Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#143


__ADS_3

Sebuah kotak segi empat wadah perhiasan berada digenggaman Zara.


Setelah dibuka terlihat ada kalung emas dan gelang gilig yang cantik namun sederhana.


"Ini buat kamu Juli, nenek pernah bilang sama mama untuk memberikannya sama istri Damar."


Diserahkannya box perhiasan itu ketangan Juli.


"Tapi mah, Juli gak bisa terima ini."


"sayang itu sudah jadi hak kamu. Simpan saja kalau kamu masih belum siap memakainya."


Zara menahan kotak merah agar tetap dipangkuan Juli.


"Terima kasih mah, Juli akan simpan ini baik baik."


Bagaimanapun perhiasan yang Juli terima adalah sebuah warisan peninggalan nenek Atikah


"Mah, aku pinjem istriku ya ?"


Damar datang menyela obrolan istri dan ibu sambungnya.


"Tentu dong, diakan milik kamu seutuhnya."


Zara membiarkan menantunya diambil oleh Damar.


Ia merasa lega melihat keduanya sudah berbaikan.


Semoga saja tidak ada lagi masalah besar hadir di rumah tangga mereka, ialah doa tulus dari Zara.


Damar menuntun Juli kembali ke kamar mereka. Juli diminta duduk ditepi ranjang sementara Damar berlutut dihadapannya.


"Mmm , , ,"


Harus dari mana Damar memulainya, ia sedikit gugup.


"Ada apa mas ?"


Juli penasaran tak sabar ingin tahu apa yang akan Damar sampaikan.


"Aku tahu selama beberapa hari kemarin sudah membuatmu sedih.


Dan aku minta maaf soal itu Juls."


Damar menggenggam erat tangan Juli menyesali perbuatannya.


"Ini, harusnya aku segera memberikannya padamu."


"Apa ini ?"


Bukan tidak tahu benda tipis berupa kartu itu, Juli hanya perlu penjelasan dari suaminya.


"Disana ada sejumlah saldo, kamu bisa menggunakannya untuk kebutuhanmu sehari hari."


"Aku kan kerja, aku juga masih ada tabungan mas."


Juli meletakkannya kembali diatas tangan Damar.


"Beda sayang, itu milik kamu.


Aku wajib memberimu nafkah jadi pakai saja saat kamu butuh.


Ingat, uangku uang kamu juga."


Juli mana mungkin menolak pemberian Damar.


Meski ia belum terbiasa dengan kemewahan tapi sekarang Damar adalah hidupnya imam dalam rumah tangga mereka.


"Iya mas Damar, terima kasih."


Juli tersenyum menerima kartu ATM dari Damar suaminya.


Ia juga memeluk Damar sebagai hadiah tambahan.


"Aku sayang sama kamu Juls.


Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah kamu lupakan hal itu."


Damar tengah mengkhawatirkan sesuatu entah apa. Yang pasti dia ingin Juli selalu ada bersamanya.


"Hmm . ."


Juli mendesah kecil dalam dekapan Damar.


"Kita keluar ya, semua sudah pada kumpul.


Jangan merasa asing lagi sekarang mereka juga keluarga kamu."


Juli mengangguk mengerti.


Akhirnya setelah dibujuk Damar dia mau keluar kamar.


Usai tahlilan 3 harinya nenek selesai, keluarga berkumpul di ruang tengah dan meja makan.


Saling bertukar kabar mengobrol hal hal ringan.


Juli memilih merapikan kembali peralatan kotor. Tidak enak jika harus bersantai bersama yang lain. Kenapa, karena Juli adalah menantu dirumah sementara itu.


"Juls aku bantu ya ?"


Kevin menghampiri Juli, terlihat mantan kekasihnya kesusahan menggulung karpet berukuran besar.


"Thanks."


Seadanya saja Juli mengucapkan terima kasih pada Kevin yang mau membantunya.


Juli berpikir untuk bertanya pada Kevin soal siapa Hana. Mengingat perbedaan usia adik kaka itu mungkin Kevin tidak kenal siapa Hana.


Ditengah lamunannya Kevin meraih karpet itu untuk ia simpan dipojok ruangan.


Tangannya menggenggam Juli, sesaat dia merasakan sensasi rindu padanya. Gadis yang kini sudah menjadi kakak iparnya, masih memiliki tempat dihati Kevin.


Juli sendiri tidak menyadari hal itu, ia masih bengong melamun.

__ADS_1


Pertengkarannya dengan Damar tidak akan berhenti jika Juli masih mencurigai Hana.


