Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Terasa Sempurna


__ADS_3

Selamat ulang tahun Damar Aditya, putera kebanggan Zoya dan Aditya. Sumber keceriaan ditengah keluarga Mahesa.


Tidak ada yang bisa menolak kehadiran Dee, mereka terberkahi dengan kelahirannya.


Orang tua yang susah payah menjaga Dee sejak dalam kandungan, kini tersenyum bangga melihat pertumbuhan Damar Aditya.


Tepat 1 tahun usianya, Dee selalu memberi kebahagiaan disetiap momen keluarganya berkumpul.


"selamat ulang tahun Dee, cucunya grand pa. Kesayangan Grand ma."


Sejak tadi pak Mahesa menggendong Dee, menyanyikan lagu ulang tahun bersama yang lainnya.


Sebuah meja penuh dengan birthday cake dan beberapa kado dari keluarganya.


Zoya masih setia memeluk mesra pinggang Ditya. Tersenyum lebar melihat putra kecilnya digendong oleh sang mertua.


Sesekali beralih tangan ke bu Aulia, nek Hafsari bahkan Tia.


"Zoya, badankamu hangat. Apa kamu sakit ?"


Ditya memandangi wajah Zoya yang setia melihat kearah Dee.


"mmm . . Aku baik baik saja."


Zoya hanya menggeleng tanpa menoleh kearah Ditya.


"semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan untuk Damar. Jadi anak soleh dan pintar, berbakti pada ayah sama ibu."


Ucapan doa dari nek Hafsari yang kemudian memberikan Dee sebuah kotak kecil.


Berisi gelang peninggalan kakek buyutnya, pak Mahendra.


"wah, ini kan gelang kakek buyutnya Dee. Nanti kalau sudah besar harus sukses seperti kakek buyut, grand pa dan ayahnya."


Bu Aulia ikut mendoakan hal baik untuk cucunya, beliau meminta Dee untuk digendongnya.


"aku senang mas, banyak yang sayang sama Dee. Kalau aku tidak ada, dia tidak akan kehilangan kasih sayang dan perhatian."


"apa yang kamu katakan Zoya, kita akan sama sama terus. Tidak akan ada yang memisahkan aku kamu dan Damar."


Sedikit kesal, Ditya melepaskan pelukan Zoya. Dia menatap tajam mata istrinya, seolah tidak suka mendengar ucapannya.


"maksudku, sewaktu waktu mungkin aku juga akan bekerja lagi mas. Kenapa kamu marah, kamu tidak suka ?"


Zoya menyesal telah mengatakan hal seperti itu jika menyinggung perasaan Ditya.


Kenapa harus ia merusak suasana bahagia, kini terlihat guratan sendu diwajah Zoya.


"kalian kenapa ? Bukannya ikut bergabung didepan, malah berdebat disini."


Bu Atikah datang dari arah belakang, melihat anak dan menantunya bersitegang mempermasalahkan sesuatu.


"tidak bu, Zoya hanya membahas rencana untuk bekerja lagi. Salah Zoya juga, waktunya tidak tepat."


Sejujurnya dalam hati Zoya, itu hanya sebuah alibi. Menutupi celah agar keluarganya tetap bahagia, tanpa ada tekanan yang bisa saja datang merusak keadaan.


"ya sudah, kita kumpul disana. Dee kan mau tiup lilin dan potong kue, ayo !"

__ADS_1


Bu Aulia mengajak Ditya dan Zoya maju mendekati meja kue.


Betapa menggemaskannya Dee, dia bahkan berhasil meniup lilin dengan caranya sendiri.


Dee menyemburkan air liurnya hingga lilin padam, berhasil menciptakan gelak tawa.


Bahkan Dee juga menyuapi Zoya dan Ditya potongan cake menggunakan tangan mungilnya.


Tidak ada harapan lain, selain kebahagiaan diantara mereka. Jika Dee bisa membawa suka cita, tandanya banyak yang menyayangi putra mereka. Begini saja, sudah lebih dari cukup untuk Zoya. Jangan ada lagi musibah atau duka yang mampir.


Setiap do'a yang ia panjatkan tidaklah berlebihan, cukup kesehatan dan kebahagiaan untuk keluarganya.


"mas, kamu mau ajak aku kemana ?"


Tanya Zoya pada Ditya yang masih fokus memarkirkan mobilnya disalah satu parkiran VIP mall.


"kita akan nonton, sudah lama sekali aku tidak mengajakmu ke bioskop."


Ditya mematikan mesin mobil, melepaskan sabuk pengamannya kemudian milik Zoya.


"jadi kamu sengaja titipin Dee sama mami untuk kencan sama aku ?"


"tepat sekali sayang, aku selalu ingin melakukan hal ini. Supaya kamu juga tidak bosan, dan bahagia."


Kesibukan Ditya memang menyita waktu. Nonton film saja bisa terhitung jari, apalagi kemana mana mereka selalu mengajak Dee. Jarang mereka pergi berdua saja untuk sekedar berpacaran.


