Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#142


__ADS_3

"Ada masalah apa kalian ?"


Adam menginterogasi Juli secara paksa. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman.


"Aku , , ,"


Juli terdengar ragu menceritakan yang sebenarnya pada Adam.


"Juls, kamu harus terbuka.


Kamu tahu kan kita kenal cukup lama.


Dengar, aku tahu hubungan kalian cukup rumit sebelumnya.


Aku disini tulus sama kamu Juls . ."


Adam menopang tubuhnya menggunakan kedua tangannya diatas meja kerja Juli.


"Kak Adam gak boleh melakukan hal itu !"


Juli mengerti kemana arah pembicaraan mereka.


"Kenapa ? Apa karena Kevin aku tidak berhak mendapatkan kamu ?


Dia yang meninggalkanmu Juls."


Adam berpikir Juli melarangnya karena dia adalah sahabat Kevin.


"Aku dan pak Damar sudah menikah kak. ."


Terungkap sudah misteri hubungan antara Juli dengan Damar.


Adam melangkah mundur dari posisinya semula.


Adam tidak salah dengar, jelas sekali kata kata Juli ditelinganya.


Yang Adam rasakan hanyalah ketidak percayaan akan fakta itu.


"Pantas dia sangat marah melihat kita berduaan."


Terukir senyum sinis dibibir Adam.


"Aku minta maaf atas sikap pak Damar ke kakak.


Jangan benci dia, pak Damar orang yang baik."


Juli meminta Adam agar tidak salah paham mengenai Damar.


"Jadi aku gak punya kesempatan lagi meski belum mencobanya ?"


"Aku minta maaf kak . ."


Perasaan bersalah mulai hadir dibenak Juli.


Adam sudah sangat baik padanya, Juli tidak ingin keadaan menjadi lebih rumit jika ia tidak berkata jujur.


"Kamu gak perlu minta maaf Juls.


Ini hukumanku karena terlalu lama menunda perasaan ini."


Sejujurnya jauh sebelum Kevin mengenal Juli Adam lebih dulu menyukainya secara diam diam.


Adamlah laki laki pertama yang menaruh perhatian pada Juli saat masa ospek.


Dia terlalu rendah diri untuk mendekatinya.


Setelah tahu sahabatnya juga menyukai Juli, Adam mundur pelan pelan.


Mana mungkin dia menang bersaing dengan seorang Kevin.


Dirinya terlalu kalah jauh jika harus mengalahkan sahabat baiknya.


Dan karena hal itulah Adam menyesal hari ini.


Bukan oleh Kevin, melainkan kakaknya yang dikenal sangat tampan kaya dan dermawan.


Ah Adam merasa tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Damar.


"Gak usah dibikin pusing sama kamu Juls.


Aku gak mau hubungan kita malah jadi renggang karena ini."


Adam mencoba berpikir dewasa menyikapi penolakan mutlak dari perempuan idamannya.


"Dan selamat ya atas pernikahan kalian. ."


Adam memaksakan senyumnya.


"Iya kak, terima kasih dan sekali lagi maaf."


Juli kembali melanjutkan pekerjaannya.


Selain memasarkan hunian Juli juga bertugas membuat neraca keuangan.


Untungnya sesuai dengan salah satu mata kuliah yang dia ambil.


"Apa ? Juli pulang sendiri lagi , , kenapa gak dicegah sih ?"


Damar mendapat panggilan telpon dari Ifan.


-Maaf tuan tapi nona memaksa sekali tadi.-


Suara Ifan percaya diri tidak mau disalahkan oleh si bos.


Damar memijat keningnya frustasi.


"Oke, siapkan mobil. Saya pulang sendiri."


Damar langsung mematikan sambungan telponnya.


Perang lagi, Juli pasti sedang marah besar padanya.


Tapi wajar bukan kalau Damar melakukan hal seperti tadi ?


Damar kan suaminya Juli.


Dia tahu kalau posisi Adam memang membantu Juli saat tersedak tadi.


Damar harus segera pulang dan membujuk istri kesayangannya.


"Pak ada paket dari KUA."


Sekar menghentikan langkah Damar yang terburu buru meninggalkan kantor.

__ADS_1


"Thanks."


Damar mengambil alih amplop cokelat cukup tebal dari tangan Sekar.


Juli berjalan menuju pintu rumah Kevin. Ia baru saja turun dari Taxi.