Hana jelas menyukai Damar, Juli bisa melihatnya dari sorot mata wanita tinggi nan cantik itu.


"Juli, , ?"


Kevin menghentakkan ujung gulungan karpet agar Juli mau melepaskannya.


"Iya ?"


"Kamu melamun ?


Sudah biar ini aku yang beresin, kamu mending istirahat."


Perintah Kevin pada Juli, seperti robot Juli menurut begitu saja.


Juli bergabung ditengah kehangatan keluarga.


Damar asik berbincang dengan Tiara di ruang keluarga.


Sementara Ditya bersama Zara menjamu Mutia di meja makan.


Sekian lama akhirnya anak kedua Mahesa menginjakkan kembali kakinya di tanah air.


"Juls itu mamiku namanya Mutia Mahesa, tante kamu juga."


Tiara menunjuk Tia memperkenalkannya pada Juli.


"Cantik seperti kak Tiara."


"Kamu bisa aja Juls. Oh iya bagaimana reaksi pilnya, kamu tidak mengalami perubahan signifikan kan ?"


"Mmm , , ,"


Juli bergumam tidak siap menjawab pertanyaan Tiara.


"Ra, mending jangan dibahas dirumah. Mereka belum tahu keputusan kami."


Kata Damar, Tiara menutup mulutnya kaget kalau orang tua Damar bahkan tidak mengetahui hal tersebut.


"Apa,


Jadi benar Juli pakai KB ?"


Ketiganya menengok kearah sumber suara.


Juli terkejut sekali Grand Ma tiba tiba muncul.


"Grand Ma, biar Damar jelasin semuanya. ."


"Enggak, tunggu dulu !


Grand Ma harus tahu alasannya apa kalian menunda punya momongan."


Aulia menyela Damar tak sabar.


"Kalian itu harusnya berusaha untuk segera memiliki anak. Banyak diluar sana yang tidak beruntung."


Merekapun mendekati area berlangsungnya ketegangan.


"Mih ada apa ?"


Zara merangkul Aulia berusaha menenangkannya.


"Ini menantu kamu, masak dia pakai acara minum pil KB.


Dulu kamu saja gak nunda kehamilan meski sudah ada Dee."


Mata Aulia masih menuntut penjelasan, memandang Damar dan Juli bergantian.


Tiara jadi merasa bersalah, dia penyebab kekacauan saat ini.


Andai tidak membahas hal riskan dirumah itu mungkin Juli selamat dari kemarahan Aulia.


"Mih, mereka berhak memutuskan. Kita orang tua hanya bisa mendukung dan mendo'akan."


"Ra mending kamu sama mami pulang dulu. Ini sudah malam, banyakin istirahat."


Ditya menyarankan Tiara segera pamit, kasihan jika harus mendengar pertengkaran keluarganya.


"Iya pakde, Dee gue pulang ya.


Juli maaf . . ."


Segera saja Tiara mengajak Mutia pergi dengan perasaan masih bersalah pada Juli juga Damar.


"Grand Ma, tolong mengerti keputusan kami.


Juli masih kuliah, Damar gak mau dia hilang fokus atau pendidikannya terhambat karena hal ini."


Memohon sekali Damar pada Aulia agar berhenti membahas soal kehamilan.


"Mih Dee benar. Kita tidak berhak ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga mereka.


Saatnya tiba kita akan mendapat kabar baik dari Juli."


Ditya ikut angkat bicara mencoba merayu sang ibu.


"Grand Ma begini karena peduli sama kalian.


Bagaimana kalau setelah dia pakai KB nanti malah susah punya anak lagi . ."


"Mami !"


Zara menyetop Aulia.


"lebih baik kita ke kamar, Juli jangan kamu tersinggung apa kata Grand Ma. Dee ajak Juli ke kamar."


Zara menarik tubuh mertuanya menjauhi Juli. Ia membawa Aulia ke kamarnya.


- Semua ingin aku segera hamil, tapi aku sendiri masih belum yakin apa yang harus aku lakukan.


Mungkin ini pilihan terbaikku saat ini.-

__ADS_1


Juli menangis tanpa suara, ia memeluk Damar menenggelamkan kepalanya didada bidang Damar.


"Maafkan Grand Ma ya sayang, Grand Ma pasti belum bisa mengerti."


Damar membelai rambut Juli berharap istrinya tidak membenci Aulia.


"Aku bukan istri dan menantu yang baik mas, aku gak bisa bawa kebahagiaan buat mas Damar."


