Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
To be apart


__ADS_3

Selamat pagi, untuk kami yang masih menerka masa depan. Semoga diterangi jalan yang tiada secercah cahaya. Kamu, yang berhasil memberi warna, menghidupkan kembali gairahnya. Berharap sirna sudah kesedihan yang menimpamu karenanya.


Sejumput keinginan Ditya untuk menerima uluran tangan Zara, didukung sepenuhnya oleh keluarga.


Akan ia gunakan sebaik mungkin wild card yang sudah diberikan Zara padanya.


Lepas mengantar Dee ke sekolah, Ditya masih setia bersandar dimobilnya. Menunggu kemunculan perempuan yang sudah mengisi hatinya.


Bel sudah berbunyi, namun Zara masih belum muncul juga. Ditya melihat jam tangan, sudah waktunya ke kantor. Mungkin lain kali saja dia akan bicara pada Zara.


"Dee, ada apa ?"


Tanya seorang guru wanita, yang melihatnya sejak tadi berdiri didepan pintu ruang guru.


"where's she, miss Zara ?"


Dee sangat ingin bertemu dengannya, sudah beberapa hari dia tidak hadir di kelasnya.


"tunggu sampai ayah kamu jemput ya, ibu akan kasih tahu."


Bu Jasmine, selaku wakil kepala sekolah tahu kalau Zara bukan sekedar guru baginya. Dee memang siswa paling dekat dengan Zara, semua guru juga tahu itu.


"thank you mrs. Jasmine."


Ucapnya kecewa, kembali tidak bisa melihat Zara pada hari itu.


Siang harinya, Ditya datang lagi ke sekolah menjemput Dee. Selain itu dia juga ditelpon langsung pihak sekolah.


"bisa kita bicara sebentar pak Aditya ?"


Bu Jasmine memang sengaja ingin berbicara dengan Ditya.


"apa ada masalah ?"


"begini pa,


Beberapa hari ini saya perhatikan Dee seperti banyak diam. Biasanya dia sangat aktif dan ceria, saya khawatir ada masalah."


Sejenak hening, dia tahu kalau anaknya pasti bersedih.


"apa Zara tidak masuk kerja ? Hanya dia yang bisa membuatnya gembira."


Bu Jasmine seperti terkejut kalau Dee tidak tahu tentang kabar Zara.


"benar, kalian tidak tahu ?


3 hari yang lalu, Miss Zara sudah resmi tidak mengajar disini.


Setelah mengajukan surat pengunduran diri sehari sebelumnya."


Itu artinya hari ulang tahun Dee,


Ditya menyandarkan tubuhnya disofa.


Pantas saja Dee selalu murung, ia enggan bicara banyak.


"tidak baik, untuk anak seusianya ikut menanggung masalah orang dewasa."


Sedikit banyak bu Jasmine tahu tentang hubungan mereka.


Bu Jasmine orang terdekat Zara disekolah, apapun ia ceritakan padanya. Mereka dekat karena beliau adalah anak dari adik neneknya, sepupu Kusuma.


"terima kasih bu, kalau begitu saya pamit."


Ditya menjemput Dee yang dititipkan sebentar dikantin sekolah.


"yah, kita mau kemana sekarang ?"


Tanya Dee penasaran, ayahnya tidak langsung mengajak pulang ke rumah.


Wajahnya mulai berseri saat mobil memasuki halaman rumah seseorang.

__ADS_1


ting nong . .


Ditya menekan bel, nyonya baru rumah itu yang menyambut kedatangan mereka.


"apa kabar bu ?"


"nenek . ."


Dee memeluk tubuh wanita paruh baya, dan mereka masuk kedalam.


"Apa dia ada dirumah bu ?"


Ditya langsung ke inti, dia menanyakan seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Dia rindu, cerewetnya, tatap mengagumi Ditya yang terlihat dari sorot matanya.


Sentuhan kasih sayangnya pada Dee, kemana gadis itu.


"Dit, maafkan ibu. Kamu juga harus tahu . ."


Atikah menghela nafas, menyiapkan kata kata.


"Zara sudah pergi, dia tidak akan tinggal dikota ini lagi."


Apa, kenapa begitu. Bagai disambar petir di siang bolong, Ditya tidak percaya. Zara sampai melakukan hal itu, apa sesakit itu luka yang telah ia goreskan.


"Mas Kusuma meminta Zara menjalankan apotek cabang, sekalian bekerja disana."


"dimana bu ?"


Bukankah Ditya juga berhak tahu, kenapa mereka hanya diam membiarkan dua hati semaki terpisah jauh.


"Yogyakarta . ."


Kenapa harus kota itu ?


