
Juli melangkah ragu mendekati meja kerja Malvin.
Kelihatannya mood si bos sedang tidak bagus.
"Pak Malvin manggil saya ?"
Sapa Juli, Malvin memutar kursinya beralih menatap Juli.
"Oh ya, kamu dari mana ?"
Malvin balik bertanya mulai kepo pada Juli.
"Kevin wisuda hari ini,
saya baru saja dari kampus."
Juli mengedarkan pandangannya menghindari tatapan mata Malvin.
"Duduk Juls. ."
Perintah Malvin pada Juli.
Juli menurut kemudian duduk dikursi depan meja Malvin.
"Ada tugas apa bapak manggil saya ?"
Tidak ingin lama lama berduaan Juli langsung bertanya.
"Lusa saya akan terbang ke korea mungkin akan stay disana.
Perusahaan baru milik papa mulai beroperasi.
Tapi sebelum berangkat, ada sesuatu yang harus saya selesaikan dengan kamu."
Kalimat terakhir Malvin membuat Juli bingung.
"Dengan saya ? Apa saya ada salah sama bapak, ,
aduh maaf pak Malvin kalau pekerjaan saya berantakan selama ini."
Juli berkesimpulan kalau Malvin memanggilnya karena Juli melakukan kesalahan besar.
Jangan jangan Malvin mencurigai dirinya korupsi atau memalsukan laporan keuangan.
"Tenang Juls inu bukan masalah pekerjaan."
Malvin bangkit dari kursinya lalu maju mendekat kearah Juli.
"Aku sempat melihat kamu bermesraan dengan Damar.
Aku hanya penasaran apa hubungan kalian, yang aku dengar dari Tiara kamu pacaran sama si Kevin."
Tangan Malvin hampir menyentuh pipi Juli, namun dengan cepat gadis itu menghindar.
"Eu, , itu diluar konteks pekerjaan. Bisakah bapak tidak membahas masalah pribadi ?
Kalau tidak ada keperluan penting, saya permisi saja pak Malvin."
Juli berdiri berniat keluar dari ruangan itu, dengan cepat Malvin menahan tangannya sejurus kemudian mendekap Juli dari belakang.
"Aku hanya ingin melihat seberapa hebat kamu, sehingga mereka merebutkan gadis polos sepertimu."
Bisik Malvin ditelinga Juli.
Nafasnya bahkan berhasil menerbangkan helaian lembut rambut Juli.
"Pak saya mohon jangan begini !
Tolong lepaskan !"
Juli memberontak mencoba melepaskan tubuhnya.
"Kenapa kamu tidak menolak saat Damar melakukan hal yang sama ?
Ayolah Juls, diluar sana perempuan terlalu mudah aku tiduri.
Jangan menolak atau aku akan mengeluarkan kamu dari kantor ini."
Malvin dikenal sebagai laki laki doyan jajan di club malam.
Entah darimana sifat itu berasal. Milka dan Erwin bahkan kewalahan mengaturnya sejak dulu.
__ADS_1
Itulah alasan Miley selalu keras padanya.
Miley lelah memiliki kakak berkelakuan buruk seperti Malvin.
Juli menangis, dia pikir setelah lepas dari jeratan Romi Juli akan hidup tenang.
Ternyata hari ini ia kembali bertemu dengan Romi lainnya.
Tangan Malvin mulai bergerak menyentuh leher Juli, membuatnya bergidik jijik.
Hanya sentuhan Damar yang bisa ia terima, karena Juli mencintai laki laki itu.
Bahkan tidak untuk Kevin apalagi Malvin, Juli tidak rela tubuhnya dijamah laki laki lain.
Buk . .
Juli memukul perut Malvin menggunakan sikutnya.
"aargh . ."
Malvin meringis kesakitan menyentuh perutnya.
Waktu yang pas untuk Juli melarikan diri.
Ia berlari meninggalkan kantor DGC.
Didepan pintu lift Juli bertabrakan cukup keras dengan seseorang.
Tubuhnya terpental jatuh ke lantai.
"Juls kamu baik baik saja ?"
Tanya laki laki itu meraih tangan Juli membantunya berdiri.
Juli terisak menahan rasa takutnya sejak tadi.
"A. . a aku . ."
Lidahnya keluh tak mampu mengatakan apa apa, ia segera memeluknya mencari keamanan.
"Tenanglah, aku ada disini Juls."
Katanya membelai rambut Juli berusaha menenangkannya.
Sialnya Juli sudah mendapat perlindungan dari seseorang yang selama ini dia segani.
"Damar . ."
