
Kini Laila berakhir semobil dengan Erlangga, dalam perjalanan Laila banyak diam, entah kenapa tiba-tiba saja Laila kehabisan topik, yang biasanya selalu nyerocos sekarang malah diam.
"Rumah Lo dari sini kemana?" Tanya Erlangga.
"Eh, itu emmm... belok kanan, lurus, terus nanti Nemu turunan dikit, terus ada cafe di sebrang komplek, nah itu komplek rumah gue. Setelah itu lurus aja terus, dan rumah dua lantai cat hitam putih abu." Tutur Laila panjang lebar seolah mengeluarkan uneg-uneg karena tadi terdiam lama.
"Kepanjangan, gue gak paham." Ujar Erlangga singkat.
Setelah itu Laila kembali banyak berbicara karena menunjuk jalan, walaupun tak di tanggapi suara oleh Erlangga. Tak lama kemudian mobil Sport hitam Erlangga sampai di rumah Laila.
"Haaahhh, thank's ya Ga." Ucap Laila dan melepaskan sabuk pengamannya.
"Sama sama." Jawab Erlangga.
"Enggak mampir dulu?" Tanya Laila sebelum turun dari mobil. Suatu kebiasaan baginya untuk menawarkan siapapun yang mengantarkan nya pulang untuk mampir.
"Gak deh lain kali aja." Tolak Erlangga.
"Ooh yaudah." Laila kemudian turun dari mobil, saat memandang ke halaman rumah, ternyata Mamanya tengah menatapnya dengan tatapan yang... sulit di artikan.
Erlangga yang melihat Laila masih terdiam sambil memegang pintu mobilnya pun memiringkan kepalanya. Entah kenapa seketika jantungnya berdetak cepat, melihat seorang wanita paruh baya yang menatap ke arahnya atau Laila?
"Gue masuk Ga." Pamit Laila sekali lagi walaupun dengan suara yang sedikit tercekat.
"I-iya." Mereka seperti pasangan yang berbuat aneh di dalam sana dan tertangkap basah.
Mama Laila menghampiri putrinya yang masih berdiri, tak menyadari bahwa yang didalam sedang ketar ketir takut kena amuk.
"Kamu pulang sama siapa La? Kok siang banget gini?" Tanya Mama Laila memulai introgasi, dan melirik kedalam mobil. "Masyaallah! ada cah ganteng." Pekik Mama Laila saat melihat ada Erlangga disana.
Dengan terpaksa Erlangga tersenyum, "siang Tante." Sapa Erlangga.
"Udah ganteng, ramah lagi!" Seru Mama Laila. "Mampir dulu Cah Ganteng." Tawar Mama Laila sambil menggeser Laila untuk menjauh.
__ADS_1
"Inget umur Mam!" Ucap Laila, yang mana membuat Mamanya mendelik kesal.
"Enggak Tante makasih." Tolak Erlangga kembali dengan halus.
"Tante maksa lho, ini juga sebagai ucapan terimakasih karena udah nganterin Laila." Paksa Mama Laila dan menarik tangan Erlangga agar keluar.
"Iya-iya Tan, aku mampir." Pasrah Erlangga dan keluar dari jalan yang sesungguhnya, eh.
Laila berjalan lebih dulu, sedangkan Mamanya berjalan beriringan dengan Erlangga sambil menanyakan hal yang begitu unfaedah. Lain halnya dengan Erlangga yang hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kecil.
Mama Laila sedikit bawel, dimulai dari menanyakan namanya, kemudian kabarnya, udah makan belum, kenal Laila lama enggak, ini lah itu lah. Hal itu membuat Erlangga meringis pelan saat menjawabnya, ternyata Laila banyak bicara serta bobrok seperti itu turunan dari Mamanya.
Jujur Laila sedikit kesal saat Mamanya sok akrab dengan Erlangga, hingga masuk ke dalam rumah, rupanya sang Papa sedang duduk santai di ruang tengah.
"Assalamualaikum, Pa." Ucap Laila dan mencium tangan Papanya.
"Wa'alaikumussalam, kenapa sorean pulangnya La?" Jawab Papa Laila dan menanyakan perihal Laila pulang agak sore.