Sejauh apapun, Ditya akan kejar. Tapi jika kesana, hatinya kembali mengingat Zoya. Dikota itulah mereka menghabiskan bulan madu yang tak terlupakan.


"bu, apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi ?"


🌙️🌙️🌙️


Hiruk pikuk jalanan M sangat menarik, tidak ada yang tidak jatuh cinta berada disana.


Pengamen angklung setia mendendangkan lagu penyemangat wisatawan.


Menjadi obat pelipur lara, pelepas penat bekerja bagi pribumi.


Orang orang asik menikmati angkringan, atau berbelanja ditoko.


Zara masih ingin berjalan seperti ini, menyusuri trotoar jalan yang tak pernah sepi 24 jam.


Kakinya berhenti disebuah kedai kopi didekat tugu 0m, Zara sangat suka. Dia duduk dan menunggu pesanannya.


Malam ini malam minggu, banyak muda mudi keluar bersama teman teman atau pacarnya.


"kopi manis siapa yang punya ?


Yany punya nona sayang . ."


Peracik itu menyuguhkan kopi vietnam drip dihadapan Zara.


"masnya bisa saja, suwun . ."


Zara mulai sibuk mencicipi setiap seruputan kopinya.


Kedai ramai, meski sibu meracik laki laki itu sesekali menatap kearah Zara.


"saya Hafiz, mahasiswa UNY. Kamu disini liburan atau kuliah ?"


Tanpa canggung, Hafiz mengajak Zara ngobrol.


"saya pindah kesini, nemenin mbah putri. Masnya junior saya dong, saya lulus 1 tahun yang lalu."

__ADS_1


Zara tidak merasa risih, dia malah santuy ngobrol dengan Hafiz.


"haha tidak, saya ambil S2. Lulusnya 3 tahun yang lalu."


Percakapan mereka terus berlanjut, banyak gadis yang beli kopi patah hati melihat keakraban mereka.


Zara bahkan menunggu sampai Hafiz menutup kedainya.


Hafiz berjanji akan mengantarnya pulang.


Sesuai janjinya, Hafiz membonceng Zara dengan motor ala dilannya.


Rumah mbah Putri didekat hotel @home yang berlokasi di jalan M.


"thanks ya mas Hafiz, sudah mengantar pulang. Hati hati dijalan !"


Zara mengembalikan helm milik Hafiz, ia tersenyum ramah pamit.


"Zara . .


Besok pagi saya jemput boleh ?"


Ia menengok ke belakang dan mengangguk.


Zara merebahkan tubuhnya dikamar yang bernuansa khas rumah jawa.


Ia melihat jam dinding, hampir jam 1 malam. Bisa bisanya dia ngelayab selama itu.


"kamu sedang apa mas . .?"


Gumam Zara, mengingat kembali laki laki yang masih setia dihatinya.


Sekeras apapun Zara berusaha melupakannya, Ditya tetap laki laki yang ia sukai.


Disebuah griya tawang, duduklah seorang pria yang masih terjaga hingga pukul 01.00. Matanya masih bertahan karena asupan secangkir kopi hitam.


Mencoba peruntungan, dia menelpon kontak seseorang.


"halo . ."


Masih aktif, sambungan mulai berlangsung. Dia pikir gadis itu sudah tidur, dan kemungkinan tidak akan menjawab telponnya.


"mas Ditya . . Ada apa ?"


Tanya gadis itu lagi, berharap Ditya mau mengatakan sesuatu.


"Zara . .


Kenapa lari ? bukankah kita akan sama sama."


Beberapa detik hening, Zara tidak tahu harus menjawab apa.


"Dee apa kabar mas, dia sehat sehat saja kan ?".


Zara mengalihkan pembicaraan, ia sangat rindu anak laki laki itu. Entahlah, awal mereka kenal dan dekat Zara menganggap Dee seperti adiknya.


"Dee baik, tapi aku tidak Zara. Aku merindukanmu . ."


Benarkah begitu ? Mungkin Ditya memposisikan Zara sebagai Zoya, atau karena Dee sangat membutuhkan sosoknya.


Zara enggan menanggapi ungkapan hati Ditya.


"mas, aku mengantuk. Sudah ya, salam untuk Dee."


Sambungan telpon Zara tutup, dia tidak ingin terus berharap hampa.


-sungguh Zara, aku tidak ingin terlambat meraih tanganmu-


Batin Ditya, hidupnya selalu saja dipenuhi penyesalan.


-maafkan aku mas, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam. Biar waktu yang menjawab semuanya, aku hanya pasrah pada takdir kita-

__ADS_1


__ADS_2