Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#95


__ADS_3

Di sebuah mall besar, Kevin berdiri didepan pintu masuk.


Menunggu kedatangan dua gadis yang akan menemaninya.


Perasaannya campur aduk, ia bahagia saat Juli tiba tiba mengajaknya pergi.


Meski Kevin harus membuang egonya demi Damar, Kevin ingin menikmati kebersamaannya dengan Juli hanya sebatas teman.


"Hi Kevin."


Jihane tiba setelah diantar oleh supirnya.


"Loh Ji, kamu ikut gabung juga ?"


Kevin bingung karena Juli tidak memberitahunya kalau Jihane akan ikut.


"Iya, kan kita bertiga mau nonton sama makan.


Yuk beli tiket, nanti Juli nyusul katanya."


Jihane polos saja karena Juli memang tidak mengatakan apapun padanya.


Setelah membeli 3 tiket, Jihane pamit untuk ke toilet sebentar pada Kevin.


Laki laki itu menelpon Juli ingin memastikan sesuatu.


"Halo Juls,


kamu dimana sekarang ?"


Kevin bertanya setelah Juli mengangkat telponnya.


"Kevin mungkin aku akan sedikit terlambat, kalian masuk saja dulu."


Jawab Juli berbohong.


Padahal sekarang ia sedang berada di suatu tempat.


"Baiklah aku akan menunggu."


Kevin segera menutup telpon saat Jihane kembali.


"Masuk yuk, filmnya sudah mau mulai."


Jihane menarik tangan Kevin cepat cepat, ia tidak ingin ketinggalan sedikitpun film horor yang dinantinya.


"Oh Kevin, Juli tidak bisa datang karena urusan mendadak."


Film baru saja berlangsung sekitar 15 menit, dan Jihane mendapat kabar dari Juli lewat chat line.


Kevin hanya menghela nafas kecewa. Padahal dia sangat ingin melihat wajah Juli.


Terpaksa Kevin nonton film hanya bersama Jihane saja.


Di sebuah kamar private, Juli duduk disofa berhadapan dengan seseorang.


Ekspresinya menunjukan rasa gugup juga tegang.


"Apa itu Kevin ?"


Tanyanya menyelidik Juli yang baru saja menutup telpon.


"Iya nek."


Jawab Juli singkat.


"Nenek hanya ingin kamu bisa menjaga kedua cucu nenek.


Memang Kevin bukan cucu kandungku, tapi aku yang merawatnya sejak kecil."


Ternyata Atikah sengaja meminta bertemu Juli dihotel milik Damar.


"Tapi nek, aku masih belum mengerti kenapa nenek meminta bantuanku."


Juli tahu ini menjadi masalah penting bagi keluarga Damar.


"Menjauhlah dari mereka berdua,


sebelum semuanya terlambat.


Kalian bertiga akan terluka jika . ."


"cukup nenek !"


Tiba tiba Damar datang membuka pintu dan menyela.


"Juli lebih baik kamu pergi sekarang, Sekar akan mengantarmu pulang."


Damar meraih tangan Juli mengajaknya keluar.


"Tidak Damar, Juli harus tahu semuanya.


Jangan sampai masalah ini diketahui ayahmu."


Atikah menjadi lebih peduli pada kedua cucunya.


Ia tidak ingin mereka menderita seperti yang dialami orang tuanya.


"Ayah sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Sekar.


Jadi nenek tidak usah khawatir lagi."


Damar berharap Atikah tidak ikut campur terlalu jauh terhadap masalah pribadi mereka.


"Tidak pak, aku harus tahu semuanya. Kehadiranku disini artinya aku sudah terlibat."


Juli melepaskan genggaman Damar lalu berjalan kearah Atikah.

__ADS_1


"Zara sudah tahu kalau Kevin menyukai kamu Juli.


Entah bagaimana reaksi Ditya dan Zara kalau anak anak mereka merebutkan satu gadis."


"Nenek !"


Seumur hidupnya baru kali ini Damar membentak Atikah.


Namun neneknya tidak peduli sama sekali.


"That's not true nek !


Pak Damar pacaran sama bu Sekar. Kevin dan aku hanya teman, aku terpaksa harus selalu ada disekitarnya."


Hanya itu yang Juli ketahui tentang kedua laki laki yang kini menariknya lebih dalam ke kehidupan mereka.


"Oh sayang . .


Kamu sangat polos Juli, kemarilah !"


Atikah merentangkan tangannya meminta Juli memeluknya.


Dengan ragu Juli menuruti keinginan nenek tua itu.


"Jihane sangat menyukai Kevin, aku akan membantu mereka nek.


Tolong dukung keputusanku, jadi nenek tidak usah khawatir mengenai kehadiranku."


Juli berbisik pelan agar Damar tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Nenek percaya sama kamu.


Kamu anak yang baik Juli."


Atikah tidak bisa memaksakan kehendaknya.


Semua sudah dimulai atas kehendak yang diatas.


"Aku akan antar kamu pulang."


Damar meminta Juli segera pergi, dia tidak tega melihat gadis itu tertekan.


Selama di perjalanan, mereka masih diam tanpa kata.


Damar hanya fokus menyetir, sesekali ia melirik kearah samping.


"Juli apa kamu sudah memutuskan kapan akan mulai bekerja untukku ?"


Dia jadi ingat kalau Juli berhutang jawaban padanya.


"Bapak gak inget perintah nenek ?


