Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#119


__ADS_3

Mimpi buruk, Juli berharap ingin cepat bangun dari tidurnya.


Seluruh tubuhnya lemas dan nyeri juga perih dibagian vital.


Romi hanya menatapnya tanpa ampun. Laki laki itu sudah berhasil menyakiti Juli.


"Juli. ."


Lirih Romi menyesali perbuatannya.


"Aku benci kamu Romi !"


Hanya mulut Juli yang berucap, tidak ada sedikitpun suara keluar dari tenggorokannya.


"Aku pergi Juls . ."


Romi meraih lalu memakai kembali topi dan maskernya.


Tega sekali dia meninggalkan Juli dalam keadaan seperti itu.


Pandangan Juli mulai kabur, tubuhnya masih tergeletak dilantai.


Salahnya memancing amarah Romi dengan menggoreskan kaca ke lengannya beberapa saat yang lalu.


Mungkin harus begini jalannya, ini lebih baik bagi Juli.


Dibanding dia harus merelakan harta terbesarnya diambil Romi.


Keadaannya yang lemah, Juli berusaha menyentuh lehernya. Tangannya menekan berharap darah segar setidaknya berkurang mengalir keluar.


Selang beberapa detik pintu kembali terbuka.


Mata Damar terbelalak melihat ruang TV berantakan.


" Juliana ! "


Damar berteriak hingga serak mendominasi.


Dia segera berlari meraih tubuh Juli.


Ifan tak kalah terkejut melihat pemandangan itu.


Tangannya bergerak menekan layar ponsel memanggil seseorang.


"Stay with me Juls !"


Damar menangis, hatinya hancur saat tahu keadaan Juli.


Langkah Ifan cepat mencari apapun berbahan kaos.


Lalu memberikannya kepada Damar, Damar menekan kaos itu dileher Juli.


"Kapan ambulance akan tiba Ifan ?"


"5 menit lagi tuan, sebaiknya kita turun menunggu dilobi."


Ifan mendapat kepastian dari pihak rumah sakit terdekat.


Damar setuju, dia menggendong Juli yang bersimba darah.


10 menit sebelum kedatangan Damar, Juli sempat bersitegang melawan Romi.


Romi tidak sengaja, benar benar tanpa niat melukai Juli dia mendorongnya ke atas pecahan meja kaca tadi.


Leher Juli tertusuk oleh pecahan yang berdiri menghunus keatas.


Seperti kena tulah, Juli menyesal bermain main dengan Romi.


Kini ia menanggung akibat perbuatannya.


Tak lama mobil ambulance tiba didepan lobi apartemen.


Petugas memberi pertolongan pertama pada Juli.


Mulai dari memberi masker oksigen dan menekan luka dileher Juli menggunakan kompresan berisi es batu.


"Kita tidak bisa menyumbat terlalu lama, akan terjadi pembekuan dan itu berbahaya."


Perawat menjelaskan kondisi Juli memburuk.


Satu satunya ialah melakukan operasi menghentikan pendarahan.


"Lebih cepat lagi !"


Perintahnya pada rekan pengemudi ambulance.


Damar mengenggem tangan berlumuran darah Juli.


Pantas saja dia merasa gelisah melakukan perjalan bisnisnya.


Menyesal meninggalkan Juli tanpa penjagaan.


"Damar. ."


Juli terbata berusaha memanggil Damar, laki laki itu mencondongkan diri mendekati wajah Juli.


"Jangan bicara dulu Juls, sebentar lagi kita sampai."


Dia mencoba berpikir jernih, selain menguatkan dirinya Damar juga berperan memberi semangat Juli.


Brankar yang membawa Juli terus didorong menuju ruang IGD.


Penglihatan Juli fokus pada Damar dan akhirkya gelap gulita.


"Silakan tunggu diluar pak Damar."


Pinta suster menahan Damar.


Ifan baru saja sampai langsung mengambil alih papan ditangan suster.


Dia mengisi data pribadi pasien juga informasi walinya.

__ADS_1


"Romi menyamar jadi kurir berhasil masuk ke apartemen."


