
Juli bermimpi ia bertemu dengan papinya David.
Pria berwajah pucat itu sempat mengatakan sesuatu padanya.
"Baby girl, papi minta maaf karena membuatmu kecewa.
Tidak lama lagi papi akan tiada seperti apa yang kamu harapkan.
Jadilah anak yang kuat Juls . ."
Juli sempat membuka mata, melihat David menggenggam tangannya disertai tetesan kristal bening membasahi.
Juli pikir itu bunga tidur, faktanya David memang menemui Juli tanpa membuat puterinya kesal.
Damai sekali Juli mendengar ucapan tulus David.
Ia bahkan tersenyum membalas ungkapan maaf dari sang papi.
Juli membuka mata melihat sekeliling.
Yang ia ingat terakhir kali ialah saat dirinya duduk bersama Adam di kantin.
Setelah itu Juli tidak bisa mengingat apapun.
Tidak ada siapa siapa di kamar rawatnya.
Ya, Juli memang hidup sebatang kara. Pantas jika sedang sakitpun dia sendirian tanpa ada yang menemani.
Juli memeriksa ponselnya diatas meja sebelah brankar.
Tidak ada panggilan sama sekali dari Damar.
Terlihat logo MHospital pada selimut yang menutupi tubuhnya.
Selang infus yang menempel pada lengannya Juli coba lepas meski sakit akibatnya.
Ia kemudian mencari pakaian gantinya dilemari.
"Nona mau kemana ?"
Ifan berdiri ketika Juli keluar membuka pintu.
"Bisa minta tolong antarkan aku pulang ?"
Juli memasang wajah memelas agar Ifan tidak menolak permintaannya.
"Baiklah, tapi saya harus menghubungi tuan Damar lebih dulu . ."
"Kalau begitu aku pulang sendiri."
Juli menyela saat Ifan mulai menekan layar ponselnya berniat menelpon Damar.
"Mari saya antar."
Ifan membantu memapah Juli, jelas saja tubuh Juli masih lemah tanpa tenaga.
Di perjalanan pulang Juli duduk disamping Ifan.
Sejak tadi ponsel pria itu berbunyi, namun Ifan terlihat bingung antara menjawab atau tidak.
Dia harus tetap fokus menyetir.
Lalu Juli mengambil ponsel Ifan di sebelahnya.
"Katakan aku baik baik saja !"
Perintah Juli, jarinya bergerak menekan tombol hijau mengangkat panggilan.
Juli juga mendekatkan benda pipih itu ke dekat telinga Ifan.
"Iya tuan Damar, nona Juli baik baik saja.
Keluarga nona Sekar sudah saya antar ke hotel.
Baik."
Singkat saja percakapan mereka di telpon.
Juli bisa menebak kalau sekarang Damar pasti sedang bersama Sekar juga keluarganya.
Ifan mengantar Juli sampai depan pintu rumah.
Dia tidak tega meninggalkan Juli dalam kondisi belum pulih sepenuhnya.
Sementara bosnya masih sibuk menyelesaikan masalah pribadinya.
"Pulanglah !
Aku baik baik saja, dan terima kasih sudah mengantar."
Juli tersenyum kemudian menekan passcode pada pintunya.
Saat dirinya sudah didalam rumah, Juli mengunci pintu menggunakan sistem double lock.
Ia tidak ingin Damar bisa masuk begitu saja.
Sunyi sepi di apartemen mewah milik Damar, Juli merasa sendiri lagi.
Semua kenangan bersama Damar kembali diputar di memorinya.
Juli mengangkat tangan kanannya mendapati sebuah gelang. Lagi lagi Damar berhasil membuatnya melayang dengan segala perlakuan romantisnya pada Juli.
__ADS_1
Damar mengetuk kamar Gilang dan Ayu.
Sekar juga ada didalam menemani keluargany.
Ditengah kebingungan akibat Damar mendadak ingin bertemu mereka.
