
cerita ini mungkin akan berlanjut dengan kisah yang berbeda. Jadi tetap baca terus sekuelnya. Judul dan episode pertama akan diumumkan di bonus chapter setelah ini. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Cinta terpendam. karena ini pengalaman pertama menulis novel maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan maupun alur yang tidak logis. namanya juga karangan fiksi, berarti khayalan penulis bukan hehe.
Dipintu kedatangan bandara internasional sudah menunggu sepasang kekasih dengan suasana suka cita. Saat orang yang ditunggu mulai keluar dari pintu masuk, sang lelaki melambaikan tangannya kearah mereka.
Saling berpelukan setelah cukup lama pasangan suami istri itu menjalani kehidupannya dinegara lain.
"Selamat datang kembali mas, Juls."
Sambut perempuan disamping Kevin tak lain ialah Sekar tunangannya.
"Ayo kita pulang, mereka sudah menunggu."
Kevin membantu mendorong troli berisi beberapa buah koper milik kakak dan kakak iparnya.
Mobil mulai melaju meninggalkan area bandara membelah jalanan ibukota. Juli menatap kearah jendela, ia tak menyangka kisah hidupnya akan sepanjang ini. Berawal dari sebuah pelarian hingga berujung menemukan sang tambatan hati yaitu suaminya Damar.
Laki laki yang kini menggenggam erat tangannya. Juli tidak ingin lagi kehilangan genggaman itu. Cukup baginya kemarin sebuah pelajaran hidup begitu penuh arti. Bahwa sesulit apapun masalah jika mereka saling percaya akan berbuah manis.
"Katanya kamu sudah melamar Sekar Vin ? Selamat ya."
Damar membuka obrolan ditengah perjalanan. Kevin menyetir dengan Damar sang kakak duduk disampingnya. Sementara Juli nyaman bersandar dikursi belakang.
"Iya, rencananya saat kalian balik gue mau meresmikan hubungan kami. Nantilah kalau kalian sudah cukup beristirahat baru gue adakan acara dirumah mama."
"Kita udah kebanyakan istirahat disana, jadi kapan saja kami siap bantu Vin."
Juli hanya menjadi pendengar setia, ia tak ingin ikut mengomentari hubungan adik ipar dengan sekretaris sang suami. Bahkan Juli tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan pekerjaan Sekar. Tentunya Juli percaya
kalau keduanya bisa profesional dalam bekerja.
🌙️🌙️🌙️
Suasana rumah milik Damar kembali ramai saat keluarga berkumpul bersama. Mereka sengaja menyempatkan diri menginap demi menyambut kepulangan Damar dan Juli. Mama Zara sudah sibuk sejak pagi menyiapkan santapan malam serba istimewa.
"Ma, Juli kangen banget sama mama. Maafin semua kesalahan Juli ya ma ?!"
Dikamarnya, Juli berbicara berdua saja setelah ia memberikan hadiah cindera mata untuk mama mertua.
"Mama juga kangen sama Juli, apapun keadaannya kita harus tetap sama sama seperti ini."
"Jadi benar ya ma, gara gara Juli mas Damar sampai dicopot dari hak waris ? Kasihan sekali mas Damar."
__ADS_1
Juli menunduk menyesali semua yang sudah terjadi.
"Bukan salah siapa siapa nak, semua ini hanya datang sebagai ujian. Kalau kalian mampu menyelesaikannya maka ikatan cinta kalian akan semakin kuat. Percaya sama mama, ayah pasti mengembalikan posisi suami Juli diperusahaan."
Tangan Zara lembut menyentuh pundak Juli suapaya ia berhenti merasa bersalah.
"Iya ma, Juli ingin menebus semua kesalahan Juli sama mas Damar. Tapi ma, apa Juli masih bisa mengandung lagi ? Jujur Juli sangat takut."
Air matanya kembali jatuh membasahi pipi, mengingat hal itu hatinya selalu seperti teriris sembilu.
"Tidak ada yang tidak mungkin atas kehendak-Nya. Jangan berhenti berdo'a !"
Juli hanya mengangguk tersenyum mendengar nasehat Zara.
Usai makan malam penuh suasana hangat, Juli dan Damar kembali ke kamar mereka. Kevin sendiri masih harus mengantarkan Sekar pulang. Damar berbaring menunggu sang istri menyusul keatas tempat tidur.
"Belum tidur ?"
Tanya Juli yang ikut duduk bersandar disebelah Damar.
"Mas nunggu kamu sejak tadi." Nada bicara Damar seakan sengaja dibuat semenarik mungkin agar Juli terpancing kedalam bujuk rayunya.
