Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Ujian Kesabaran


__ADS_3

"Baiklah, kalian sepertinya sudah tak sabar. Dari dua ratus empat orang Calon Peserta Didik Baru jurusan IPS tahun ajaran baru ada dua....


Deg!


Ada dua ratus tiga orang siswa yang di terima, karena satu orang murid lainnya mendadak pindah sekolah karena kepentingan keluarga." Ujar beliau sambil tersenyum dan membuat para siswa/i menjerit bahagia dalam hatinya.


"Yess! Pamer ah ke Kak Bian hheee." Gumam Laila. Kemudian ia sibuk bergaya di depan ponselnya, dan...


Cekrek!


Laila mengirimkan fotonya dengan latar belakang teman satu angkatannya kepada sang Kakak.


AbangKresekk❣️


*Gambar


Kak gantian nihh, aku yg pameeeer, keterimaa dongg di SMA Lima Sila, bareng ma Nfisa juga Sfiraa hheee😁


Centang dua abu abu terlihat di ponselnya, kemudian ia memperhatikan fotonya. "Lahh? Tunggu... Kokk..." Laila merasa ada yang ganjal di fotonya.


Ada dua wajah yang tak terlalu asing disana. Yang satu wajahnya tengil, satunya lagi datar. Laila mencoba mencari kembali wajah kedua orang itu, dan yahh... dapat


Erlangga dan Nathan, mereka sedang mengobrol bersama para siswa lainnya, sambil menunggu pembagian kelas untuk mereka. Nathan yang merasa diawasi pun menoleh ke belakang, ia mengedipkan mata kepada Laila dan fokus bersama temannya kembali.


Laila bergidig, heran ternyata ada manusia yang sebelas duabelas dengannya hhaa. "La, kita sekelas gak yahh?" Tanya Nafisa yang mendadak terserang Tremor.


"Iya nihhh, gue harap kita bertiga sekelas yahh biarr ramee." Timpal Safira sambil menatap kedua sahabatnya.


"Sama girls, gue pengennya juga gitu." Ujar Laila.


Terdengar kembali suara toa di tengah tengah aula. "Ini waktunya pembagian kelas anak anak, mohon dengarkan dengan seksama yah..."

__ADS_1


"Sudah tau sekarang kalian ada di kelas mana? Selamat yahh atas terterimanya kalian di sini, semoga kalian mendapat ilmu yang bermanfaat dan dapat membanggakan sekolah kita ini, Terimakasih Wassalamu'alaikum." Kalimat terakhir yang diucapkan Bu Sulis-staff kesiswaan membuat tawa dan teriakan riuh di aula semakin mendominasi, terutama bagi Laila dan kedua sahabatnya, mereka tidak menyangka akan satu kelas, ucapannya terkabul.


"Horeee kita sekelas!!" Seru mereka mengundang banyak pasang mata di sana, hingga dua orang menghampiri mereka.


"Woii bocahh seneng banget. Ingett, poin Lo dahh kurang lima." Ujar Surya yang menghampiri Laila beserta kedua sahabatnya, dan ditemani Citra-kakak panitia tadi.


"APAA!!!??? POINN KITA DIKURANGII!?? KENAPA KAKK?!!!" Seru Nafisa dan Safira histeris.


"Bukan kaliann, tapi dia tuh." Ucap Surya sambil menunjuk Laila dengan dagunya, sedangkan Laila hanya menatap datar kearahnya.


'Alhmdulillah' akhirnya Nafisa dan Safira dapat bernafas lega, namun memandang miris kearah Laila.


"Nggak, nggakk, tadikan udah janji kalo aku bantuin bawa dokumen, poinnya dikurangi, kok ini gak sesuai negosiasi sihh? Gak adil!" Sela Laila tak terima.


"Ahh iyaa, gue lupa kalo tadi sempet nego ma loo, so poin Lo ditambah dua." Ujarnya dengan tampang datar biasanya.


"Kok cumaa dua? Lima aja Kak piss?" Pintanya sambil merengek dan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Kalo Lo anak IPA gue toler deh poinnya 4, tapi sayang, Lo anak IPS, jadi gak dapet toleran sorry." Ucapnya panjang tapi tanpa ekspresi.


"Bedalaaahh," sahut Surya. "Kan salah Lo banyak jadi cuma dapet dua poinn." Kalimat pendek namun mampu membuatnya mendengus kesal, ingin sekali rasanya mencakar wajah menyebalkan Surya.


