
Hari hari Zoya disibukan dengan mengurus Baby Dee. Bergantian dengan ibunya, jika sedang tidak sibuk mengurus catering.
Seperti ini sudah cukup, tidak ada hal lain yang Zoya inginkan.
Mimpi yang Zoya bangun untuk mendirikan usaha organizer hanyalah angan semata.
Tidak menyerah begitu saja, sekarang Zoya membuka butik kecil kecilan diteras rumahnya.
"mpok Zoya, aye mau beli baju . .!" seorang tetangga berteriak memanggil Zoya yang tengah mengganti popok baby Dee.
"iya Des, pilih saja dulu". Beres memasang popok, Zoya menggendong baby Dee keluar rumah.
Sudah hampir sebulan Zoya melakukan kedua aktifitas itu. Mengurus bayi dan berjualan pakaian.
"yang ini aja pok, nih uangnya cepek". Gadis tomboi itu mengambil plastik berlogo D'fashion dan memasukan sendiri kemeja pilihannya.
"thanks ya Des".
Target pasar usaha Zoya sangat sederhana, yaitu kalangan remaja sampai ibu ibu di sekitar rumahnya. Untuk daerah luar, Zoya menjual secara online.
"cucu grand ma . . Ya ampun Dee".
Bu Aulia datang dari luar pagar rumah Zoya, merentangkan tangannya meminta menggendong Dee.
"look at there Dee, grand ma datang". Zoya menimang nimang Dee dan menyerahkannya ke pangkuan bu Aulia.
"tokonya ramai Zoy ?"
Tanya bu Aulia penasaran melihat stok barang Zoya yang mulai berkurang.
"iya bu, lumayan. Zoya belum belanja lagi, ibu juga ada pesanan soalnya".
Zoya mengajak bu Aulia masuk dan menyiapkan minum.
"baby Dee sudah imunisasi ?".
Waktu imunisasi pertama bu Aulia sengaja datang untuk menemani cucunya ditimbang.
"belum, nanti lusa mi. Sekalian Zoya mau minta tolong ke mami, Zoya butuh tanda tangan Ditya untuk akta kelahiran".
Sejak keluar dari rumah sakit sesuai keputusannya, Zoya tinggal bersama bu Atikah. Ditya hanya mampir sebentar setiap harinya.
Menginap kalau memang Zoya mengizinkan, tapi sejauh ini belum sama sekali.
"nanti mami kasih tahu Ditya. Duh kapan cucu grand ma main ke rumah ? Yang lain kangen banget sama baby Dee".
Zoya hanya tersenyum, ia senang melihat banyak orang yang menyayangi Dee.
"mi, apa Ditya masih menemui wanita itu ?"
Semoga saja Zoya bisa mengorek informasi dari bu Aulia, siapa tahu pak Mahesa pernah bercerita.
"sepulang kami dari rumah sakit, papi marah besar. Bahkan memanggil Conni ke rumah, dan mempermalukannya didepan Aditya".
-flashback-
Ketika Ditya pulang ke rumah orang tuanya bersama mami dan adiknya, pak Mahesa sudah duduk disofa. Terlihat seorang wanita yang tengah berdiri tertunduk.
"meskipun Zoya menjadi sekretaris saya cukup lama, dia tidak pernah sedikitpun memakai perasaannya. Dia tahu saya adalah orang tua dari laki laki yang sangat dicintainya. Apa dia pernah berusaha mengambil hati saya ? Tidak sama sekali".
Pak Mahesa menghembuskan nafas kasar.
Bagaimana caranya agar Conni bisa melepaskan genggamannya dari Ditya. Memecatnya akan percuma, jika mereka masih bertemu secara diam diam.
"saya sudah berusaha pak untuk menghapus perasaan saya. Tapi percuma, jika anak bapak juga nyaman dengan saya".
__ADS_1
"tidak Conni !"
Ditya memotong perkataan Conni.
"bagi saya kamu hanya pelampiasan, kita saling membutuhkan. Kamu menyukai saya, dan saya butuh teman. Perasaan saya hanya untuk Zoya, ini semua salah saya".
Pernyataan Ditya berhasil membuat Conni tak berdaya. Begitukah arti dirinya selama ini bagi Ditya ? Kenapa harus laki laki itu melakukan hal kejam padanya yang sudah tulus.
"baik, akan saya ingat baik baik ucapan bapak. Semoga tuhan membalas perbuatan bapak".
Conni pergi dengan rasa malu dan juga penyesalan yang mendalam. Kalau tahu begini akhirnya, dia tidak akan sudi menghabiskan waktunya bersama Ditya.
---
"yang mami dengar, Conni mengundurkan diri secara baik baik. Dengan alasan, hotel tempatnya bekerja dulu masih membutuhkannya".
Secara rinci bu Aulia menceritakan kejadian itu. Berharap Zoya bisa percaya dan mau memaafkan Ditya.
"kasihan dia".
Ikut prihatin, Zoya merasa Conni juga menjadi korban keegoisan laki laki yang masih berstatus suaminya itu.