Ifan melaporkan keterangan Security setelah memeriksa rekaman cctv.


"Siapkan stok darah, suruh orang MHospital membawanya kemari."


Segala kemungkinannya Damar sudah siapkan matang matang terpikir olehnya selama perjalanan.


"Baik tuan."


Ifan mulai melakukan beberapa panggilan, perasaannya juga diliputi rasa khawatir terhadap kondisi Juli.


Lama sudah Damar menunggu duduk dikursi.


Tak henti hentinya dia berdo'a dalam hati meminta Tuhan menyelamatkan kekasihnya.


-Waktu kita masih panjang Juls, aku belum puas membahagiakan juga mencintai kamu.


Stay strong please. . .-


Sesal mengisi relung hatinya, andai Damar bisa mengulang kembali dia tidak ingin pergi bekerja.


"Pak Damar . ."


Setelah 1 jam menunggu, dokter keluar memanggil Damar.


Seluruh rumah sakit mengetahui profil Damar Aditya cucu dari pendiri MHospital.


"Bagaimana ?"


Wajah gusarnya tidak bisa Damar sembunyikan lagi.


"Untungnya luka tidak sampai menyentuh pembulu darah pasien. Kami sudah menyumbat pendarahan, akan ada bekas luka jahitan nantinya. Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat."


Dokter menerangkan keadaan terkini Juli.


Syukurlah,


setidaknya Damar bisa bernafas lega mengetahui tidak ada hal serius terjadi pada Juli.


Brankar yang membawa Juli keluar didorong dua suster menuju kamar, VVIP sesuai pengajuan tertera di formulir registrasi.


Perban berukuran cukup besar menempel di leher sebelah kiri Juli. Damar memandanginya, Juli masih belum sadar akibat pengaruh antibiotik.


Tidak lupa soal Romi, Damar juga meminta Ifan melacak keberadaannya agar diproses secara hukum.


Kebetulan salah satu temannya berprofesi sebagai pengacara.


Langkahnya sudah dimulai, Damar akan menyeret serangkaian kasus Romi ke meja hijau.


"Juls, bangun . ."


Damar duduk dikursi samping brankar, selang oksigen masih melingkar dihidung Juli.


Beberapa luka gores juga nampak di lengannya, hati Damar tidak bisa tenang meski Juli baik baik saja sekarang.


Nenek Atikah datang karena mendapat kabar dari Damar langsung.


"Dee . ."


Damar memeluk Atikah setibanya ia didalam kamar.


"Nek, terima kasih sudah mau datang."


"Kamu istirahat saja Dee, biar nenek yang jaga Juli."


Atikah melihat cucunya berantakan tak terurus dirinya sendiri.


"Damar cari kopi dulu nek, kasih kabar kalau Juli bangun."


Neneknya mengangguk, Damar mengikuti saran Atikah.


Sudah beberapa jam Damar menunggu Juli sadar, ia perlu asupan energi agar tetap sehat demi merawat Juli.


Baru saja Atikah duduk meletakkan tasnya di meja, ia melihat jari Juli bergerak.


Senyumnya merekah merasa lega.


"Nek . ."


Juli bergerak melepaskan selang dihidungnya.


"Damar lagi cari makan, cukup lama dia menjaga kamu nak.


Perlu nenek panggil dokter ?"


Tanya Atikah, Juli tidak nyaman dengan posisi perban dilehernya menjadi kaku.


"Gak usah nek, Juli hanya haus."


"Biar nenek bantu Juli minum ya . ."


Atikah mengambil gelas, memberi Juli minum menggunakan sedotan.


"Terima kasih nek, ,"


Juli tersenyum.


"Nenek telpon Damar dulu."


Juli menggeleng melarang, aksi Atikah yang hendak menelponpun terhenti.


"Pak Damar pasti lelah, aku gak mau dia sakit nek."


Atikah terenyuh mendengar perhatian Juli pada cucunya. Padahal dirinya juga perlu pengawasan intens dari Damar.


"Permisi, kami perlu mengecek keadaan pasien."


Suster rawat masuk kedalam memotong percakapan mereka.