Aku harus menjauhi kalian berdua. Jadi aku tidak mungkin bekerja di MHotel."


Juli memutar bola matanya menahan kesal.


"Haha ya ya ya,


kalian memang serasi. Sama sama dingin."


Juli blak blakan mengatai Damar orang yang dingin.


"Kamu benar.


Seharusnya aku mencari pasangan yang berbanding terbalik."


Gadis yang dimaksud Damar jelas mengarah pada Juliana.


"betul kan ?


Harusnya bapak memilihku, sayang sekali aku di tolak."


Mereka sudah tiba didepan gerbang kost puteri.


Meski judulnya khusus perempuan, tetap saja banyak laki laki yang berkunjung hingga larut.


Parahnya bahkan ada yang bermalam, sembunyi sembunyi maupun terang terangan.


"Aku tidak ingin serakah Juls, komitmenku dengan Sekar sudah dimulai.


Jangan jangan kamu mau menjadi yang kedua ?"


Damar menggoda Juli, kini tangannya bergerak melepas sabuk pengaman.


"Hmm haha akan aku pertimbangkan."


Juli tertawa terpaksa,


ia hanya asal meladeni gurauan Damar.


"Benarkah ?"


Damar mendekati wajah Juli yang kini memerah.


"Eu . . Aku ingin turun pak."


Juli salah tingkah mendapat perlakuan Damar yang menggodanya.


Cup . .


Setelah lama menatap wajah Juli, dengan penuh keberanian Damar mengecup bibir Juli.


Juli mengedip ngedipkan matanya tak percaya. Seorang Damar yang hanya menganggapnya adik perempuan sudah menciumnya.


Kevin yang datang dari arah berlawanan melihat adegan didalam mobil itu.


Tangannya membanting stir kesal.

__ADS_1


"Munafik kamu mas"


Kevin pergi lagi tanpa sempat bertemu dengan Juli.


Dia sengaja mampir setelah pulang nonton.


"Laters Juls . ."


Damar mengelus ujung kepala Juli sebelum dia turun dari mobil.


"Terima kasih atas tumpangannya pak Damar."


Juli pamit pada Damar dengan senyumnya.


Mobil Damar pergi meninggalkan Juli yang masih berdiri diluar gerbang.


Belum sempat ia masuk, sebuah mobil CRV berhenti dihadapannya.


"Kevin ?"


Juli bingung kenapa dia tiba tiba datang.


"Boleh aku mampir sebentar ?"


Tanya Kevin setelah membuka kaca mobilnya.


"sebentar saja !"


Juli membuka gerbang lebar lebar agar mobil Kevin bisa masuk.


Ini pertama bagi Juli mengajak seorang laki laki masuk ke kamarnya.


Meski banyak tetangganya yang melakukan hal itu, Juli tidak ingin mengikutinya.


Juli dan Kevin menaiki anak tangga menuju lantai 2,


kamar Juli terletak diujung koridor.


Malu sekali Juli menuntun Kevin yang harus mendengar desahan tetangganya.


Pasti mereka sedang melakukan hal hal aneh didalam.


"Aku minta maaf Kevin, disini terlalu bebas."


Juli mempersilakan Kevin masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan fasilitas mini kitchen dan kamar mandi didalam.


Kamar Juli selalu rapi, sebagai seorang perempuan ia harus terbiasa menjaga kebersihan.


Akan terasa nyaman meski itu sederhana jika kita pandai merawatnya.


"Kevin mau minum apa ?"


Tanya Juli berjalan kearah kulkas, Kevin membuntutinya.


"Kamu dari mana saja Juls ?


Kamu yang mengajakku nonton, tapi kamu sendiri yang tidak datang.


Kamu sengaja kan mempertemukanku dengan Jihane ?"


Kevin tidak bisa menahan kekesalan akibat perbuatan Juli.


Apalagi setelah melihatnya berciuman dengan Damar.


"Aku minta maaf Kevin, mendadak sesuatu terjadi dan aku harus pergi."


Jawab Juli menyesal meski ada kebohongan yang ia katakan. Kevinpun mengetahui itu.


"Oh ya ?


Urusan dengan mas Damar maksudmu ?"


Kevin tersenyum sinis pada Juli.


"Iya kamu benar.


Nenek Atikah ingin bertemu denganku. Dan kamu tahu apa yang beliau katakan ?


Aku harus menjauhi kalian berdua, katanya aku akan membawa kesialan jika terus dekat sama kamu dan juga pak Damar.


Puas kamu Kevin ?"


Juli berusaha menahan amarahnya sejak tadi.


Kali ini ia sudah tidak bisa lagi.


Kevin memeluk Juli berharap bisa menenangkannya.


Kasihan gadis malang ini, dia harus terlibat masalah karenanya juga Damar.


"Aku minta maaf atas nama nenek, tolong jangan membencinya Juls."


Juli menggelengkan kepalanya didalam pelukan Kevin.


"Aku tidak ingin mereka salah paham terhadapku.


Tidak ada sedikitpun niat dihatiku untuk menyakiti kalian."


Juli membalas pelukan Kevin.


Bukannya murahan, ia hanya butuh seseorang untuk bersandar.


Juli hanya menganggap Kevin sebagai teman, tidak lebih.


Ia juga tidak ingin memberi harapan padanya, atau berharap lebih pada Damar.


Adalah satu kesalahan terbesar Juli mengungkapkan perasaannya pada Damar.

__ADS_1


Andai itu tidak ia lakukan, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.


__ADS_2