Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#159


__ADS_3

Damar berlutut dihadapan Juli yang kini duduk dikursi depan kamar Sofia.


Setidaknya dia harus meminta izin secara langsung pada istrinya untuk menikah lagi.


Ia genggam kedua tangannya, air mata Juli sudah tak mampu dibendungnya lagi.


"Kalau kamu tidak sanggup, aku bisa membatalkannya dan meminta Tedi melakukan tugas ini."


Damar menenggelamkan kepalanya dipangkuan Juli. Berat sekali baginya melakukan hal yang pasti membuat Juli tersakiti.


"Fia butuh kamu mas, dia gak mau orang lain selain kamu."


Usapan tangan Juli pada kepalanya semakin membuat Damar merasa bersalah.


Kalau saja, kalau saja bukan dia laki laki yang Sofia pilih mungkin sekarang mereka tidak akan tersiksa begini.


"Semuanya sudah siap . ."


Bara menyela obrolan suami istri dihadapannya.


"Masuklah mas, jangan buat mereka menunggu. Aku mau ketemu mama dulu diruangan kak Tiara."


Damar mendongakkan kepalanya menatap Juli. Sekali saja, Damar berharap Juli menahannya dia akan segera membatalkan langkahnya.


Yang ada Juli mengulas senyum menyentuh pipi Damar seolah mengatakan, tidak apa apa. Dengan berat hati langkah kakinya meninggalkan Juli duduk sendirian.


Selanjutnya, ijab qabulpun berlangsung secara cepat dan hidmat. Senyum bahagia Sofia tak bisa ia sembunyikan lagi. Bara antara ikut bahagia juga merasa jadi orang paling jahat dimuka bumi. Membiarkan adiknya menjalani sebuah pernikahan tanpa cinta. Selain itu, membuat patah dua hati sekaligus.


Bara pikir kedekatan Sofia dan Tedi ialah suatu keajaiban. Sofia mau membuka hatinya pada pria baik hati, peduli terlebih selalu menjaganya.


Pada kenyataannya, dialah suami Sofia sekarang. Adik iparnya, Damar Aditya.


Ketika pintu sudah berhasil Juli buka, sudah terlihat jelas wajah marah mama Zara. Dadanya naik turun menandakan kemarahan belum reda sama sekali.


"Duduk Juli !"


Perintah Zara pada menantunya, Julipun menurut duduk disebelah Zara. Keduanya berada disatu sofa ruang kerja Tiara.


"Mama mau marah sama kamu tapi tidak bisa Juls. Kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi ? Mama gak habis pikir dengan jalan pikiran kalian berdua. Menolong orang tidak serta merta harus merelakan kehidupan kalian."


Panjang lebar Zara menceramahi menantunya. Kalau ayah dari anak anaknya tahu, entah Damar akan jadi seperti apa nantinya.


"Ma, Juli hanya butuh pelukan mama. Selebihnya tidak masalah bagi Juli."


Dan Zara segera menarik tubuh Juli untuk masuk kedalam dekapannya. Isak tangis Juli tak tertahan lagi, dadanya sesak menerima fakta kalau dia harus berbagi suami.


"Juli pulang kerumah mama ya nak, biar kami yang jagain kamu."


Bukan pilihan baik jika mereka membiarkan Juli tinggal berdua saja dengan Damar. Mungkin hari hari Juli selanjutnya akan lebih berat.


"Iya mah, Juli mau."


☀️☀️☀️


Damar membuka matanya, perlahan mengamati langit langit. Ini bukan kamarnya, saat ia melihat seseorang duduk dipinggir sofa Damar seketika ingat kalau dia sudah menikahi gadis dihadapannya.


"Selamat pagi suamiku , ,"


Sapanya pada Damar, tangannya hendak meraih pipi Damar namun terlanjur ditolak.


Damar bangun kemudian duduk meraba tengkuknya.

__ADS_1


"Aku mandi dulu."


Kata Damar kemudian berjalan kearah kamar mandi.


Didalam, Damar mengecek handphone miliknya. Ia menadapat pesan dari kontak kesayangannya. Memberi kabar kalau Juli akan tidur dirumah mama Zara. Bukan rumah Kevin, melainkan rumah keluarga Aulia dan Mahesa dulu.


Memang mereka sudah pindah minggu kemarin. Meski ingin terus bersama, mereka juga harus menghargai privasi seorang Kevin. Laki laki itu, bahkan dia jarang sekali pulang. Diruang kerjanya memang tersedia kamar pribadi, sudah hampir setengahnya keperluan Kevin pindah kesana.


Damar mencuci wajahnya secara kasar, menghilangkan kekesalan yang sudah menyambutnya sepagi ini. Dia hanya manusia biasa, rasa kasihannya sudah terlalu besar terhadap Sofia. Jika dikampus, Sofia selalu menunjukkan pribadi ceria dan penuh semangat. Awal mereka berkenalan, Damar sempat memuji cara berpikirnya yang lugas dan terbuka tentang dunia bisnis.


Menyesalpun sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang Damar hanya perlu berlaku adil pada kedua istrinya. Ia harus pulang dan bertemu Juli secepatnya.


Persetan dengan mandi, Damarpun keluar dari balik pintu lalu mengambil dompet beserta kunci mobilnya.


"Bapak mau kemana ?"


Tanya Sofia mencekal lengan Damar yang hendak memegang handel pintu.


"Ada pekerjaan penting dikantor, nanti aku kembali lagi. Kamu jangan lupa makan, minum obat terus istirahat."


Tidak ada kecupan dikening, Damar hanya bisa menepuk pundak Sofia singkat.