"Suster kapan saya bisa pulang ?"

__ADS_1


Tanya Juli tak sabar, padahal belum 24 jam ia dirawat di rumah sakit.


"Jahitannya saja masih basah bu, nanti saya lapor dokter dulu.


Nanti minum obatnya 3x sehari setelah makan."


Suster mencopot kantung darah yang sudah kosong. Kemudian memberi 2 botol obat ke tangan Atikah.


"Terima kasih sus. ."


Ucap Atikah.


Suster segera pamit keluar.


"Nek, cerita dong soal pak Damar. Juli bosen tiduran terus."


Juli dapat merasakan kalau ia tidur cukup lama sebelumnya.


"Paling gemes tuh pas Damar masuk SD, dia kan murid Zara.


Ngebet banget minta ayahnya nikah sama Zara.


Sudah jadi mamanya, dia nempel terus sama Zara."


Juli tersenyum mendengar usaha ngotot Damar menyatukan Ditya dan Zara.


"Malahan setiap malam Damar kudu banget di nina boboin.


Itu pas hamil Kevin, perut mamanya ketendang gak sengaja lagi dia tidur."


"Ya ampun pak Damar ada ada saja, pantes dia sayang banget sama Kevin."


Bahkan rela mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Kevin.


"Juli sendiri gimana, kenapa bisa suka sama cucu nenek ?"


Mendapat pertanyaan itu dari Atikah, Julo bengong membayangkan pertemuan mereka.


"Entahlah nek, Juli juga heran kenapa bisa suka sama pak Damar.


Kayaknya pas dia betulin tali sepatu aku yang lepas di lobi MHotel."


"Kamu berhasil mencuri perhatian Damar meski baru pertama kali ketemu.


Dia gak pernah seperti itu sama perempuan manapun."


Atikah membanggakan kehadiran Juli di hidup Damar.


"Berarti Juli spesial dong nek ?"


"Tentunya . ."


"Tapi nek, Juli belum bisa memberi pak Damar kebahagiaan, Juli ngerasa gak mampu."


Juli memandang Atikah penuh arti, sebuah signal kemungkinan ia akan menyerah.


"Ssst . . Pelan pelan saja Juli, jalan kalian masih sangat panjang."


Ditengah perbincangan mereka membahas Damar, orangnyapun muncul dari balik pintu.


"Juli . ."


Damar bergegas mendekat kearah Juli disebelahnya, berhadapan dengan Atikah.


Dia mencium ujung kepala Juli lama sekali, membuat Atikah terkekeh melihatnya.


"Hi pak . ."


Juli menggenggam lengan Damar yang mengungkungnya.


"Ekhem . ."


Atikah memotong adegan romantis keduanya.


"Terima kasih nenek sudah jaga Juli."


Damar melirik pada neneknya Atikah, ia mengangguk tak masalah.


"Aku lapar sekali. ."


Tanpa malu malu Juli mengungkapkan perasaannya.


"sebentar lagi Ifan bawa makanan, kata dokter kamu harus makan makanan berbau amis."


"Hah , , kenapa ?"


"Biar lukanya cepat kering Juls, perbannya akan diganti sehari sekali di sore hari."


Damar menekan tombol menaikan brankar memperbaiki posisi Juli untuk bersandar.


Damar membantu Juli menyuapi makanannya sementara Atikah duduk disofa menonton TV. hanya demi mengalihkan perhatiannya memberi mereka waktu.


"Lain kali lebih hati hati terima tamu."


Damar mencoba menasehati kecerobohan Juli.


"Aku terlalu gembira menunggu bapak, sampai dia bilang bapak membawakan hadiah untukku."


Juli menunduk menyesali kelengahannya.


"Tidak apa, aku tidak sedang memarahi kamu Juls."


Damar mengelus pipi Juli.


Kalau sudah begini, Juli mana mungkin tega meninggalkan Damar.


Pikirannya terus dibayangi pertunangan Damar dengan Sekar.


"Ada apa ?"


tanya Damar diperhatikan oleh Juli, ia menggeleng tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2