
Kevin hanya duduk tertegun bersandar disofa setelah pertengkaran hebat cinta segitiga tadi.
Sementara Juli masih sibuk didapur membuat makanan untuknya juga Kevin.
Pikiran Kevin terus saja diisi oleh kata kata Damar yang menohok.
Benarkah dia memaksa Juli menerimanya, lalu kenapa dulu gadis itu mau diajak pacaran didepan keluarganya.
"Makanannya sudah jadi Kevin. ."
Ketiga kalinya Juli memanggil Kevin, akhirnya dia menoleh lalu berjalan kearah meja makan.
"Wangi . ."
Gumam Kevin melihat masakan berjejer rapi dihadapannya.
"Makan yang banyak, aku tahu kamu lelah sekali."
Juli memberi Kevin nasi dipiringnya beserta lauk pauk.
"Kata mang Agus kamu menjemputku, tapi kenapa pulang duluan ?"
"Aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu, aku lihat kamu masih sibuk meski sudah jam pulang."
Kevin mengingat ingat waktu yang disebutkan Juli.
Mungkin saja Juli melihat dirinya bersama keluarga pasien tadi.
"Tadi aku selesai operasi adiknya Sekar, dia merasa bersalah karena Senja sedang dititipkan bersamanya."
Kevin menjelaskan keadaan yang bisa membuat Juli salah paham.
"Memang Senja kenapa ?"
Juli prihatin dengan keadaan adik dari sekretaris Damar.
"Usus buntu. Makanannya tidak teratur akibat Sekar terlalu sibuk.
Dia menyewa jasa pengasuh."
Jadi Kevin memeluk Sekar tadi.
Tetap saja Juli merasa sedikit tidak suka melihatnya.
Sejak kapan mereka sedekat itu hingga Kevin sangat berempati.
"Kasihan dia . ."
Kata Juli mengenai kondisi Senja.
"Kamu marah sama aku ?"
Kevin bertanya hati hati pada Juli.
"Enggak, aku tahu kamu hanya menjalankan tugas sebagai dokter."
Juli sudah selesai dengan makanannya, dia berdiri menyimpan piring kotor ditempat cuci.
"Juls . ."
Panggil Kevin.
"Mmm ?"
Juli menjawab sambil merapikan meja makan bagiannya.
"Apa kamu masih merasa terpaksa menjalin hubungan denganku ?"
Pertanyaan Kevin hampir saja membuat Juli menjatuhkan gelas yang dipegangnya.
"Kevin please , , bisa kita berhenti membahas masalah ini ?"
"Sebelum kita jatuh terlalu dalam, Juli aku akan sibuk sekali nantinya.
Kamu , , bisa mundur perlahan mulai sekarang."
Kevin memberi pilihan untuk Juli agar bebas dari genggamannya.
"Kamu pikir perasaan dan hatiku ini bisa diatur sesuka kamu dan kakak kamu ?
Aku cuma manusia biasa yang ingin bahagia."
Juli menghentakkan gelas itu diatas meja, ia berjalan ke kamar tidurnya meninggalkan Kevin.
"Juls . ."
Kevin menyusul langkah kaki Juli hingga masuk ke dalam.
"Apalagi Kevin ? Apa kamu belum puas ?"
"Ayo kita selesaikan masalah diantara kita, ,"
Kevin meraih tangan Juli lalu menggenggamnya.
"Juli, aku beri kamu waktu untuk berpikir dengan siapa kamu ingin bersama."
Kevin menarik nafas sebelum melanjutkan kata katanya.
"Ayo kita akhiri hubungan ini . ."
Hati Juli bagai diiris pisau kemudian ditusuk tusuk oleh tangan Kevin sendiri.
Perih mendengar ucapannya.
"See, cuma sampai disini usaha kamu. Sementara aku masih terus berjuang mempertahankan hubungan kita."
__ADS_1
"Ya, aku menyerah Juli.
Sekeras apapun usahaku meyakinkan kamu tetap saja tidak bisa."
"Baik aku terima keputusan kamu Kevin, dan setelah ini aku tidak akan pernah membuka hatiku untuk siapapun diantara kalian."
Juli berbalik memunggungi Kevin meminta dia segera pulang.
Kevin masih ingin bersamanya, tapi dia tidak boleh egois lagi menyampingkan perasaan Juli.
"Aku pergi Juls . ."
Kevin pamit.
Biar seperti ini saja, semua terjadi demi kebaikan bersama.
Juli berharap besok dan seterusnya ia tidak akan lagi berurusan dengan mereka.
"Baik Juls, ini awal yang baru buat kamu."
Juli menyemangati dirinya sendiri.
🌿🌿🌿
Dihari bahagia Kevin yang diwisuda terasa kurang sempurna tanpa kehadiran Juli disisinya.
Laki laki itu menampilkan wajah datar menerima ucapan selamat dari teman juga juniornya.
"Kita lulus Bro . . ."
Adam datang merangkul Kevin ditengah riuh suasana wisuda.
Mereka baru saja selesai menerima tropi kelulusan.
"Iya, kalo loe butuh kerjaan jangan sungkan telpon gue."
