Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#128


__ADS_3

Perjalanan kembali ke hotel Damar selalu saja menggoda Juli.


Entah dengan rayuan atau cerita lucu pasal dirinya mengajar mahasiswa angkatan baru.


"Aku kangen ngajar di kelas kamu Juls.


Junior kamu tuh lebih genit dari teman sejurusan sama kamu."


Damar baru saja mematikan mesin mobilnya.


"Haha bukannya bagus buat bapak,


kan jadi populer sekampus."


Juli melepas seatbelt miliknya kemudian turun.


Keakraban keduanya terlihat luar biasa dimata seseorang yang sejak tadi memperhatikan.


"Ayo makan siang bareng di Coffeeshop ?"


Ajak Damar pada Juli, Juli menggeleng cepat.


"Juli sudah punya janji denganku , , mas."


Kevin mendengar obrolan mereka dari tempatnya duduk.


"Aku duluan pak Damar."


Juli berjalan kearah Kevin berdiri.


Ada rasa tak biasa hinggap dihati kakak beradik itu.


Sama sama cemburu dan tidak rela melihat Juli bersama salah satu diantara mereka.


-Tuhan ku juga cinta dia, aku juga ingin bersamanya.


Kuingin habiskan waktu ini berdua dengannya.


Rubahlah takdirnya, satukanlah hatiku dengan hatinya aku mohon.-


Terurailah do'a terpendam milik Damar menyaksikan Juli pergi bersama sang adik.


"Dari mana tadi ?"


Kevin dan Juli duduk disalah satu cafe depan MHotel.


Cafe itu ramai pengunjung, juga jadi tempat makan dan kumpul para karyawan hotel di jam istirahat.


Beberapa anak office memperhatikan Juli,


karena mereka tahu siapa laki laki yang bersamanya yaitu Kevin adik dari bos mereka.


"Ketemu client di DGC, anaknya bu Desi sakit jadi gak masuk.


Jadi aku harus gantiin ketemu calon penghuni baru sama pak Damar."


Juli mulai membuka lembar menu diatas meja.


Kevin menatapnya intens mengawasi ekspresi wajah kekasihnya.


Adakah kebohongan dari perkataannya, Kevin berusaha percaya dan tidak ingin mencurigainya.


"Hari ini aku sudah resmi bekerja di rumah sakit Juls."


Kevin mulai menuliskan menu makanan juga minuman yang ia inginkan tanpa memilih.


"Syukurlah.


Semangat buat kamu Kevin semoga pekerjaan kamu lancar."


Juli memegang lengan Kevin diiringi senyum tulusnya.


"Juls kapan kita akan saling memanggil sayang satu sama lain ?"


Mendadak Kevin membahas soal perasaan.


"Apa kamu tidak suka ?


Aku hanya nyaman dengan kita seperti ini Kevin."


Jujur Juli belum terbiasa memanggil sebutan mesra macam itu.


"Lupakan, mungkin aku terlalu takut kehilangan kamu. ."


Kevin meraih tangan Juli lalu menggenggamnya erat.


Juli tersenyum simpul menanggapi kekhawatiran tak beralasan Kevin.


Lepas makanan habis Kevin buru buru kembali ke rumah sakit karena ada janji operasi kecil.


"Laters Juls . ."


Sebelum tancap gas Kevin membuka jendelanya.


"See you pacar. ."


Juli melambai malu malu pada Kevin.


Juli kembali ke ruang kerjanya untuk meneruskan tugas yang diberikan Damar.


Belum ada siapa siapa disana, Juli mulai membuat laporan keuangan.


Memasukan deposito dari calon penghuni tadi.


"Tok tok . ."


Suara seseorang menyerupai ketukan


tangan pada pintu.

__ADS_1


Saking semangatnya Juli lupa menutup pintu.


"Ada yang bisa saya bantu pak ?"


Juli berdiri menghentikan kesibukannya.


"Jangan lupa simpan baik baik bukti transfer atau uang cashnya Juls."


Damar hanya mengingatkan Juli akan prosedur kerjanya.


"Bapak sudah mengatakannya tiga kali. Apa bapak tidak ada kesibukan lain, semisal tanda tangan dokumen gitu ?"


Juli tahu Damar sengaja mengganggunya karena dia memang begitu usil.


"Apa aku minta pindah ruangan saja kesini ?"


Kaki Damar melangkah berkeliling memperhatikan sekitar.


"Jangan aneh aneh pak !"


"Kenapa ?


Saya juga punya posisi di DGC Juls."


Juli memutar bola matanya jengah mendengar kesombongan Damar yang dibuat buat.


"Aku selalu merindukan ekspresi itu."


Ternyata Damar menyadari itu.


Dia berjalan mendekat kearah meja Juli.


Derap langkah kakinya nyaring menghadirkan sensasi gugup bagi Juli.


Ia cemas Damar akan melakukan hal gila seperti sebelumnya.


"Bapak mau apa ?"


Juli terkunci di meja kerjanya oleh tubuh Damar yang sudah dekat sekali dengannya.


"Meyakinkan kamu . ."


Diraihnya pipi Juli menggunakan kedua tangan Damar.


Dia semakin mengikis jarak wajah mereka.


"Aku masih sangat amat mencintai kamu Juls. .


Tidak ada yang bisa menggantikan kamu dihidupku."


Bisiknya ke telinga Juli.


Tanpa Damar dan Juli sadari, sepasang mata menyaksikannya dibalik pintu yang sedikit terbuka.


