Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#140


__ADS_3

Hingga malam tiba, Damar masih belum menyadari kediaman Juli.


Pas makan malam keluargapun istrinya tidak banyak bicara, sesekali tersenyum dan menjawab ketika ditanya.


Juli mengambil kantung kresek dari tasnya, ia berjalan masuk ke kamar mandi.


Sementara Damar masih sibuk dengan beberapa laporan yang Sekar titipkan pada Kevin.


Damar jika sedang bekerja dia akan sangat fokus.


Menatap cermin Juli ragu dengan pilihannya sendiri.


Sebelumnya ia sangat yakin untuk tidak segera hamil.


Mendadak perasaannya mampu digoyahkan oleh keinginan terpendam Damar.


Terlebih grand Ma menginginkan seorang cicit.


"Apa yang harus aku lakukan . . ?"


Tanya Juli pada pantulan dirinya di cermin.


Sesaat hatinya sudah memutuskan. Juli membuka pil pada hari minggu setelah garis merah.


Kemudian ia menyimpan kembali paknya kedalam lemari kecil disebelah cermin.


Mungkin seterusnya Juli akan melakukan hal yang sama sebelum tidur.


"Belum mau tidur ?"


Juli duduk disebelah Damar.


Ia merasa kasihan melihat suaminya harus bekerja meski sudah malam. Apalagi duduk disofa, bukan di meja kerja seperti biasanya.


Pasti tidak nyaman bagi tubuh Damar.


"Masih ada laporan yang harus aku pelajari sebelum tanda tangan Juls. Kamu tidur duluan, gak usah nunggu aku."


Jawab Damar sambil membolak balikan halaman.


"Jangan begadang ya pak, aku tidur duluan."


Cup . .


Juli mencium pipi sebelah kiri Damar sebagai tanda rasa rindunya.


Entah kenapa meski mereka berdekatan Juli selalu merasa rindu pada Damar.


Membuncah setelah sekian lama mereka menjalani hidup sendiri.


Akhirnya Damar dan Juli bisa bersama dalam satu ikatan bernama pernikahan.


"Hmm, aku jadi gak fokus nih . ."


Damar menghentikan aktifitasnya lalu mengejar Juli ke tempat tidur.


"Aaa ..."


Juli setengah berteriak mendapat pelukan Damar dari belakang.


"I Love You . ."


Bisik Damar ditelinga Juli.


"I do too , ,"


Juli berbalik menatap Damar.


"Kamu hadiah terindah yang Tuhan kasih ke aku.


Apapun asal kamu bahagia Juls. Jangan pernah tinggalkan aku !"


Damar mencium bibir Juli sekilas lalu mengecup keningnya.


"Jadi, mau tidur atau melanjutkan pekerjaan ?"


Tatapan Juli menggoda Damar, dan berhasil meluluh lantahkan hasrat suaminya.


"Aku mau kamu !"


Damar menggendong Juli lalu merebahkan tubuhnya diranjang.


Damar berhasil.


Ia sudah menjebol pintu masuk surga dunia milik Juli.


Meski ada adegan Juli menangis akibat selaput darahnya pecah diserang Damar.


Percintaan mereka berlanjut hingga beberapa kali mencapai klimaks.


Damar tidak menyangka akan senikmat ini melakukan **** bersama pasangan halalnya.


Juli merasa dibawa terbang oleh sentuhan lembut sang suami.


Sakit hanya permulaan untuk meraih kenikmatan tak terhingga.


"Aku lelah pak . ."


Rintih Juli ketika Damar berniat memulainya lagi.


Keringat diseluruh tubuhnya membuat Juli tidak nyaman.


"Baiklah, kita tidur."


Damar mencium bibir Juli singkat.


"Aku mau mandi dulu."


Juli bangun dari tempat tidur.


"Ini sudah larut Juls, gak baik buat kesehatan kamu."


Damar melarangnya.