Kevin tahu Adam tidak secemerlang dirinya dalam hal ekonomi.
Pas pasan orang tuanya membiayai kuliah Adam.
"Oh pasti.
Tapi loe ada didaftar terakhir gue haha."
Adam menanggapinya santai tanpa ada beban.
"Juli . ."
Lirih Kevin.
"Etdah ni bocah, udah jadi dokter bedah masih aja halu."
Adam menepuk pundaknya menyadarkan Kevin.
Ternyata Kevin tidak sedang berkhayal mengenai Juli.
"Selamat Kevin . ."
Juli menyerahkan buket bunga mawar cantik pada Kevin.
"Thank you Juls . ."
Kevin tersenyum menerimanya.
Putus bukan berarti pertemanan mereka berakhir begitu saja.
Dan Julipun berpikir sama.
"Kevin . ."
Seorang laki laki ikut bergabung diantara mereka.
"Mas Damar, apa kabar ?"
Kevin memeluk sang kakak,
sudah hampir seminggu setelah pertengkaran mereka tidak saling bertemu muka.
Kevin semakin sibuk sebagai dokter juga Damar selalu tugas keluar kota.
Juli akhir akhir ini berubah menjadi lebih pendiam dari biasanya.
"Baik, congrats ya Kevin. Mas bangga sama kamu."
Damar memberi ucapan selamat pada Kevin dengan tulus.
"Terima kasih mas."
Balas Kevin.
"Eh foto bareng pak, Juls !"
Adam memecah kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
Kevin memberikan handphonenya pada Adam.
Lalu Juli berdiri ragu disebelah kiri Kevin sementara Damar dikanannya.
Cekrek . .
Tiga insan dimabuk asmara sudah harus bertindak dewasa.
Melupakan masa kemarin dan melangkah maju ke depan.
Tidak ada lagi perang dingin ataupun saling curang.
__ADS_1
Selain Damar, Zara dan Ditya juga turut hadir merayakan kelulusan anak kedua mereka.
"Mah, yah, kalian kenapa repot repot datang ?"
Kevin menyalami kedua orang tuanya diikuti Juli dan Adam.
"Nak Juli apa kabar ?"
Zara akhirnya bisa bertemu Juli kembali setelah sekian lama.
"Baik tante . ."
Dret dret . .
Bunyi handphone Juli memotong percakapan keduanya.
Juli meminta izin mengangkat telpon lebih dulu.
"Juli permisi pamit duluan, sekali lagi selamat dan sukses ya Kevin.
Aku bangga sama kamu."
Juli tersenyum sambil pamit ke semuanya.
"Hati hati Juls. ."
Kevin masih menaruh perhatiannya pada Juli.
Terlihat jelas ada kecanggungan diantara mereka.
"Kalian baik baik saja kan ?"
Zara memastikannya langsung.
"Kevin dan Juli udah putus mah . ."
Bernada sesal Kevin menyampaikan kabar kurang baiknya.
"Loh kenapa ?"
Zara melongo tidak percaya.
"Kita ngobrol di coffeeshop gimana ? Biar enak, ,"
Ditya mengajak keluarganya kembali ke hotel.
"Setuju."
Damar menjawab cepat, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Kevin.
"Nak Adam ikut ya ?!"
Zara tidak lupa mengajak Adam sahabat putera kesayangannya.
"Terima kasih tawarannya tante, om. Adam harus segera pulang menemui orang tua.
Kevin, gue duluan ya.
Permisi om tante, pak Damar."
Adam mengikuti kepergian Juli.
Dia tidak mungkin mendengarkan masalah keluarga Kevin.
"Jangan lupa berkabar Dam."
Kevin setengah berteriak agar Adam bisa mendengarnya.
"Kita berangkat masing masing."
Damar membubarkan, mereka memang membawa mobil sendiri sendiri.
Juli bingung kenapa dihari libur dirinya masih dipanggil ke kantor oleh Malvin.
Padahal pekerjaannya tidak ada yang terbengkalai.
Tapi dia harus menuruti perintah bosnya, kalau tidak Malvin akan menghukumnya dengan segudang tugas.
Cepat cepat Juli berjalan keluar dari Taxi menuju kantor DGC.
setibanya Juli didepan ruangan dia menarik nafas agar tidak terengah engah.
tok tok tok. . .
Juli mengetuk pintu kemudian langsung masuk.
dilihat olehnya Malvin duduk bersandar dikursi putar menatap jendela.
Visual Dr. Tiara
Paling nyambung sama Damar dan Kevin. Hampir ditidurin Romi mantan manajer kafe miliknya sendiri.
Adam, sahabat terbaik Kevin dikampus. satu satunya tempat Kevin curhat saat galau ataupun kesal pada kakaknya.
Malvin Eka Setya, anak pertama Milka dan Erwin. Slengean, badboy, suka godain cewek. paling nurut dan takut sama Damar.
Miley Dwi Setya.
__ADS_1
Adik dari Malvin, paling benci sama kakak kalau darah playboynya muncul.
dia tidak segan segan mengerjai Malvin jika dia kurang ajar sama perempuan.