Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#105


__ADS_3

Lampu lampu seperti titik cahaya gemerlap indah terlihat dari atas.


Juli menatapnya kagum didalam lift yang kacanya menampilkan keindahan kota dimalam hari.


Ia berdiri berdampingan bersama roomboy, mengantarkan Juli ke griya tawang Damar.


Jika tahu akan begini Juli langsung pulang saja sejak tadi.


"Saya mengantar sampai sini mbak Juli,


silakan tekan saja belnya."


Setelah pintu lift terbuka, roomboy mempersilakan Juli keluar sendiri. Sementara dirinya akan turun kembali.


"Terima kasih pak."


Juli berjalan ragu hingga kedepan pintu Penthouse milik Damar.


-Haruskah aku menekan bel, apa aku pulang saja ?


Tapi bu Alin bilang bayaranku ada di tangan pak Damar-


Ah Juli jadi bingung, kenpaa sesulit ini menemui Damar.


Padahal ia selalu ingin melihat wajah itu.


Jujur sekali Juli masih menyukai Damar.


Tapi ia sendiri masih gamang antara menyukai atau sekedar mengagumi semata.


Ceklek ...


"Masuklah !"


Pintu terbuka begitu saja, Damar menarik tangan Juli tanpa keluar dari balik pintu.


"Selamat atas pertunangannya pak."


Kalimat pertama yang keluar dari mulut Juli.


"Juli aku tidak bisa meneruskan semua ini."


Damar membingungkan, bukankah itu kemauannya menjalin ikatan pacaran dengan Sekar.


"Lantas aku harus apa ?


Bapak sendiri yang menolakku dan dengan gampangnya bapak menjalin hubungan sama Sekar.


Umurku memang masih jauh dibawah bapak, bukan berarti perasaanku main main."


Puas sudah Juli meluapkan perasaannya yang mengganjal.


Damar harus tahu apa saja isi hatinya.


Damar menakup wajah Juli menggunakan kedua tangannya. Di tatapnya wajah Juli yang selalu ia rindukan.


"Jadilah kekasihku Juls . ."


Pinta Damar penuh ketulusan.


"Aku tidak ingin menyakiti perasaan Sekar dan Kevin pak."


"Kita jalani ini tanpa mereka tahu, aku akan menjelaskan semuanya pada Sekar dan Ayah.


Lalu aku berusaha meminta maaf pada adikku."


Juli melepaskan tangan Damar, ia berjalan menuju pintu kaca pembatas balkon.


Kenapa jadi berat mengambil sebuah keputusan, Juli tidak menyangka kalau perasaannya serumit ini.


"Andai saja bapak mengatakan kebenarannya saat itu juga, mungkin semuanya lebih ringan dibanding sekarang."


Juli masih kuat pendirian, ia ingin Damar sadar supaya tidak egois mementingkan perasaannya.


"Bisakah kamu melihatku ?


Aku bisa gila karena kamu yang hanya ada dihatiku Juli.


Setiap malam aku selalu mengharapkan kita bertemu."


Damar berjalan mendekatinya, dia memeluk Juli yang menatap keluar dari belakang.


Juli tersentak kaget mendapat serangan tiba tiba.


"please be mine . .


I need you.


Sejak kita bertemu aku bisa melihatnya, perasaan aneh yang ada disorot matamu."


Damar membenamkan wajahnya dipundak Juli.


Juli menutup matanya merasakan sensasi ekstrem.


Ini pertama kali baginya bermesraan dengan seorang laki laki. Julipun berbalik menatap Damar.


"Aku hanya ingin menjalani semuanya seperti air mengalir.


Bisakah aku mencobanya ?"

__ADS_1


Mendengar jawaban Juli senyum Damar merekah seketika.


"Terima kasih Juls, terima kasih."


Damar kembali memeluk gadisnya, dia sangat bahagia dengan keputusan Juli.


"Aku pacaran sama dosen,


backstreet lagi."


Juli terkekeh menerima fakta baru tentang dirinya.


Bolehkah Juli memikirkan dampaknya nanti saja.


Juli manusia biasa yang ingin mencinta dan dicinta.


Sejak awal Juli tidak pernah memberi harapan pada Kevin.


Kevin adalah sahabat yang sangat baik baginya.


"Jadi, menginaplah malam ini disini.


Aku tahu kamu sudah tidak tinggal dikostan itu lagi."


"Bapak memata mataiku ?"


Kevin tidak mungkin menceritakan hal itu pada kakaknya, apalagi Zara.


Ya, selama ini Damar selalu menyuruh orang mengawasi gerak gerik Juli.


Dia khawatir terjadi sesuatu padanya setelah kejadian penusukan Kevin.


Karena Damar juga tahu siapa Rama.


"Untuk berjaga jaga, aku takut Rama kembali lagi."


Damar mengelus kepala Juli sambil tersenyum tanpa diketahui pacarnya.


Damar menarik tangan Juli membawanya kekamar pribadi miliknya.


"Mandilah dulu, akan kubuat makanan.


Kamu pasti tidak sempat karena sibuk sejak sore."


Damar mengelus ujung kepala Juli lalu meninggalkannya sendiri.


Setelah pintu tertutup, Juli meloncat loncat kegirangan.


Ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.


Malu bercampur gembira membayangkan statusnya sebagai pacar Damar.


"panas sekali . ."


Di dapur Damar tak henti hentinya senyum.


Tangannya sibuk membakar sosis berukuran besar dengan pikiran yang terbang melayang.


"Juliana ..."


Gumamnya, Damar cekikian sendiri mengingat dirinya memacari anak kuliahan.


Tidak begitu lama, Juli sudah keluar mengenakan kaos oblong oversize milik Damar.