"Udah La, udah, gak usah diladenin, posisi Lo terancam." Safira dan Nafisa menenangkan Laila yang wajahnya sudah merah menahan kesal.


"Ya, udah dehh, anak orang tuh, mati kepanasan gimana? Lo mau tanggung jawab?" Tanya Citra sedikit protes.


"Ehh Kakk, marah doang gak bikin mati yaaa!?" Pekik Laila tak terima.


"Agak ragu sih ya dek, soalnya liat muka Lo kek yang lagi nahan berak, dan itu dapat membuat resiko kematian sepuluh banding seribu hhaaaa...." Ejek Citra kemudian menarik tangan Surya untuk kabur, ia berlari sambil tertawa terbahak bahak.


"Kalian berduaaaaa!!!! Awas ajaaa kalo ketemu guee gak takuuuuuttt!!!" Pekikan keras Laila dan suara tawa Citra yang menggema di aula menjadi atensi banyak orang.

__ADS_1


Nathan menarik Erlangga untuk menghampiri TKP. "Itu cewekk tadi Ga, kerjain yukk, bantuin kak ketoss hhaa..." Ajak Nathan sambil menarik seragam Erlangga.


"Lo aja gue maless pen balikk." Tolak Erlangga kemudian membereskan tasnya.


Nathan tak ingin mengambil pusing tolakan Erlangga, tanpa izin ia menarik kerah belakang Erlangga menuju tempat Laila dan sahabatnya berada.


"Woyy woyy, gue kagak bisa nafass, pake perasaan Napa nariknyaa." Seru Erlangga ia merasa akan kehabisan nafas ditarik begitu saja oleh Nathan.


Nathan tak memperdulikan nya dan memilih menghampiri Laila serta kedua sahabatnya. "Haii? Kenalan bolehh? masuk kelas mana? IPS satu, dua, tiga, empat, lima, atu enam?" Tanya Nathan tanpa jeda.


"Bolehhh dooong." Jawab Nafisa sambil tersenyum semanis mungkin dihadapan Erlangga dan Nathan. "Gue Nafisa, iini sahabat gue, dia Safira dan ini Laila. Gue anak IPS 1." Ucap Nafisa memperkenalkan dirinya dan sahabatnya.


"Waaaah satu kelas dong gue juga sama dia. Gue Nathan dan ini Erlangga." Balas Nathan memperkenalkan diri juga.


"Temen baru dong nih?" Sahut Safira sambil tersenyum penuh makna.


"Iyaa dooong." Timpal Laila yang moodnya sudah kembali baik. 'Yes sekelas!' dalam hati ia bersorak girang karena satu kelas dengan gebetannya.


"Nurlaila.P, Lo anak siapa? Kok bisa sebandel ini yahh? Baru keterima dah bikin heboh hhaaa..." Ejek Nathan diakhiri tawa renyah dan disambung tawa dari kedua sahabat Laila.


"Gue anak manusia, dan gue gak bandell, cuma takdir lagi kurang baik sama gue hari ini." Ujar Laila mencoba membela diri.


"Oooh anak manusia rupanya, kirain bukan." Ucap Nathan yang berusaha memancing emosi Laila, ia menyukai saat wajah Laila merah padam.


Erlangga yang awalnya tak ingin ikut campur, namun melihat Nathan sedang berusaha membuat Laila kesal, ia sedikit tertarik untuk memperhatikan.


"Lo kiraaa, gue anak orang utan apaaa???! Seenak udel aja ngomong gitu!" Seru Laila kembali kesal dan tak terima.


"Hheee nggak gitu Laila, gue gak bilang Lo anak orang utan lohh, gue gak ngomong secara gamblang, mungkin itu pikiran Lo aja." Tutur Nathan sambil tersenyum watados.


Laila terdiam, wajahnya merah padam bak kepiting rebus. Pencampuran rasa kesal, malu, gemas, menyatu dalam hatinya. 'ujian untuk mendapatkan seseorang emang selalu begini, sabarkan hatimu wahai Nurlaila.' Laila bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa diem? Baru nyada-" ucapan Nathan terpotong.


"Udah, ngantin mending daripada debat, gak bikin kenyang soalnya." Erlangga menghentikan perdebatan itu sebelum terlalu jauh.


__ADS_2