Grand Ma sedang bersih bersih teras menyambut kepulangan Juli.


Namun beliau menangkap hal aneh, Juli tidak pulang bersama Damar suaminya.


"Assalamualaikum Grand Ma."


Juli mencium punggung tangan Aulia.


"Waalaikumsalam, loh gak pulang bareng sama Dee ?"


Grand Ma celingukan mencari sosok sang cucu.


"Tadi mas Damar masih sibuk kerja Grand Ma.


Juli gak mau ganggu."


"Gak mau ganggu apa gak mau nunggu ?


Kamu itukan istri dia sekarang, harus mengerti kesibukan suami.


Damar cari uang buat siapa kalau bukan buat kamu dan calon anak kalian nanti."


Oma mengomeli Juli. Mungkin nasehat lebih tepatnya, hanya bagi telinga dan hati Juli itu lebih kearah menegur.


"Iya Grand Ma, Juli salah. Lain kali Juli tungguin mas Damar sampai selesai.


Juli mandi dulu ya Grand Ma, lengket banget."


Juli segera pamit kedalam meninggalkan Aulia.


"pasangan jaman sekarang pada gak peka.


Terlalu modern gaya hidupnya."


Aulia menggelengkan kepalanya heran melihat rumah tangga Damar.


Tak lama setelah Juli masuk, Damar memarkirkan mobilnya di teras.


Buru buru sekali dia berjalan menghampiri grand Ma.


"Dee pulang Grand Ma."


Cup . .


Sebuah kecupan singkat mendarat dipipi Aulia.


Sementara yang mencium main masuk begitu saja.


"Ini pasti lagi ada masalah."


Aulia menyimpan sapu ketempatnya lalu mencari keberadaan Zara.


"Ada apa sih mih ?"


Zara bingung tangannya ditarik Aulia mendekati pintu kamar Damar.


Naasnya kamar mereka persis disebelah ruang tamu, terlalu mudah untuk Aulia dan Zara menguping.


Aulia meminta Zara tenang mengecilkan suaranya.


Damar masuk melihat Juli tengah membuka pakaian kerjanya.


"Kenapa pulang sendiri ?"


Tanya Damar dingin.


"Mas Damar gak minta pulang bareng."


Asal saja Juli menjawab.


"Juls, ingat kita sudah menikah. Jangan seperti anak kecil dong !"


"Mas Damar yang kayak anak kecil. Jangan main pindahin kerjaan aku seenaknya saja.


Mas ini menyangkut kuliahku, bisakah kamu berpikir dulu sebelum memutuskan ?"


Jatuh sudah air mata Juli tak mampu ia tahan lagi.


"Kamu sama Adam . ."


Belum selesai Damar bicara, Juli memotongnya.


"kak Adam lagi, aku sudah bilang tentang kita sama dia.


Kamu sendiri bagaimana, siapa Hana ?


Harusnya kamu nyusul aku mas, tapi kamu memilih menemani dia."


Ini waktu yang tepat untuk Juli menyerang balik.


"Hana itu teman kampusku dulu Juls. Aku memang menyusul tapi kamu malah naik taxi."


Damar jadi merasa bersalah pada Juli. Diapun menyusul karena Hana yang menyuruhnya.


"Terserah mas, aku capek."


Juli kehabisan kata kata, ia tidak tahu harus meyakinkan apalagi pada Damar.


"Maksud kamu, kamu menyesal nikah sama aku ?


Juls lihat !"


Damar mengacungkan amplop pemberian Sekar tadi.


"Buku nikah kita sudah jadi. Tidak ada kata mundur apalagi menyerah dalam satu ikatan pernikahan."


Ya ampun pertengkaran mereka semakin jauh melenceng dari masalah.


"Mas Damar pikir seperti itu tentang aku ?


Mas tolong percaya sama aku sekali saja, aku mohon."


Juli sedikit menurunkan egonya demi memperbaiki keadaan.


Rasanya kepala Damar mau pecah menyesali pertengkaran yang sudah terjadi.


Dirinya terlalu takut Juli disentuh oleh laki laki lain.

__ADS_1


Juli hanya milik Damar seorang.


"Oke, aku minta maaf sama kamu.


Aku salah sudah curiga sama kamu dan Adam.


Dan maaf soal Hana, sudah ya jangan bertengkar lagi ?"


