Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#82


__ADS_3

Semua keluarga sudah kumpul untuk sarapan, tinggal pengantin saja yang belum muncul.


Memang suasana selalu pecah ketika dua keluarga besar menyatu. Canda tawa menghiasi obrolan yang kadang tidak terlalu penting. Contohnya, Arga sudah mulai mengompori mertuanya kalau Ditya pasti bringas meniduri Zara.


"semoga saja cepat dapet cucu aku . ."


Harapan Kusuma diamini semua anggota keluarga.


"nah itu mereka !"


Mahesa menunjuk kedatangan Ditya dan Zara yang keluar dari lift.


"pagi semua . ."


Ceria Zara menyapa keluarga yang duduk dikursi, yang mejanya memang sengaja disatukan.


"Zara cepat sini, Dee gak mau makan sebelum kamu muncul."


Aulia meminta Zara duduk disebelah cucu pertamanya yang masih merajuk.


"Dee, makan bareng sama onti ya , ,"


"mama Zara, sejak kemarin Dee panggil kamu mama. Katanya kalian sampai melupakan Dee, dia tuh kangen kalian yang sibuk beberapa hari ini."


Perkataan Mahesa mendapat arti lain bagi Zara, benarkah dirinya sudah merebut perhatian sang ayah pada anaknya.


"Dee gak masalah, asal mama cepet kasih adik buat Dee."


Langsung meluncurkan serangan, semuanya terkekeh mendengar penuturan Damar.


Ditya hanya diam tak menanggapi, dia masih kesal tidak dapat jatah pertama dari istrinya.


"kayaknya belum gol deh, muka ayah kamu kusut gitu Dee. Macam kemeja belum di gosok haha. ."


Gelak tawa Arga diikuti senyuman prihatin anggota yang lain.


"sialan lu Ga !"


Ditya melempar napkin ke arah Arga yang duduk didepannya.


Telaten sekali Zara memilih menu makanan untuk Dee di buffet. Dengan lahap Dee menikmati sarapannya, yang lain juga begitu. Kecuali Zara, ia masih fokus menatap Dee yang kini menjadi anaknya.


-bagaimana jika aku tidak bisa jadi ibu yang baik untuknya ? Apa aku bisa sabar, aku hanya ibu sambung. Aku takut tidak bisa menjaganya, atau mungkin menyakiti perasaannya-


Keresahan mulai hadir bergejolak dihati Zara. Kalau ada yang bertanya, jujur dia belum siap jadi seorang ibu. Meski sudah dekat dengan Dee, lain halnya dengan urusan merawat dan mendidik.


Iya kalau anak sendiri, Zara akan leluasa melakukannya. Belum lagi beradaptasi dengan kesibukan Ditya, ah apa yang akan terjadi Zara tidak tahu.


"Zara, ayo makan."


Ditya memegang tangan Zara berbisik, sejak tadi istrinya diam tidak memakan apapun.


"iya mas."


Berusaha mengembangkan senyumannya, Ditya tidak boleh tahu ada keraguan dalam dirinya.


Hari senin ini Dee kembali ke sekolah untuk belajar, Ditya yang masih cuti bersama Zara mengantarnya.


"Dee belajar yang rajin ya, inget jangan beli makanan sembarangan."


Zara mengantar Dee sampai masuk kedalam gerbang.


"iya mah, nanti jangan lupa jemput ya ?! Kan ayah suka begitu, sekarang ada mama yang bisa jemput Dee."

__ADS_1


"iya, mama janji. Masuk gih, nanti keburu bel."


Sebelum pergi Dee mencium tangan Zara, mereka saling melambaikan tangan.


"kamu cocok jadi mama, Dee sampai bergantung sama kamu."


Ditya sengaja tidak turun, dia ingin istrinya lebih dekat lagi dengan Dee.


"Tapi aku selalu takut, tidak bisa jadi mama yang baik untuknya."


Zara menunduk meremas kedua tangannya.


"pelan tapi pasti, kamu akan terbiasa."


Ditya mengelus kepala Zara lalu kembali melajukan mobilnya.


Ditya mengajak Zara berbelanja ke supermarket, untuk membeli keperluan juga bahan makanan.


"kita akan tinggal dirumah lamaku, lokasinya dekat sama tempat kerja. Tidak apa kan ?"


Ditya membantu mendorong troli sementara Zara sibuk mengambil barang.


"aku ikut kamu saja mas."


Sebenarnya Ditya bingung harus tinggal dimana, dia hanya ingin memulai hidupnya yang baru bersama Dee dan juga Zara.


Waktu mereka berbelanja selesai bertepatan dengan jam pulang sekolah dee. Sekalian pulang, Ditya menjemput Dee ke sekolahnya terlebih dulu.


"ayah. . Dee mau makan siangnya sama beef teriyaki, boleh kan ?"


Didalam mobil Dee meminta izin pada ayahnya, agar Zara memasak menu yang ingin sekali Dee makan.


"tanya mama saja Dee, kalau bisa ya boleh aja."


