
Kejadian beberapa hari yang lalu sungguh membuat Juli sadar siapa dirinya.
Selalu ada rasa ketidak pantasan yang bergejolak dihatinya.
Akhir akhir ini juga Juli membatasi diri dari sekitarnya.
Seperti saat ini, ia terpaksa menghadiri kelas dosen pengganti Profesor Felix.
Meski sebenarnya Juli ingin sekali bolos, namun dosen itu mengadakan kuis dadakan.
"Terima kasih sudah hadir dikelas saya.
Hasil akan diumumkan di pertemuan berikutnya."
Damar menutup kelas lalu merapikan hasil kuis kedalam tasnya.
"Juli tunggu !"
Teriak Damar yang melihat Juli menghindarinya.
Sementara yang dipanggil tidak mengindahkannya, terus saja berjalan menjauh.
"Juliana !"
Langkah Juli yang sudah menjauh dari Damar harus terhenti ketika Kevin menahannya.
"Kamu kemana saja Juls ?
Aku butuh kamu kemarin,
bisakah kita bicara sebentar ?"
Kevin sangat memohon pada Juli.
Tampak ia berfikir, tidak ada salahnya Juli menerima ajakan Kevin.
Ia juga masih memiliki urusan dengannya.
Juli mengangguk kemudian mengikuti langkah Kevin menuju kantin.
Dari arah belakang Damar memperhatikan mereka.
-Bukankah itu Damar ?
Apa mereka saling kenal . .-
Gumam Damar dalam hati melihat keakraban keduanya.
"Kamu mau pesan apa Juls ?"
Tanya Kevin hati hati, jika memang kemarin ada perkataan yang menyinggungnya.
"Nanti saja Kevin, ada masalah apa memang ?"
Juli meminta Kevin untuk segera ke intinya.
"Kakakku minggu kemarin Mengamuk. Entah apa masalahnya, tapi dia sangat tersinggung mendapat lukisanku.
Sepertinya dia sudah mulai jatuh hati pada seseorang.
Tapi ayah selalu mengekang kami berdua."
Kevin mencurahkan keluh kesahnya pada Juli.
Dia selalu nyaman jika ada didekat gadis itu.
"Aku ikut prihatin Kevin, lebih baik kamu bantu kakak kamu.
Mungkin kamu bisa mendekatkannya dengan perempuan yang dia maksud."
Tangan Juli bergerak menggenggam tangan Kevin untuk memberinya dukungan.
"Semalam dia menelpon, memintaku melukis sepasang sepatu kets. Kebetulan aku lihat kamu sedang memakainya.
Kamu maukan menjadi modelku ?
Jika kamu sungkan, aku hanya akan menggambar bagian kakimu saja."
Juli melirik kebawah, sepatu itu juga menjadi berarti baginya.
Saat ia hampir terjatuh dan dibantu oleh pak Dosen.
"Baiklah."
Jawabnya singkat.
Kevin mengajak Juli ke galerinya.
Disana kedatangan mereka sudah ditunggu oleh seseorang.
"Mas Damar,
ada apa ?"
Kevin terkejut melihat sang kakak sudah berdiri didepan ruko.
__ADS_1
"Kamu lupa, mas kan mengajar dikampus kamu. Sekalian lewat mas ingin mampir."
Meski berbicara dengan Kevin, mata Damar masih setia menatap Juli yang kini hanya diam.
-Aku tidak menyangka mereka kakak beradik.
Aku harus apa, jujur pada Kevin kalau aku menyukai kakaknya ?
Tapi jangan,
bukankah pak Damar sudah menyukai seseorang.
Sadarlah Juls kamu ini siapa !?-
"Ekhem . .
Ayo masuk !"
Kevin menyadarkan Juli dari lamunannya.
Ternyata mereka sudah selesai membuka galeri.
Selama itukah Juli bertempur dengan hati dan pikirannya.
"Mas Juli ini kurator di galeriku. Dia juga akan menjadi model lukisan yang mas Damar pesan.
Harus double loh bayarannya."
Kevin mulai menyiapkan perlengkapannya, sembari mencairkan suasana yang menurutnya sedikit tegang.
Kevin tidak ingin Juli mendapat kesan buruk dari kakaknya.
-Memang dia orangnya Kevin, tapi kenapa kalian saling mengenal ?
Apa kamu juga menyukai Juli ?-
Damar masih memperhatikan setiap gerak gerik Juli.
Gadis itu masih sibuk merapikan beberapa lukisan sebelum menjadi model.
Hampir 1 jam Kevin melukis bagian kaki Juliana, dan itu hampir sempurna.
"Kevin kenapa tidak seluruh badan saja ?"
Damar menyilangkan kedua kakinya disofa menunggu lukisannya jadi.