Damar mendekati Juli lalu memeluk tubuhnya.


Tubuh Juli bergetar hebat mengeluarkan isak tangisnya yang sejak tadi tertahan.


Juli melingkarkan tangannya dipinggang Damar.


"Aku sayang sama kamu Juls."


Juli merasakan kehangatan mendengar ucapan Damar.


Seperti sudah sekian lama Damar tidak membuatnya bahagia.


Yang ada malah percekcokan bumbu asam rumah tangga selalu hadir di beberapa hari ini.


"Ya ampun mih, separah itu masalah mereka ?


Kita harus apa sekarang agar mereka baikan ?"


Zara mengajak Aulia menjauh dari kamar Damar.


"Hmm , ,


Kasih libur Damar sama Juli. Biarkan mereka honeymoon sekalian menenangkan pikiran."


Aulia menyarankan ide cukup brilian. Dimana ada pengantin baru, disana pasti ada ritual acara honeymoon.


"Nanti Zara bilang sama ayahnya anak anak."


Zara setuju dengan rencana Aulia.


Di hari ketiga kepergian Atikah, mereka mengadakan jamuan tahlilan lebih dari biasanya.


Selain tetangga para sahabat dan keluarga dekatpun ikut hadir.


Kevin mengajak Sekar juga sahabatnya datang ke rumah.


Tiara yang super sibukpun menyempatkan mampir.


Rumah berlantai 2 itu menjadi ramai penuh kehangatan.


Zara tidak ingin semuanya repot karena acara tersebut. Maka dari itu ia memperkerjakan beberapa ART tetangga.


Damar baru saja keluar dari ruang kerja Kevin, dia membahas soal izin menggelar acara resepsi pernikahannya.


Ditya tentu menyetujui keputusan Damar si sulung.


Selain itu ayahnya menyarankan mereka liburan sesuai permintaan Zara.


Tadinya Damar ingin melihat keadaan Juli. Sejak mereka bertengkar hebat istrinya enggan keluar kamar.


Katanya malu dengan mata sembab akibat menangis lama.


"Eh mas, ada Adam di teras belakang tuh.


Mau bicara pribadi sama mas Damar."


Kevin menyampaikan pesan Adam pada kakak.


"ok."


Damar langsung berjalan menuju pintu belakang di sebelah dapur.


"Ada apa ?"


Setibanya di taman belakang Damar tidak ingin basa basi.


"Saya minta maaf jika saya sudah lancang mendekati Juli.


Saya tidak tahu kalau bapak sudah menikahinya."


Tidak ingin ada masalah atau salah paham Adam segera menyelesaikan masalahnya dengan Damar.


Saat Kevin mengajaknya tahlilan Adam berpikir itu kesempatan baik baginya berbicara pada Damar.


Meski nantinya dia akan terluka melihat kemesraan Juli dan Damar.


"Bukan salah kamu juga Dam.


Saya minta tolong kerjasamanya, kalian bisa berteman baik asal sama sama tahu batasan."


Damar tampak gagah mengenakan kokok hitam, tangannya dimasukkan kedalam saku celana.


"Akan saya ingat itu pak."


Adam mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.


Damarpun menerimanya seraya tersenyum.


Bukankah masalah seperti ini masih bisa diselesaikan jika kita berpikir jernih.


Sekarang Damar hanya perlu lebih bersabar membimbing Juli.


Sudah berulang kali Juli cuci muka menghilangkan sembab dimatanya. Sedikit demi sedikit mulai normal dilihat di cermin.


Sekalian Juli juga mengambil pak pil KBnya.


"Juls . ."


Mama Zara mengetuk pintu kamar mandi memanggil menantunya.


"Iya mah, ,"


Juli segera menyimpan kembali paxnya ke lemari kemudian keluar.


"Kamu sakit sayang ? Kok pucat sekali."


Zara terlihat khawatir.


"Enggak mah, Juli baik baik aja.


Juli sedikit pusing, maaf mah Juli gak bisa bantu bantu tadi."


Bagaimana keluarganya tidak khawatir, Juli sejak pulang kerja mengurung diri dikamar.


"Ikut mama yuk ke kamar, ada sesuatu buat kamu."

__ADS_1


Juli mengikuti langkah Zara yang membawanya ke kamar peninggalan nenek Atikah.


__ADS_2