Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
#110


__ADS_3

Jangan bersedih,


kamu tidak boleh menunjukkan lukamu padanya.


Kuatlah setegar karang, karena semua badai akan tetap berlalu.


Beri dia senyuman terbaikmu, sehingga dia tidak tahu luka apa yang akan kamu gores tepat di hatinya.


Jika nanti kamu dan dia berjodoh, percayalah pada takdir akan menyatukan kalian kembali.


Anggap saja ini ujian sejauh mana cinta kalian bersemi.


Sedari tadi itulah kalimat penguat yag terucap dalam hati Juli.


Ia menyandarkan kepalanya dibahu Damar, menikmati aroma tubuh maskulin kekasihnya.


Keduanya berada di mobil menuju apartemen Juli, pulang setelah menginap satu malam di Cirebon.


"Boleh aku minta sesuatu ?"


Tanya Juli mendongakkan kepalanya melihat wajah Damar.


"Apapun untuk mu Juls . ."


Damar tersenyum lalu mengecup ujung kepalanya.


"Aku mau sisa parfum yang bapak pakai sekarang, aku suka sekali wanginya."


Damar tertawa mendengar permintaan Juli, dia pikir Juli akan meminta sesuatu yang berat.


"Baiklah, jangankan parfum. Kamu minta aku memberimu hatikupun akan aku berikan."


Ucap Damar penuh percaya diri.


-Jangan, aku hanya ingin kamu memberiku pengampunanmu atas apa yang akan aku lakukan padamu.


Aku minta maaf didalam hatiku saja, setelah ini kata itu tidak akan pernah terucap langsung.-


Juli semakin mengeratkan pelukannya.


Semalaman ia terus berpikir mencari keputusan terbaiknya.


"Juls bangun, kita sudah sampai dirumah."


Damar mengelus pipi Juli hati hati membangunkannya.


Mobil sampai di basement apartemen milik Damar.


"Aku tidak bisa menemanimu malam ini.


Dia akan membantu membawakan barang barang kamu Juls."


Damar menunjuk supir pribadinya, pria bertubuh kekar dan jangkung itu sudah siap menenteng perlengkapan Juli.


"I'm fine, hati hati dijalan."


Juli mengecup pipi Damar dengan keberanian yang ia kumpulkan.


Damar merasa bahagia mendapati Juli membalas perasaannya.


Sementara Juli naik lift bersama supir, Damar menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen.


Dret dret . .


Didalam lift Juli membuka ponselnya, ia menerima sebuah panggilan.


"Juli, Kevin ada didepan rumahku. Sejak kemarin dia terus datang ingin bertemu kamu."


Suara Ema penuh penekanan meminta sahabatnya datang.


"Ema aku baru saja sampai,


aku akan menghubunginya sekarang. Maaf merepotkan terus."


"Juli keadaan Kevin sangat berantakan, mungkin terjadi sesuatu padanya."


Apa yang dikatakan Ema membuat Juli merasa resah, perasaannya tidak tenang.


"Baik, aku tutup Ema."


Bersamaan dengan suara pintu lift terbuka, percakapan telpon merekapun berakhir.


"Terima kasih sudah membantu."

__ADS_1


Ucap Juli setelah supir pribadi Damar selesai menyimpan barang barangnya didalam.


"Nama saya Ifan, mungkin kita akan sering bertemu nona.


Kalau begitu saya permisi."


Ifan ternyata orang yang ditugaskan Damar untuk menjaga Juli selama ini.


Hanya saja Juli tidak mengetahui hal tersebut.


Juli bergegas mengambil tasnya di atas meja, ia ingin pergi menemui Kevin.


Sebelumnya Juli meminta Kevin bertemu di salah satu tempat.


Butuh waktu 30 menit Juli tiba di depan galeri milik Kevin.


Mobil berwarna keemasan milik Kevin sudah terparkir didepan. Artinya dia sudah ada didalam.


Juli membuka pintu galeri yang tak terkunci.


Tidak ada lampu yang menyala, Kevin juga tidak disana.


Mungkin di lantai atas, ia naik tangga untuk mencari Kevin.


Ia terkejut melihat keadaan kamar Kevin yang berantakan.


Sementara laki laki itu duduk dilantai menghadap jendela.


"Kevin ada apa ?"


Juli ikut duduk bersama Kevin, benar apa kata Ema mengenai keadaan Kevin yang berantakan.


"Juls . ."


Kevin memeluk Juli dengan sangat erat sehingga ia terperanjat kaget.


"Ada apa ?


Cerita saja Kevin !"


Juli mengusap punggung Kevin, sepertinya dia memiliki masalah yang mengganggu pikirannya.


"Aku pembunuh Juls, aku sudah melenyapkan nyawa seseorang."


"Tenanglah, semuanya baik baik saja Kevin.