"Mudah buat bapak, tapi ini sulit bagiku pak.


Kita tidak bisa egois lagi seperti dulu."


Pertanyaan Damar benar benar bisa menampar Juli.


"Itu urusanku.


Lebih baik bapak kembali ke kantor bapak !"


Juli mendorong dada Damar agar memberinya jarak.


"Laters Juls . ."


Damae tersenyum sebelum meninggalkan kantor DGC.


Pekerjaan hari ini cukup melelahkan bagi Juli maupun Kevin.


Niat hati Juli ingin menjemput Kevin bersama mang Agus ke Rumah Sakit.


Dengan semangat Juli melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Kevin seperti kata bagian informasi.


Penglihatannya disuguhi pemandangan sedikit kurang baik.


Kevin sedang memeluk seorang perempuan bertubuh jenjang.


Apa selain jadi dokter baru Kevin juga melakukan treatment itu ?


Lebih baik Juli tidak mengganggu pekerjaan kekasihnya.


Dia memutuskan untuk segera pulang, sendiri tanpa Mang Agus.


"Mang Agus disini saja ! Tunggu sampai Kevin pulang."


Perintah Juli, sementara ia naik taxi menuju apartemennya.


Siapa dia Juli tidak tahu dan tidak ingin berasumsi dini.


Siapa tahu Kevin akan bercerita padanya.


Ah perut Juli terasa sakit secara tiba tiba.


Padahal tadi siang dia makan dengan cukup.


Biasanya itu terjadi dihari pertama masa periode.


"Halo . ."


Juli mengangkat telpon sambil memegangi perutnya.


"Juls kamu baik baik saja ?"


Tanya orang disebrang sana.


"Tidak apa, mungkin aku akan menstruasi."

__ADS_1


"Kita bertemu dirumah, aku akan bawa vitamin pereda nyeri buat kamu."


Sambungan telpon terputus begitu saja setelah dia mengatakan ingin bertemu Juli.


Lelah bekerja mengenakan heels, sakit pinggang juga perut akibat menstruasi. Juli susah payah sampai didepan pintu apartemennya.


Keringat dingin terlihat mendominasi wajah Juli yang pucat.


"Juls, are you ok ?"


Seseorang membantu memapah Juli masuk kedalam.


Ini salahnya, setelah dia memainkan tangannya di milik Juli ia langsung kedatangan tamu bulanan.


"Bapak mau apa sih disini ?"


Juli protes mendadak Damar datang ke apartemennya.


"Akan aku buatkan teh hangat, istirahat saja dulu disini."


Damar menidurkan Juli disofa ruang TV.


Tak lama kemudian Damar mendekati Juli membawakan secangkir teh hangat.


Namun Juli sudah tidur pulas akibat kelelahan.


"Kasihan kamu Juls . ."


Batin Damar.


Tangannya bergerak menyelipkan sehelai rambut ke telinga Juli karena menghalangi wajah cantiknya.


Bagaimana tidak merasa bersalah, Damar meminta Juli berkeliling menunjukkan hunian pada tamu dengan berjalan kaki.


"Kapan kamu akan meninggalkannya ?"


Tanya Damar pada Juli berhasil membangunkannya.


"Aku tidak berhak . ."


Jawab Juli, ia mengelus pipi kanan Damar.


Damar sangat menikmati sentuhan lembut itu.


"Jadi kalian masih sering bertemu di belakangku ?"


Kevin muncul tanpa aba aba diantara mereka.


"Kevin."


Damar terkejut melihat kedatangan adiknya.


Juli berusaha bangun dan berdiri, ia juga merasa bersalah Kevin melihat mereka berduaan diapartemen.


"Kalian masih main gila seperti dulu ?


Juls aku gak nyangka kamu melakukan hal ini.


Aku tahu kamu masih menyukainya kan ?"


Kevin berteriak membanting kresek berisi obat untuk Juli.


"Kevin dia hanya membantuku, tolong jangan salah paham."


"Salah paham ?


jelas aku mendengar kalau Damar memintamu memutuskan hubungan kita Juls."


kevin menjambak rambutnya frustasi.


"Tapi aku tidak akan Kevin."


Juli menyela supata Kevin tidak semakin emosi.


"Brengsek kamu mas . ."


Kevin berjalan cepat menghampiri Damar.


Bruk . .


tubuh Damar jatuh tersungkur setelah menerima pukulan telak dari sang adik.


"Hentikan Kevin !"


Juli yang terkejut menahan tubuh Kevin, dia berniat akan memukul Damar lagi.


"Dulu, andai dulu loe gak main main mungkin gue ikhlas Juli sama loe.


Sekarang jangan harap gue bakal relain dia buat kembali sama laki laki gak konsisten macam mas Damar."


Kevin menunjuk nunjuk wajah Damar, dia masih dihalangi tubuh pendek Juli.


"Gue tahu gue salah Kevin !


Tapi loe lebih egois karena memaksa Juli menjalani hubungan kalian. ."


"Pak Damar cukup !"


Juli membentak Damar untuk pertama kalinya.


"lebih baik bapak keluar sekarang juga."


Juli mengusir Damar, bibirnya berdarah akibat tonjokan Kevin.


"Juls segera minum obatnya !"


Perasaan Kevin jadi tak karuan pada Juli.


dia muak dan ingin sekali marah, tapi ia sedang tidak sehat Kevin tahu itu.

__ADS_1


"Terima kasih, dan maaf Kevin."


Juli mengambil kresek obat yang bercecer dilantai.


__ADS_2