
Kondisi Kevin berangsur pulih.
Juli senantiasa menemaninya, menyuapinya, membantu mengikuti beberapa terapi saraf.
Ditya dan Zara selaku orang tua hanya bisa pasrah juga lega.
Meski kadang Zara selalu mengeluh, anak laki lakinya tidak mau dirawat olehnya.
Seperti sekarang, Kevin menolak diantar pulang oleh Ditya.
Dia lebih memilih pulang bersama Juli.
Juli yang tidak bisa menyetir memaksa Kevin memakai jasa supir.
Padahal dia ingin berduaan saja dengan Juli.
"Lain kali aku akan mengajari kamu nyetir mobil."
Kata Kevin melirik Juli duduk disebelahnya.
"Oke, aku terima tantangan kamu."
Juli mengulas senyum diwajahnya.
Entah sudah berapa lama ia menghabiskan waktunya bersama
Kevin.
Juli sampai lupa wajah Damar akibat tidak pernah bertemu muka dengannya lagi.
Dimana dia, sudahkah Damar melupakan Juli dihidupnya.
Ah Juli rindu bercengkrama dengannya.
"Kamu mampir dulu ya Juls, nenek ajak kita makan malam."
Mobil sudah tiba di depan rumah Atikah, Kevin meminta Juli masuk bersamanya.
"Kevin mungkin lain kali, aku ada pekerjaan lain."
"Kalau begitu biar mang Agus antar kamu sampai tempat tujuan."
"Gak usah Kevin, biar aku naik taxi online."
Juli menolak tawaran Kevin.
"please, ,"
Kevin memohon agar Juli mau.
Dirinya akan tenang jika Juli diantar oleh supir neneknya.
"Baiklah,
laters Kevin."
"Laters baby . ."
Kevin tanpa aba aba mengecup ujung kepala Juli.
Juli terkejut tak menanggapi, ia memilih cepat masuk kemnali kedalam mobil.
"Kita kemana non ?"
Tanya mang Agung setelah menancap gas keluar rumah Atikah.
"MHotel pak."
Juli berniat menemui Damar untuk membahas satu hal penting.
Juli menginjakkan kakinya dilobi MHotel.
Pandangannya mengamati sekeliling berharap bertemu Damar tanpa sengaja.
Tak kunjung muncul, Juli terpaksa mendatangi front office.
"Selamat malam bu, ada yang bisa kami bantu ?"
Petugas cantik bertubuh jenjang menyapa Juli.
"Saya Juliana, bisa bertemu pak Damar Aditya ?
Ada file harus saya sampaikan langsung."
Juli tahu akan sulit bertemu Damar tanpa membuat janji.
"Silakan tunggu disofa bu, akan saya infokan pada Mr. Dee."
Juli berjalan menuju sofa sementara
petugas tadi menelpon Damar.
"Baik pak."
Tidak lama setelah telpon ditutup Damar keluar dari lift.
Dia menggandeng mesra tangan seseorang.
Bukan Sekar, melainkan sosok yang amat Juli kenal.
Juli melihat adegan penuh romansa, dia berdecak kesal dalam hati memaki Damar.
Bisa bisanya dia berpaling secepat itu darinya.
"Selamat malam miss Juliana."
Damar menyapa Juli dingin dan formal.
Juli bangkit dari duduknya menyambut tuan rumah.
"Ada hal penting apa hingga anda datang malam begini ?"
__ADS_1
Damar duduk dengan angkuhnya tanpa memandang Juli.
"Hi Juls . . ."
Sapa perempuan tinggi berwajah arab.
"Ji, bisa minta tolong tinggalkan kami berdu ?"
Pinta Juli pada perempuan yang ternyata Jihane, sahabatnya.
Jihane melirik Damar meminta jawaban.
Damar mengangguk menyetujui permintaan Juli. Jihanepun meninggalkan mereka, mencari udara sebelum diantar pulang oleh gebetannya.
"Ini . ."
Juli menyodorkan map ke hadapan Damar.
Damar mengerutkan dahinya bingung.
"Sertifikat tanah beserta rumah, saya tidak ingin berhutang lagi pada seseorang.
Meski nilainya tidak sebanding dengan jumlah yang bapak keluarkan, tolong terima."
Damar malah tertawa sinis menatap nanar Juli.
Sakit Juli melihatnya seperti itu.
"Bawa pulang kembali, saya tidak butuh."
Damar berdiri hendak meninggalkan Juli.
"Saya akan simpan di bagian front desk."
Juli berjalan kearah berlawanan dengan Damar.
Damar menghela nafas frustasi menghadapi sikap keras kepala Juli.
"Tidak perlu !
Kapan kamu mau mendengarkan ucapan saya Juls ?"
Damar menahan tangan Juli membentaknya.
Semua karyawan yang kebetulan disana menyaksikan meluapnya amarah si bos.
Memarahi seorang gadis tanpa memikirkan harga dirinya.
Juli menepis tangan Damar sekencang ia mampu.
"Mba, ini tolong urus ke notaris ! Pindah atas nama Damar Aditya, nanti biayanya ditanggung bos kalian."
Juli menyerahkan map berisi sertifikat ke meja front desk.
Mereka menatap Damar bingung. Menerimanya atau jangan ?
"Dasar dosen killer !"
