
Jari Zoya terlihat bergerak, ketika Ditya tertidur karena kelelahan menjaganya hingga larut malam.
Gerakannya terasa oleh Ditya yang kemudian bangun, tangannya menggenggam erat Zoya. Berharap itu benar, bukannya mimpi.
"Zoya. ."
Lirih Ditya mendekatkan wajahnya untuk melihat Zoya. Perlahan Zoya meraba kedua matanya, ia sudah membuka mata namun sesuatu menghalanginya.
"mas, kenapa gelap ? Aku takut sekali, kamu dimana . ."
Kedua tangan Zoya meraba raba mencari keberadaan Ditya. Ia menangis ketakutan ketika dunia yang biasanya terang kini berubah menjadi gelap.
"mas disini Zoya, tenanglah. Akan aku panggilkan dokter, tidak akan terjadi apa apa. mas janji sama kamu."
Ditya memeluk Zoya untuk menenangkannya. Wanita itu menggenggam erat lengan suaminya.
Tidak lama, Dokter dan suster datang setelah Ditya menekan bel panggilan darurat.
"bu Zoya, saya akan buka perban dimata ibu. Jangan dulu membuka mata, tunggu instruksi dari saya."
Dokter memberi perintah pada Zoya yang mengangguk, tangannya masih menggenggam Ditya.
"silakan bu, pelan pelan saja. Dibuka matanya !"
Perban kini sudah dibuka, sesuai aba aba dokter Zoya mulai membuka kedua matanya.
Sedikit silau Zoya melirik kearah Ditya, wajahnya buram. Beberapa kali Zoya mengedipkan matanya hati hati, akhirnya bayangan itu menjadi jelas.
"mas, aku bisa melihat kamu dengan jelas . ."
Air mata Zoya menetes dan langsung memeluk Ditya.
Tak kalah bahagianya Ditya, Zoya selamat dari kebutaan. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan Zoya.
"syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar dan berhasil. Kalau begitu kami permisi."
Dokter dan suster yang membawa sisa perban Zoya meninggalkan keduanya.
"apa maksud operasi mas ? Apa yang aku alami sebelumnya ?"
Zoya melepaskan pelukannya, ia berusaha keras untuk mengingat kembali kejadian itu.
"aku akan jelaskan nanti, setelah kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit."
Bukan sekarang Zoya, Ditya masih belum sanggup menceritakan semuanya. Biar saja hari ini berlalu dengan sendirinya. Besok atau lusa Ditya mungkin akan siap menerima semuanya, dan memberitahu Zoya.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, Ditya dan Zoya terlihat tidur satu ranjang dengan posisi berpelukan.
Meski tidak bisa bercumbu, keduanya menghabiskan malam yang penuh romansa.
Ditya menghujani Zoya kecupan bibir berulang kali, melampiaskan rindu dan rasa syukurnya.
__ADS_1
Keluarga yang mendapat kabar dari Ditya, pagi sekali mereka sudah tiba di rumah sakit.
"lihatlah mereka, jam segini masih pada tidur. Ckckck."
Pak Mahesa berdecak menyaksikan Ditya dan Zoya masih menikmati tidurnya.
"jadi, bangunin apa gak usah pi ?"
Bu Aulia melirik ke suaminya ragu, kasihan juga kalau mereka harus dibangunkan. Ditya memang kelelahan beberapa hari ini.
Sayup sayup terdengar suara diruangan itu, Zoya membuka matanya dan menengok ke belakang.
"ya ampun mas, bangun ! Ada mami sama papi disini."
Zoya sudah memposisikan dirinya duduk, mencoba membangunkan Ditya dengan menggoyangkan tubuhnya.
"mmm . . Tidur lagi sayang !"
Ditya yang masih mengantuk malah menarik tubuh Zoya untuk kembali berbaring.
Bu Aulia dan pak Mahesa terkekeh melihat tingkah anaknya.
Zoya menolak untuk dipeluk Ditya, dia meronta. Membuat Ditya bingung dibuatnya.
Akhirnya dia juga ikut bangun, dan duduk dengan mata masih tertutup.
"kenapa ? Mas kangen sekali sama kamu."
Manja sekali Ditya menenggelamkan kepalanya didada Zoya.
Tangan Zoya menarik kepala Ditya dan menengokkannya ke arah pak Mahesa dan bu Aulia berdiri.
"eh mami sama papi. Sudah lama ?"
Ditya nyengir kuda mendapati kedua orang tuanya menatap mereka geli.
