
Suasana cafe benar benar riuh di jam makan siang.
Para pelayan lalu lalang menyediakan minum juga makanan ke setiap meja.
Ada juga petugas kebersihan merapikan kembali meja untuk tamu waiting list.
Tiara benar benar menaruh perhatiannya pada kemajuan cafe berusia tua itu.
Ia sukses mempertahankan eksistensi MCafe meski sibuk jadi seorang dokter.
Sejak pertama dibangun Aulia tidak begitu yakin akan keberhasilannya. Maka dari itu MCafe masih betah dengan 1 lantai.
Diisi 50 meja masing masing 4 kursi dan siang itu full hingga banyak yang masih antri.
Diantara keramaian itu, hadir juga muda mudi duduk berhadapan satu sama lain dimeja yang sudah digabung.
"Apa apaan ini ?"
Malvin berdecak kesal menatap jauh hingga kursi ujung pandangnya.
"Ya farewell party buat elu lah."
Damar menggeleng kepala Malvin masih saja bertanya.
"Gue pikir saat lu bilang lunch bareng, artinya tim DGC yang hadir. Nah ini , , se RT lu undang Damar."
Malvin sewot karena memang Damar tidak bilang kalau yang lainnya akan hadir.
"Eh Malvin, kamu gak anggap Kevin sama Tiara sodara kita ?
Aku aduin kamu ke om Ditya."
Miley melempar dinner napkin kearah wajah Malvin, dia duduk dikursi tunggal.
Juli hanya terkekeh geli melihat tingkah kocak mereka.
Tiara menutup wajahnya malu punya sepupu macam Malvin.
"Harusnya gue ajak Bara sekalian, sayang dia lagi jaga."
Tiara sengaja menyulut Malvin.
"Gak ada yang salah kali Vin. Kita semua itu care sama loe, peduli agar loe cepat enyah dari hidup kami."
Damar sekali lagi mentertawakan Malvin.
Juli curi pandang kedepan melihat Kevin duduk diapit Tiara dan Sekar. Sementara ditengah tengah antara Miley dan dirinya ada Damar.
"Mulut lu Damar, harusnya pake latihan ciuman sama cewek biar gak nyosor ngejek gue mulu."
Kecuali Miley, semuanya beralih menatap Malvin tajam seolah mengingatkan mereka pada cinta rumit kemarin.
"Eh eh salah ngomong ya gue, Mil cepetan suruh sajiin makanannya ! Ntar keburu orang orang sibuk ini habis jam istirahatnya."
Malvin salah tingkah mendapat serangan dari semuanya.
"Makanya jangan banyak pidato. ."
Miley mengangkat tangannya agar pelayan datang.
Tak lama mereka secara khusus dilayani.
Disuguhkan hidangan terbaik terfavorit di MCafe.
Sejak tadi Kevin tidak banyak bicara, ia sengaja mengajak Sekar agar merasa nyaman.
"Enaknya kapan kapan kita liburan bareng, , biar gak jenuh kerja.
Iya kan Kevin ?"
Tiara memecah suara dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.
Mereka masih fokus menikmati makanan.
"Ide bagus itu Ra, nanti aja tapi kalau Malvin sudah disana . ."
Gelak tawa hadir mendengar keusilan Kevin menggoda Malvin.
"kakak adik sama saja sifatnya. ."
Ketus Malvin menanggapi.
"Elu sama Miley beda tuh . ."
Tiara menoyor pelan kepala Malvin saking senangnya mengerjai anak itu.
Juli kagum melihat kekompakan dalam hubungan persaudaraan mereka. Keluarga besar harmonis penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Berbeda dengan dirinya yang hidup sendirian.
Juli menunduk berusaha menetralkan perasaannya. Mengusir jauh jauh rasa iri dihatinya.
Mungkin saja jika Juli bisa menjadi bagian dari keluarga mereka, hidupnya akan penuh warna dan terisi.
Dibawah meja, Damar menggenggam tangan kiri Juli diatas pahanya.
Sontak Juli melirik kesamping, sementara Damar masih asik bergurau dengan yang lain.
Juli tahu betul apa mau Damar.
Tapi ia belum bisa membuka hatinya kembali.
Ia butuh jeda menerima semua kejadian demi kejadian dalam hidupnya.
Beri juli kesempatan untuk menghirup udara segar setelah dadanya sesak cukup lama.
Tiba tiba tangan Damar bergerak mengelus elus paha Juli, membuatnya geli hingga memijat keningnya.
"Juls kenapa, kamu sakit ?"
Sekar menyadari tingkah aneh gadis dihadapannya.
"Eu , , nggak saya baik baik saja.
Saya permisi ke toilet."
Juli menepis tangan usil Damar lalu berdiri berjalan meninggalkan meja.
Hampir saja Juli mendesah didepan semuanya.
Damar benar benar tidak bisa mengendalikan diri.
Juli menggigit bibir bawahnya merasa perlakuan Damar menunjukkan kalau dia masih mencintainya.
"Gue juga perlu ke toilet . ."
Damar menyusul kepergian Juli.
Kevin bisa menebak kalau kakaknya pasti ingin curi curi waktu berduaan dengan Juli.
"oh iya Kevin, teman kamu kira kira ada yang bisa gantiin posisi Malvin gak yah ?"
