
Juli tiba di depan rumah Ema.
Ia tampak terkejut melihat mobil dengan beberapa orang yang memasukkan barang barangnya.
Ema memang libur hari itu, pantas kalau mereka bisa keluar masuk.
"Tunggu !
Kalian mau bawa barang barangku kemana ?"
Juli melihat kedalam mobil box sudah terisi penuh.
"Juli . ."
Ema berjalan keluar dari dalam rumah.
"Tadinya aku akan mengajakmu tinggal bersama, tapi kamu sudah menemukan rumah baru."
Juli juga berpikir sama, ia berniat menyewa kamar dirumah Ema.
Jadi ingat perkataan Damar, kekasihnya itu bilang kalau Damar sudah menyiapkan tempat tinggal untuknya.
"Ema akan aku jelaskan nanti.
Aku sangat berterima kasih atas bantuan yang kamu berikan. Aku janji akan mampir sesekali ke kafe atau kemari."
Juli memeluk Ema teman terdekatnya. Ia sangat amat menghargai seseorang yang baik padanya.
"Aku akan kangen masakan kamu Juls. Jaga diri baik baik diluar sana."
Hangat sekali kata kata Ema terdengar olehnya.
"Mari mbak Juli."
Seorang supir pribadi menuntun Juli menuju mobil lainnya.
"See you Ema . ."
Juli pamit pada Ema, tak terasa air matanya menetes begitu saja.
"Keep in touch Juls !"
Teriak Ema pada Juli yang sudah duduk disamping pengemudi.
🌙️🌙️🌙️
Jam didinding menunjukkan pukul 7 malam.
Tidak banyak yang dikerjakan Juli, ia hanya menyimpan barang barang pribadi miliknya.
Mulai dari pakaian, sepatu dan tas, perlengkapan kuliah hingga peralatan memasak.
Juli berbaring disofa depan TV, lelah sekali rasanya ia ingin segera tidur saja.
Tapi Juli tidak bisa melakukannya karena Damar akan datang.
Beberapa menit yang lalu dia memberi pesan agar Juli menunggunya.
Tangan Juli menekan remot menyalakan TV untuk menghilangkan kesunyian.
Ceklek ...
Suara pintu terbuka, Juli mengira itu pasti Damar.
Langkah kakinya semakin mendekat kearah Juli.
"Pak Damar lama sekali . ."
Juli bangun dari rebahannya.
Mendadak tubuhnya gemetar hebat melihat orang yang berdiri tepat didepannya.
Dekat sekali hingga Juli bisa mendengar detak jantungnya.
"Kamu sedang apa disini ?"
Tanyanya heran melihat keberadaan Juli di apartemen itu.
"Aku bisa menjelaskan ini, tolong jangan salah mengerti."
Ini yang selalu Juli khawatirkan. Hubungannya dengan Damar bahkan belum sampai 24 jam, kini Juli sudah harus menghadapi resikonya menerima Damar.
"Lalu ?"
Juli tidak bisa menjawab pertanyaan atau menjelaskan padanya. Ia hanya bisa diam berharap Damar segera datang.
"Aku menyewa tempat ini."
__ADS_1
Jawab Juli asal.
"Kamu pikir aku akan percaya ?
Katakan apa hubungan kalian nona Juliana !"
Dia membentak Juli diakhir kalimatnya.
"Kamu anak kemarin sore berani mempermainkan hidup anak saya ?
Saya pikir setelah Zara mengingatkan kamu akan ada secercah harapan.
Nyatanya kamu lebih memilih menerima Damar dibanding Kevin."
Hati Juli bagai tersayat sayat mendengar perkataan Ditya. Sungguh ia ingin menangis, namun airmatanya saja bahkan tidak berani menetes.
"Aku minta maaf pak Komisaris, ini mutlak kesalahanku."
Juli menatap kosong kearah dada Ditya yang sejajar dengannya.
"Aku sengaja memancing Damar agar serius menjalin hubungannya dengan Sekar.
Malah ini yang kami sebagai orang tuanya dapatkan.
Juli apa kamu tidak memikirkan perasaan Sekar ?"
Ditya tak henti hentinya mencerca Juli dengan ucapannya.
"Aku minta maaf pak, akan aku perbaiki semuanya."
"Dengan cara apa ?
Mengatakan kebenarannya pada mereka kalau kalian pacaran begitu ?"
Pria yang bahkan tidak menua itu mendekati Juli hingga terus menggiringnya jatuh ke sofa.
"Apa saja akan aku lakukan agar Kevin tidak terluka."
Juli sangat tertekan menghadapi Ditya.
Kevin pernah bilang kalau ayahnya sangat baik, tapi tidak menurut Juli yang sangat takut olehnya.
"Kalau begitu jauhi Damar. Kamu boleh tinggal disini sesukamu, asal putuskan segera hubungan kalian. Kamu harus berkorban demi keutuhan keluargaku Juli.
Jika kedua anakku terpecah belah, maka aku dan Zara juga harus terpisah membela keduanya."
