Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Keberuntungan?


__ADS_3

"Lo nge tikt*k Ra?" Tanya Nafisa dengan tampang so seriusnya.


"iyaa, punya doang aplikasinya, tapi gak guna." jawab Safira lalu tertawa.


"laaaah, Lo dah buat akun belum? Kalo udah, Follow akun gue hheee." pintanya sambil cengengesan.


"nggak jugaa, males ahh gue mah." jawab Safira dan di balas tatapan sedih oleh Nafisa.


"kalo lo La?" tanya Nafisa pada Laila yang dari tadi nyimak.


"gue mahh nggak punya toktok, punyanya cuma snek--" dengan sengaja Laila menjeda ucapan nya untuk menunggu sahutan Nafisa.


"Snekvidio?" tuh kann Nafisa langsung menyahuti.


"bukan tapi Snek di warung hhee..." jawab Laila sambil nyengir lebar.


"laaaah Lo mah." ucap Nafisa dengan memutar bola matanya malas.


'hhhaaaaa' sialnya Laila dan Safira malah menertawakan Nafisa yang sedang kesal, Nafisa semakin memberengut kesal dan berjalan mendahului dua sejoli yang sedang asik tertawa berdua itu.


Laila dan Safira mulai mengejar langkah Nafisa yang tergesa-gesa, "Sa liat, orang sensi lagi ngambek pftt." sindir Laila sedikit keras agar terdengar oleh Nafisa.


"iya tuh, giliran dia gangguin sama siapa sih tuhh cowo kemaren yang sama cogan hhhiii, dialah pokoknya, kita be aja kan." Timpal Safira yang juga ikut-ikutan.


Nafisa memberhentikan langkahnya, "telinga gue panas, Lo berdua pasti ngomongin gue." cibir Nafisa sambil manyun kesal.


"nggak kok, kita lagi ngomongin gadis PMS ngambek." balas Laila lalu cekikikan bersama Safira.


"iiiikh! kalian jahaaaatt!!" seru Nafisa dan memukul lengan Laila dan Safira satu persatu.


"Auh, auhh iyaa maaf." ucap Laila dan Safira serempak.


"Gak dimaafin!" Bohong Nafisa sambil pura pura ngambek.


"Yaudahh kita mah gapapaaa yakann La?" Ujar Safira dan tersenyum penuh arti ke arah Nafisa yang sedang bersedekap dada.


"Hihh!! Sonoooo! Gosah anggep gue!" Pekik Nafisa dan menghentakan kakinya kesal.


"Makanya kalo orang minta maaf tuh di maafin hhheee..." Ucap Laila dan melesat pergi lebih dahulu ke kelasnya sebelum mendengar pekikan maut nan cempreng milik Nafisa.


"Lailaaaa!!!!" Safira yang berada di belakang Nafisa menutup telinganya rapat rapat, walau pada akhirnya tetap terdengar juga.




Sekarang mereka bertiga sudah duduk dibangku pilihan mereka, walaupun berada di bangku yang bisa dibilang paling belakang, karena perdebatan kecil mereka tadi, jadi bangku depan telah diisi penuh oleh murid yang biasanya rajin.



Erlangga dan Nathan juga tampak sudah duduk manis di bangku pilihan mereka, kebetulan tempat duduk mereka bersisian. Tetangga gitu:v



Laila dan kedua sahabatnya bercengkrama melupakan orang sekitar, tak sadar ada Nathan yang berdiri disamping Safira.



"Eh babi buta," latah Safira kaget dan memukul paha Nathan yang sedang berdiri.



"Kenapa gak sekalian babi ngepet?" Tanya Nathan sambil nyengir lebar.

__ADS_1



"Iya Lo jadi babinya gue yang jaga lilinnya, puas!" Ujar Safira sarkas.



"Lo pernah cosplay yaahh?" Pertanyaan nyeleneh Nathan dengan wajah penasaran akutnya.



Abcdefkjvjsjavcks... Huruf yang beraturan pun mendadak berantakan mendengar pertanyaan Nathan. "Iya pernah! Dan parahnya gue dituduh jadi babi!" Ucap Safira asal.



"Waaaah! Daebak! Kali kali ajak gue okeyy." Parahnya Nathan percaya, ini lebih parah, parah parah parah!



"Lo polos apa beg\*?" Tanya Safira yang mulai terbawa suasana.



Nathan yang memang pada dasarnya hanya ingin membuat Safira atau Laila kesal, hanya memasang wajah tanpa dosanya.



"Gataulaaah, tanya aja sama penciptanya." Ujar Nathan dan tersenyum semanis mungkin di hadapan Safira.



Laila dan Nafisa merasa ingin muntah saja mendengar penuturan sok bijak yang Nathan ucapkan.



