Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Mama baru


__ADS_3

It's been a long time readers . .


maaf baru update episode baru. masih dalam tahap puter otak dengan alur kedepannya. please mampir ke judul lainnya milik author berjudul -DamarWulan-


terima kasih, happy reading my dearest reader.


"tidurlah, besok akan aku antar kalian ke sekolah."


Ditya menyudahi kegilaan yang ia lakukan pada Zara. Matanya juga sudah berat, ingin segera beristirahat setelah bekerja dan menangis.


Sementara Zara masih nyaman dengan posisinya, melihat Ditya yang pergi ke kamarnya.


Tidak mudah menjadi ibu pengganti Ditya, Zara sama sekali tidak pernah membayangkannya. Cita citanya seperti gadis perawan pada umumnya, menikah dengan laki laki yang masih single.


Apalagi harus membuat Ditya mencintainya, jelas itu tidak mudah.


Zara tidak mau, menikah dengan alasan Dee membutuhkan seorang ibu. Apa kabar dengannya ? Zara juga butuh seorang suami yang mencintainya.


Ah sudahlah, kenapa Zara pusing memikirkannya. Lagian itu hanyalah keinginan seorang anak kecil. Mana mungkin bisa diwujudkan dengan mudah.


"halo pah . ."


Ketika Zara hendak kembali tidur, seseorang menelponnya.


"kapan kamu akan pulang ? Ini sudah terlalu lama Zahrani . ."


"lalu kapan papa bisa mengerti ? Berhenti kirim orang untuk jemput Zara pa, Zara sudah dewasa."


Terdengar hembusan nafas kasar papanya di ujung telpon. Usahanya selalu sia sia, memohon gadis kesayangannya kembali pulang ke rumah.


"sudah ya pa, Zara mengantuk."


Tut tut tut . .


Sambungan telpon dimatikan Zara secara cepat. Ia selalu malas membahas soal kepulangannya. Zara sudah dewasa, apa harus tetap diawasi oleh papanya.


"Dee, sekolah yang pintar ya ! Jangan nakal, nurut sama guru."


Ditya mengantar Dee dan Zara ke sekolah pagi harinya, dia mengantar sampai kedepan gerbang.


"iya ayah, Dee kan punya guru seperti miss Zara."


Dee menengok kesampingnya, membanggakan Zara didepan ayahnya.


"terima kasih, bapak sudah mau membantu saya."


"panggil saja Ditya, saya belum terlalu tua kan ?."


Senyum tipis Ditya berhasil membuat Zara salah tingkah.


"ayo Dee, kita masuk." Zara mengajak Dee untuk segera masuk, anak itu melambaikan tangannya pada Ditya.


Di kantornya, Ditya masih saja sibuk dengan pekerjaan. Memeriksa, menandatangani laporan dan juga berkas pengajuan. Tidak ada yang berubah sejak kepergian Zoya. Malah ia ingin lebih sibuk lagi agar bisa membunuh waktu.


Terbukti, selama ini dia berhasil melaluinya.


"Dit, kamu daftar biro jodoh gih ! Siapa tahu ada yang cocok."


Arga yang sedang bertamu mulai meledek sahabatnya. Dia datang untuk membahas projek bersama.


"sialan !


Aku masih laku kali. Lagian Dee sepertinya sudah punya calon ibu sambung sendiri."


Mengingat permintaan anaknya, Damar menyunggingkan senyum tipis. Dan itu terbaca oleh Arga.


"dan . . Kamu menyukai dia ?"

__ADS_1


Tanya Arga penasaran.


"suka dan rasa mengagumi, itu hal berbeda bukan ? Dia perempuan tegas, dan bertanggung jawab."


"yang penting, kamu pikirkanlah keadaan Damar. Lagian Almarhumah Zoya juga mau kamu nikah lagi."


Arga bangkit dari kursi, bersiap untuk undur diri.


"jangan lupa datang ke acara ulang tahun keponakanmu, besok di rumah papi. Kalau bisa ajak dia, kali aja mereka setuju."


Kembali mengingatkan, Arga ingin Ditya hadir bersama perempuan yanh dimaksud.


"Dee, miss gak mau kamu mengulangi hal buruk itu lagi. Miss tahu, dia meledek kamu. Bukan berarti kamu membalasnya dengan kekerasan."


Di jam pulang sekolah, Zara mencoba memberi arahan pada Dee. Anak itu bertengkar dengan teman sekelasnya saat istirahat.


"Dee capek onti, di hina gak punya ibu. Katanya ibu tiri sangat kejam, pokoknya Dee gak mau ayah nikah sama perempuan lain. Kecuali onti Zara."


Kalau urusan merayu, Damar tidak pernah lelah melakukannya. Berharap mereka bisa lebih dekat lagi.


"Dee, menikah itu gak semudah kamu beli ice cream. Semua butuh proses, dan gak bisa dipaksa."


Mobil Ditya baru sampai dihadapan Zara dan Dee. Dia turun dan melihat ekspresi kesal anaknya.


"tadi Dee berantem sama temannya , , ,"


Sebelum menanyakan, Zara lebih dulu memberitahu Ditya.


"ayah, ayo cepat jadiin onti Zara ibu Dee ! Dee gak mau terus terusan dihina gak punya ibu."