"Masuk Damar !"
Perintah Sekar membuka pintu.
Damar menerima pesan dari Ifan kalau Juli baru saja memaksa minta pulang.
"Sekar lain kali aku akan membahasnya.
Tolong jangan biarkan mereka pulang dulu.
Aku harus pergi sebentar."
Tanpa sempat masuk Damar malah pergi begitu saja meninggalkan Sekar.
Sekar merasa ada yang aneh dengan sikap bosnya.
Dia mulai sibuk mengabaikan Sekar. Biasanya Damar akan selalu meminta Sekar melakukan apapun.
Hubungan mereka memang hanya pura pura, bukan berarti Damar boleh seenaknya saja pada dirinya.
Jauh di lubuk hati Sekar yang paling dalam, Sekar bahagia saat Ditya meminta mereka bertunangan.
Egois memang, tapi Sekar juga ingin Damar bisa menjalani hubungan itu secara tulus.
Meski ia sangat tahu betul kalau Damar tidak pernah menyimpan perasaan apapun terhadapnya.
Kenapa saat Sekar sakit Damar perhatian sekali ?
Itu bisa membuat Sekar salah mengartikan kalau Damar juga menganggapnya sebagai perempuan. Bukan sekedar sekretaris atau pasangan pura puranya.
"Sekar mana Damar ?
Kenapa mendadak minta bertemu, dia malah pergi."
Gilang menyusul Sekar agar masuk kembali.
"Ada hal yang harus kalian tahu, ,"
Sekar tidak bisa membohongi kakaknya lagi.
Sebelum semuanya terlambat ia harus menyudahi sandiwara mereka.
"Kak Gilang, kak Ayu Sekar mau minta maaf sedalam dalamnya.
Atas apa yang akan Sekar katakan."
Sekar memandang Gilang dan Ayu bergiliran, sementara Senja masih nyaman tidur di kasur.
Ayu mulai bisa menebak ada masalah terjadi diantara mereka.
"Sebenarnya Sekar dan Damar hanya bersandiwara,
hubungan kami palsu."
Gilang menyandarkan tubuhnya disofa tunggal.
Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Sekar minta maaf, harusnya tidak terlibat dalam masalah pribadi bos sekar.
Ini juga bagian dari tugas yang Damar berikan pada Sekar."
Terpaksa sekali Sekar harus mengatakan kebenarannya pada Gilang juga Ayu kakak iparnya.
"Kakak kecewa sama kamu Sekar. Kenapa kalian melangkah sejauh itu, bagaimana jika komisaris tahu kebohongan kalian ?"
"Sekar gak peduli biar Damar yang menanggungnya.
Tidak masalah kalau pak Aditya memecat Sekar."
Ya benar, Sekar tidak ingin mengambil pusing konsekuensi yang harus dihadapinya.
"Kamu menyukai Damar kan Sekar ?"
Ayu bisa melihat perasaan itu dari sorot mata Sekar saat menatap Damar.
Sekar hanya diam tak menjawab. Ia sendiri masih gamang, antara suka atau obsesi.
Rasa ingin memiliki Damar seutuhnya memang ada.
"Intinya kak Gilang dan kak Ayu harus tahu tentang hal ini.
Sekar hanya bersiap jika nanti terjadi masalah."
Gilang dibuat heran oleh tindakan adiknya.
Ingin rasanya dia memukul wajah tampan Damar, melampiaskan kekecewaannya terhadap kebohongan mereka.
Bruk bruk bruk . .
Suara pintu diketuk keras oleh Damar. Sejak tadi Juli tidak mau membuka pintu meski bel terus saja berbunyi. Damar tahu Juli ada didalam, dia kesal Juli mengabaikannya lagi.
"Juli buka !"
Damar terus mencoba meminta Juli supaya mau membuka pintu.