"Nat! Udah dehh jangan mulai, malu- maluin aja Lo mah." Sahut Erlangga yang hanya memperhatikan dari tadi kegiatan yang dilakukan Nathan.




Banyak yang menatap kagum kearah Erlangga karena ketampanannya, termasuk juga Laila. Ia mulai membayangkan senyum manis Erlangga jika tersenyum kepadanya.



"Eh anjirr, gue gilaaa apa?" Monolog Laila dan mengusap wajahnya yang sedikit memerah.



Nafisa yang masih menghadap Laila dibuat terbingung karena senyuman Laila yang tiba-tiba, juga wajah Laila yang tetiba merah tanpa sebab.



"La Lo sakit? Wajah Lo meraaaaah." Ujar Nafisa sambil berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat duduk Laila, kemudian memegang kening Laila.



"Nggak panas kok, tapi kenapa senyum senyum sendiri?" Gumam Nafisa pelan namun terdengar oleh Laila.



"Hehh! Lo kira gue gila apaa?!" Sewot Laila tak terima.


__ADS_1


"Siapa yang bilang gila? Orang Lo sendiri kok yang bilang." Jawab Nafisa dengan wajah datarnya.



"bener tuh Nafisa." Sahut Nathan dan mengacungkan jempolnya.



"Tuuuhhh, Nathan aja denger." Timpal Nafisa dan tersenyum merasa menang.



Semenjak pertemuan mereka beberapa hari lalu, Nafisa seperti mendapatkan teman satu frekuensi untuk mengerjainya dan Safira.



"Pasti dong, kan telinga gue berfungsi dengan baik, gak kaya teta- gggsjxaa." Ucapan Nathan terpotong karena mulutnya dibekap Erlangga menggunakan tissue yang dilemparkan salah satu siswi kepadanya dengan tulisan 'Lo *Handsome*^\_^' tanpa peduli perasaan gadis itu, yang tissue nya di gunakan untuk membekap mulut orang.



"Mulut Lo Nat! Jangan ngajak orang debat dulu napa? Herman gue." Omel Erlangga sambil menggosok gosokan tangannya yang bekas memegang mulut Nathan ke celananya.



"Heran Ga heran, gosah ngelawak tampang Lo gak pantes." Ralat Nathan dengan wajah kesalnya.



"Gue gak ngelawak, cuma salah ngomong doang." Balas Erlangga dengan wajah datarnya.



"Serah Lo, ngomong ma Lo gak bakal menang." Pasrah Nathan dan menenggelamkan wajahnya di meja.



"Assalamualaikum, anak-anak. Maaf ibu sedikit telat datangnya." Sapa Bu Farida—wali kelas IPS 1. Wali kelas ramah yang langsung turun tangan membantu para murid didiknya untuk membereskan meja dan menyapu kelas.



Sungguh, sifatnya tak jauh beda dengan namanya. Farida Dermawan:). (woyy thorr, salahh, harusnya 'Farida Hermawanti'). Eh iyaa lupaa hhheee.



Ia memiliki tubuh yang tidak bisa dibilang gendut, juga tidak bisa dibilang kurus, ideal lah pokoknya. Tingginya sekitar 160cm an, kulitnya berwarna kuning langsat, matanya yang sedikit sipit, mulutnya yang tipis terbungkus merahnya lipstik yang ia gunakan. Terlihat abstrak, dan berbeda dari guru lainnya.



"Wa'alaikumussalam, tidak apa Bu." Jawab mereka semua serempak.



"Yasudah, sebelumnya perkenalkan nama Ibu Farida Hermawanti. Umur Ibu dua puluh tujuh tahun, kurang lebihnya lahh hhhee, Ibu masih lajang belum nikah. Mulai sekarang, ibu adalah wali kelas kalian, yang akan menuntun kalian selama kurang lebih satu tahun." Tutur beliau kemudian tersenyum. "Mari bekerja sama dan memerankan peran antara wali kelas dengan muridnya dengan baik, semoga kalian merasa nyaman dengan cara belajar Ibu kedepannya."


"Disini Ibu merupakan guru khusus pelajaran bahasa Indonesia kelas sebelas dan sepuluh, salam kenal yahh semuanya." Ucapnya mengenalkan diri sendiri.



"Salam kenal Bu Faridaaa, kami beruntung mendapatkan wali kelas khusus mapel Be Indo." Seru salah satu siswa yang duduk paling belakang.



Bu Farida terlihat tersipu, "makasih lohh, ibu ikut seneng kalian seneng juga." Ucapnya dengan mengulas senyum tipis.

__ADS_1



Tak hanya siswa itu saja, Laila dan kedua sahabatnya juga tersenyum senang, karena mendapat guru khusus pelajaran bahasa Indonesia.


__ADS_2