Isak tangis mulai pecah, sepertinya Dee sudah lama menahan diri. Selain kesepian, dia juga tidak tega melihat kesendirian sang ayah. Masih saja meratapi ibunya yang sudah lama tiada.


"Dee dengar, jangan memaksa. Ayah kamu juga sama, sakit. Tapi dia harus kuat demi kamu."


Zara yang menyaksikannya, bahkan ikut menitikan air mata. Sungguh malang nasib anak ini, ditinggal ibu saat masih membutuhkan sosoknya.


"onti jangan nangis !"


Dee berhambur ke pelukan Zara, menyesal telah melibatkan gurunya kedalam masalh pribadi mereka.


"aku antar kamu pulang, ayo Dee !"


"tidak usah, aku masih harus pergi ke suatu tempat."


Zara melepaskan pelukan Dee dan mengusap kepalanya.


"ini kartu namaku, tolong secepatnya wa. Aku butuh bantuanmu."


Ditya menyerahkan kartu namanya yang diterima oleh Zara.


"see ya Dee ! Permisi pak."


Setelah taxi datang, Zara meninggalkan keduanya.


-kenapa seperti ada sesuatu yang mengikatku diantara mereka ? Apa benar, aku menyukai Ditya ? Kalau tidak, rasa apakah ini Tuhan . .-


Zara menengok kearah belakang, hatinya selalu saja merasa dekat dan ikut sakit jika Dee bersedih.


"akhirnya, kamu pulang juga Zahrani"


Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Zara didepan pintu rumahnya yang megah bak istana.


"papa gimana kabarnya, sehat kan ?"


Zara memeluk papanya, melepas rindu setelah lama hidup terpisah.


"papa sehat sekali, dan sebentar lagi papa akan ada yang mengurus."

__ADS_1


Mendengar kabar itu, Zara menyipitkan kedua matanya curiga.


"papa mau nikah lagi ?"


Tebakannya langsung menghadirkan senyum lebar diwajah Kusuma.


"maka dari itu papa selalu kirim orang, supaya jemput kamu. Acaranya minggu depan, dan papa gak minta izin dari kamu. Papa hanya ngasih tahu."


Kusuma mengajak Zara ke ruang makan untuk makan siang bersama. Disana sudah ada wanita paruh baya seusianya.


"ini siapa pah ?"


Tanya Zara menunjuk pada wanita yang tersenyum kearahnya.


"dia calon mama sambung kamu, dialah wanita yang melahirkan perempuan berhati mulia. Sehingga kamu masih ada disisi papa sekarang."


Informasi yang disampaikan Kusuma, membuat Zara langsung berkaca kaca. Dia berjalan kearah wanita itu, dan memeluknya.


"terima kasih bu, Zara benar benar merasa beruntung. Kalau saja Zara bisa mengucapkannya langsung."


Ia menangis sesenggukkan, sementara calon mamanya mengelus punggungnya.


"dia tahu, kamu masih berhak bahagia nak. Terima kasih juga, sudah mau menerima ibu jadi mama kamu."


"jadi, kalian ini impas. Saling melengkapi satu sama lain."


Bangga Kusuma melihat keakraban keduanya.


"ayo, kita makan. Ibu sudah masak menu kesukaan kalian, yang ternyata sama."


Ketiganya duduk, dan mulai menyantap menu tradisional yaitu sayur asem, ayam bakar dan lalapannya. Cocok sekali untuk makan siang.


karena besok akan ada acara keluarga, Ditya mengajak Dee menginap dirumah grand pa and ma nya.


dia senang bukan main, soalnya bisa bertemu dengan sepupunya Rara atau Tiara. anak perempuan Tia dan Arga yang besok ulang tahun yang ke 3.


keduanya baru bisa menikah setelah satu tahun Zoya pulang.


setibanya dirumah keluarga, Dee disambut dengan hangat oleh fullteam. karena sudah kelas 1 SD, Dee bisa menemani Rara main.


"kayaknya, Dee kalau punya adek sudah bisa ngasuh ya pi, Bu."


Bu Aulia menyinggung Ditya, semuanya sudah berkumpul diruang keluarga. setelah sibuk dari pagi mendekor halaman di kolam renang.


"nenek berharap, kamu bisa melangkah kedepan. jangan terus larut dalam rasa bersalah."


tak tanggung tanggung, nek Hafsa yang kini kesehatannya sudah mulai terganggu menasehati Ditya dihadapan semuanya.


"Ditya mandi dulu, nanti lagi bahas ini."


melihat Ditya terus menghindar, keluarga hanya menghela nafas khawatir.


"Arga punya ide, gimana kalo kita comblangin dia sama perempuan pilihan Dee. besok harusnya dia datang."


"memang siapa kak ?"


Tia sangat antusias, penasaran dengan perempuan yang dimaksud Arga.


"besok kita akan tahu, soalnya Arga sudah minta Ditya ajak dia. katanya Dee pengen dia jadi ibunya."


pak Mahesa hanya mengangguk, itu bisa di terima olehnya.


dia tidak ingin anak laki lakinya terus menerus menyendiri. kehidupannya masih sangat panjang, dia perlu bangkit.


"demi Damar, bolehkah aku melakukannya Zoya ?


aku takut memulainya lagi, aku merasa tidak pantas mendapat kehidupan keduaku"

__ADS_1


gumam Ditya dalam hati saat air shower membasahi seluruh tubuhnya.


__ADS_2