Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#94


__ADS_3

Jalanan ibukota masih ramai meski tak sepadat di siang hari.


Hanya beberapa mobil pribadi dan taxi yang masih beroperasi.


Sepulangnya Damar dan Kevin dari kafe, mereka kini tengah beradu kecepatan di jalan raya.


Kevin terus saja memepet Porsch milik Damar.


Dia marah juga kecewa, urusan cinta Damar kaitkan dengan masa lalu orang tua mereka.


"Kevin hentikan !"


Teriak Damar kearah kanannya, jendela mobil sengaja mereka buka untuk melihat diri masing masing.


Kevin malah mempercepat laju mobilnya, ia rem mendadak setelah berada didepan Damar.


Memaksa Damar mengerem sekuat mungkin agar tidak menabrak adiknya.


Keduanyapun turun.


"Gue kecewa sama loe mas !Gue tahu loe gak suka atas kehadiran gue dihidup loe.


Tapi gue lebih benci loe saat menyakiti seseorang."


Kevin meluapkan kekesalannya pada Damar kakaknya.


"Lalu kamu sendiri bagaimana ?


Bukankah kamu juga menyukai Juli. Aku tidak ingin berbagi Kevin, cukup ayah saja."


Brug . .


Kevin meninju wajah Damar.


Baginya Damar sudah keterlaluan, dia juga sudah melukai perasaan Kevin.


"Gue gak nyangka ternyata pikiran loe sepicik itu."


Tidak ingin bertindak lebih jauh, Kevin memilih pergi meninggalkan Damar.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


☀️☀️☀️


Kampus sedang mempersiapkan Event besar untuk beberapa hari ke depan.


Kevin sebagai ketua BEM sibuk mondar mandir mengatur timnya.


Mulai dari mengecek kondisi kampus, menemui beberapa sponsor hingga merekrut talent kampus yang akan tampil.


Kevin menyandarkan tubuhnya di bangku, mereka berkumpul untuk istirahat di tenda sekretariat.


Sejak pagi sekali mereka sudah mengerjakan tugas.


Tatapannya menangkap pemandangan tak biasa.


Jihane dan Juli berjalan beriringan sambil sesekali tertawa.


"Kevin, pacar sama mantan pacar loe akur tuh iri gue lihatnya haha."


Anggota timnya yang juga melihat itu menggoda Kevin.


"Bisa aja loe.


Gue dan Jihane gak pernah pacaran kali."


Kevin menolak jika ada yang bilang atau menganggap Jihane pacar atau mantannya.


"Eh gue buka stan ya buat lukisan gue."


Kevin mendaftar sebagai peserta pentas seni tahunan.


"Juls, Jihane."


Kevin berlari kearah mereka dengan tujuan ngobrol sama Juli.


"Ada apa Kevin ?"


Tanya Jihane karene melihat Juli diam saja.


"Juls, galeri akan buka stan di pensi mulai besok.


Kamu bisa nyetir mobil ?"


"Aku tidak bisa,


lagipula darimana bisa belajar jika mobil saja tidak punya."

__ADS_1


Juli terkekeh menjawab pertanyaan


Kevin yang menurutnya konyol.


"Aku bisa bantu, memang kenapa Kevin ?"


Jihane menawarkan diri.


Atas nasehat Juli Jihane harus lebih berani dan aktif mendekati Kevin.


"Tolong temani Juli mengambil beberapa lukisan di rumah nenek. Sudah aku siapkan di ruang tamu, nanti simpan saja di galeri."


"Baiklah.


Jihane akan membantu kita untuk stan besok. Iya kan Jihane ?"


Juli mengirim signal agar Jihane menyetujui rencananya.


"Iya Kevin."


Gadis berwajah keturunan arab itu tersenyum lebar.


"Bagus, terima kasih Ji.


Aku tinggal ya."


Kevin kembali ke tenda sekretariat.


Jihane memang terlalu pasif selama ini, makanya ia selalu menahan untuk tidak agresif.


Semenjak kenal Juli kini ia akan lebih berani lagi mengekspresikan perasaannya pada Kevin.


Setelah mata kuliah mereka selesai Juli bersama Jihane pergi ke rumah nenek Kevin.


Jihane terpaksa memarkir mobil milik Kevin diluar gerbang.


Karena sudah ada mobil mewah berwarna hitam dihalaman rumah.


"Permisi . ."


Jihan mengetuk pintu rumah yang sudah terbuka.


Seorang nenek keluar menyambut mereka.