Sapanya penuh rasa cemas mendapat amukan dari sepupunya.
"Sialan loe Vin. ."
Damar melirik kearah Malvin dengan posisi masih memeluk Juli.
Ia sudah bisa menangkap kalau Juli seperti ini akibat diganggu olehnya.
"Please pak Damar, bawa aku pergi dari sini !"
Pinta Juli penuh harap Damar tidak melakukan kekerasan pada sepupunya sendiri.
Demi Juli, Damar mengurungkan niatnya menghajar habis wajah Malvin.
Untung saja Damar punya pikiran untuk mampir ke ruang kerjanya.
"Ayo kita pergi . ."
Damar mengajak Juli masuk lift.
Juli meminta agar tidak diajak kemana mana, ia hanya ingin pulang kembali ke apartemennya.
Alhasil Damar mengantarkan Juli menggunakan mobil porschenya.
"Katakan apa yang Malvin lakukan sama kamu Juls ?!"
Damar geram sejak tadi Juli hanya diam melamun.
"Tidak ada."
Jawabnya singkat, Juli jelas berbohong.
"baik kalau kamu tidak mau jujur. Biar aku tanyakan langsung sama dia."
__ADS_1
Damar menghentikan usahanya mengorek informasi dari Juli.
Jika ke perempuan lain Malvin semena mena ia tidak akan ikut campur.
Tapi ini Juli, Juli gadis yang sangat ia cintai pertama kalinya hingga detik ini.
Bukan Juli tidak ingin mengadu, ia takut menjadi penyebab kerenggangan hubungan persaudaraan mereka.
Pernah Juli menghancurkan ikatan kakak beradik akibat keegoisannya.
Apa salah Juli hingga dia menjadi penyebab terjadinya kekacauan ?
Juli lelah berjalan dijalan seperti ini, ia ingin bebas tanpa ada yang tersakiti oleh kehadirannya.
Semrawut pasang surut kehidupannya. Juli tidak ada waktu untuk mengeluh. Ia masih harus melalui hari esok dan seterusnya.
Pengalaman cinta pertamanya membuat Juli bertekad, untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun sementara waktu ini.
"Terima kasih bapak sudah mengantar."
Ucap Juli menggunakan bahasa resmi pada Damar.
"Kamu gak nyuruh aku mampir ?"
Damar berharap sekali Juli mengajaknya masuk kedalam.
"tidak baik jika kita sering berduaan, lebih baik bapak pulang saja."
Juli masuk ke apartemennya meninggalkan dan menolak Damar.
Ia tidak memiliki alasan untuk pergi dari apartemen milik Damar. Juli butuh tempat tinggal, ia juga selalu rutin membayar uang sewa meski tidak besar.
Damarnya saja yang keras kepala selalu mengembalikan uang sewa Juli.
Rumah warisannya sudah ia serahkan sebagai pengganti uang yang Damar keluarkan.
Juli tidak ingin memiliki hutang budi apapun pada siapapun.
Lumayan juga magang di DGC, Juli diberi uang saku di awal bulan.
Dihari libur ia masih menerima part time job.
Memang penghasilannya tidak besar, tapi Juli tetap bersyukur dengan segalanya.
Damar kembali ke meja di coffeeshop bergabung bersama keluarganya.
Cukup lama dia meninggalkan mereka hingga mengantarkan Juli pulang.
"Kamu abis ke kamar apa ke Jepang Dee ?
Lama sekali."
Ditya menggerutu menunggu anak sulungnya.
"Maaf yah, tadi ada sedikit masalah kerjaan."
Damar nyengir kuda pada ayahnya sendiri.
"Palingan curi curi waktu buat pacaran yah, ,"
Kevin tak segan segan meledek Damar dihadapan orang tua mereka.
"Kevin , ,
jaga sikap kamu sama mas Damar !"
Zara menganggap gurauan Kevin tidak lucu.
"Ayah capek lihat kalian begini terus. Sekarang ayah dan mama tidak akan mencampuri urusan asmara kalian lagi."
Ditya memberi ultimatum pada Damar dan Kevin kalau mereka akan mundur. Menarik diri dari masalah pribadi anak anaknya.
"Semuanya sudah terlambat, Juli muak sama kami berdua."
Kevin tersenyum sinis menyindir Damar.
"Move on dong kalian !"
Zara gemas sekali melihat mental kedua anaknya yang seperti kerupuk terkena air.
"Ayo mah kita ke kamar saja."
__ADS_1
Ditya mengajak Zara meninggalkan Damar dan Kevin, memberi mereka ruang agar saling menyelesaikan masalah.