Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#118


__ADS_3

Sejak mendengar seluruh kejadian tentang David, Juli semakin merasa bersalah sudah membencinya.


Damar menaruh map pemberian David dinakas samping tempat tidur.


Juli butuh ruang dan waktu sendiri, terpaksa Damar pulang ke Penthouse meninggalkannya seorang diri.


Juliana memeluk kedua lututnya duduk dilantai.


"Aku minta maaf David, jangan bawa kebencianku bersamamu.


Kamu tetap papiku hingga kita sama sama terkubur dibawah tumpukan tanah."


Selain bukti pelunasan seluruh hutang, David juga menyelipkan sebuah sertifikat tanah dan bangunan.


Masih atas nama Buditama kakeknya Juli.


Sebagai penebus kesalahannya, dia tidak pernah berniat sedikitpun menjual satu satunya warisan Inez.


Hanya tinggal Juli keturunan Buditama hari itu. Juli harus tetap melanjutkan hidupnya demi meneruskan garis keturunan keluarga.


Jangan lemah apalagi cengeng adalah pesan Inez untuk Juli sebelum kepergiannya.


Setidaknya sekarang Juli memiliki tempat bersandar.


Damar, Ema juga nek Atikah. Entah Kevin masih mau bersahabat dengannya atau tidak.


Juli tidak sendiri, ia masih jauh lebih beruntung daripada orang lain.


David juga tahu kalau Juli menyayanginya tulus.


Malam ini Juli ingin tidur nyenyak, melupakan duka mendalam memberi jeda hatinya beristirahat.


Dret dret . .


Sebuah pesan masuk, Julipun membacanya sebelum tidur.


Mr. Dee


Dream of me !


Akhirnya terulas senyum tipis muncul diwajah Juli.


Damar selalu membuatnya dimabuk kepayang.


Kapan Juli bisa menghindar dari pesona Damar yang mengistimewakan Juli.


Ada bagian fakta disembunyikan oleh Damar.


Ia rasa Juli belum saatnya tahu, bahaya akibatnya.


☀️☀️☀️


Mentari menggantikan rembulan, keduanya bersinar diwaktu berbeda.


Juli menggeliat bangun dari tidurnya, ia mencoba mengumpulkan tenaga demi memulai harinya.


Menangis semalaman membuat kepalanya cukup pening.


Sedihnya lagi Damar tidak bisa mengantar Juli ke kampus apalagi mengajar mata kuliah.


Dia dan Sekar dijadwalkan mengunjungi projek pembangunan yang dipegang MH Manufacturing di luar kota.


Percakapan lewat pesan semalam berlanjut hingga Juli ketiduran. Sempat kesal ia mendengar kabar mereka akan pergi bersama.


"Damar jadwal kamu hanya mengecek keadaan lapangan dan beberapa laporan.


Langsung pulang atau bagaimana ?"


Di perjalanan menggunakan mobil Sekar menyampaikan tugas Damar. Tidak berdua, ada Ifan jadi supir pengantar mereka.


Damar sengaja meminta Ifan menyetir, jika Juli mencurigainya bermesraan dengan Sekar Ifan pasti akan melindunginya.


Karena Ifan berperasaan, buktinya dia peduli menyarankan Damar segera mengajak Juli pulang waktu pemakaman.


"Aku harus pulang secepat mungkin."


Suara Damar terdengar resah ditelinga Sekar, ia tersenyum geli kemudian. Damar menyadari hal itu, ia mengerutkan keningnya menatap Sekar.


"Saking gak tahannya ya kamu jauh dari Juli ?"


Sekar terkekeh mengalihkan pandangannya dari sorot tajam Damar.


"Kamu akan tahu bagaimana rasanya nanti, saat bertemu laki laki tepat."


-I've found you Damar, tapi itu terlambat-


Batin Sekar merutuki dirinya, tidak seharusnya dia memakai perasaan menghadapi seorang Damar Aditya.


Ia juga yang akan terluka pada akhirnya.