"Nak Jihane, ,


Atikah memang sudah mengenal Jihane karena mereka bertetangga.


Sejak ditinggal Kusuma, Atikah pindah kerumah milik Ditya untyk membantu Zara mengurus anak anaknya.


Setelah kelulusan SMP, Kevin ditinggal orang tuanya pindah ke Yogyakarta.


Sementara Damar memilih tinggal di Penthouse saat dirinya mulai memimpin perusahaan.


"Kenalkan nak Jihane, ini kakaknya Kevin Damar Aditya."


Ternyata mobil didepan milik Damar yang sedang berkunjung.


"Halo mas Damar.


Oh iya nek, ini Juliana teman Kevin sama Jihane."


Mendengar nama Juliana Atikah langsung terkejut.


Baru saja Damar menceritakan tentang gadis dengan senyum menyejukan itu.


Bahkan Kevin juga sempat cerita, kalau temannya yang bernama Juli sudah bertemu mamanya.


Dan ia gadis pertama yang Kevin kenalkan pada Zara.


"Juli nek . ."


Juliana mencium tangan Atikah.


Damar tidak bisa menahan untuk menghindari Juli.


Dia memandang intens wajah Juli yang mengabaikan keberadaannya.


Itu tertangkap oleh Atikah sang nenek.


"Nek kita mau ambil lukisan yang sudah disiapkan Kevin. Buat besok acara bazar."


Jihane menjelaskan maksud kedatangan mereka.


"Oh iya itu ada di pojok sana.


Nanti biar Damar yang bantu masukkan ke mobil ya.

__ADS_1


Mending kita makan siang dulu sebelum kalian pergi."


Atikah menuntun mereka ke meja makan agar tidak menolak.


Atikah dan Jihane lebih dulu menuju ruang makan.


Damar menahan tangan Juli.


"Juli aku minta maaf kalau aku menyakiti perasaanmu.


Aku mohon kembalilah bekerja dihotel."


Juli tidak menyangka kalau Damar akan mengatakan hal itu.


"Untuk apa ?


Melihat bapak bermesraan sama pacar bapak yang cantik dan seksi itu ?"


"Juls ayolah,


kita lupakan masalah diantara kita.


Kamu yang terbaik dalam hal memasak.


Hotel butuh kamu."


Damar secara pribadi merekrut Juli untuk agar menjadi bagian dari timnya.


"Damar, Juli, ayo kemari !"


Atikah memanggil keduanya, Juli langsung berjalan ke arah suara.


Damar membantu memasukkan beberapa lukisan kedalam bagasi CRV Gold itu.


Mobil yang Damar belikan sebagai hadiah kelulusan SMA Kevin.


Secara tak sengaja tangan Damar dan Juli bersentuhan saat ingin menutup bagasi.


"Selamat pak Damar atas pacar barunya."


Sinis sekali Juli mengucapkan hal itu, ia langsung masuk kedalam mobil menyusul Jihane.


"Thank mas Damar, lain kali kita ber empat hang out bareng ya."


Jihane tersenyum ramah pada Damar.


"Dia sibuk Ji, apalagi sudah punya pacar.


Ayo Jihane kita pergi sekarang !"


Jihane berdecak heran dengan sikap Juli yang ketus pada Damar.


-Aku minta maaf Juls,


aku tidak ingin menyakiti perasaan Kevin.-


Gumam Damar dalam hati.


"Aku tuh heran loh sama sikap kamu, kamu kayak gak suka gitu sama mas Damar. Dia tuh baik tahu Juls."


Dalam perjalanan menuju galeri Jihane akhirnya angkat bicara soal tadi.


"Perasaan kamu saja itu Ji, aku biasa aja kok."


Juli menyangkalnya.


"Apa kalian sudah saling kenal ?"


Tanya Jihane penasaran.


"kami pernah bertemu beberapa kali.


Sudahlah Jihane jangan bahas dia.


Bagaimana kalau nanti malam kita nonnton atau makan ?"


Juli menyiapkan satu rencana brilian untuk Kevin dan Jihane.


"Setuju."


Jawab Jihane antusias.


Juli sudah merencanakan sesuatu agar Jihane bisa lebih dekat lagi dengan Kevin.


itu sudah menjadi janji yang ia berikan pada Jihane.


Sejujurnya Juli selalu merasa kalau Kevin hanya bergantung padanya.

__ADS_1


Padahal mereka baru saja saling mengenal.


__ADS_2