Jujur grand ma gak benci kok sama Juli, tapi kalau Juli merasa tersinggung Grand Ma minta maaf."
Mendapat tatapan memelas dari Juli Aulia merasa teriris hatinya. Ia sadar kalau sikap dan perkataannya selama ini salah.
"Juli sayang sama Grand Ma. Mulai sekarang Juli dan calon cicit grand ma akan sering main kesini."
Damar juga Aulia dibuat bingung dengan ucapan Juli.
"Disini, baby baru 8 minggu."
Kata Juli mengelus perutnya memperjelas teka teki yang ia buat.
"Alhamdulillah . ."
Aulia mengucap syukur.
Sementara Damar berhambur memeluk tubuh disampingnya. Tak terasa air mata menetes, tangis kebahagiaan Damar mendapati hadiah terindah diusianya sekarang.
"Terima kasih sayang, terima kasih Juli."
Damar melepaskan pelukannya kemudian mencium singkat bibir Juli tanpa malu dilihat Aulia.
"Mas ada Grand Ma, aku malu."
Juli menepuk lembut lengan suaminya.
"Sebenarnya sejak awal Juli gak minum obat KB mas. Juli pasrah saja sama Tuhan."
Damar sampai tidak bisa berkata apa apa, dia hanya memandangi Juli penuh haru.
__ADS_1
Begitupun Aulia, dia orang pertama yang senang mengetahui cucu menantunya hamil.
"Dee, ajak Juli makan. Ibu hamil harus kuat menjaga janin didalam kandungannya."
Perintah Aulia pada Damar.
"Enggak mas, kalau aku makan nanti malah keluar lagi."
Juli mengibaskan tangannya saat Damar akan menaruh nasi dipiring.
"Kamu pasti belum makan dari siang. Aku mohon makan ya ?!"
"Kalau mas maksa, aku mau cheese omelet buatan tangan mas Damar gimana ?"
Mendadak Juli banyak mau, Aulia hanya tersenyum mendengarnya karena dia tahu kalau Juli pasti sedang ngidam.
"Demi kamu, juga baby akan aku lakukan apapun Juls."
Damar mengelus pipi Juli, dia bangkit dari duduknya mulai menyiapkan bahan bahan untuk memasak.
"Grand Ma ke kamar duluan ya. Sehat sehat cucu mantu sama cicit grand Ma."
Tak ingin menggangu keduanya Auliapun pamit ke kamar.
Bukan tidak bisa masak, nyatanya Damar kini terlihat mahir menggulung telur ala koki di hotel. Juli hanya memandangi suaminya tanpa berkedip sedetikpun.
Kapan lagi bisa dimasakin seorang Damar Aditya. Dalam hati Damar bertekad dia akan memanjakan Juli selagi ngidamnya masih dilevel normal.
"Silakan sayangnya daddy . ."
Piring sudah Damar letakkan dihadapan Juli. Aroma telur memyeruak kehidung sang istri.
"Mas Damar bikinnya kok 2 ? Nanti gak habis loh. ."
"Kan satunya buat baby. ."
Damar duduk disebelah Juli demi memperhatikannya makan.
"Iya juga, aku makan ya mas."
Satu potong berukuran cukup besar masuk kedalam mulut Juli.
Serius lidahnya merasakan perpaduan tekstur omelet bercampur keju terasa pas.
"Gimana rasanya ?"
"Enak mas, ih ternyata suami aku jago masak."
Ting . .
Handphone Damar berbunyi, dia mendapat sebuah pesan singkat dari seseorang.
Sebentar saja Damar membaca, lepas itu handphonenya kembali masuk ke saku celana.
"Siapa mas ?"
Juli penasaran siapa pengirim pesan pada suaminya.
"Galih, katanya Hana dan berkasnya sudah siap ke pengadilan besok."
Juli akan percaya apapun perkatakan Damar. Meski sebenarnya bukanlah pesan Galih yang dia terima.
"Juli kamu istirahat ya setelah ini ! Aku harus menyelesaikan persoalan hotel."
Pinta Damar mengelus kepala Juli sebelum dirinya pergi ke ruang kerja bersama.
"Iya mas."
Damar menatap laptop miliknya diatas meja, pikirannya masih saja fokus pada satu hal.
Bukan masalah perusahaan atau kasus Hana temannya. Melainkan pesan berisi foto seseroang sudah mengganggunya.
Dret dret . .
Panggilan masuk dari nomer tanpa nama, Damar segera mengangkatnya.
"Ada apa ? Bisakah jangan mengganggu. Aku sedang dirumah banyak kerjaan."
Nada bicara Damar terdengar berat penuh penekanan.
- Kapak kita bisa ketemu ? Bukannya sudah janji.-
Sayup sayup suara perempuan diujung telpon.
Damar mengusap wajahnya kasar karena frustasi. Sejak kapan perempuan itu menjadi pengganggu, dia bahkan memiliki kontak pribadinya.
Jangan sampai Juli tahu dia diteror begini, apalagi sekarang istrinya sedang hamil.
"Besok saja kita bahas ini, sudah aku tutup."
Ketika Damar berbalik dia sudah mendapati sosok istrinya berdiri diambang pintu membawa secangkir kopi.
Kenapa Damar harus lupa menutup pintu, jangan jangan Juli mendengar obrolannya.
"A cup of coffee ?"
__ADS_1