Merasa cukup memberi Juli penjelasan, Damar pergi meninggalkan Juli.
Juli melemaskan otot ototnya yang sempat kaku bersitegang melawan Ditya.
Ia tidak bisa kabur begitu saja, semua sudah ia mulai sejak menyatakan perasaannya pada Damar.
"Kenapa sesulit ini . ."
Batin Juli bingung memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Suara pintu terbuka kembali.
Damar tiba dengan membawa box makanan untuk Juli dan dirinya.
Juli yang tengah berdiri melamun didepan meja makan sampai tidak menyadari kedatangannya.
Dipeluknya Juli dari belakang oleh Damar, gadis itu terperanjat kaget.
"Kenapa baru pulang ?"
Tanya Juli posesif.
"Sekar sakit,
aku harus mengantarnya pulang."
Damar berkata jujur tidak ingin sakalipun berbohong pada Juli.
"Benarkah,
kenapa tidak memberi kabar ?"
Juli berbalik melepaskan tangan Damar yang melingkar di pinggangnya.
"Aku minta maaf Juls, tidak akan mengulangnya lagi."
Damar merasa bersalah pada Juli yang kini menatapnya kesal.
"Ayo makan, aku lapar sekali."
Juli mengambil beberapa box lalu menyiapkannya kedalam piring.
__ADS_1
Damar tahu Juli tidak akan marah hanya karena alasan sepele. Mungkinkah Juli cemburu karena dia bersama Sekar.
Andai saja Damar bisa segera mengakhiri sandiwaranya mungkin Juli akan merasa tenang.
"Kenapa beli makanan, aku kan bisa masak buat bapak.
Oh iya, nanti aku akan bayar perbulan untuk sewa apartemen ini.
Bolehkan aku mengganti passcode nya ?"
Damar duduk memperhatikan Juli yang sejak tadi bicara tanpa memandangnya.
Jelas ada yang aneh dengan Juli.
"Aku akan menginap disini."
Hanya itu yang keluar dari mulut Damar.
"Tidak bisa, aku penyewa mana mungkin membiarkan tuan tanah tidur disini."
Juli tersenyum singkat menyembunyikan perasaannya.
"Juli ada apa denganmu,
Apa aku melakukan kesalahan ?"
Damar menahan tangan Juli, hampir saja dia tidak bisa menatap wajahnya.
"Tidak ada, nanti makanannya keburu dingin."
Juli duduk disebelah Damar, ia langsung menikmati hokben yang Damar belikan sebelum menemuinya.
Pada akhirnya suasana makan malam menjadi hening tanpa ada canda tawa seperti biasanya.
Damar akan sabar jika Juli memang tidak ingin bercerita.
Terpaksa dia akan meminta informasi dari informannya.
"Aku angkat telpon dulu sebentar."
Juli mengangguk singkat tak masalah. Damar berjalan ke kamar tidurnya dulu saat dia duduk dikelas 1 SD.
"Ada kabar apa ?"
Tanya Damar pada orang yang menghubunginya.
"Pak komisaris tiba di Jakarta tadi sore.
Beliau sempat mampir ke apartemen yang ditempati nona Juli."
Damar memijat pangkal hidungnya mendengar informasi barusan. Bisa saja Juli bersikap dingin setelah bertemu Ditya ayahnya.
"Terus beri kabar !
Jaga dia dari kedua target kita, Sekar sudah mengirim foto mereka lewat email."
Damar mematikan sambungan telponnya.
Dia kembali ke meja makan melihat Juli yang masih mengunyah makanannya.
"Kamu tidak usah membayar uang sewa !
Aku akakn memakai tanggal hari jadian kita sebagai kodenya."
Kemudian Damar berjalan keluar untuk mengganti 6 dijit kode apartemennya.
Meski milik Ditya, secara hukum apartemen itu sudah resmi atas nama Damar. Jadi ayahnya tidak bisa lagi sembarang masuk tanpa izin darinya.
Juli merasa bersalah bersikap seperti tadi pada Damar. Seharusnya ia berkata jujur kalau Ditya memintanya meninggalkan Damar.
Tapi itu juga tidak mungkin, Damar pasti akan melawan orang tuanya demi Juli.
-Beri aku waktu dan kesempatan. Aku mohon jangan sekarang . ."
Juli memberi senyum merekahnya pada Damar yang kini duduk melanjutkan makan malamnya.
"Oh iya, kak Tiara menawariku bekerja di MCafe.
Mungkin lusa aku akan bekerja harian disana.
Aku tidak berniat meminta persetujuan dari bapak ya . ."
Damar mengelus kepala Juli tanpa berkata apapun.
"Kalau begitu besok waktumu hanya untukku."
Malam itu kembali suasana hati mereka terasa damai dan tenang.
__ADS_1
Cukup Juli yang ada disisinya sudah lebih dari cukup bagi Damar.
Begitu juga dengan Juli, ia bahagia memiliki hubungan yang mengalir apa adanya.