Cinta Terpendam

Cinta Terpendam
Aku Zara


__ADS_3

Seperti janji Zara, dia benar benar menukar makanannya dengan Dee. Ditya tidak bereaksi sedikitpun, hanya diam menikmati makanannya.


"uhuk uhuk . ."


Dee tersedak makanan saking semangatnya melahap beef teriyaki kesukaannya.


"minum Dee . ."


Tangan Ditya dan Zara saling bersentuhan, ketika mengambil gelas air minum untuk Dee.


Ada perasaan aneh yang hadir diantara keduanya.


Seperti tidak asing, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya ? Tapi dimana, kemarin adalah pertama kalinya Ditya berjumpa dengan Zara.


"maaf, silakan."


Zara mebiarkan Ditya yang memberi minum, karena dia duduk disebelahnya.


Jantung Zara mulai berdebar kencang setelah sentuhan tadi. Sudah sangat lama ia tidak merasakan hal itu lagi.


"kamu baik baik saja ?"


Ditya melihat kening Zara berkeringat dingin, wajahnya mulai pucat. Pasti lelah sekali tadi, hingga gadis itu terlihat lemas.


"ya, aku baik baik saja. Dee, sepertinya miss harus pulang sekarang. Sampai ketemu di sekolah ya ?"


Dengan terburu buru, Zara merapikan tasnya dan bangkit dari kursi tanpa menunggu jawaban dari Dee.


"tunggu, biar saya antar."


Tiba tiba Ditya bertingkah diluar kebiasaannya. Setelah sekian lama, Ditya mulai akrab dengan perempuan. Bukan karyawannya yang sudah senior, melainkan seorang gadis yang baru saja ia kenal.


"iya miss, ayah akan mengantar miss pulang ke rumah."


Dee mengangguk setuju, mana bisa ia tega melihat gurunya pulang sendiri setelah direpotkan olehnya.


"baiklah."


Zara sama sekali tidak punya alasan untuk menolak tawaran Ditya. Mereka akhirnya meninggalkan dufan saat perut sudah kenyang dan lelah.


"miss,


Dee sama ayah kan juga tinggal diapartemen ini."


Mobil Ditya sudah sampai di basement apartemen, Dee yang duduk disebelah Ditya menengok kearah Zara.


"benarkah, miss tidak tahu Dee kalau selama ini kita tetanggaan."


"Dee, bisakah kamu tidak memanggil miss diluar jam sekolah ? Ayah risih sekali mendengarnya."


Zara terlihat mengerutkan dahinya, mendengar perintah Ditya pada Dee.


Pria itu seenaknya saja membuat peraturan.


"kalau begitu, Dee panggil miss Zara dengan sebutan onti bagaimana ?"


Mereka bertiga sudah keluar dari mobil, berjalan menuju lift.


"eu . . Sampai sini saja, kalian tidak perlu mengantarku sampai rumah."


Zara menghalangi Dee dan Ditya yang hendak ikut naik lift.

__ADS_1


"orang ini, percaya diri sekali. Aku akan mengajak Dee kerumahku, ada barang yang harus aku ambil."


Ditya mendorong Zara kearah samping supaya minggir, perkataannya seolah membalas Zara yang pertama mengucapkannya.


Zara menjulurkan lidahnya kesal, dibalik punggung Ditya yang masuk lift lebih dulu.


"ayah, Dee mau maen kerumah onti Zara. Boleh ya ?"


Ditya dan Dee lebih dulu keluar lift, sementara Zara masih naik 1 lantai lagi.


Dee memaku, masih ingin bersama Zara.


"tidak apa, anda bisa mengambilnya saat urusan anda sudah selesai. Rumah no. 701"


Zara menekan tombol close, Ditya pasrah tidak bisa melarang keinginan putera kesayangannya.


"onti tinggal sendiri disini, apa tidak takut ?"


Mereka tengah duduk disofa, Zara menyalakan TV. Menemani Dee selagi ia menyiapkan susu hangat untuknya.


"Iya onti Zara tinggal sendiri, kan onti pemberani. Kalau ada yang ganggu, onti bisa bela diri."


Susu hangat sudah siap, ia tinggal memanaskannya saja di microwave. Dee menerimanya dengan senang hati, meneguk langsung sampai habis.


"ah masak iya ? perasaan onti Zara kan feminim sekali."


"Dee, serius kamu ini ya . ."


Gemas sekali Zara mendengar godaan Dee layaknya orang dewasa. Ia mulai menggelitik Dee hingga anak itu tertawa kegelian.


