
"aku yang salah Zoya, kenapa kamu minta maaf ?".
Ditya tidak jadi meneruskan serangannya, dia menutupi tubuh Zoya dengan selimut.
"mungkin ini memalukan, tapi aku akan bertahan demi kamu dan Dee".
Ingin mendapat kenyamanan, Zoya meletakkan kepalanua dilengan Ditya yang terlentang.
"itu tidak memalukan sayang, aku yang malu sama kamu Zoya. Bagaimana bisa aku menyakiti kamu berkali kali."
Ditya memejamkan matanya merasa malu pada istri dan bayinya.
"aku mengantuk mas, nanti harus begadang lagi."
Zoya menyudahi percakapan seriusnya dengan Ditya.
Ditya mengeratkan pelukannya, memberi ketenangan untuk batin Zoya.
Dret dret . .
Drer dret . .
Bunyi nada panggilan membangunkan Zoya, ia melirik kearah jam. Masih pukul 05.00 pagi.
Zoya mengangkat telpon milik Ditya yang masih terpejam.
"halo . .
Bisa kita ketemu ?"
Tanya seseorang di ujung telpon, Zoya tahu siapa itu dan langsung mematikan sambungan.
Kemudian ia mengetik pesan yang akan dikirim ke nomer tadi.
Pagi buta, bahkan fajar belum menampakkan diri. Zoya menuju suatu tempat untuk menemui penelpon suaminya.
"Ada apa kamu meminta bertemu dengan Ditya ?"
Suara Zoya berhasil membuat wanita itu kaget, kenapa bukan Ditya yang datang ?
"bu Zoya . . Saya "
Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Zoya yang masih menatapnya tajam.
"saya heran, kamu bisa seberani itu meminta bertemu dengan suami orang."
"kebetulan ibu disini, saya bermaksud untuk meminta maaf. Maafkan saya karena saya sudah mengganggu rumah tangga kalian. Saya hanya ingin pamit sama pak Ditya, saya ikut suami tugas keluar negeri."
"apa hakmu hingga harus pamit ? Sadarkan dirimu Connita !"
Tangan Zoya sudah melayang diudara, dia siap untuk menampar Conni.
"bahkan tamparan saja tidak cukup, hanya akan mengotori tangan. Biar Tuhan yang membalas perbuatanmu padaku."
Zoya meninggalkan Conni yang masih memaku, wanita itu tertegun melihat sikap Zoya.
Ucapannya tidak salah, karena dirinya pantas mendapatkannya.
Brukk . .
Tanpa sengaja Zoya menabrak seseorang yang berpapasan dengannya.
Pria itu menahan tangan Zoya agar tidak terbanting.
Lengket, karena keringat membasahi tubuhnya.
"maaf . ."
Suara Zoya terdengar menahan isak tangis, membuat pria itu mengerutkan dahinya.
"kamu menangis ?"
Tanyanya menundukkan kepala memeriksa Zoya yang lebih pendek darinya.
"tidak, permisi"
__ADS_1
Zoya segera berjalan kembali kekamarnya, khawatir baby Dee akan rewel.
"duka sebelum fajar"
Gumam pria itu melihat perempuan yang sudah menangis dipagi hari.
🍀🍀🍀
"kamu dari mana saja ? Aku sampai bingung mencari kemana mana"
Penampilan Ditya masih berantakan, rambutnya yang acak acakan dan masih mengenakan piyama tidur.
"tadi aku . ."
Belum selesai Zoya menjawab, sudah ada pergerakan dari Ditya yang memeluk tubuhnya.
"jangan menghilang seperti tadi lagi, aku bahkan tidak bisa tanpa kamu sedetikpun."
Kekhawatiran Ditya yang berlebih berhasil menggambar senyuman diwajah Zoya, ia membalas pelukan Ditya.
"aku hanya menghirup udara segar mas, maaf sudah membuat cemas"
Pagi itu Ditya sadar, dirinya tidak bisa hidup tanpa Zoya. Mungkin Tuhan akan menghukumnya jika dia sampai menyia nyiakan Zoya. Ditya tidak akan sanggup jika harus kehilangan Zoya.
"kenapa kamu muncul ? Apa yang harus saya katakan pada dia.."
Tanya seorang wanita dengan raut wajah tidak senang bertemu dengan lawan bicaranya.
"tidak ada, aku hanya ingin melihat keluargaku saja. Bukankah aku juga memiliki hak ?"
Pria itu menunduk tersenyum seolah miris mendapat penolakan atas kehadirannya.
"tante tenang saja, ini tidak akan lama !"
Pertemuan yang singkat penuh dengan ancaman, apa yang hendak dia rencanakan ? Kenapa harus datang disaat semuanya sudah baik baik saja.
"eh ketemu lagi kita . ."
Seseorang menyapa Zoya yang sedang membakar roti untuk Ditya di restoran D'Zhotel.