Ditya menghela nafas, pikrinya Zara tidak akan bisa masak itu malahan menyanggupi.


"mas, kamu harus membiasakan diri menerima hal yang berkaitan dengan mbak Zoya. Coba deh melawannya, pasti akan lebih ringan."


Zara tahu kalau Ditya masih menutup diri, tidak ingin teringat pada Zoya melalui hal hal yang bersangkutan dengannya.


"iya kamu benar sayang . ."


Mendengar Ditya memanggilnya sayang, Zara tersenyum bahagia. Semoga seperti ini selalu, jangan ada duka yang menyelimuti rumah tangganya.


Lelah sekali, Zara baru selesai membersihkan badannya. Setelah pindah rumah, memang tidak banyak yang dibawa namun cukup menguras tenaga. Dirinya harus memasak, membersihkannya kemudian merapikan keperluan suami dan anaknya.


Zara bahkan tidak sampai memikirkan sejauh ini menjadi seorang istri sekaligus ibu.


"sini, aku bantu."


Ditya meraih handuk membantu mengeringkan rambut istrinya.


"terima kasih suami."


Rasa letihnya hilang ketika Ditya memanjakkan dirinya dengan hal sederhana.


"kamu pasti lelah sampai harus keramas, padahal semalam kamu juga melakukannya."


"aku bersih bersih mas, sudah selesai tamu bulanannya."


Mendengarnya Ditya langsung tersenyum lebar, akhirnya bisa melakukan hubungan suami istri.


"Berarti aku boleh melakukannya ?"

__ADS_1


Zara hanya mengangguk malu, pipinya mulai merah merona.


Tangan Ditya langsung membopong tubuh Zara, menidurkannya di tempat tidur.


Kebetulan sekali Zara belum memakai pakaiannya.


Perlahan Ditya menciumi setiap bagian tubuh Zara, mulai dari kening lalu turun ke bibirnya.


Ditya yang hendak membukakan jubah mandi Zara, namun pintu mendadak terbuka. Dee muncul tanpa mengetuk, Zara langsung menutup tubuhnya kembali.


"mah, Dee gak bisa tidur."


Anak laki laki itu membawa bantal sambil mengucek kedua matanya, berdiri diambang pintu.


"mama pakai baju dulu, Dee tunggu di kamar ya."


Zara melirik kearah Ditya, memintanya mengantar Dee kembali ke kamar selagi ia pakai baju.


Ditya berjalan malas, lagi lagi acara romantis mereka harus terhenti.


Di kamar Dee, ia menepuk nepuk lengannya agar tertidur kembali bersenandung lagu penghantar tidur. Tidak butuh waktu lama Dee kini sudah terpejam kembali.


Matanya juga sudah mulai tak terkendali, Zara sangat mengantuk karena kelelahan.


Sementara Ditya kelabakan menunggu Zara dikamar pribadinya. Ini sudah lama, dia perlu menyusul istrinya.


Saat membuka pintu dengan hati hati, terlihat pemandangan menyejukkan. Zara tertidur disamping Dee anaknya, begitu nyamannya Dee berada disamping Zara membuatnya merasa tenang.


Mungkin bukan sekarang, Ditya harus kembali bersabar melakukannya di waktu yang tepat. Dirinya yang juga lelah, ikut berbaring disebelah Dee. Mereka tidur bersama disatu ranjang.


"mas . . Bangun"


satu jam sebelum waktu subuh, Zara membangunkan Ditya untuk pindah ke kamar mereka.


"hmm, jam berapa ?"


suara serak khas bangun tidur, Ditya mencoba membuka matanya.


"jam 3 mas, kamu pindah ke kamar aja mas."


masih mengantuk sekali Ditya bangun dan berjalan keluar kamar Dee. Zara membantu suaminya agar tidak oleng dengan memapahnya.


"Zara, aku lagi pengen. kamu harus tanggung jawab sudah membangunkannya !"


Zara mengerutkan keningnya heran, dia memang membangunkan Ditya secara paksa. tapi apa hubungannya dengan hubungan intim. Ditya menunjuk miliknya dengan menempelkan tangan Zara.


"mas . ."


Refleks Zara menarik tangannya dari benda yang menurutnya aneh. ini pertama kalinya Zara menyentuh milik seorang pria.


Ditya melakukan tugasnya sebagai seorang suami, memasukkan miliknya pada Zara setelah cukup lama membuat rangsangan untuknya.


"Mmmas, sakit . ."


Zara merintih, menggigit bibir bawahnya setelah milik Ditya merobek asetnya.


tangannya mencengkram punggung Ditya yang terus menghentakkannya. Mereka mengalami puncak rasa nikmat secara bersamaan.


Ditya menghapus air mata Zara yang terjatuh lalu mengecup keningnya.


"terima kasih Zara."


bisiknya ditelinga Zara, nafas mereka masih panas memburu.

__ADS_1


sudah adzan, Zara harus mulai bergegas mandi kemudian menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. aktifitasnya terganggu karena rasa sakit yang terasa akibat se*s pertamanya bersama Ditya.


__ADS_2