Kamu punya aku disini."


Namun Juli tidak ingin banyak bertanya, Kevin lebih baik menenangkan diri.


Ia juga merasa bersalah karena Kevin sudah lama menunggu kehadirannya.


"Temani aku tidur Juls . ."


Juli mengangguk, ia tahu pasti kalau Kevin pasti belum tidur entah berapa lama terus terjaga.


"Ayo, aku bantu."


Gadis itu memapah tubuh lemas Kevin hingga berbaring di tempat tidur.


"Jadilah pacarku Juls . ."


Lirih Kevin menggenggam tangan Juli diatas dadanya.


"Tidur Kevin, aku tahu kamu lelah."


Perlahan nafas Kevin mulai teratur, ia tidur usai diberi ketenangan oleh kehadiran Juli.


Juli melepaskan tangannya hati hati agar tidak membangunkan Kevin.


Ia berjalan menuju lemari es, memeriksa bahan makanan namun tidak ada apapun kecuali air mineral.


Mungkin saja Kevin belum makan apa apa, Juli memutuskan untuk belanja di sekitaran ruko.


Setelah menutup pintu galeri, Juli bertemu dengan seorang perempuan yang ia kenali.


"Apa Kevin didalam ?"


Tanyanya pada Juli, ia hanya mengangguk membenarkan.


"Apa yang terjadi padanya kak ?"


Tiara yang Juli panggil kakak menunjukkan ekspresi prihatin soal keadaan sepupunya.

__ADS_1


"Ini salahku Juls, seharusnya aku tidak meminta Kevin melakukan tindakan darurat.


Dia mengoperasi pasien kritis sayangnya pasien tidak selamat.


Kami tim dokter sudah menjelaskan kalau Kevin tidak bersalah, dia sudah berjuang menyelamatkannya.


Tapi dia terus menyalahkan dirinya, padahal dia juga tahu kalau keberhasilan operasi itu hanya 20%."


Tiara menjelaskan permasalahan yang menimpa Kevin pada Juli. Keduanya duduk diteras galeri menatap jalanan ramai meski hari minggu.


"Dia baru saja tidur, aku titip Kevin kalau kakak tidak sibuk."


"Kamu mau kemana,


menemui Dee ?


Dia sedang menjaga Sekar yang dirawat di rumah sakit Juls."


Juli berhenti lalu menengok ke belakang.


"Aku mau belanja, Kevin belum makan kak."


Jawabnya tersenyum pada Tiara.


Meski hatinya sakit mendengar kenyataan kalau Damar memilih bersama Sekar dibanding istirahat.


Pikiran Juli terbagi, pada keterpurukan Kevin juga kekasihnya yang sedang berduaan dengan Sekar.


Selagi memilih bahan makanan di swalayan, sejak tadi ponselnya bergetar.


Sekali saja Juli memeriksa ternyata itu Damar.


Juli mengabaikan panggilan kekasihnya, ia malah mematikan ponsel miliknya.


"Aku minta maaf . ."


Gumam Juli dalam hati, tak terasa air matanya menetes.


Entah karena merasa bersalah mengabaikan Damar, atau cemburu ?


Juli kembali ke galeri, Tiara sudah pergi meninggalkan memo tempel di lemari es.


-Aku ada operasi mendadak, tolong jaga Kevin Juls.


Biar aku yang menjelaskan pada Dee.-


Begitu isinya.


Juli segera meremas membuangnya ke tempat sampah setelah Kevin keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah bangun ?"


"Iya, tadi Tiara datang membangunkanku.


Belanja ?


Aku sangat lapar."


Kevin berjalan kearah Juli yang masih mematung di dapur.


"Tidur saja dulu Kevin, aku akan bangunkan saat makanan sudah jadi."


Tidak ada jawaban dari Kevin, dia menuruti semua perintah Juli.


Di rumah sakit tepat diruang rawat inap, Damar meremas handphone Iphone keluaran terbaru miliknya.


Dia duduk dikursi sebelah Sekar, perempuan itu terbaring lemah di brankar.


"Damar lebih baik kamu pulang, istirahat. Biar mbak yang jaga Sekar."


Ayu meminta Damar yang terlihat resah itu berhenti menunggu adik iparnya.


"Apa Sekar akan baik baik saja ?"


Damar menatap wajah Sekar kasihan. Itu yang dia rasakan sekarang.


Pikirnya Damar terlalu banyak memberinya tugas dan pekerjaan sehingga Sekar tumbang.


"Pasti Damar, Sekar hanya kelelahan saja."


Ayu meyakinkan Damar.


"Tolong kasih kabar jika membutuhkan sesuatu mbak."

__ADS_1


Damar pamit setelah cukup lama menjaga Sekar menggantikan Ayu yang harus mengantar Gilang suaminya ke bandara.


__ADS_2