"Tadi nunggu Mang Aden, eh ternyata ban mobilnya bocor mana masih jauh ke sekolah aku lagi. Terus aku ketemu temen sekelas aku, dia ngajak bareng deh, yaudah aku ikut. Pas nyampe Mama malah kegatelan sama dia." Curhat Laila dan menunjuk Mamanya dan Erlangga yang berjalan beriringan masuk ke ruang tengah.
"Udah dong. Aku kan tahu terima kasih." Bangga Laila dan bersedekap dada.
"Songong kamu La! Ganti baju sana." Ujar Mamanya dan menoyor pelan kening Laila, walaupun dengan dramatis Laila mengaduh dan ngadu pada Papanya yang sedang cipika cipiki dengan Erlangga.
Erlangga hanya tersenyum canggung kearah mereka. "Sudah sana La, kamu ganti baju dulu. Nanti kita makan siang bareng sama Rangga." Ujar Papa Laila dan mengusap kepala Laila sekilas.
"Erlangga Pah, bukan Rangga." Ralat Laila saat Papanya salah menyebut nama Erlangga.
Papa Laila tertawa menanggapi, kemudian Laila berlari ke kamarnya untuk berganti baju. Sampai kamar bukannya cepat-cepat mengganti baju Laila malah melompat dan berguling guling di ranjangnya.
"Aaaaa!!!! Gila gilaaaaa! Ini gak bener!! Gue cuma berharap dikit, kok hasilnya gede gini!!" Pekik Laila tertahan sambil terus berguling-guling.
belum selesai ia dengan drama baper-baperannya, Mamanya sudah mengetuk pintu. "La! Ganti bajunya cepet! Kasian Erlangga nunggu." Seru Mamanya dari balik pintu.
__ADS_1
Laila sadar ia sedang membuang waktu, buru buru ia bangkit dan berteriak kepada Mamanya bahwa ia akan cepat turun.
Laila menuruni anak tangga dengan rusuh tak seperti biasanya. "La! Nanti kamu jatuh!" Tegur Papa Laila saat melihat putrinya menuruni anak tangga dengan rusuh.
"Hhheee maaf Pa, gak Laila ulangi."
Setelah itu mereka masuk ke ruang makan dan makan dengan khidmat, Erlangga mendapatkan banyak perhatian dari kedua orangtua Laila. Seperti saat ini.
"Erlangga, kamu nambah yah nasinya." Ujar Mama Laila dan menambahkan satu sedokan nasi ke piring Erlangga.
"Aku- makasih." Yang tadinya ingin menolak, namun tak jadi karena sudah di tambahkan nasinya.
"Cah pintar." Ucap Mama Laila dan disambut tawa dari Papa Laila dan Laila sendiri.
"Ini, kamu mau paha ayamnya Ga?" Tanya Papa Laila dan menyodorkan piring berisi goreng ayam itu.
"Enggak Om, ini masih ada." Tolak Erlangga halus. Jujur ia sedang tak enak hati karena makan di rumah orang yang baru di kenalnya.
"Tumis buncisnya Ga, mau?" Tawar Laila dan menyodorkan piring tumis buncisnya pada Erlangga.
Erlangga tak menolak, ia menyendokan tumis buncis satu sendok. "Jangan sungkan yah Ga. Kalo mau, ambil aja." Ujar Mama Laila dan memasukan suapan pada mulutnya sendiri.
"Makasih Om, Tante, Laila." Ucap Erlangga dan melahap makanan nya.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, jujur. Erlangga sangat merindukan peristiwa seperti ini, yang saat ini mungkin jarang terjadi atau mungkin tidak akan pernah terjadi di keluarganya.
Bagaimana mungkin bisa terjadi? Mamanya atau Papanya yang baru saja duduk di kursi langsung berdiri karena menerima telepon dan langsung pergi karena ada urusan.
"Kenapa melamun Erlangga? Di habisin." Ujar Papa Laila, sambil memegang pundak Erlangga, dan di balas gelengan oleh Erlangga.
Setelah itu, mereka makan dengan sesekali di selingi obrolan Papa Mama Laila yang di sahut absurd oleh putrinya. Sedangkan Erlangga hanya menanggapi saat di tanya.
#Bersambung
__ADS_1
Jangan bosen buat baca cerita ini yaaahh! aku aja gak bosen buat ngingetin yang baca agar ngasih Like, komen, serta dukungan nya🤗