Ia berjalan malu malu menhampiri Damar di meja makan.


"Cantik . ."


Puji Damar melihat Juli dengan rambut basahnya.


"memangnya bapak bisa masak ?"


Juli duduk dikursi menikmati punggung Damar.


"Aku hanya melakukan hal sederhana Juls. Tidak mungkin bisa mengalahkan kamu yang jago masak."


Damar menyerahkan piring berisi sosis, kentang goreng, telur ceplok juga roti bakar.


"Late night snack, with more calor less karbo. Terima kasih pacar . ."


Juli sama sekali tidak canggung memanggil Damar seperti itu.


"Habiskan, aku ada pekerjaan sebentar."


Sebelum pergi Damar juga memberi Juli segelas fresh orange.


Laki laki itu masuk kedalam kamar dengan handphone yang sudah menempel ditelinganya.


"Halo . .


Belum tidur ?"


Tanya Damar setelah panggilannya diangkat seseorang.


"Aku baru saja mau tidur, ada apa ?"


Suara perempuan disebrang telpon.


"Aku dan dia sudah menjalin hubungan, tolong jangan membencinya. Aku sangat membutuhkan Juli."

__ADS_1


Nada bicara Damar seakan meminta persetujuan tapi sedikit berbau pemaksaan.


"Asal kamu bahagia, kalian harus saling menguatkan. Jalan didepan bagaimana kamu juga sudah tahu itu."


Wanita itu memiliki suara khas yang sering menemani Damar melalui sambungan telpon.


"Apa kami melakukan dosa besar, sehingga kebahagiaan kami berdampak buruk bagi semuanya."


Damar menunduk sambil memijat tengkuk lehernya.


"Tidak sama sekali,


hanya saja waktunga yang tidak tepat. Bertanggung jawablah atas keputusanmu."


Damar manggut manggut mendengar perintah dan nasehatnya.


"Sudah ya, selamat istirahat."


Damar menyudahi percakapan singkat namun penuh arti.


Ia menghela nafas kasar melepas sesak didadanya.


"Apa ada masalah ?"


Juli sudah selesai makan, ia berdiri diambang pintu melihat wajah gusar Damar.


"Tidak ada, kemarilah !"


Juli menurut melangkah ringan mendekati laki laki yang memerintahnya. Kini Damar duduk ditepi ranjang.


"Apa kamu bahagia ?"


Tanya Damar mendongakkan kepalanya menatap Juli, gadis itu berdiri dihadapannya.


"I am . ."


Juli bergerak menyimpan kedua tangannya dipundak Damar.


"Aku disini, kamu bisa membagi susah dukamu sama aku pak."


"Bagaimana kalau Kevin membenciku ?


Mama sudah sangat baik sejak aku kecul, aku mengecewakannya Juls."


Juli memeluk kepala Damar, membiarkannya tenggelam diperutnya.


Damar melingkarkan kedua tangannya dipinggang Juli.


"Maka aku akan mundur, kalian tidak boleh saling menyakiti hanya karena kehadiranku."


Janji Juli penuh keyakinan.


"Tidur disampingku Juls, aku selalu mendapat mimpi buruk selama ini."


Pinta Damar pada Juli. Tidak ada salahnya jika mereka hanya tidur dalam satu ranjang. Selama Damar bisa menjaga martabatnya sebagai lelaki sejati.


"Bapak tidur duluan, aku baru selesai makan tadi."


Juli membantu Damar berbaring, menyiapkan bantal untuk menyangga kepalanya.


"Jangan berani berpikir pergi saat aku tidur, atau aku akan menghadiahimu tugas dipertemuan kita besok."


Juli hanya tersenyum, tangannya terus saja digenggam Damar.


Itulah Damar yang sesungguhnya.


Dibalik karisma dan sosok dinginnya, dia menyimpan sifat asli tanpa orang ketahui.


Sejak memiliki adik, Damar berubah menjadi sangat mandiri diusianya.


Menginjak Sekolah Menengah Akhir, dia sudah membatasi diri dari dunia sekitarnya.


Damar seperti ayahnya, disiapkan untuk memimpin perusahaan.


Hanya saja dia tak sepandai Ditya yang memiliki keahlian menggambar.


Sering sekali Damar merasa kasihan pada Kevin. Harusnya dia bebas memilih jalan hidup sesuai keinginannya.


Ditya malah memaksa adiknya jadi seorang dokter.


Padahal Tiara bisa saja menjadi pemimpin MHospital. Tetap saja Kevin lebih berhak, itu menurut Ditya.


"Jadi itu alasan bapak nolak saya ? Tidak tega melihat Kevin patah hati disaat dirinya tertekan karena tuntutan Pak Komisaris."


Juli duduk ditepi ranjang mendengar cerita tentang kehidupan pribadi Damar.


"Aku sangat iri pada Kevin. Dia mewarisi darah ayah, pandai melukis. Sayangnya Kevin harus mengambil jurusan kedokteran."


Damar masih nyaman dengan posisi bersandar di kepala ranjang.


"Kalian sama sama anak pak komisaris. Tidak ada yang bisa membantah kebenaran itu. Mungkin ayah bapak menyiapkan hal terbaik untuk masa depan kalian."


Benar apa kata Juli, Damar hanya perlu memberi pengertian pada keluarganya.


"Tidur Juls, ini sudah lewat tengah malam."


Juli menurut, meminta Damar bergeser ke tengah agar dia bisa tidur ditempatnya.


Juli sangat percaya pada Damar, ia yakin laki laki itu tidak akan berani macam macam.

__ADS_1


Tetap saja Juli menempatkan bantal guling ditengah tengah mereka.


Damar menahan tawa melihat tingkahnya.


__ADS_2