"kami tunggu diluar, kalian bersiap saja dulu. Yuk pi !"
"ekhem . ."
Bu Aulia dan pak Mahesa kembali keluar untuk menunggu anak dan menantunya siap.
Rencananya hari ini Zoya sudah bisa pulang. Mereka sengaja menjemput, selain itu Dee juga akan datang bersama bu Atikah.
Tidak ada waktu karena orang tua mereka sudah menunggu, Ditya memaksa Zoya untuk mandi bersama.
Disela memandangi tubuh polos Zoya, pikiran Ditya penuh sekali.
Wanita dihadapannya sudah mengalami banyak hal karenanya. Ditinggal pergi tanpa suatu kepastian, bahkan Zoya bertahan tanpa berpaling sedikitpun. Sementara Ditya malah berpacaran dengan Celine.
Menikahinya secara diam diam dan mendadak, menyebabkan kekacauan terjadi di lingkup kerja mereka. Tapi Zoya tetap tabah dan kuat, menjalani kehamilannya.
Yang paling parah diantara semuanya, Ditya mengkhianatinya. Dengan teganya Ditya menghabiskan waktu sibuknya bersama Conni. Sempat merindukan wanita itu didepan mata Zoya. Sekali lagi, istrinya dengan tabah menerima Ditya kembali dengan lapang dada.
__ADS_1
"kamu menangis mas ?"
Ada kristal bening meluncur yang terlihat Zoya, ia mengusap pipi Ditya dengan lembut.
"aku tidak bisa berbuat apa apa, hanya memberimu rasa sakit."
Serak payau suara Ditya terdengar menahan tangis dirongga tenggorokannya.
Tanpa menghiraukan ucapan Ditya, Zoya mengajaknya untuk segera berpakaian. Jangan ada kesedihan dihari bahagia merayakan kepulangannya.
Setelah itu Ditya merapikan baju bajunya beserta pakaian Zoya saat kecelakaan terjadi.
Sejenak pandangannya mengamati baju itu, andai saja semua tidak terjadi pasti perasaannya tidak akan sehancur ini.
"kamu kenapa mas ? Sejak tadi seperti sedang menahan beban."
Zoya duduk diranjang, memandangi Ditya yanh sudah selesai memasukkan semua pakaian kedalam koper.
"tidak ada sayang . ."
Ditya mengecup ujung kepala Zoya, dan keluar dari kamar itu.
Diluar, sudah menunggu keluarga Zoya. Matanya tertuju pada bayi laki laki yang digendong oleh ibunya.
Zoya tersenyum hingga menitikan air mata, tangannya meraih meminta menggendong Dee.
"sayangnya ibu, ibu kangen sekali sama Dee. ."
Diciuminya Dee beberapa kali dengan gemas oleh Zoya, hingga akhirnya terbangun.
"ayo kita pulang . ."
Pak Mahesa memimpin jalan, mereka akan mengantar Zoya dan Ditya ke Penthouse.
Disana sudah ada Tia, Erwin dan Milka yang menyiapkan kejutan kecil untuk menyambut kepulangan Zoya.
Selama perjalanan pulang, Ditya malah murung tak banyak bicara. Zoya yang melepas rindu, selalu mengajak ngobrol Dee. Ia juga sempat menyusui Dee setelah beberapa hari absen.
"mas, kamu membuatku bingung. ."
Sadar akan sikap Ditya, Zoya kembali mempertanyakan apa masalah yang sedang mengganggu pikiran suaminya.
"tidak sekarang Zoya, aku hanya sedang fokus menyetir."
Ditya menoleh kesamping dan tersenyum pada istrinya yang hanya bisa menghela nafas panjang.
semakin Ditya mengulur waktu, Zoya tambah penasaran dibuatnya. ada hal yang tidak bisa diungkapkan oleh Ditya, bisakah dia tidak memberitahunya saja.
kalau Zoya tahu, apa reaksinya nanti ? bisakah ia menerima keadaan yang bahkan Ditya sendiri tidak harapkan. semuanya terpaksa demi hidup Zoya.
Mobil akhirnya sampai diparkiran MHotel, semua karyawan sudah bersiap diposisi masing masing menyambut kedatangan keluarga Mahesa.
bellboy menurunkan barang barang tuannya, Zoya sumringah bisa pulang dengan keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1
Dee sejak tadi sangat aktif dipangkuan Zoya, batinnya sangat merindukan sang ibu. Ditya bahagia kini anaknya sudah diasuh kembali oleh Zoya.