__ADS_1
"Juli aku mohon, aku perlu menjelaskan semuanya sama kamu."
Juli hanya bisa berdiri menatap pintu yang menghalangi mereka.
Biarkan begini saja, Juli harus tega menjauh dari Damar demi kebaikan bersama.
Air mata Juli sudah tidak bisa ia tahan untuk tidak jatuh, sangat berat rasanya.
"Maafkan aku pak Damar . ."
Lirih Juli mengacuhkan gedoran pintu, ia kembali ke kamar merebahkan tubuhnya.
Damar menyerah,
lain waktu dia akan membujuk Juli kembali.
Lebih baik Damar pulang ke hotel untuk menyelesaikan masalahnya.
Ifan diminta menjaga Juli oleh Damar. Dia berjaga didalam mobil mengintai pergerakan Juli dari arah luar.
"Beritahu saya siapapun yang datang. Ikuti Juli kemanapun dia pergi !"
Ifan mengangguk menerima perintah Damar.
Mobil porsch hitam milik Damar melaju kencang meninggalkan basemen apartemen.
Setibanya Damar dilobi hotel, seorang petugas receptionist memberinya sebuah amplop.
"Yang antar kurir online pak."
Damar melihat nama Juli sebagai pengirim paket.
Dia bingung apa isi amplop tersebut, tak tunggu lama Damar langsung membukanya ditempat.
terlihat beberapa lembar uang pecahan seratus ribu didalamnya.
Damar juga menemukan kertas berisi pesan tulisan tangan Juli.
-Aku tidak tahu berapa harga sewanya. Tolong konfirmasi kekuarangannya lewat email, terima kasih pak Dosen.-
"Argh . ."
Damar meremas amplop tersebut dengan kesal. Juli berbuat sejauh itu padanya yang jelas jelas tidak pernah mengharapkan apapun dari Kekasihnya.
"Suruh bagian accounting mengirim uang 2 juta ke nomer rekening Juliana !"
Perintah Damar pada karyawannya.
Sekar sudah memperhatikan Damar sejak tadi.
Bahkan Damar semarah itu mendapat pengembalian dari Juli.
Sementara dirinya malah merasa senang diberi kenyamanan oleh Damar.
Sekar merasa sangat jauh dibandingkan dengan Juli.
Juli sudah mendapatkan hati Damar, sebuah kenyataan tak terelakkan.
"Sekar . ."
Damar menyadari keberadaan sekretarisnya yang berdiri di sudut ruangan.
"Kakakku perlu bicara sama bapak."
Sekar menuntun jalan agar Damar tidak kabur lagi.
Ayu membuka pintu kamarnya, wajahnya tidak sehangat pertama kali mereka bertemu.
Damar menduga kalau Sekar sudah mengatakan kebenarannya.
Plak . .
Tiba tiba saja Ayu menampar keras pipi Damar.
"Hanya karena bapak seorang direktur perusahaan tempat Sekar bekerja, bukan berarti anda boleh seenaknya saja.
Pengecut kamu Damar !"
Sekar tidak bisa menahan amarahnya, mengetahui sang adik ipar disakiti secara halus olehnya.
"Aku minta maaf, ini mutlak kesalahanku."
Damar menunduk pasrah jika mereka membenci dirinya.
Sekar terdiam, melihat kakak ipar begitu membela posisinya.
"Sekar akan memberimu surat pengunduran diri."
Gilang akhirnya bersuara.
"Kak !"
Bantah Sekar merasa tidak pernah memutuskan hal itu.
"Saya mohon jangan campur adukan masalah pribadi dan pekerjaan.
Sekar tidak bisa keluar begitu saja dari kantor."
Damar berharap agar Gilang tidak memaksa Sekar keluar dari perusahaan.
"Ayo kita pulang, bukankah sudah tidak ada urusan lagi ?"
__ADS_1
Gilang mengajak Ayu dan Sekar pergi dari MHotel.