"mami yang kasihan sama kamu, juga baby Dee. Cepatlah kembali Zoya, tidak baik berlama lama pisah ranjang."
Tidak ada yang berharap mereka akan seperti ini saja tanpa ada perubahan. Rumah tangga keduanya masih bisa diselamatkan. Asal ada salah satu yang menurunkan ego dan gengsinya.
🍀🍀🍀
Pagi yang ceria menyambut baby Dee yang hendak melakukan imunisasi. Zoya menitip toko pada ibunya yang memiliki waktu senggang.
Kebetulan posyandu tidak jauh dari rumahnya, cukup berjalan kaki sebentar akan sampai di balai desa.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu yang sudah terbuka sejak tadi.
Bu Atikah sedang menggendong Dee menyambut kedatangan Ditya.
"Mau imunisasi ya jagoan ayah ?". Ditya menaruh beberapa paperbag diatas meja, lalu menggendong Dee.
"ibu panggil Zoya dulu, tadi masih siap siap".
Bu Atikah membiarkan Ditya melepas rasa rindunya pada Dee.
Dikamar, Zoya masih mencari keberadaan buku laporan imunisasi Dee.
"Zoya, ayo berangkat. Nanti keburu siang, kamu sedang apa sih ?"
Zoya yang sedang mondar mandir membuat bu Atikah pusing melihatnya.
"itu loh bu, buku imunisasinya Dee masih belum ketemu".
Agar tidak lama, Bu Atikah mengedarkan pandangannya ikut mencari dimana letak buku itu.
"hmm ini apa Zoya ?"
Ternyata buku imunisasi Dee sudah masuk ke tas perlengkapannya. Mungkin Zoya lupa kalau ia sudah memasukannya.
"Dee mana bu ?"
Zoya meraih tasnya dan hendak keluar kamar, ia sedikit terperanjat melihat sosok pria yang tengah berdiri menunggunya.
"kamu kenapa ?"
Ditya mendapati Zoya yang tampak shock itu.
__ADS_1
"tidak, kamu kenapa disini ? Tidak ke kantor ?"
"tanda tangan akta, ayo aku antar ke posyandu".
Ditya pergi begitu saja supaya Zoya mengikutinya tanpa berdebat.
mereka berjalan beriringan menyusuri gang yang mobil masih bisa masuk itu.
tidak ada yang bersuara sedikitpun, hanya suara langkah yang terdengar.
"apa Dee rewel ?".
Ditya masih setia menggendong Dee yang tertidur sejak berangkat dari rumah.
"tidak, Dee sangat aktif. kadang suka ngajak begadang".
ada rasa gugup menyelimuti perasaan Zoya, seperti sedang melalui masa pendekatan kembali.
"malam ini aku menginap boleh ? supaya bisa gantian jaga Dee".
untuk kesekian kalinya Ditya berharap bisa tidur bersama anak dan istrinya. dia sangat merindukan Zoya.
"kalau kamu tidak repot bolak balik, silakan saja. mungkin Dee juga membutuhkan kehadiran kamu".
senang bukan main, Ditya mendengar persetujuan Zoya.
mereka sampai di posyandu, disana beberapa ibu sudah datang bersama bayi dan balitanya.
"wah baby Dee datang sama ayahnya ya ? pasti naik nih berat badannya".
bu Bidan menyambut keluarga kecil itu, dan membiarkan Dee diletakkan di timbangan.
"iya bu bidan. baby Dee makin hari makin jago minum asinya".
Zoya tersenyum menceritakan Dee yang kini terasa makin berat.
Ditya memperhatikan Zoya, dia bahagia melihat Zoya tersenyum seperti tadi. semoga usahanya berbuah kemajuan.
"bulan kemarin 3,4 sekarang jadi 3,8 kg. wah hebat ya baby Dee".
"mas, Dee naik timbangannya"
refleks Zoya memegang lengan Ditya karena sangat bahagia mendengar pertumbuhan putranya.
"iya sayang".
tak kalah latah, Ditya juga kembali memanggil Zoya dengan sebutan sayang.
mereka bertemu mata, menyadari hal yang tidak sengaja keduanya lakukan.
"bu, bayinya akan mendapat vitamin. tolong dibantu".
Zoya menggendong Dee dan, sementara bu bidan mulai memasukan vitamin kemulut Dee yang masih tidur.
Ea . . Ea . . Ea . .
menerima sesuatu selain asi untuk pertama kalinya, Dee menangis kencang sekali.
"cup cup sayang . . Dee bayi pintar, jangan nangis ya sayang".
Zoya terus menimang Dee supaya berhenti menangis.
menyaksikan usaha Zoya menenangkan Dee sangat membuka mata hati Ditya.
tidak seharunya dulu dia menyakiti perasaan wanita yang telah berjuang mengandung dan melahirkan buah hatinya.
__ADS_1
"aku minta maaf Zoya, aku mencintai kamu". Ditya ikut mengobrol dengan Dee mengikuti Zoya. tak lama kemudian Dee berhenti menangis.