Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Barengan


__ADS_3

Sampai di ruangan, ruangan yang awalnya ricuh, seketika diam karena mendengar ringisan Laila. Safira dan Nafisa yang kebetulan satu ruangan dengan Laila seketika tertawa tertahan melihat penderitaan sahabatnya.


Dan rupanya juga, Erlangga satu ruangan dengan Laila. Nathan sudah cecengiran gemas melihat itu, sedangkan Erlangga hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Laila menatap tajam sebentar kearah kedua sahabatnya, kemudian menatap miris kearah Erlangga yang sedang menyunggingkan senyum. 'hancur sudah harga diri didepan gebetan!' kesal Laila dalam hati, sambil memonyongkan bibirnya dan sesekali meringis karena jeweran Surya.


"silahkan Nurlaila, akui kesalahan lo di sini sekarang! Dan kenalin diri lo lebih dulu." ujar Surya sambil melepas jewerannya. Ia menatap ngilu kearah telinga Laila yang memerah, apakah ia terlalu keras menjewernya? Tentu saja!


"hai???" sapa Laila berbasa basi, dan di jawab hai juga oleh seluruh peserta.


"halo???" Laila terus mengulang kata, dan di jawab juga oleh mereka sambil tertawa.


"hheh! Lo mau ditambahin hukumannya cepet yang bener!" perintah Surya.


Laila melirik Surya sambil nyengir dengan tampang watadosnya, seluruh penghuni ruangan tak dapat menahan tawa nya, dan seketika itu juga tawa mereka pecah.


Surya memijat pelipisnya bingung, "lanjut!" ucapnya singkat, dan dibalas anggukan oleh Laila.


"Assalamualaikum, kenalin nama gue Nurlaila, disini gue sebagai orang yang jadi korban jeweran kak Ketos galak karena gue telat dan gak matuhin peraturan. Alasannya bukan karena kesiangan bangun melainkan kesiangan berangkatnya, dan saya udah minta kedua sahabat saya yang di sebelah sana untuk menjemput saya, tapi mereka menolak dan memilih berangkat dengan orang terkasih katanya. Kenapa saya gak diantar orang tua atau supir? Karena Papa saya sedang tidak ada di rumah dan menyewa supri saya, dan Mama saya tidak bisa mengendarai mobil, terutama saya. Dan pas jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang 15 menit, Mama saya baru menemukan ide yaitu, menggunakan taksi online. Hampir kurang lebih lima menit saya menunggu taksinya datang, dan akhirnya saya datang kesiangan walaupun lebih 2 sampai 3 menit, tapi tetap di hukum dan kalian tahu hukumannya apa. Yah kak Ketos galak ngasih pilihan, lari sepuluh putaran atau di jewer dan mengakui kesalahan, secara refleks saya ngomong di jewer, terus tanpa negosiasi ulang kak Ketos galak langsung jewer saya tanpa iba, udah gitu aja makasih." tutur Laila panjang kali lebar kali tinggi.


"Nurlaila, itu namanya bukan sebuah pengakuan kesalahan, melainkan curahan hati seorang calon siswa yang terlambat!" ujar Surya sambil menggeleng.


Laila hanya nyengir, "sama kak, kan aku telat hhee." sela Laila.


"eh, lo tadi awalan ngomong 'lo gue' napa di tengah tengah jadi 'saya kamu' kan nggak nyambung hhhaaa...." sahut Nathan sambil terpingkal.

__ADS_1


"yang ngomong gue, yang punya mulut gue, kenapa lo yang sewot?!" sarkas Laila sambil menatap jengah kearah Nathan. 'temen gebetan gue mulutnya emberT_T' ringis Laila dalam hati.


"kok ngegas? Kasih tau juga huh!" balas Nathan tak kalah sarkas.


"udah udah stop!" seru Surya. "ini sekolah bukan tempat gulat, sebaiknya lo Nurlaila duduk di bangku kosong dimana aja terserah karena gue gak peduli." ujar Surya datar, kemudian berlalu karena temannya yang tadi menitipkan ruangan tersebut sudah kembali.


"Ga usah panjang panjang manggilnya Kak, Laila aja hhee..." ucap Laila sambil tersenyum genit dan berlari kearah bangku kosong.


