Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#147


__ADS_3

Tetap saja status suami akan menang dimata hukum. Hana masih sah sebagai istri Hiroshi Yuta.


Sebaik baiknya Damar berbicara pada Yuta akhirnya Hana harus rela bertatap muka dengan suaminya.


Tentu dikawal oleh Galih yang pastinya Yuta tidak tahu siapa dia.


Hana sudah mewanti wanti Galih untuk tidak emosi apalagi hingga menghajar wajah Yuta.


"Pulang Hana ! Aku janji akan berubah."


Cuih . . Galih muak mendengar rayuan palsu dari mulut Yuta.


"Ratusan kali aku mendengar hal itu Yuta San, kamu masih saja sama tidak berubah."


Hana melipat kedua tangannya didepan dada, ada jarak diantara Yuta dan tempatnya berdiri diteras rumah Damar.


"Baik, mungkin tidak sekarang kamu mau ikut. Besok atau lusa seorang Hana Hiroshi akan datang padaku secara sukarela."


Hiroshi Yuta tersenyum penuh misteri memperhatikan Hana juga orang orang di sekitarnya.


Setelah puas Yuta mengajak anak buahnya pergi dari rumah Damar. Damar masih berdiri diambang pintu bersama Juli.


Mobil membawa Yuta meninggalkan halaman depan rumah Damar.


Galih mengajak Hana masuk kedalam untuk menenangkannya.


Mereka duduk diruang tengah serentak menghela nafas kasar.


Cukup rumit masalah yang mereka hadapi saat ini.


Sudah terlanjur masuk kedalam hidup Hana Damar juga Juli tidak bisa mundur.


Galih merangkul pundak Hana berusaha memberinya rasa aman. Hana perlu tahu kalau dia tidak sendiri di dunia ini, masih ada mereka yang akan melindunginya.


"Galih gue antar Juli ke kamar dulu, dia harus banyak istirahat."


Damar mengajak Juli untuk segera tidur menenangkan pikirannya. Jangan sampai istrinya ikut stres karena masalah Hana.


"Aku takut Galih . ."


Selepas Damar dan Juli ke kamar Hana menangis dipelukan Galih.


"Semua akan baik baik saja Na. Laki laki itu tidak akan berani menyakiti kamu lagi."


Galih tengah menyiapkan rencana yaitu melacak usaha suami sahabatnya. Siapa tahu dia menemukan hal hal ilegal selain perusahaan fashionnya.


Di kamar lantai atas Juli merebahkan tubuhnya ditempat tidur.


Juli tidak boleh tertekan demi kesehatannya.


"sayang kamu pucat, apa perlu aku telpon dokter ?"


Damar memperhatikan wajah Juli memang terlihat lelah.


"Aku cuma butuh istirahat mas.


Besok aku ke kampus ya, harus menyerahkan laporan hasil magang."


"Kamu yakin sehat ? Aku perhatikan beberapa hari ini kamu selalu pucat."


Damar mengelus mesra pipi Juli.


"Nanti aku minta anter pak Ifan biar mas Damar gak khawatir."


"Aku setuju, lagian Galih bisa jagain Hana mulai sekarang."


"Mas aku boleh minta tolong ?"


Juli bertanya hati hati.


Damar mengernyitkan dahinya heran kenapa Juli masih harus bertanya padanya, jelas Damar akan melakukan apapun untuk Juli.


"Kamu minta apa aku turutin sayang . ."


"Aku mau mas Damar elus elus perut aku biar tidurku nyenyak."

__ADS_1


Pinta Juli mengecilkan suaranya takut sang suami keberatan.


"Ya ampun, itu hal mudah dan menyenangkan Juls. Baiklah."


Lalu Damar ikut berbaring disebelah kanan Juli, menopang kepalanya menggunakan tangan kiri.


Sementara tangan satunya mulai masuk kedalam baju tidur Juli.


Hangat sekali sentuhan tangan Damar dirasakan Juli.


Hal sederhana namun penuh arti baginya.


Perlahan Juli mulai terlelap masuk kedalam mimpinya.


Damar yang mengelus perut istrinyapun ikut merasakan kantuk. Mereka tidur tanpa harus bertengkar terlebih dulu seperti sebelumnya.


Demi keamanan, Ifan bersama Galih bergantian berjaga. Keamanan kompleks tidak bisa diharapkan. Anak buah Yuta bukan hal sepele yang bisa luput dari pikiran Galih.


Untung saja Juli sempat memberi Galih dan Ifan segelas Ice Americano. Sehingga mereka tetap melek hingga tengah malam.


Pertama kalinya Hana bisa tidur nyenyak malam itu.


Ia bertemu orang baik seperti Juli. Dengan tulus ia mau memberikan tempat berlindung dari kejaran suami kasarnya.


Padahal sejak bertemu Damar kembali Hana sempat berpikir mengejar cintanya lagi.


Kini Hana sadar ada hal lebih penting dari pada cinta, yaitu kebebasannya.


☀️☀️☀️


Sinar mentari pagi tidak mampu membangunkan dua insan diatas ranjang yang sedang berpelukan.


Jangan tanyakan jam waker, sudah berulang kali alarm handphone maupun jam waker diatas nakas berdering.


Barulah ketukan pintu bisa membuat Damar dan Juli bangun. Mereka tergesa gesa berebut siapa dulu yang akan menggunakan kamar mandi.