"Kak Gilang bisa mengerti keputusanku jadi kamu gak usah merasa bersalah."


Kesempatan Sekar membahas persoalan diantara mereka.


"Aku minta maaf Sekar, akibat pikiran pendekku kamu jadi korban."


Tangan Damar bergerak mengusap singkat kepala Sekar.


"Jangan sok romantis kamu Damar, atau aku bisa suka sama kamu."


Sekar memukul lengan Damar, mereka hanya tertawa bersamaan.

__ADS_1


Biar begini, Sekar tidak akan berharap lebih pada hubungan sebatas atasan dan bawahan.


Ia perempuan menjunjung tinggi menghargai hidup seseorang. Lagipula Sekar pikir bisa mendapatkan pria lain diluar sana.


"Ini . ."


Damar menyerahkan beberapa kantung karton pada Sekar.


Mereka baru selesai makan siang setelah lelah bertempur terik matahari dilapangan.


"Hadiah lagi ?


Kamu harusnya berhenti memberiku, Juli akan cemburu jika tahu kekasihnya melakukan ini."


Sekar tersenyum menerima pemberian Damar.


"Ini yang terakhir Sekar. Kamu hanya akan menerima bonus resmi dari kantor, jangan khawatir gajimu tidak berubah."


Sekar sekretaris pintar, dan Damar sangat mengapresiasinya.


Bahkan jika dia absen demi mengisi mata kuliah, Sekar bisa memanage menggantikan posisinya di perusahaan.


"Oke, setuju."


Ketiganyapun masuk ke mobil untuk perjalanan pulang ke ibukota.


Pekan olah raga Kampus, kegiatan rutin digelar setiap mahasiswa selesai menjalani masa Ujian Akhir Semester.


Kevin ketua BEM sibuk mondar mandir mengatur jalannya beberapa pertandingan.


Juli hanya duduk malas di bangku depan kelas.


Masih ada duka dihatinya, ia sedang tidak mood menjalani hari harinya saat ini.


"Juls . ."


Sapa seseorang ikut duduk disampingnya.


"Hi Ji, apa kabar ?"


Juli menyapa Jihane tersenyum singkat.


"Aku minta maaf ya soal sikap egoisku, malu rasanya setelah di pikir pikir."


Sesal Jihane.


"Sudah jangan bahas lagi, aku sungguh sungguh mengharapkan kamu dan Kevin semakin dekat."


Juli menepuk pundak Jihane kemudian pergi meninggalkannya.


Juli ingin pulang saja, lagipula dia tidak mendaftarkan diri di pertandingan apapun.


Kevin berpapasan dengan Juli menghadangnya sebentar.


"Pulang."


"Aku antar kamu, ,"


"Jangan, aku tahu kamu sedang sibuk. Sudah ya Kevin aku duluan."


Juli melanjutkan langkahnya menuju gerbang kampus.


Ia pergi ke kampus sekedar absen, datang paling terakhir pulangnya awal sekali.


Seperti biasa Juli naik bus transJ langganannya.


Tiba di apartemen Juli langsung menyalakan televisi hanya untuk menemaninya agar tidak kesepian.


Juli menyiapkan bahan makanan dari lemari es, sejak pagi ia belum makan sama sekali.


Jadi ingat Damar, dia sedang apa dan dimana ?


Kapan kekasihnya itu akan tiba.


Kemudian ia mengecek ponsel miliknya didalam tas, masih belum ada kabar darinya.


Ting nong . .


Bel berbunyi, Juli mengukir senyum lebarnya berpikir itu Damar.


Langkahnya cepat menuju pintu, namun sayang bukan seperti harapannya.


Seseorang mengenakan topi juga masker membawa sebuah kotak cukup besar berbungkus solatip.


"Pak Damar mengirim hadiah untuk nona."


Suaranya terbekam masker, Juli berniat menerima benda cukup berat itu.


"Biar saya bantu simpan di dalam."


Kurir menawarkan bantuan.


Juli tersenyum mengangguk berterima kasih.


