
Esok pagi, Ditya membangunkan Dee yang masih tidur nyenyak. Anak laki lakinya memiliki kebiasaan mengeratkan gigi ketika tidur. Ditya kini menempati kamar bertipe studio. Dimana hanya ada satu kamar tidur, alhasil mereka tidur bersama.
"Dee, ayo bangun ! Ayah tinggal mau ?"
Karena hari libur, Dee memang sengaja tidak bangun pagi. Semalam suntuk mereka juga menonton film kesukaannya Dee hingga siang sekali mereka bangun.
"iya ayah, ini Dee mau mandi."
Tiba tiba ia ingat kalau hari itu mereka akan pergi ke dufan. Dee bangun dengan mata masih tertutup.
Sebelum mandi bersama, Ditya sudah menyiapkan sarapan. Menu sehat sederhana yang selalu dibuat oleh istrinya dulu.
Dikamar mandi, Dee dan Ditya gosok gigi dan mandi bersama.
Hampir 5 tahun Ditya merawat Dee seorang diri, tanpa pengasuh atau pendamping.
Saat ada tugas keluar kota, Dee akan dititipkan pada orang tuanya atau bu Atikah. Mereka bergantian menjaga cucunya.
Malang sekali nasib anak itu, kehilangan kasih sayang sang ibu saat usianya menginjak 2 tahun.
Masa dimana peran seorang ibu sangat penting, ketika seorang anak belajar cara berbicara dengan benar.
Berat sekali, Ditya masih belum bisa menerima kenyataan kalau kini Zoya sudah tidak menemaninya lagi. Kenapa Tuhan sangat kejam, mengambilnya tanpa belas kasihan pada Dee.
Dee hanya mengenal ibunya melalui foto atau video yang Ditya simpan sejak SMA dulu.
Yang lebih tragis, anaknya bisa lebih kuat dan tabah dari Ditya sendiri. Sekalipun Dee tidak pernah menangis atau merengek mencari keberadaan Zoya. Yang Dee tahu, kalau kini ibu sudah bahagia disamping Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak perlu merasa sakit lagi, Zoya sudah sembuh disana.
Bukannya tidak memahami perasaan Ditya, orang tuanya hanya ingin Ditya membuka lembaran baru demi anaknya.
Jangan terus terusan menyiksa diri, hanya untuk memenuhi janji yang ia buat. Janji yang bahkan Zoya tidak pernah menginginkannya. Harapannya berbanding terbalik dengan keputusan yang Ditya ambil.
"let's go . .!"
Dee semangat menarik tangan Ditya untuk memasuki pintu masuk dufan. Ia sudah tidak sabar ingin mencoba beberapa wahana.
"aduh . ."
Tanpa sengaja tubuh Ditya menabrak seseorang yang mengantre didepannya.
"maaf,"
Ucap Ditya lirih, ia tidak bermaksud rusuh. Hanya saja Dee sangat antusias, sampai menarik tubuhnya.
"miss Zara ? Mau main disini juga ? Hore . ."
Dee senang bukan main, bisa bertemu Zara secara kebetulan.
"siapa Ra ?"
Tanya laki laki yang berada dihadapan Zara, siap membayar tiket untuk mereka.
"ini loh Jun, Damar murid yang aku ceritakan. Dee, kenalkan ini teman miss, namanya kak Arjuna."
Ekspresi Dee menunjukkan ketidak sukaannya melihat Zara pergi bersama seorang laki laki. Cemburu ? Benarkah Dee sangat menyukai Zara sampai segitunya.
"hi Dee, kalau begitu biar kak Juna yang mentraktir tiketnya."
Laki laki yang seumuran dengan Zara itu berjongkok meraih pundak Dee.
__ADS_1
"tidak usah, biar aku yang melakukannya. Mbak 4 tiket"
Ditya langsung menerobos maju, membayar sejumlah tiket tanpa basa basi.
"ayo miss, kita masuk !"
Dee malah menarik tangan Zara, meninggalkan ayahnya dan Juna yang hanya diam satu sama lain.
Permainan pertama yang Dee coba ialah komedi putar. Anak itu naik disebuah patung kuda. Melambaikan tangan kearah ayahnya yang berdiri mengawasinya.
"aku beli minum dulu ya Ra, kamu tunggu disini."
Juna pamit sebentar ke mini market, tersisa Zara yang canggung berdampingan dengan Ditya.
"apa Dee membocorkan rencananya pergi kesini ? Dia memintamu datang ?"
Setelah Juna pergi jauh, Ditya mencairkan suasana dengan tuduhannya.
"ya Tuhan orang ini, kenapa percaya diri sekali. Dari sekian banyak pengunjung, kenapa harus bertemu anda disini."
Zara benar benar dibuat kesal dengan sikap Ditya. Kalau saja dia adalah salah satu muridnya, Zara akan memberi nilai D untuk etika Ditya.