"Badan aku lengket."

__ADS_1


Juli memaksa tak memperdulikan Damar.


"Juli !"


Damar harus membentaknya dulu untuk menghentikan langkah Juli.


Tak terasa air mata Juli menetes mendengar suara Damar.


"Kamu tahu kan aku gak mau kamu sakit, maaf kalau aku berteriak tadi."


Sesal Damar, Juli hanya terpaku tanpa ingin melihat wajah Damar.


Hal sepele seperti ini saja sudah bisa menyebabkan pertengkaran.


Bagaimana jalan didepan mereka ?


Apa Juli bisa menghadapinya dengan bijak ?


Juli menuruti perintah Damar.


Ia kembali ke tempat tidur berbaring membelakangi sang suami.


"Kamu nangis ?"


Damar memeluk pinggang Juli dari belakang.


"Iya."


Juli berkata jujur.


"Aku menyesal, tolong maafkan aku."


Damar menenggelamkan wajahnya dipunggung Juli.


Juli menutup matanya mencoba bersabar menghadapi sikap Damar yang baru ia ketahui.


"Iya."


Jawab Juli singkat menahan tangisnya.


☀️☀️☀️


Pagi yang cerah mengawali hari Juli.


Ia sudah sejak subuh sibuk didapur menyiapkan sarapan untuk keluarga besar.


Dibantu bi Ipah Juli cekatan menyelesaikan beberapa menu.


Mulai dari makanan pengganjal perut hingga berat.


"Wah menantu mama rajin sekali."


Juli menengok melihat Zara tiba di meja makan diikuti Ditya suaminya.


"Juli seneng mah, biasanya masak buat sendiri kan gak seru."


Juli selesai menata hidangan, iapun pamit memanggil Damar di kamarnya.


"Pak sarapan yuk ?"


Damar masih sibuk didepan lemari.


"Juls aku gak suka kemeja yang ini. Bisakah kamu mencarikan kemeja lain ?"


"Loh itu aku yang siapin, masa gak menghargai usaha aku.


Lagipula itu bagus kok, cocok sama kulit bapak."


Juli kesal dibuat Damar sepagi ini. Susah payah ia menyetrika ulang kemeja kerjanya.


"Pokoknya kemejaku harus berwarna kalem, jangan cerah begini."


Damar mengancingkan kemeja baru pilihannya berwarna navy.


"Terserah bapak !"


Juli menutup pintu cukup keras.


"Salah lagi . ."


Damar menyadari kesalahan yang ia buat pada Juli.


Seleranya bahkan berbeda dari keinginan sang istri.


Kevin baru saja turun tangga mendengar hal itu.


Terlihat raut kesal diwajah Juli membuatnya mengerutkan kening.


"Ada apa ?"


Kevin mencoba bertanya.


"Selera kakak kamu tuh . ."


Juli berlalu meninggalkan Kevin dengan kebingungannya.


"Dasar aneh."


Gumam Kevin masih bisa didengar Juli.


Suasana sarapan lancar seperti biasanya. Sampai Kevin nyeletuk merubah keadaan.


"Kevin sama Sekar lagi proses pendekatan. Kevin harap kalian bisa mendukung seperti halnya Sekar mengerti kesibukan Kevin."


Untung saja Juli tidak tersedak mendengar penuturan Kevin.


Kata katanya seolah menampar Juli secara halus.


Tapi Kevin sendiri yang memutuskan hubungan mereka, jadi Juli harus tetap fokus pada rumah tangganya saja.


"Ayah setuju asal kalian tidak main main.


Kami berharap kamu juga bisa mendapatkan yang tepat seperti mas kamu."


Ditya tak masalah Kevin dekat dengan siapapun selagi mereka bisa bertanggung jawab atas keputusannya.

__ADS_1


"Iya, nanti ajak Sekar makan malam ya Kevin kalau kalian tidak sibuk."


