Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#111


__ADS_3

Senja mulai menampakkan dirinya, indah tergambar dikaca jendela.


Tak terasa panas ketika pendingin udara menyala.


Seperti sebuah lukisan buatan Kevin. Dia pasti menggambarnya di kamar tidurnya itu.


Juli masih belum berani membangunkan Kevin.


Makanan yang Juli buat bahkan sudah dingin sejak tadi.


"Kenapa tidak membangunkanku ?"


Juli berdiri memandang kearah luar jendela, ia menengok ketika Kevin terbangun.


"Aku tidak tega.


Kamu mandi dulu, biar aku hangatkan makanannya."


"Juli kapan kamu akan menjawab pertanyaanku ?"


Kevin berjalan mendekat kearah meja makan.


"Mandilah dulu, nanti kita bicara."


Juli mendorong tubuh Kevin hingga masuk ke kamar mandi.


Bel berbunyi saat Juli baru selesai menghangatkan makanan.


Ia menuruni anak tangga untuk membukakan pintu.


"Nenek ?"


Itu Atikah, wanita tua dengan kacamata tebal. Tiba tiba dia memeluk Juli tanpa alasan.


"Terima kasih sudah memilihnya, dia lebih membutuhkan kamu nak."


Ya, Damar menceritakan semua pada Atikah neneknya. Dia sangat mempercayai ibu dari wanita yang melahirkannya.


"Juli bingung nek . .


Tolong maafkan Juli jika nanti Juli menyakiti hati pak Damar."


Juli menangis sesenggukkan dalam pelukan hangat Atikah.


Ia tidak tahu harus pada siapa bersandar.


"Jangan pernah melepaskan tangannya Juli, atau kamu tidak akan pernah melihat Damar baik baik saja."


Juli menggelengkan kepala tidak sanggup memenuhi keinginan Atikah.


"Apa maksud kamu ?


Kamu menyukainya bukan . ."


"Nenek datang . ."


Kevin menghentikan obrolan serius keduanya. Secepat mungkin Juli menghapus jejak air mata dipipinya.


"Tiara mengabari nenek, jadi nenek harus memastikan keadaan cucu kesayangan nenek."


Atikah memeluk Kevin.


Kasihan Atikah melihatnya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Damar cucu kandungnya.


Dilema memang, semua orang memilih mengutamakan kebahagiaan dan menjauhkan kesedihan dari Kevin dan Damar.


"Ayo masuk nek, Juli sudah masak."


Ajak Kevin pada keduanya.


🌙️🌙️🌙️


Damar masih menatap sebuah kotak hitam velvet diatas meja depan TV. Sudah cukup lama dia menunggu Juli pulang.


Ifan sempat memberi informasi kalau Juli menerima telpon dari seseorang membahas soal Kevin.


Tangannya mulai bergerak membuka kotak berisi note kalau hadiah itu untuknya.


Damar tersenyum memegang ikat kepala bermotif batik. Selain dipakai dikepala, kain itu juga bisa jadi gelang ditangannya.

__ADS_1


-Bapak akan terlihat sangat amat tampan jika memakai ini-


Begitu isi dari secarik kertas yang menempel diatas gift box.


Damar juga menyiapkan sebuah hadiah untuk Juli.


Dia berniat menaruhnya diatas nakas samping tempat tidur.


"Katakan ada apa ?"


Tanya Damar tak sabar setelah menerima panggilan masuk.


"Nona Juli baru keluar dari galeri tuan Kevin bersama nyonya Atikah."


Langsung saja Damar mematikan sambungan telponnya bersama Ifan. Dia memejamkan mata memijat pangkal hidungnya.


"Kamu kenapa Juls ?"


Gumam Damar dalam hati.


Larut sekali Juli tiba di apartemen. Ia harus pergi naik taxi dari rumah Ema, karena Kevin tidak tahu kalau Juli sudah pindah.


Bahkan tinggal di tempat milik kakaknya.


Ceklek . .


Juli melangkah masuk, ia melihat sesosok laki laki tertidur diatas sofa.


"Kasihan dia . ."


Lirih Juli mendapati Damar ketiduran akibat menunggu kedatangannya.


"Pak bangun, pindah ke kamar.".


Laki laki itu membuka matanya pelan, tersenyum ketika melihat gadis yang ditunggu tunggu akhirnya muncul dihadapannya.


"Aku ingin makan masakanmu Juls !"


Pinta Damar pada Juli,


sementara Juli hanya memandangi Damar sejak tadi.


"Ada apa ?


Akhirnya Damar menanyakan perihal laporan yang Ifan berikan.


"Kevin dalam masalah . ."