"Ya Allah, ada yah makhluk kek gitu!" gumam Surya kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


"La sini." seru Nafisa. Laila menghampiri mereka berdua dan menatap mereka datar. Namun rupanya kedua sahabatnya telah menyiapkan bangku untuknya, walaupun satu meja duduk sendiri sih.


"La sorry? Yah?" ucap Safira sambil sedikit memohon.


"buat?" tanya Laila santai.


"ouhh itu... Gak gue maafin!" ujar Laila yang awalnya santai mendadak ganas dan menakutkan bagi Nafisa dan Safira.


Semua mata menatap mereka aneh terutama Erlangga dan Nathan.


"yyahh La, ko mah gitu, Maafin yah? Kita bakal ngelakuin apapun buat lo asal jangan yang aneh." bujuk Safira sambil menarik narik tangan Laila yang terulur di meja. Nafisa mengangguk mendengar bujukan Safira .


"yakin? Apapun?" tanya Laila memastikan. Dan di jawab anggukan oleh kedua sahabatnya.


"traktir gue makan,,, hufttt..... Seblak, mie ayam, spaghetti, martabak telor, martabak manis rasa keju sama coklat, jangan lupa juga desert choco chese kesukaan gue, gimana?" tutur Laila menyebutkan makanan bujukan yang ia ingin.

__ADS_1


Semula banyak calon siswa dari lelaki sampai perempuan menantikan ucapan Laila. Dan pada akhirnya setelah mendengar, para lelaki meringis mendengar celotehan Laila yang minta dibelikan hal sebanyak itu.


Nafisa dan Safira menelan ludah susah payah, jika begitu? Ia tak bisa membantah. "La lo gak bakal sakit perut apa makan segitu banyak?" tanya Nafisa ragu ragu.


"gak bakal, asal kalian ikhlas ngasihnya." jawab Laila lagi dengan santai dan tampang watados nya itu.


"ini mah si pemerasan." gumam Safira dan ternyata terdengar oleh Laila.


"gak mau tahu, kalo emang lo pada mau gue maafin." sahut Laila megedipkan matanya.


"ok, ok kita turutin mau lo, asal maafin kita." final Safira kemudian balik badan karena panitia lain yang bukan penjaga ruangan tersebut datang untuk membagikan kertas tes.


Laila tersenyum penuh arti, sebentar lagi ia akan makan makanan kesukaannya huahhhaaaaa. Kejam memang, tapi terkadang kedua sahabatnya juga selalu begitu, heumm?


Kertas tes sudah dibagikan keseluruh calon peserta. Ruangan tampak sepi, semua calon peserta dengan khusyuk mengerjakan tes, yang terkadang gak masuk logika dan bikin pusing tujuh keliling.


"ini teka teki logika jebakan sih keknya." gumam Laila yang duduk seorang diri di bangku tengah tengah.


Untungnya dengan mudah Laila dapat mengerjakan hal itu. Sama halnya dengan Laila, Erlangga nampak tenang mengerjakan semua soal yang berisi 17 pertanyaan nyeleneh dan harus menggunakan logika banget.


Tak butuh waktu lama, Laila sudah selesai mengerjakan soalannya, Erlangga juga. Secara bersamaan mereka berdiri untuk memberikan kertas tes tersebut ke panitia yang berjaga.


Laila tertegun, namun tak menghiraukan hal itu, dan ia berjalan kedepan untuk memberikan kertas tes. Tak seperti Laila, Erlangga biasa saja tak ada raut kaget ataupun tertegun di wajahnya, ia hanya santai dan berjalan perlahan untuk kedepan.


Rupanya mereka berdua yang selesai lebih awal mengerjakan tes absurd itu. Laila kembali duduk santai sambil sesekali mengganggu kedua sahabatnya yang sedang serius.

__ADS_1


"Sa, itu yang nomer 12, jawabannya gak masuk akal banget lhoo... Lo tau nggak?" ujar Laila dan tak ditanggapi oleh Nafisa.


"Ra, lihat tuh no 15, paling mudah hhee." ujar Laila lagi kali ini kepada Safira


__ADS_2