Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#125


__ADS_3

Suasana kampus mendadak tegang bagi beberapa mahasiswa.


Tahu kan hari ini waktunya sidang mahasiswa tingkat akhir.


Juli menemani Kevin sebelum masuk ke ruang sidang.


"Aku yakin kamu bisa Kevin, semangat !"


Jelas Juli percaya pacarnya mampu melalui tahap terakhir dengan mudah. Kevin tidak kalah cerdas di bidang akademik.


"Pokoknya selesai hari ini kamu harus mau merayakannya bersamaku."


Kevin mengultimatum waktu luang Juli.


"Kamu kan tahu jadwal KKN ku diundur.


Hari ini aku ada tes ditempat magang."


Juli mengingatkan jadwalnya pada Kevin.


"Yaudah, selesai acara kamu langsung pulang !


Aku tunggu di apartemen."


Kevin mengelus ujung kepala Juli sebelum masuk ke ruang tunggu.


"Laters Kevin . ."


Juli melambaikan tangannya melepas sang kekasih berjuang.


Juli menyetir mobil sendiri.


Kemajuan yang Kevin beri ialah mengajarinya hingga mahir.


Kevin sengaja meminjamkan mobilnya agar Juli tidak terlambat akibat naik kendaraan umum.


Setelah menyusuri jalan tol lingkar luar kota selama 30 menit, Juli tiba di sebuah perumahan elit.


Juli memandang takjub pemandangan D'Garden City.


Nama dari perumahan bernuansa asri nan hijau sesuai fungsinya.


Rumah rumah berlantai dua itu berjejer rapi dengan mini garden dihalaman depan.


Meski terbilang baru di dunia real estate, perumahan ini 70% terhuni.


Juli bingung mencari keberadaan pimpinan yang katanya akan mewawancarai langsung.


Kenapa juga mereka harus bertemu disini, setahu Juli kantor bisnisnya berlokasi di Ibukota.


Menurut info mereka menyewa gedung di salah satu hotel demi mempermudah akses.


"Itu dia !"


Juli melihat kedai kopi sesuai janji temu, ia dikirim email oleh sekretaris pimpinan.


Juli membawa laptop juga tasnya setelah parkir dengan sempurna.


"Selamat pagi . ."


Sapa Juli pada perempuan berwajah kalem itu.


"Juliana ?"


Tanyanya memastikan.


"Betul bu."


Juli menjabat tangannya.


"Saya Miley Setya Brand Manager D'Garden City, silakan duduk."


Miley mempersilakan Juli duduk dikursi depannya.


"Gimana perjalanan kamu Juls ?"


Tanya perempuan yang umurnya mungkin sekitar 25 tahun menurut Juli.


"Fresh, healing and joyful.


Konsep impian setiap orang demi kehidupan lebih baik."


Juli tersenyum mengutarakan kesan pertamanya memasuki perumahan.


"Saya memimpin projek ini bersama kakak dan sepupu saya.


Sepupu saya itu hanya investor atau pemegang saham terbesar diantara kami."


Terang Miley.


"Itu mereka."


Miley menunjuk kedatangan dua laki laki yang berjalan gagah masuk ke kedai kopi.


Juli menengok ke belakang mengikuti telunjuk Miley.


Ya ampun itukan Damar ?


"Hi dek, , Gimana marketing barunya ?"


Sapa laki laki disebelah Damar.


Damar mengerutkan keningnya heran bisa bertemu Juli ditempat terpencil ini.


"Kenalkan dia Malvin, kakakku."


Miley menunjuk Malvin, anak pertama Milka dan Erwin.

__ADS_1


"Dan laki laki tampan tapi dingin ini sepupuku Damar Aditya."


Juli berdiri menyalami Malvin kemudian Damar dengan ragu.


"Saya Juliana, mahasiswa semester 6 jurusan business and managment."


Ia tersenyum kikuk menatap Damar.


"Waw semester 6 ?


Apa tidak terlalu terlambat, kamu akan butuh 2 semester saja menuju skripsi."


Malvin duduk disamping Juli penasaran dengan anak magangnya.


"Pengaruh dari wabah yang menimpa tanah air, kampus memutuskan menjadwal ulang KKN."


Juli menjelaskan masalah intern kampusnya.


"Malvin !"


Damar menegur sikap slengean sepupunya, mengirim sorot mata tajam.


"Sorry bro.


Oh ya Juls, selamat kamu kami terima.


Siap siap saja stres dimarahi Damar kalau tidak memenuhi target."


Malvin malah menakut nakuti Juli.


Juli memandang Damar gugup.


"sialan loe Vin !"


Damar mengumpat pada Malvin, Miley hanya menggeleng kepalanya bosan melihat mereka cekcok.


"Saya gak di wawancarai pak ?"


Juli bingung sendiri dengan kegaduhan ketiga saudara itu.


"Haha kamu satu satunya calon karyawan magang, untuk apa kami wawancara."


Miley tertawa lepas mengetahui kepolosan Juli.


"Cabut yuk !"


Damar mengajak mereka kembali ke kota.


Apa ?