"Jadi dia sekarang sama Jihane ?
Mudah sekali baginya menggaet cewek.
Kemarin Sekar, aku terus Jihane. Nanti siapa lagi ?"
Juli terus menggerutu memaki Damar sepanjang langkahnya keluar hotel.
Sebuah mobil berhenti didekatnya.
Seseorang keluar berjalan menghampiri Juli.
"Bisa kita bicara sebentar Juls ?"
"Kamu sama pak Damar Ji ?"
Juli menyerang Jihane dengan kecemburuan tersirat dinada bicaranya.
"Kita bicara di mobil Juls, please."
Jihane berharap Juli mau mendengarnya.
"Dia itu sama saja Ji, aku peduli sama kamu karena kamu sahabatku.
Jangan terjebak oleh Damar."
"Juls, aku bisa jelasin semuanya. So please naik ke mobil !"
Juli melirik melihat sebuah taxi kosong.
Tanganyya melambai menyetop mobil bercat biru itu.
"It's too late Ji, jika kalian sudah memutuskan akupun sama."
Juli segera masuk kedalam taxi yang sudah berhenti dibelakang mobil Jihane.
"Keras kepala."
Umpat Jihane menatap kepergian Juli.
☀️☀️☀️
Pagi menjelang siang Kevin menjemput Juli di apartemennya.
Mereka berencana menyiapkan kebutuhan pameran di salah satu ballroom MHotel.
"Kamu yakin tidak apa apa ?
Aku bisa melakukannya Kevin, kamu kan sudah membuat daftar tugasnya."
Juli masih khawatir kondisi Kevin, kini dia sudah menyetir sendiri.
"Ini pameran pertamaku Juls, sangat berarti.
__ADS_1
Kamu cukup memberiku semangat maka aku akan sangat kuat."
Kevin tersenyum lebar pada Juli. Senyum hangat itu sudah kembali.
"Oke, as you wish."
Juli lega Kevin menjadi lebih ceria lagi dibanding sebelum kecelakaan.
Kedatangan mereka sudah disambut Damar dan Sekar.
Secara pribadi Damar terjun langsung menangani event besar itu.
"Selamat datang untuk author manga kebanggan MHGroup. ."
Damar menjabat tangan Kevin.
Juli terperanga mendengar fakta baru dari seorang Kevin Aditya.
Author, manga ?
Jadi selain melukis dan sekolah dokter Kevin juga menulis manga.
Juli bertepuk tangan bangga dalam hatinya.
"Jangan terlalu memuji, bisa kami mulai ?"
Tanya Kevin menggunakan bahasa formal pada kakaknya sendiri.
"Mari saya antar."
Sekar memimpin jalan menuju ruangan dilantai 7.
Di dalam lift Juli berdiri di pojok sebelah Kevin dan Damar diujungnya.
Suasana mendadak tegang.
Kevin sibuk memainkan ponselnya mengecek informasi mengenai tamu undangan.
Diam diam Damar mengulurkan tangannya hingga sampai menyentuh lengan Juli.
Juli terperanjat kaget namun berusaha tenang.
-Dia itu kenapa sih ?
Sempat sempatnya main belakang.-
Batin Juli kesal segera menepis tangan Damar.
Sekar tersenyum menahan tawa, pasalnya dia bisa melihatnya dipantulan pintu lift super kinclong.
"Juls, aku sudah email daftar lukisan dan harganya.
Kamu bisa pelajari dikamar hotel malam ini."
"Kenapa disini ?
Aku bisa pulang sendiri kalau kamu sibuk."
"Biar gampang tidak menyita waktu Juls.
Aku sudah pesan kamar, nanti kita sebelahan."
Kalimat terakhirnya dipenuhi penekanan oleh Kevin, jelas dia sengaja memancing singa yang sedang tertidur.
Selalu ada perbandingan Juli menghadapi Kevin dan Damar.
Damar tidak pernah memaksakan kehendaknya. Kecuali menahan Juli agar tetap bersamanya.
Kevin terlalu over protective pada Juli.
Juli merasa bebas melakukan apapun saat bersama Damar.
Juli terkesima memasuki ruangan megah beralasan karpet mewah.
Dekorasi temporer memanjakan matanya.
Besok hari pertama pameran yang akan diselenggarakan selama 3 hari berturut turut.
selain Juli, Kevin juga menyewa jasa Adam sahabatnya.
"Tidak ada lukisan menempel di dinding, itu akan membosankan.
aku hanya akan menggunakan easel.
Oh ya Sekar, tidak ada makan siang hanya coffee break standing party."
Kevin menjelaskan detail sederhana untuk acaranya.
"Kita butuh musik instrumen Kevin, agar suasana tidak monoton.
kalau bisa ada penampilan ekslusif dari penghibur."
Tanpa sengaja Juli menambahkan poin menyegarkan.
"Good idea.
aku tahu siapa yang bisa melakukannya."
Kevin tersenyum puas.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama ?"
Damar menawarkan jamuan pada Kevin dan Juli.
"Saya akan siapkan pak.
Nona Jihane juga sebentar lagi bergabung."
Sekar pamit lebih dulu menuju coffeeshop.
Juli memutat bola matanya jengah mengetahui Damar akan bersandiwara lagi didepannya.
__ADS_1
Damar menyadari itu namun mencoba biasa saja.