"Aku tidak mau !"
Jawab Juli dengan cepat menolak, sebelum Kevin berubah pikiran.
Kevin melirik dan tersenyum pada Juli, dan itu terlihat jelas oleh Damar.
"Sudah selesai. ."
Kevin berdiri meregangkan otot ototnya, ia berjalan ke toilet untuk membersihkan tangannya.
Saking lamanya duduk dengan kaku, kaki Juli kesemutan.
Saat ingin berjalan ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Sigap sekali Damar menahannya hingga memeluk Juli.
"Lepaskan aku pak !"
Pinta Juli meronta ronta.
"Aku mohon Juls, sebentar saja seperti ini.
Kenapa kamu menghindariku ?"
Damar berbisik pelan agar Kevin tidak mencurigai mereka.
"Aku . .
Aku menyukai bapak hiks."
Juli akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Damar.
"Terima kasih Juli."
Damar tersenyum mendengar ungkapan gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Tapi maaf,
aku hanya menganggapmu seperti adik perempuanku."
Jeder . . .
Tubuh Juli ibarat disambar petir, rasanya jantung Juli berhenti saat mendengar jawaban Damar.
Juli segera melepaskan pelukan Damar.
"Aku sadar sekarang,
bapak hanya kasihan padaku.
__ADS_1
Apa aku begitu menyedihkan dimata bapak ?
Ya, aku akui bekerja di hotel besar milik bapak untuk mencari uang.
Tapi bukan berarti bapak bisa merendahkanku.
Setelah ini tolong anggap saja kita tidak saling mengenal."
Juli berjalan mengambil tasnya disofa, kemudian keluar dari galeri itu.
Kevin masih mematung mendengar semua percakapan kakaknya bersama gadis yang juga ia sukai.
Hampir saja minuman kaleng yang ia genggam jatuh jika ia tidak tegar.
-Aku minta maaf Juli, aku sudah menyakitimu.
Aku tidak mungkin berebut cinta melawan adikku sendiri.
Biar aku yang mengalah.-
Damar sangat menyesal telah melukai perasaan Juli karena menolaknya.
Kalau saja tidak ada Kevin diantara mereka, bisa saja Damar membuka hatinya untuk Juli.
Bahkan belum sempat dibuka, pintu hati Damar sudah tertutup kembali.
"Mas, Juli mana ?"
Kevin datang pura pura tidak tahu apa apa.
Jika kakaknya menyukai Juli, dan gadis itupun juga maka Kevin akan membantu mereka untuk bersatu. Apapun ia lakukan demi sang kakak.
"Dia pulang, katanya ada keperluan.
Lukisannya mas ambil, nanti mas transfer ke rekening kamu."
Damar mengambil lukisan baru yang bahkan belum mengering sepenuhnya.
"Hati hati mas."
Kevin memandang kepergian Damar hingga menghilang dari pandangannya.
-Kenapa harus dia yang kamu sukai Juls ?
Kamu bahkan tidak melihatku yang terus menatapmu.-
Patah sudah hati Kevin oleh kenyataan kalau Juli lebih menyukai Damar dibanding dia.
Juli berjalan kearah halte kampus untuk menunggu bus.
air matanya tidak bisa ia tahan, mengalir begitu saja.
"Juli kamu kenapa ?"
seseorang menepuk pundaknya lalu ikut duduk bersama Juli.
"Jihane ?
Aku tidak apa apa."
Segera Juli mengusap pipinya menghilangkan jejak tangisnya.
"Kamu bisa menganggapku teman Jul, aku dan Kevin tetangga sekaligus sahabat sejak SMP. Teman Kevin temanku juga."
Jihane tersenyum pada Juli.
Sebelumnya Juli sempat berpikir kalau Jihane tipe pencemburu.
Yang akan melabrak menjambaknya saat tahu Kevin cukup dekat dengannya.
"Thank Jihane, kamu baik sekali."
Juli membalas senyumannya.
Mereka berdua saling diam menatap kearah jalan yang ramai lalu lalang kendaraan.
"Aku memang menyukai Kevin, tapi tidak ingin memaksa agar dia mau menerimaku sebagai seorang kekasih.
Bagiku dekat dengannya saja sudah lebih dari cukup."
Jihane sangat baik dan berhati besar, dia mau menerima kenyataan yang tidak berpihak padanya.
"Aku akan mencoba membantu kalian, siapa tahu Kevin mau membuka hati untuk kamu."
Keputusan Juli yang mendadak menghadirkan senyum bahagia diwajah Jihane.
"Terima kasih Juliana."
Jihane memeluk Juli erat.
"Juli saja, bukankah kita teman."
Jihane Anastasia
__ADS_1