"Aku tahu Juli, Tiara sudah cerita. Tapi bisakah setidaknya kamu mengangkat telpon dariku ?"


Damar menyela perkataan Juli.


Dia tidak masalah Juli menemui adiknya, hanya saja sikap Juli yang mengabaikannya tidak bisa Damar terima.


"Bapak juga menemui Sekar, apa bapak berkata jujur padaku ?"


Juli tidak mau kalah menuntut keterbukaan yang menjadi masalah diantara mereka.


"Aku minta maaf Juls, aku memang salah."


"Aku tidak bisa, ,"


Lirih Juli.


"Apanya ?


kamu marah hanya karena hal sepele ?"


Damar mendekatkan tubuhnya kehadapan Juli.


"Ini tidak sepele jika bapak tidak menjalin hubungan dengan Sekar."


"Juli aku dan Sekar pura pura, agar Kevin dan kedua orang tuaku tidak khawatir jika anak anaknya merebutkan satu gadis yang sama."


Juli tersenyum sinis mendengar pengakuan Damar.


"Sejak awal bapak selalu salah mengambil langkah. Dan aku tidak bisa meneruskan ini semua."


Juli mendorong tubuh Damar hingga keluar dari pintu.

__ADS_1


"Juli aku akan pulang, kamu mungkin terlalu lelah. Jadi istirahatlah saja !"


Damar tidak bisa menekan Juli berlebihan, mungkin ia sedang memiliki masalah dan tak ingin memberitahunya.


Gadis itu menangis bersandar pada pintu,


ini tidak sesuai bayangannya.


Juli pernah bermimpi memiliki seorang kekasih, menjalin hubungan dalam jangka waktu yang lama.


Hingga akhirnya ia dan kekasihnya itu bisa bersatu di pelaminan.


-Flashback


"Jika kamu benar benar tulus mencintaiku, bisakah kamu mengabulkan permohonanku ?"


Tanya Juli pada Kevin, keduanya masih didalam mobil setelah sampai di depan rumah Ema.


Ema mengintip di kamar tidurnya melalui tirai jendela.


Jelas itu mobil Kevin bersama Juli duduk disampingnya.


"Apapun akan aku lakukan untuk membuktikannya Juls."


Kevin memandang Juli yang masih menatap kosong kedepan.


"Buka hati kamu buat Jihane !


Kevin aku tidak bisa memberi perasaanku seperti yang dilakukan olehnya.


Kamu akan mendapat seseorang jauh lebih baik daripada aku."


"Kamu yang membuat janji Juls, bukan aku.


Ini antara aku dan kamu."


Kevin berusaha meyakinkan Juli agar mau membuka hatinya.


"Kamu salah Kevin, ini bukan hanya tentang kita."


"Juli berhentilah terjebak oleh keadaan, mas Damar dan Sekar sebentar lagi akan bertunangan.


Bisakah kamu berhenti berharap ?"


Kevin sangat paham Juli masih menyukai Kakaknya. Namun dia tidak tahu kalau keduanya sudah resmi menjalin hubungan.


"Aku mau turun Kevin."


Juli yang ingin keluar segera ditahan oleh Kevin.


Kemudian laki laki itu ******* bibirnya kasar.


Merasa terkejut dan sesak, Juli sekuat tenaga memukul dada Kevin supaya segera melepaskannya.


"Maafkan aku Juli . ."


Lirih Kevin menyesali tindakan bodohnya barusan.


Juli hanya memandang sinis padanya kemudian segera turun dari mobil.


---


Lelah sekali, hari ini Juli merasa tubuhnya lemas akibat perang batin menghadapi masalah hidupnya.


Tanpa memikirkan mandi atau bahkan makan, Juli merebahkan diri diatas tempat tidur.


Tangannya menyentuh sesuatu berbentuk kotak di sebelahnya.


Juli bangun lalu duduk, ia melihat sebuah kotak handphone keluaran baru dengan secarik kertas diatasnya.


-Terima kasih untuk semuanya Juli. Jangan pernah menolak sesuatu dariku !-


Damar memberinya sebuah handphone, Juli merasa tidak pantas mendapatkan hadiah mahal itu.


terlebih Damar sudah memberinya gaji yang sangat besar.


Bahkan dibalik kotak terdapat sebuah credit card gold unlimited atas nama Damar Aditya.


kepala Juli dibuat pusing oleh kelakuan Kakak beradik itu.

__ADS_1


Dilemparnya hadiah itu, Juli memilih memejamkan matanya.


Berusaha menenangkan pikiran dan mengistirahatkan perasaan juga hatinya.


__ADS_2