"ampun onti ampun . . Dee nyerah hehe"


Ting nong . .


Suara bel menghentikan keceriaan mereka yang kini sedang kejar kejaran mengelilingi area TV.


"mungkin ayah kamu sudah jemput Dee, biar onti yang buka."


Zara berlari kearah pintu untuk membukakannya.


Saat pintu terbuka, bukan Ditya yang berdiri di hadapan Zara.


Melainkan seseorang yang menenakan masker dan pakaian berwarna hitam.


"siapa ?"


Perasaan Zara kini diliputi ketakutan, takut terhadap orang yang sangat mencurigakan.


Laki laki itu malah menarik tangan Zara secara paksa.


"lepas ! Apa apaan ini . ."


Sekuat tenaga Zara memberontak, berusaha melepaskan genggaman laki laki misterius yang berniat membawanya pergi.


"onti , onti kenapa ?"


Dee yang mengira itu adalah ayahnya keluar memeriksa. Nyatanya ia melihat Zara yang hampir diculik seseorang.


"Dee lari, cepat pergi !"


Tidak ingin Dee terluka, Zara memintanya untuk segera kabur.

__ADS_1


Dee yang ketakutan langsung menurut berlari kearah lift.


"ada apa Dee ?"


"ayah, onti Zara diculik. Ayo tolong dia !"


Dee menarik tangan Ditya secara paksa dan cepat.


"hey baji*gan, lepaskan Zara !"


Zara masih berjibaku dengan laki laki itu, Ditya berlari mengambil alih tangan Zara yang dicengkram kuat.


Setelah berhasil merebut Zara, Ditya langsung melayangkan pukulan untuknya.


"bren*sek, beraninya kau mengganggu Zoya !"


Ditya melampiaskan kekesalannya hingga laki laki itu babak belur.


"Ditya hentikan !"


Zara meraih tubuh Ditya supaya berhenti memukilinya, bisa saja Ditya membunuh orang itu jika tidak ditahan olehnya.


Karena ketakutan dan sudah terluka cukup parah, laki laki itu langsung kabur.


"tidak bisa Zoya, dia sudah menyakitimu."


"Zoya Zoya, aku bukan Zoya. Namaku Zara ! Sadarlah tuan Ditya !"


Teriakan frustasi Zara membuat Ditya tersadar, sejak tadi dia menganggap Zara adalah Zoya almarhumah istrinya.


Pria itu mengusap kasar wajahnya, menarik nafas dalam dalam berusaha mengontrol perasaannya.


"tidak bisa, kamu tidak aman tinggal disini sendirian. Kemasi barangmu sekarang juga Zara !"


Ditya berjalan kearah Dee dan menggendongnya, dia kembali menuju pintu rumah Zara dan menariknya masuk kedalam.


"bawa pakaianmu seperlunya, aku akan menunggu."


Melihat ekspresi wajah Ditya yang merah padam, Zara hanya menurut melakukan yang di perintahkannya. Kalau Zara menolak, emosi Ditya akan kembali naik dan hilang akal menganggapnya Zoya.


"ayah, kasihan onti Zara. Dee takut sekali tadi."


Dee memeluk leher Ditya dengan kedua tangannya, ingin mendapat rasa aman dari ayahnya.


"tenanglah Dee, onti Zara akan tinggal sama kita sementara. Sampai keadaan aman kembali."


Ditya mengelus kepala Dee, berharap puteranya tidak trauma.


Tak lama, Zara kembali keruang tamu menghampiri Ditya dan Dee. Ia hanya membawa perlengkapan bekerja, dan pakaian ganti secukupnya.


"ikut aku !"


Rasa terkejut Zara menghasilkan sikapnya yang menurut saja pada setiap kata yang Ditya ucapkan.


Mereka turun ke bawah 1 lantai, dimana Ditya tinggal hanya bersama Dee setelah kepergian Zoya.


"masuklah ! masih ada 1 kamar untukmu, jangan banyak bertanya."


Zara melangkah dengan ragu, mereka baru saja berkenalan kemarin. tapi Ditya sudah melakukan hal sejauh ini, mengajak Zara menginap dirumahnya.


tidak, itu hanya sebuah rasa toleransi. Ditya menganggap Zara tetangga dan guru Dee yang sedang membutuhkan perlindungan. Zara berpendapat kalau Ditya melakukannya karena belas kasihan.

__ADS_1


__ADS_2