Belum 5 menit Juli duduk disana sudah harus balik lagi.


Tangan dan kakinya saja masih kram akibat menyetir cukup jauh.


"Ogah semobil lagi sama elu Dam, mending loe naik taxi online gih sana. Lagian kalau jarak jauh ni anak mau enaknya aja, gak nyetir sama sekali."


"Kamu bawa mobil kan Juls ?


Pasti masih lelah, biar mas Damar yang nyetir kalian semobil.


Kuy kak."


Miley mengajak Malvin menuju mobilnya.


Kenapa setelah pertemuan pertama selalu ada yang selanjutnya.


Lagi lagi Juli dan Damar terjebak nostalgia.


"Kuncinya ?"


Damar meminta kunci mobil, Juli menyerahkannya tanpa memandang sang mantan kekasih.


Mobil melaju meninggalkan perumahan milik anak anak Erwin dan Milka, dikucuri dana oleh Damar, rancangan terakhir Ditya dan dikerjakan MH. Manufacturing.


Komposisi apik dari keluarga Mahesa.


"Ekhem . .


Kevin meminjamkan mobilnya."


Tiba tiba Juli bersuara memecah keheningan.


"Aku tidak bertanya."


Damar menanggapi dingin.


"Aku takut bapak salah paham."


Juli berkata jujur.


"Bagi kami menyenangkan perempuan ialah satu kewajiban.


Supaya apa ?


Kelak diranjang si istri juga harus memberi kepuasan berkali kali lipat untuk suaminya."


"Uhuk uhuk . ."


Juli tersedak mendengar perkataan tak senonoh dari mulut Damar.


"Kamu harus belajar Juls !


Hubungan itukan tujuannya menikah, bukan sekedar menolong perasaan seseorang."


Damar menyindir Juli, jelas sekali.


"Bisa kita bicara topik lain.

__ADS_1


Kenapa bapak selalu mengembalikan uang sewaku ?"


Juli melipat kedua tangannya didada menatap tajam Damar yang fokus menyetir.


"Itu sudah jadi milikmu."


Jawab Damar tanpa menoleh.


"Bagaimana ceritanya pak ?"


Geram Juli menyikapi Damar.


"Ya intinya kamu gak perlu bayar, udah gitu aja."


Damar tak mau kalah gemas dengan sikap polos Juli.


Damar menghentikan mobil di parkiran VIP MHotel.


Juli membanting keras pintu kesal pada Damar tanpa alasan.


"Kemana Juls ?"


Damar berteriak agar Juli mendengar.


"Ke kantor DGC."


Juli menyingkat nama perusahaan real estate agar mudah mengucapkannya.


"Haha, memang kamu tahu dilantai berapa ?"


Gelak tawa Damar nyaring dapat didengar front desk dan security.


"Enggak, ya bapaklah yang nunjukin jalan."


Juli malu dibuat olehnya.


Perasaan baru kali ini Damar merasa lega.


Sekian lama dia tidak bisa tertawa sepuas tadi.


Dan itu karena Juli.


"Ini ruangan saya, ruang marketing MHotel satu lantai dibawah.


Dan ruang kerja kamu dipintu pojok itu."


Damar mengajak Juli ke lantai 2.


Lantai yang tadinya hanya berisi ruang kerjanya kini disulap dengan menambahkan business centre.


Tadinya ruang dirut selantai dengan office MHotel.


Sejak kepemimpinan Damar dia ingin pindah satu lantai lebih atas.


Enak saja Damar harus menyatu dengan para bawahannya.


-Malas juga satu lantai sama pak Damar.


Masuk lubang buaya deh pokoknya.-


Juli menggerutu dalam hati hingga tak sadar dia menabrak punggung Damar.


"Maaf pak. ."


Juli minta maaf.


"Masuklah, nanti ada Senior yang akan membantu menerangkan tugas kamu."


Damar menyuruh Juli masuk keruangan khusus Kantor pemasaran DGC.


"terima kasih pak."


Tak lupa Juli mengucapkannya.


Damar nyelonong begitu saja tanpa menanggapi.


"Perfect."


Juli terperanga memasuki ruangan mewah bergaya klasik.


Semua meja kerja terlihat tanpa dibatasi dinding ruangan.


"Anak magang ya ?"


Tanya seorang perempuan lebih tua dari ketiga bersaudara tadi.


"Juliana."


Juli memperkenalkan diri.


"Meja kamu dipojok sana, ,


Sudah ada tugas dan laporan yang bisa kamu pelajari mulai besok."


Dia menunjuk spot meja dekat jendela.


"Terima kasih bu."


Juli berjalan menuju mejanya.


Hanya ada 5 meja diruangan itu, artinya DGC memiliki 4 kesatria dan ditambah Juli prajuritnya.


Ini akan sulit, bayangan Juli mulai menerawang jauh kedepan.


Padahal besok hari pertama Juli bekerja, kini ia sudah sibuk mempelajari laporan yang harus ia buat nantinya.


Masih ada waktu sebelum menjemput Kevin di kampus.

__ADS_1


__ADS_2