Miley bertanya pada Kevin setelah mereka selesai makan.
nanti aku coba tanya Adam deh Mil. Dia lumayan jago dibidang itu, semoga aja Adam mau dan belum kerja."
Kevin langsung kepikiran sama Adam sahabatnya.
"Langsung ke kantor ya kalau orangnya bisa."
Pinta Miley, dia butuh cepat untuk mengisi kekosongan yang akan ditinggalkan Malvin.
"Siap bos."
Kevin memberi tanda hormat.
Sementara Juli masih menunggu giliran, bilik toilet penuh akibat ramai pengunjung.
"Eh ngapain disini ?"
Juli terkejut melihat sosok laki laki yang seharusnya tidak berada didalam toilet perempuan.
"Ikut sebentar !"
Pintanya kemudian menarik tangan Juli keluar dari toilet.
Tepat sebelah kiri toilet ada pintu keluar khusus staf.
Kalau tamu bisa keluar lewat pintu itu mereka mungkin saja kabur sehingga lost bill.
Dia terus menarik Juli hingga ke lorong belakang bangunan kafe.
Sepi, tidak ada karyawan bandel merokok karena keadaan kafe ramai.
Terjadilah ciuman diantara keduanya. Juli pasrah tanpa bisa menolak, sejak tadi ia sudah dirangsang oleh laki laki itu.
Damar m******, menuntut agar Juli membuka mulutnya.
Setelah sekian lama lidah mereka akhirnya bisa saling mencari kenikmatan kembali.
"Hmm . ."
Juli melenguh, ia mendorong meminta jeda untuk menghirup oksigen.
"Ini siang bolong pak Damar, gak enak dilihat orang nanti."
__ADS_1
Damar memang selalu tidak tahu tempat menyalurkan kegilaannya menahan rindu pada Juli.
Selama ini dia selalu berusaha menyadarkan dirinya agar tidak memangsa Juli saat mereka terus saja bertemu.
"Nanti malam aku tunggu kamu di Hotel, aku kangen masakan kamu Juls."
Damar mengusap bibir Juli menggunakan ibu jarinya agar tidak meninggalkan jejak ciuman.
"Aku masak buat bapak ?"
Juli memastikan, Damarpun mengangguk.
"Aku duluan, jangan lupa pipisnya dikeluarin . ."
Juli melemparkan tinjunya keudara dibalik punggung Damar mendengar pikiran mesumnya.
Damar tiba dimeja terlebih dulu.
Gelagatnya tak luput dari pengawasan Kevin.
Kakaknya terlihat penuh rona bahagia semenjak keluar dari toilet.
"Eh gue duluan ya, ada jadwal kontrol soalnya."
Tiara pamit harus balik ke kantor lagi.
"Iya Ra, gue sama Malvin juga udah mau jalan."
Miley bergabung dengan Tiara untuk menyudahi pertemuan mereka.
"Kevin kamu mau bareng sama gue?"
Tiara menawarkan tumpangan pada Kevin.
"Aku antar Sekar ke hotel dulu, aku harus tanggung jawab karena sudah mengajaknya."
Kevin melirik pada Damar menyindirnya tanpa sengaja, Tiara manggut manggut mengerti.
"Aku gak apa Kevin kamu pasti sibuk ditunggu pasien. Aku bisa naik taxi, lagian nanti kamu bolak balik."
Sekar tidak masalah jika Kevin tidak mengantarnya.
Kevin tersenyum menatap Sekar. Dia pengertian sekali padahal mereka belum lama dekat.
"Biar Sekar sama aku Kevin, kamu gak perlu khawatir."
Damar menyampaikan solusi terbaik.
Sekar bingung harus ikut atau tidak, pastinya Damar akan semobil dengan Juli.
Ia tidak ingin mengganggu mereka.
"Thanks mas Damar, Sekar aku balik kerja dulu. Laters . ."
Ada gerakan tangan Kevin menyentuh pundak Sekar sebelum dirinya pergi.
Damar bisa menyimpulkan kalau Kevin mungkin saja mulai dekat dengan sekretarisnya itu.
"Mas Damar, Juli sama kamu aja ya. Aku sama Malvin mau langsung ke rumah soalnya."
Miley izin kerja satu hari karena mereka juga ada acara perpisahan bersama orang tua.
"It's oke Mil, take care dijalan."
Damar melambai pada Miley yang menyusul Malvin.
"Yah pada kemana, pergi semua ?"
Juli melongo melihat meja sudah kosong, tersisa Damar dan Sekar berdua saja.
"Kamu sih kelamaan . ."
Damar menatapnya meledek, padahal gara gara dia Juli lama.
"Juli aku nebeng mobil pak Damar gak apa kan ?"
Sekar bertanya seraya mengikuti langkah kaki Damar yang keluar.
"Loh kok mbak Sekar tanya aku ?
Aku juga kan kepaksa kembali ke kantor sama pak Damar, berarti kita sama sama nebeng hehe."
Juli nyengir kuda merasa Sekar tidak perlu meminta persetujuannya.
Akhirnya Sekar menyetir karena tidak mungkin membiarkan bosnya melakukan itu.
Juli juga memilih duduk disebelah Sekar, jadilah Damar sendirian dikursi belakang.
__ADS_1