Pria itu hanya diam, tidak menanggapi perkataan Zara. Tatapannya masih fokus memperhatikan Dee dari luar pagar pembatas.
"halo . ."
Zara menerima sebuah panggilan telpon dan mengangkatnya.
- ada panggilan darurat dari rumah sakit, aku harus pergi sekarang. Maaf ya Zara-
Suara Juna yang terdengar ditelpon, menciptakan helaan nafas kecewa dari Zara.
Padahal ini hari minggu, Juna harus kembali bekerja. Kapan sahabatnya itu bisa merasakan kebahagiaan selain pekerjaannya sebagai dokter ?
Zara segera menutup telpon dan memasukannya kedalam tas.
"miss Zara jangan pulang, temani Dee saja bersama Ayah. Dee mohon ya miss . ."
Dee yang sudah turun sejak tadi, mendengar kalau Zara mendadak akan pulang.
"Dee, jangan seperti ini. Guru kamu juga kan ada keperluan lain, biarkan dia pulang."
Ditya berjongkok, memberi pengertian pada Dee yang mendadak rewel.
"pasti ayah kan yang bikin miss gak nyaman ? Kalau begitu ayo kita kencan berdua saja miss, jangan anggap ayah ada."
"Damar !"
Tak terasa Ditya membentak puteranya, dia lepas kendali menahan amarahnya.
Entah tidak suka Dee bergantung pada Zara, atau kehadiran gadis itu yang mengganggunya.
"sudahlah, jangan bentak Dee ! Tidak baik untuk psikisnya."
Zara meraih tangan Ditya untuk segera menghindar dari hadapan Dee yang mulai bersedih.
"oke, miss akan temani Dee. Sebelumnya Dee harus minta maaf sama ayah, lain kali jangan membuat ayah kesal ya ?"
Dee hanya menuruti perintah Zara dengan mudah, dia mencium punggung tangan Ditya dan memeluknya.
"i'm so sorry ayah. Dee yang salah, maaf."
__ADS_1
Anak itu menyodorkan jari kelingkingnya, menunggu Ditya menerima dan mengaitkannya.
Mereka berbaikan dengan cepat, lalu ketiganya kembali mencari wahana yang ingin Dee coba.
Naik ini itu, banyak sekali wahana yang sudah Dee coba. Hanya beberapa wahana yang tidak bisa dinaiki olehnya, mengingat batas standard yang berlaku.
"ya ampun Dee, Miss lelah sekali."
Zara mengibaskan tangannya merasa kegerahan, sejak tadi harus menemani Dee menikmati keseruan.
"minumlah !"
Ditya menyodorkan minuman dingin yang menyegarkan kearah Zara. Dia tidak tega, melihat Zara harus menuruti keinginan anaknya.
"terima kasih, ."
Nafasnya terengah engah, bahkan tidak ada tenanga untuk membuka tutup botolnya.
"bisa tolong bukakan untukku, aku lelah sekali."
Zara mengembalikan minuman itu ke tangan Ditya.
Merasa bersalah, akhirnya Ditya menuruti permintaannya.
"ah, segarnya . ."
Desahan Zara malah membuat Ditya gagal fokus, ia menelan ludah dengan susah memperhatikan bibir Zara.
"sial . ."
Umpatnya dalam hati.
"ayo kita cari makan siang, Dee dan aku sudah lapar."
Ditya meraih tangan Dee meninggalkan Zara yang masih duduk.
"apa ? Lalu dia tidak peduli denganku yang juga lapar ?"
Zara mengikuti langkah mereka dengan lunglai.
Stamina pria memang beda jauh dengan perempuan. Ditya sama sekali tidak kelelahan oleh sikap Dee. Bagaimana tidak, yang sejak tadi ditarik tarik oleh Dee adalah Zara, bukan ayahnya.
"aku mau beef bowl yah . ."
Ketiganya berdiri didepan kasir, memesan makanan disebuah restoran jepang.
"tidak Dee, pilih yang lain saja. Ayah malas makan menu itu."
Masakan itu mengingatkan Ditya pada Zoya, yang selalu membuatkan untuknya.
Menu kebanggaan Zoya yang sangat disukai olehnya.
"ayah kenapa sih ? Apa karena ibu sering masak itu buat ayah, jadi ayah gak suka."
Bibir Dee kini mulai manyun, tidak suka dengan sikap ayahnya yang selalu baper mengingat hal hal tentang ibunya.
"Dee, biar miss yang pesan itu untuk kamu. Nanti kita tukar mangkoknya."
Zara berusaha menenangkan Dee yang sudah berkaca kaca, hampir menangis.
"thank you miss Zara"
__ADS_1
Pelukan Dee membuat gadis berusia 23 tahun itu terperanjat menerimanya.
Jarak usia Ditya dan Zara 10 tahun, namun pembawaan Zara yang dewasa berhasil mengimbangi Ditya.