Terpaksa Juli mengalah, karena ia harus menyiapkan perlengkapan Damar sebagai tugas hariannya.


"Ekhem . . Tumben seorang istri ikut bangun telat, biasanya sih pagi buta buatin sarapan."


"Habis lembur ya Juls ?"


Hana terkekeh ikut ikutan.


"Ya gitu deh mbak, keenakan . . ."


Juli menanggapi santai ledekan Hana dan Galih, malah ia sengaja membuat keduanya penasaran.


"Memang Damar minta berapa ronde Juls ?"


Tanya Galih penasaran, maklum dia salah satu perjaka lapuk kalau kata Damar mah.


"Haha maksud aku keenakan tidur, saking nyenyaknya. ih kalian itu mesum deh pagi pagi gini."


Juli tertawa puas melihat ekspresi kepo diwajah Galih.


Damar turun berjalan mendekati meja makan, dia belum siap. Juli yang melihatnya langsung inisiatif memasangkan dasi juga merapikan kerah kemejanya.


Sesaat Hana tertegun melihat adegan romantis dihadapannya.


Biasanya istri akan membantu suami sebelum ke kantor.


Yang ada dirinya selalu berujung luka luka atau baru bisa tidur di jam jam sarapan.


Yuta memiliki banyak asisten rumah tangga, dia tidak memaksa Hana untuk melakukan tugasnya.


"Kita berangkat duluan."


Damar pamit pada Hana dan Galih. Dia menyetir sendiri membiarkan Ifan menjaga Juli seharian nanti.


Hana diajak Galih kerumahnya sebentar untuk berganti pakaian. Galih berencana akan mengajak Hana ke tempat kerjanya.


Mobil Ifan keluar terlebih dahulu meninggalkan rumah diikuti Damar di belakangnya.


Juli tidak pernah menyangka ia akan kembali kuliah dengan status sebagai seorang istri. Apalagi sekarang keadaannya sudah berbeda dengan sebelumnya.

__ADS_1


Ia tersenyum sambil mengelus perutnya. Semalam entah kenapa Juli merasa bahagia bisa dielus Damar sebelum tidur.


"Be a smart baby ya . ."


Bisiknya pelan agar Ifan tidak bisa mendengarnya.


Juli menatap pemandangan diluar jendela.


Menurutnya langkah yang sudah Juli ambil sudah benar.


Yaitu menyerahkan takdirnya pada Tuhan. Ia tidak pernah mengonsumsi pil KB sejak pertama kali membelinya. Juli ingin memberi kebahagiaan untuk Damar suaminya.


Kebetulan pas ulang tahun Juli memang belum memberinya hadiah. Kali ini Damar pasti akan senang mendapatkan kado impiannya.


Rencananya pulang dari kampus Juli berniat mengambil hasil tes darahnya ke MHospital demi memastikan.


Sorenya baru Juli memberikan kejutan pada Damar.


"Silakan non."


Ifan membukakan pintu untuk Juli setelah sampai diparkiran kampus.


Mahasiswa yang mengenal Juli memandangnya heran. Juli diantar mobil Fortuner keluaran terbaru lengkap dengan supirnya.


Mereka juga sempat mendengar prestasi kinerja kerja Juli selama magang dari dospem.


Banyak spekulasi beredar tentangnya. Mulai dari Juli cinlok dengan bosnya, jadi simpanan om om client kantor hingga dapat uang panas saat menjadi karyawan magang.


Kemungkinan nomer satulah kenyataannya. Hanya saja Juli belum bisa bercerita banyak. Lagipula sekarang dikampus sudah tidak ada teman sedekat Jihane, Kevin ataupun Adam.


Juli hanya tersenyum mendengarnya dari mahasiswa yang memberitahunya.


"Pak Ifan kalau perlu pergi tinggal kabari saya ya !"


Kata Juli sebelum masuk ke dalam.


"Pasti non."


Ifan sedikit menundukkan kepalanya mengerti perintah Juli.


Juli juga diberitahu Damar kalau jadwalnya sebagai dosen sudah dikurangi rektor. Dengan alasan terlalu banyak jadwal keluar kota. Rektorpun memaklumi lalu mengatur ulang jadwal mengajar suaminya.


"Selamat pagi kak . ."


Sapa seseorang mengejar langkah Juli dari belakang.


"Pagi, maaf siapa ya ?"


Juli menghentikan langkahnya memperhatikan gadis berwajah bule dihadapannya.


"Gue Sofia mahasiswa tingkat 2 jurusan bisnis."


Gadis muda cantik bertubuh proposional itu mengulurkan tangannya dengan senyum ceria.


"Juliana."


Mereka berjabat tangan.


"Kak Juli mau kemana ? Gue ikut boleh ya."


Kata Sofia mengejar langkah Juli.


"Saya perlu ketemu dospem KKN mau ngasih laporan magang."


Juli pikir Sofia hanya seorang mahasiswa kepo terhadap dirinya hingga ia masih saja mengikuti Juli.


"Kak gue suka sama pak Damar ."


Pernyataan Sofia jelas membuat Juli menghentikan langkahnya.


Kerutan bingung didahinya jelas tampak.


Siapa Sofia sehingga seberani itu mengatakan kalau dia menyukai laki laki yang tak lain adalah suaminya.


"Lalu ?"

__ADS_1


Juli masih belum menanggapi Sofia.


__ADS_2