Tanpa melepaskan genggaman tangan Zoya, mereka menaiki eskalator menuju lantai 3.


Seperti pasangan pada umumnya, Ditya dan Zoya mengantre tiket. Kebetulan malam minggu, bioskop penuh oleh kaula muda.


"aku mau popcorn caramel mas, sama milo dinosaurus hehe."


"2 tiket mas, sudah dengarkan pesanan istri saya ?"


Sejak tadi kasir laki laki yang lebih muda dari Ditya selalu menatap kearah Zoya.


Istrinya hanya terkekeh melihat ekspresi cemburu Ditya. Lucu sekali menurutnya, Ditya tampak kesal memberikan kartu debitnya untuk membayar.


"ini pak, bu tiketnya. Silakan ditunggu minuman dan popcornnya."


Sadar akan ketidaksukaan Ditya, kasir itu tertunduk malu menyerahkan debit card dan tiket kearah Ditya.


"mas kasihan dia, sampai tidak enak hati sama kamu."


Zoya menepuk lembut dada Ditya setelah meninggalkan kasir.


Keduanya terlihat layaknya pasangan kekasih yang belum menikah dan memiliki anak.


"lagian berani sekali dia menatap kamu, sudah jelas ada aku suaminya."


Jawaban Ditya berhasil membuat Zoya tertawa geli. Suaminya cemburu sekali melihat Zoya digoda oleh brondong.


Didalam theatre, mereka sudah siap menonton sebuah film bergenre romantis.


Zoya asik dengan popcornnya, sesekali menyuapi Ditya.


Benar benar merasakan sensasi pacaran. Sudah lama sekali mereka ingin mengalaminya.

__ADS_1


Sekarang Ditya akan melakukan hal hal kecil yang bisa menciptakan keharmonisan rumah tangganya.


Dinner berdua, mengantar Zoya kesalon atau berbelanja.


Pelan tapi pasti, dia akan mengabulkan semua keinginan Zoya.


🍀🍀🍀


"Tia, maukah kamu menerima lamaranku ?"


Arga dengan gagah dan penuh percaya diri, menyodorkan sebuah kotak berisi cincin couple kehadapan Tia.


disaksikan oleh orang tua masing masing, keluarga inti dan juga sahabat.


"mau kak, Tia terima."


gadis itu menakupkan kedua tangannya menutupi wajah. antara bahagia dan tak percaya, akhirnya Arga melakukan hal yang ia tunggu sejak lama.


Arga memasangkan cincin perak dengan mata berlian dijari manis Tia. begitupun Tia memasangkan cincin perak polos dijari Arga. semua yang menyaksikan ikut terharu, mengingat perjuangan Tia.


"selamat Ga, jadi adek ipar deh. jangan lama lama, buruan nikah !"


Ditya menyalami Arga mengucapkan selamat atas pertunangannya.


"1 bulan kemudian, kami sudah membahasnya. lagipula Tia sudah cukup lama menunggu."


sebelum acara pertunangan, Arga memang sudah membahas soal tanggal pernikahan dengan orang tuanya.


jadi dia datang, beserta tanggal yang sudah ditentukan.


keluarga Mahesa tidak pernah mempermasalahkan apapun. Tia mencintai Arga, yang bibit bebet bobotnya baik. usaha papanya Arga juga terjamin bersih dari trik kotor, pak Mahesa bisa bernafas lega Tia jatuh ketangan pria yang benar.


"kak Adit, Tia belum lihat kak Zoya ?"


Tia datang menghampiri Arga dan kakaknya, celingukkan mencari sosok kakak iparnya.


"Dee lagi rewel, jadi Zoya menidurkannya dikamar."


sebelum mereka sampai dirumah pak Mahesa, Dee dari pagi memang nangis terus. padahal suhu badannya normal, mungkin efek tumbuh gigi atau bisa berjalan. pikirnya begitu menurut Ditya dan Zoya.


"sayang, Dee kenapa ? ibu bingung kamu nangis terus nak. ."


disofa kamar, Zoya sibuk merayu Dee yang masih menangis.


begini salah begitu salah, Zoya sudah menyusuinya namun Dee menolak. dia juga masih belum mengantuk.


"Zoya, ada apa ?"


Ditya datang kekamar untuk mengecek keadaan Damar.


"aku gak tahu mas, Dee rewel sekali. dia gak mau minun ASI."


"besok kita kedokter ya, cek kesehatan Dee. sini biar aku yang gendong, kamu makan dulu."


Ditya menggendong Dee, memberi waktu untuk Zoya beristirahat. ia pasti kelelahan, merawat Dee yang sedang aktif aktifnya pasti menguras tenaga dan kesabaran.


Dee mulai belajar berjalan, Zoya harus mengawasi dan memberi perhatian ekstra padanya.

__ADS_1


saat Ditya bekerja, hanya mereka berdua dirumah. Zoya masih belum mau memakai jasa baby sitter, Dee akan ia urus sebisa dan semampunya.


__ADS_2