Sofiapun tidak berharap lebih mengenai hubungannya. Ia sadar diri siapa dirinya bagi Damar. Toh waktunya juga sudah tidak banyak lagi. Tapi bisakah Damar melihat dirinya, bagaimanapun mereka sepasang suami istri sekarang. Namun faktanya, pernikahan mereka hanya sah secara agama. Damar bilang pada Bara tidak akan mendaftarkannya secara hukum. Dan kakaknya memberitahu Sofia agar ia tak kecewa nantinya.


Meja makan dirumah Aulia terasa begitu hangat. Sesekali ketiganya bercengkrama bercerita soal Tia yang katanya rindu tinggal di Indonesia.


Menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi Juli.


"Makan yang banyak Juls, ayah mau kalian berdua sehat terus."


Ditya memperhatikan Juli, menantunya itu tampak tidak selera makan.


Yang mereka tahu, Juli memang merasa kesepian jika harus ditinggal Damar bekerja apalagi dinas kelur kota. Juli hanya tersenyum tanpa arti, ia beruntung bisa dianggap anak sendiri oleh mertua dan cucu oleh Grand Ma.


Tentu saja Ditya dan Aulia belum tahu tentang kabar pernikahan kedua Damar.


Ketika mereka asik mengobrol, bel rumah berbunyi. Bibi segera berjalan membukakan pintu.


Kembalinya bibi diikuti langkah seorang Damar menuju meja makan.


Tatapnya langsung tertuju pada Juli, teduh dengan mata sayu pilu.


"Loh, kok Damar sudah kembali. Katanya lagi cek proyek ?"


Damar hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Grand Ma.


Ditya meletakkan sendoknya, melihat kediaman mereka saat bertemu dia sudah bisa menebak kalau ada masalah serius.


"Mas, mau aku siapkan makan malam dikamar ?"


Bangkit dari duduknya, Juli menghampiri Damar yang masih mematung.


"Gak usah, aku perlu bicara sama Ayah."


Mau ditutup tutupi seperti apapun, daripada ayahnya tahu dari orang lain lebih baik Damar berkata jujur.


Aulia menatap Juli dan Damar bergantian. Ada masalah apa yang terjadi diantara mereka, sepertinya serius sekali.


"Dee sudah menikah lagi yah, ,"


Keduanya berada diruang baca Ditya. Damar tak berpikir panjang, ia segera keinti permasalahannya meminta waktu Ditya.

__ADS_1


Plak . .


Sebuah tamparan keras sudah Ditya lancarkan kepipi anak sulungnya.


"Dee bersalah pada Juli."


Lagi, Ditya menampar pipi sebelahnya lagi. Rasanya kurang puas jika Ditya hanya menampar Damar. Iapun berjalan mencari keberadaan suatu benda. Ya, tongkat yang sering papinya gunakan dulu.


Ditya pukulkan kebagian betis Damar sehingga dia berlutut dengan sendirinya.


"Ayah membesarkan kamu dengan pengalaman buruk ayah. Agar kamu tidak melakukan kesalahan sama seperti ayah. Dan hari ini kamu bilang, kamu menikah lagi, apa kamu tidak waras Dee ? Istri kamu tengah mengandung darah daging kalian."


-Dee terpaksa ayah, Sofia istri keduanya tengah menghitung sisa usianya. Dee hanya ingin membantu, meski Dee tahu semua ini salah.-


Percuma pikirnya jika mengatakan hal itu pada ayah. Dia hanya akan berpikir kalau alasan Damar klise. Ujung ujungnya Ditya akan menganggap Damar mengkhianati perasaan Juli.


"Hanya karena ayah menghabiskan kesibukan ayah dengan perempuan lain, penyesalan itu masih ada sampai detik ini. Melihat wajah kamu, mama Zara, bahkan ayah selalu teringat ibu kamu Dee. Kamu tahu kenapa ibu kamu tiada ? Itu karena kesalahan ayah mengkhianati dia."


"Ayah . . ."


Zara muncul setelah membuka pintu tanpa permisi. Terlihat dada Ditya naik turun mencoba mengatur nafas akibat emosi.


"Ayah janji tidak akan mengungkit hal itu lagi didepan mama. Kasih Dee waktu untuk menjelaskannya yah."


Pinta Zara, dan tatapan Ditya berubah menjadi seringai menakutkan.


"Jadi mama sudah tahu, kenapa mama tidak melarang anak tidak tahu diri ini ma ?"


Telunjuk Damar menuding wajah Damar penuh penekanan.


"Dee, Zara . . ."


Teriakan Grand Ma sayup sayup terdengar dari arah luar. Ketiganya langsung berlari menuju sumber suara.


"Ada apa mih ?"


Tanya Zara.


"Juli tidak ada dikamarnya."


"Apa ?"


Serentak Damar, Zara dan Ditya memastikan lagi.


"Mami udah minta bibi sama mamang mencari kesetiap sudut rumah. Tapi tidak ada."


Seketika dunia Damar hancur diporak porandakan kabar perginya Juli.


Handphone disaku celananya bergetar menandakan pesan masuk.


- tolong maafkan aku yang kekanak kanakan seperti ini mas. Aku butuh waktu sendiri, jangan cari aku kalau kamu masih menghargaiku sebagai seorang istri.-


"Lihat, jangan salahkan Juli jika dia pergi. Wanita manapun tidak ingin cintanya terbagi."


Ditya pergi meninggalkan ruang tengah. Hatinya hancur mengetahui pengalaman buruk itu juga menimpa anak pertamanya.


"Juli pasti berpikir jernih demi kandungannya. Nanti kamu susul dia ketempat yang kalian berdua tah."


Zara juga menyusul Ditya ke lantai dua kamar tidur mereka.


Grand Ma ingin bertanya, namun urung. Damar perlu ruang dan waktu menenangkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2