Lagi lagi Juli kembali menangis untuk kesekian kalinya. Pening pastinya kepala Juli.


"Tidak sayang, kamu segalanya untukku."


Juli melepaskan pelukannya, ia menatap Damar cukup lama. Tangannya bergerak membelai pipi Damar, Damar memejamkan matanya menikmati sentuhan Juli.


Dengan penuh keberanian Juli mencium bibir Damar.


Ia memegang kendali awal percintaan diatas ranjang.


Peluh keringat membasahi seluruh tubuh Juli dan Damar.


Nafas mereka masih terengah engah disela pelepasan.


Damar tersenyum mengingat kelincahan Juli bergerak diatas tubuhnya.


Entah istrinya belajar dari mana gaya itu yang pasti Damar kini selalu mendamba kegiatan ranjang mereka.


"I Love You Juli . ."


Bisik Damar pada Juli, ia sudah terlelap sejak tadi. Dieratkan pelukannya memeluk Juli dibawah selimut mereka tanpa sehelaipun busana.


Malam itu semua keluarga anggota tahu bagaimana awal kisah rumah tangga seorang Damar Aditya bersama Juliana.


Mengingat usia Damar, dia pasti mampu membimbing Juli yang masih muda dibawahnya.


Namun terkadang usia tidak bisa menjadi patokan.


"Sayang bangun, kita harus pulang ke rumah."


Pagi buta sekali Damar sudah membangunkan Juli bahkan diluar masih gelap gulita.


Seraya membuka mata Juli tersenyum lebar. Mendengar kata pulang membuat hatinya lega dan merasa tenang. Dirumah hanya akan ada dia dan Damar seorang.


Impian setiap istri dalam berumah tangga.


Selesai mandi Juli mengepak barangnya juga milik Damar kedalam koper.


Sementara Menunggu Damar mandi Juli iseng membuka handphonenya.


Ia menandai tanggal menstruasinya seminggu yang lalu.


Tok tok . .


Seseorang mengetuk pintu sepagi ini. Juli menyimpan handphonenya kedalam tas lalu berjalan kearah pintu untuk membukakan.


"Mama mau bantu Juli siapin sarapan."


Zara tersenyum menyapa Juli di pagi hari.


Ada gurat keraguan muncul diwajah Juli.


"Mas Damar bilang kita akan langsung pulang mah, ,"


Sebelum ke kamar mandi Damar memang meminta Juli untuk tidak memasak atau sarapan dulu.


Dia ingin segera membawa Juli keluar dari rumah demi menghindari kejadian seperti semalam.


"Secepat itu, Kalian tidak sarapan dulu ?


Juli marah sama kami ?"


"Enggak ma, Juli gak marah sama sekali."


Cepat cepat Juli menjawab pertanyaan Zara supaya tidak ada kesalah pahaman.


"Nanti Juli coba bicara ke mas Damar."


"Ada apa Juls . ."


Damar baru keluar dari kamar mandi menghampiri Juli yang berdiri diambang pintu.


"Mas kita sarapan dulu ya, biar aku sama mama masak sebentar."


Pinta Juli berharap Damar mau menunda kepergian mereka hanya demi sarapan bersama.


"Ma lain kali saja ya, Damar ada pekerjaan keluar kota."


"Mas Damar . ."


Lirih Juli memelas.


"Ya sudah gak apa, lain kali kita makan bersama lagi. Kalian sehat sehat ya di rumah baru. jangan lupa mampir kesini, mungkin mama sama ayah bakal tinggal disini sementara waktu."


Zara memeluk menantunya.


🌿🌿🌿


Juli merasa Damar selalu memiliki sisi Dee saat usia anak anak.


Merengek meminta dibuatkan makanan atau parutan keju satu balok. Damar akan mengganggu proses magang Juli dikantor.


Juli juga mungkin bakal merasa curiga saat Damar menerima telpon dari seseorang. Ia beberapa kali melihat Damar bersama client perempuan. Dikampus Damar juga digandrungi mahasiswa tingkat awal.


Semua tidak akan merubah kalau mereka semua istri.


Pasangan muda penuh hasrat dan cinta.


Muncul masalah, mereka akan berdiskusi menenangkan keadaan. seterusnya akan begitu sampai hari tua nanti.


Juli menunggu kepulangan Damar dari Bali. tunggu, Bali ?


Mendadak Juli khawatir bisa saja suaminya tanpa sengaja bertemu Hana disana.


Bersiap saja Damar.

__ADS_1


__ADS_2