Zara melemparkan senyum bahagianya.


"Damar sama Juli pamit berangkat kerja dulu, yuk Juls !"


Damar menarik tangan Juli bangkit dari kursi.


"Hati hati nak."


Grand Ma mewakili melepas mereka pergi.


"Assalamualaikum semua."


Ucap Juli pada seluruh anggota keluarga.


Di perjalanan Juli masih bungkam tak ingin memulai percakapan.


Baginya Damar sudah keterlaluan pagi ini.


Juli ingin seperti istri pada umumnya, menyiapkan pakaian suami sebelum berangkat bekerja.


Bukannya menghargai Damar terang terangan menolak kemeja pilihannya.


"Juls ayo dong, jangan cuekin aku.


Lain kali aku akan memakai apapun yang kamu siapkan."


Damar melirik sebentar kesamping memastikan ekspresi sang istri.


"Jangan dibahas lagi pak. Perih tahu."


Juli menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Sesakit itu hati kamu tersinggung ?"


"Bukan, ini gara gara semalam bapak melakukannya."


Damar tergelak mentertawakan jawaban polos Juli.


"Katanya kalau masih perawan memang gitu. Kan selanjutnya kamu malah merem melek keenakan."


Tangan Damar bergerak mencolek dagu Juli.


"ih bapak pagi pagi udah mesum."


Juli menepis tangan Damar lalu menggenggamnya.


"Mesum sama istri sendiri ialah hal baik sayang . ."


Damar menciumi punggung tangan Juli berulang kali.


"Kata Grand Ma aku harus merubah panggilan bapak. Tapi aku masih bingung mau manggil apa."


Juli jadi ingat kalau sampai detik ini ia memanggil Damar bapak.


"Hmm apa ya, pengennya aku dipanggil ayah juga kayak mama manggil pak komisaris."


Damar terkekeh geli mengatakannya.


"Mama Zara melakukannya karena mereka punya kalian."


Juli berasumsi.


"Berarti masih lama dong kita manggil ayah bundanya."


Damar memasang wajah kecewa mengingat keputusan Juli untuk menunda kehamilan.


"Hmm mas aja ya. Kan mas Damar asli jawa hehe . ."


Juli mencoba menghangatkan kembali atmosfir diantara mereka.


"Oke sayang, aku setuju."


Damar mengelus ujung kepala Juli kemudian mempercepat laju mobilnya.


Setibanya di hotel Juli harus cepat cepat memisahkan diri dari Damar. Padahal Damar ingin menunjukkan kalau mereka sekarang suami istri.


Juli belum siap, apalagi mereka menikah diam diam dan buku nikahpun belum jadi.


"hi Juls . ."


Adam berjalan mensejajarkan langkahnya denyan Juli.


"pagi kak Adam."


Juli menyapa Adam sewajarnya.


"Kamu stay di kantor hari ini ?


Gimana kalau kita makan siang bareng."


Ajak Adam, dia tidak tahu kalau Damar mendengarkan dari belakang.


"Aku harus meeting sama client kak, tanda tangan kontrak.


Kayaknya bisa lebih dari waktu makan siang."


Untungnya hari ini Juli ada janji temu, ada alasan untuk menghindari Adam.


"Maybe laters ya Juls , ,


kangen gue kumpul kayak dulu."


Adam refleks mengacak rambut Juli di depan pintu ruangan.


Damar merasa dibakar api cemburu menyaksikan istrinya digoda laki laki lain di hadapan matanya sendiri.


"Eu . . Aku masuk duluan kak."


Juli sempat melirik kearah Damar, suaminya sudah memasang mode marah pada tatap matanya.


Ah kenapa jadi begini.


Adam tidak salah mengingat dia tidak tahu kalau Juli sudah menikah dengan pemilik hotel tempat mereka bekerja.

__ADS_1


Juli jadi serba salah oleh situasi yang terjadi.


__ADS_2