Zoya menatapnya heran, memang mereka pernah bertemu sebelumnya ? Kenapa Zoya tidak ingat.
"tadi pagi, didepan pintu Gym"
Dia menyunggingkan senyum manisnya pada Zoya yang masih berusaha mengingat.
"oh iya, saya ingat. Maaf sudah menabrak."
Zoya hanya berusaha ramah pada orang itu, demi citra hotel suaminya.
"kalau nanti kita ketemu lagi, bukankah tandanya berjodoh ?"
Nada bicaranya memang bergurau, entah kenapa Zoya tidak suka mendengarnya.
"kalau begitu saya permisi, mari". Untung saja roti sudah selesai, jadi ia bisa kabur dari orang aneh tadi.
"siapa kamu ?"
Tanyanya penasaran.
"jangan pulang ke penthouse, menginaplah dirumah papi untuk beberapa hari."
Saat perjalanan pulang, pak Mahesa menelpon Ditya, dan menyuruhnya untuk menginap.
Suara pak Mahesa seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"kami pulang . ."
Ditya berteriak meminta disambut oleh keluarganya, termasuk Tia yang pulang bersamanya.
"cucu grand ma . . Akhirnya Dee akan menginap di sini"
Bu Aulia langsung menggendong Dee yang baru saja terbangun.
"wah makin berat saja ya baby Dee, grand ma sampai kewalahan."
__ADS_1
Keceriaan mengisi suasana rumah yang ramai ketika semua berkumpul. Kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan apapun.
"kalian istirahat dulu saja, biar Dee kami yang jaga."
Nek Hafsari membiarkan Zoya dan Ditya untuk bersih bersih dikamar. Belum terlihat pak Mahesa yang meminta mereka menginap.
Waktu makan malam tiba, Zoya sejak tadi sore sibuk menyiapkan semuanya sendiri. Dibantu ART yang hanya mencuci peralatan kotor.
Dee yang tidak rewel jika digendong keluarganya juga sudah rapi dimandikan oleh bu Aulia.
"nenek seneng kita bisa berkumpul lagi disini, yang sering ya menginap disini" mereka mulai berkumpul, duduk dikursi masing masing.
"wah masakan Zoya pasti enak, dari baunya saja sudah harum."
Melihat menu yang terhidang dimeja, bu Aulia tak sabar ingin mencicipinya segera.
ting nong . .
suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terhenti setelah bunyi bel terdengar.
ART yang bertugas didapur langsung berlari menuju pintu masuk untuk melihat siapa yang bertamu.
"maaf Tuan, Nyonya. ada den Bima datang . ."
nama yang tidak asing ditelinga pak Mahesa, bu Aulia dan Nek Hafsari. mereka saling melempar tatap dengan raut cemas.
"biar papi yang temui, kalian lanjutkan saja !"
pak Mahesa bangkit dari kursinya dan meraih tongkat lalu berjalan kearah depan.
"siapa mas ?"
Zoya berbisik ke dekat telinga Ditya, suaminya hanya mengangkat bahu tidak tahu.
"mau apa kamu kesini, apa masih belum cukup ?"
terdengar ada getaran disuara pak Mahesa, tatapannya tidak tertuju pada pria yang berdiri dihadapannya.
"apa salah aku mengunjungi keluargaku ? kenapa harus membutuhkan alasan, tidak ada bekas anak atau bekas papa."
pria itu masih tenang menguasai perasaannya yang sudah bergejolak sejak menginjakkan kakinya dirumah itu.
"katakan apa maumu, lalu segera pergi !"
"aku ingin berkumpul dengan keluargaku, itu saja pa . ."
Pria yang bernama Bima itu usianya kira kira 5 tahun diatas Ditya, dia berjalan melewati pak Mahesa.
langkahnya tertuju kearah suara yang ramai, yaitu ruang makan.
"apa kabar Nek ?"
Sapaan Bima berhasil membuat bu Aulia tersedak oleh air minumnya.
tak kalah kaget, wajah Nek Hafsa berubah jadi pucat.
"boleh Bima ikut makan malam bersama ?"
Zoya, Ditya dan Tia bingung kenapa orang itu seolah sangat mengenal nek Hafsari.
karena penasaran, Zoya mengintip pria itu dicelah wajah Ditya.
bukankah dia orang yang bertabrakan dengan Zoya didepan tempat fitness ? memangnya ada hubungan apa mereka.
"maaf, anda siapa ? kami bahkan tidak mengenal anda"
Ditya menyelidik pria yang berdiri dibelakang kursi tunggal tempat pak Mahesa.
"Abi Mahesa, putera pertama komisaris MH Group"
uhuk uhuk . .
Zoya tersedak bahkan tanpa makanan atau minuman dimulutnya.
apa ini ?
__ADS_1
jadi Ditya masih memiliki kakak ? apa yang akan terjadi pada keluarganya.