"Terima kasih ya pak . ."


Ucap Juli,


ponselnya berdering membuat Juli melangkah meraihnya di meja makan.


"Halo pacar,

__ADS_1


terima kasih hadiahnya."


Juli kegirangan mengangkat telpon dari Damar.


Di jalan menuju apartemen Damar mengernyitkan dahinya heran. Kado untuk Juli masih ada disampingnya.


"Juls, aku baru keluar pintu tol. Hadiahnya ada bersamaku."


Jawaban Damar menghadirkan rasa takut dibenak Juli.


Lidahnya keluh tak mampu bersuara, lalu siapa pengirim box itu ?


Juli berbalik mencari keberadaan kurir, dia masih setia menatap kearahnya.


Perlahan kurir pengantar barang melepas topi juga maskernya.


"Ro . . Mi ?"


Mata Juli berubah sayu, kakinya menjadi lemas.


Juli harus apa agar bisa selamat dari laki laki kurang ajar yang kini berjalan mendekat kearahnya.


Romi terus menyudutkan Juli hingga terkunci diantara meja makan dan tubuh Romi.


Ponselnya terjatuh ke lantai tak sengaja.


"Halo Juls . .


Are you oke ?"


Suara Damar terdengar mulai panik.


"Akhirnya tiba kesempatan ini Juli, sekian lama aku menanti dirimu. Kamu harus jadi milikku, hanya aku yang boleh menikmati tubuhmu."


Romi meraih dagu Juli menakupnya menggunakan kedua tangan.


Juli membuang muka menghindari tatap matanya.


Juli berani mendorong Romi sekuat tenaga hingga ada jarak untuknya kabur.


Ia berlari menuju pintu, sayangnya Romi segera menahan memeluk pinggangnya.


"Romi lepaskan aku ! Brengsek kamu, bejad."


Umpat Juli meronta ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Romi.


"Ayolah sayang, ini akan mudah jika kamu menurut.


Kalaupun kamu hamil seperti Caca, aku akan dengan senang hati bertanggung jawab."


Bisikan Romi berderu ditelinga Juli.


Ia takut, sangat takut.


Juli tidak ingin bernasib sama dengan korban Romi lainnya.


Romi mengangkat tubuh Juli kemudian ia banting ke sofa.


Romi mulai membuka ikat pinggang miliknya.


Seringai itu yang amat Juli benci, kenapa ada laki laki seperti Romi di hidupnya ?


Ada kesempatan berdiri, lagi Juli mendorong Romi tersungkur diatas meja kaca.


Saking kerasnya meja itu pecah bersamaan dengan jatuhnya tubuh Romi.


Prang . .


Beruntungnya Romi mengenakan jaket bomber, pecahan kaca tidak menembus punggungnya.


Romi segera bangun menarik kaki Juli, malang sekali Juli tersandung jatuh.


"Euh . . Lepas Romi !"


Nafas Juli terpekik ditenggorokan, ia ingin kabur dari situasi mencekam ini.


Romi menyibakkan rok Juli, dia menyesal memakai outfit macam itu.


Sudah siap, Romi tinggal memasukkan miliknya kedalam inti Juli.


Tapi Juli masih belum menyerah, dia meraih salah satu pecahan yang berserakan dilantai.


"Jangan bergerak !"


Tangannya mengarahkan kaca ke leher Juli.


Romi terkekeh, menganggap Juli menggertaknya agar bisa lolos.


Rama mengangkat tangan Juli untuk bangun.


"Lakukan saja Juls !"


Tantang Romi, alhasil Juli terpancing. Ia menggoreskan kaca itu, bukan ke lehernya melainkan lengan Romi.


"argh sialan !"


Tbc . . .


Bagaimana reaksi seseorang yang mencintai kita saat tahu kita tidaklah sempurna ?


hina, tak berguna bagai benaluh.

__ADS_1


Haruskah Juli menyerah saja pada Romi, agar Damar tidak terbebani oleh kehadirannya . .


__ADS_2