"Iya aku ngerti mas, sekarang aku siap. Maaf kemarin aku selalu menolaknya."
Cukup lama dan sabar Damar menunggu saat seperti ini bersama Juli. Akhirnya ia dapatkan kembali perasaan terbang melayang dikala puncak kenikmatan itu melanda.
☀️☀️☀️
Tiga hari setelah kembalinya Damar dan Juli kerumah, Juli mulai disibukan sidang skripsinya dikampus. Banyak yang ikut gembira melihat Juli bisa bangkit dari keterpurukannya. Suami, keluarga barunya, sahabat maupun orang yang mengenalnya. Tak terkecuali Prof. Felix sang dosen.
"Saya salut sama kamu Juls. Setegar karang menghadapi setiap ujian hidup."
Katanya, mereka berdua berjalan menuju kantin kampus usai berbincang diruangannya.
"Berkat dukungan semua orang saya bisa berhasil Prof. Terima kasih karena Profesor juga selalu memberi saya semangat."
"Oh saya lupa, kalau puteri saya yang kuliah di Oxford besok akan pulang. Nanti saya kenalkan kalian, dia berencana bekerja disini."
Prof. Felix tiba tiba teringat sang puteri semata wayangnya.
"Saya tunggu, kami bisa berteman dengan baik mungkin." Juli mengulas senyum antusias ingin segera bertemu dengan anak dosen favoritnya.
__ADS_1
"Saya permisi bergabung dengan dosen lainnya. sekali lagi selamat menjalani sidang skripsi Juliana."
"Thanks Prof. Felix."
Juli dan Profesor Felix berjabat tangan. kemudian beliau meninggalkan Juli berjalan menuju meja para dosen untuk makan siang.
Juli membuka sebuah pintu mobil diarea parkiran kampus. Damar menyempatkan waktu sibuknya menjemput sang istri. Rencananya mereka akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan Check Up. Memasuki bulan ketiga setelah kegugurannya, Juli memang sempat diberi kabar kalau rahimnya mengalami masa trauma. Dan itu bisa saja mempengaruhi tingkat kesuburannya.
Damar meminta Tiara memeriksa kembali kondisi terkini Juli. Meski tidak begitu berharap bisa langsung mengandung kembali, setidaknya Juli ingin mempersiapkan diri dan kesehatannya.
Waktunya mungkin akan pas jika setelah wisuda dirinya sudah siap kembali.
"Mas tidak ingin kamu merasa tertekan Juls. Kita lakukan semuanya pelan pelan oke ?"
Damar menggenggam tangan Juli sambil terus fokus menyetir.
"Aku mengerti mas."
Jawab Juli singkat, namun hatinya tetap saja berharap lebih. Ia jadi teringat kata kata Grand Ma, seharusnya Juli bisa menjaga bayinya dengan baik agar tidak ada masalah seperti ini nantinya.
Mobil tiba diparkiran VIP MHospital. kedatangan mereka sudah disambut dengan hangat oleh Tiara dan Bara. pasangan kekasih yang seminggu lagi akan melangsungkan pernikahan di MHotel. Tentunya setelah Sofia pulih 100% dari penyakitnya.
"Semua sudah disiapkan, ayo Juls."
Tiara meraih lengan Juli agar mengikuti langkahnya. sementara Damar bersama Bara mengekor dibelakang.
Diruang Obgyn Tiara dibantu suster mulai melakukan serangkaian tes. suster cekatan menyingkap pakaian Juli.
Tiara memanggil Damar yang berada diluar, diminta masuk supaya bisa mendengar penjelasannya langsung.
"Kita mulai ya !"
Perintah Tiara. Juli menggenggam tangan Damar disaat suster memasukkan sebuah alat pada miliknya. Juli sempat meringis dikarenakan semalaman suntuk Damar melakukannya berulang kali.
"Tahan sedikit Juls. Berdasarkan keadaan pada monitor, rahim Juli berangsur normal kembali. Sel telurnya juga dalam keadaan baik dan siap dibuahi. sepertinya Juli berada dimasa subur."
Tiara menerangkan secara garis besar, intinya Juli siap mengandung buah hatinya dengan Damar dalam waktu dekat.
"Syukurlah. Kamu dengar sendiri kan sayang ? Jadi jangan banyak pikiran apalagi merasa bersalah."
Mendengar ucapan Damar Juli menoleh dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Iya mas, aku janji akan terus bahagia disisi mas Damar."
Tiara dan suster ikut tersenyum melihat pemandangan sepasang suami istri tersebut.